
Idris—mau tak mau—mengikutiku dari belakang. Hendery tetap bersiaga dengan pedangnya di belakang Idris. Aku berjalan menyusuri koridor istana yang dipenuhi oleh tubuh para prajurit dan para pelayan. Karena tak ingin berlama-lama, aku berjalan lurus dengan menginjak tubuh mereka semua tanpa ragu.
Aku akan meminta maaf untuk hal itu nanti. Dan soal Rose Hindley, aku tidak perlu khawatir lagi karena sudah kuikat dengan tali sihir.
Dari lantai dua, bunyi keras masih saja terdengar. Mana Ava tercampur dengan sihir kegelapan yang pekat. Setelah naik ke atas, asal kekacauannya berada di ruang utama Kaisar XIX.
Belum sempat aku kesana dan melihat ke dalam, Selir Sienna sudah terlempar keluar ruangan dan menebus tembok. Aku terkejut akan hal itu.
Ava keluar dari ruang utama dan menatapku. Dia tersenyum sejenak dan menarik Selir Sienna agar bangun. Dia membuat Selir Sienna kembali terluka dengan sihirnya. Tapi, aku masih merasa jika Selir Sienna tidak bisa mati begitu saja.
“Idris, bantu aku,” pinta Selir Sienna dengan nada mengiba. “Mereka mencoba untuk membunuhku! Jika aku mati, kau tidak akan bisa bersatu dengan Charlotte.”
Apa?
Idris berteriak. Dan tanpa diduga, dia berusaha merampas pedang milik Hendery. Karena Hendery masihlah dalam mode serius, pedang miliknya jadi tak mudah dirampas begitu saja oleh Idris.
“Berisik!” bentak Ava. “Cepat keluarkan sihirmu. Kau akan lebih sulit mati jika tetap mempertahankannya.”
Selir Sienna tertawa. “Kau tidak tahu, ya? Daritadi aku menyerap mana-mu!”
Ava pun ikut tertawa. Dia menampar Selir Sienna hingga wanita itu meringis kesakitan. “Kau akan meledak karena sudah menyerap mana berkatku.”
“Ratu, apakah aku harus melukai Kaisar?” tanya Hendery, mengalihkan pandanganku pada Ava dan Selir Sienna.
Aku terkejut saat Idris menoleh ke belakang dan menerjangku. Barulah aku tahu jika Idris mencegah Selir Sienna menusukku dengan sebilah pisau. Alhasil, Idris pun tertusuk oleh pisau itu.
Ava menarik melingkarkan tali sihir miliknya ke leher Selir Sienna kemudian menjauhkan Selir Sienna dari jangkauan kami.
“Haha! Kaisar, kau sangat bodoh. Apa pengaruhku sihirku sudah habis?” ejek Selir Sienna.
Idris hanya diam. Dia masih menindihku dengan perut bersimbah darah. Ava sudah mengamankan pisau yang dipegang oleh Selir Sienna.
Namun, sepertinya itu adalah pisau dari sihir kegelapan Selir Sienna. Karena saat Ava menarik pisau di tangan kanan Selir Sienna, di tangan kirinya muncul lagi pisau yang sama.
__ADS_1
Pisau itu melukai mata kiri Ava hingga membuat Ava berteriak kesakitan. Pegangan tali sihirnya pun terlepas, membuat Selir Sienna berhasil melarikan diri. Saat aku hendak mengejarnya, Ava sudah terlebih dahulu melarangku.
“Biarkan saja dia pergi,” ucap Ava, yang sekarang tengah memegangi mata kirinya yang sudah penuh dengan darah. “Kau urus si Kaisar. Aku akan urus Selir Sienna. Kuharap kau segera bergegas, aku akan menghancurkan istana ini.”
Sepertinya Ava marah besar.
Aku menjauhkan diri dari Idris dan berdiri. “Bagaimana dengan mata Anda?”
“Hanya goresan kecil.” Ava menyeka darah dari matanya dan pergi meninggalkan kami bertiga saja.
Aku menghela nafas dan menoleh pada Idris lagi. Dia menekan perutnya dan menatapku dengan tatapan sendu. Seperti pasrah pada apa yang akan aku lakukan kepadanya.
“Aku bersalah, Charlotte,” ucap Idris kepadaku. Apakah dia memang dimanfaatkan oleh Selir Sienna dan sekarang sudah tersadar? “Aku minta maaf.”
“Aku tidak akan berterima kasih atas tindakan yang kau lakukan tadi,” kataku dingin. “Kau pantas mendapatkannya.”
“Apakah kita memang tidak bisa bersatu?” Idris menitikkan air mata. “Baik dulu, maupun sekarang. Aku mengacaukan hubungan kita yang harmonis.”
“Maaf, Charlotte. Aku salah. Tapi, aku tetap mencintaimu,” kata Idris. “Kau selalu ada di dalam hatiku. Aku tidak bisa hidup tanpamu.”
B*jingan ini membuatku ingin membuat hidupnya segera berakhir dari omong kosong.
“Teruslah bicara seakan aku mendengarkannya,” kataku. Aku memejamkan mataku, dan membuka telapak tanganku di atas kepalanya. Aku harus mengambil seluruh ingatannya untuk mengetahui kebenaran yang dia ketahui. “Kau bisa ke alam baka duluan.”
Idris tersenyum. “Mati di tanganmu, tidaklah buruk.”
Prends sa mémoire pour moi.
Aku mengucapkan mantra sihir itu sebanyak tiga kali di dalam hatiku. Dan efeknya membuat Idris bagai tersengat listrik. Tubuhnya kejang-kejang dan luka tusukannya pun tidak bisa dia tahan lagi.
Darah segar keluar dari luka itu. Membuat Idris semakin lemah dan hampir tak sadarkan diri. Teriakan rasa sakit Idris, memenuhi koridor lantai dua yang penuh dengan puing-puing bangunan.
“Jangan ditahan, kau akan semakin kesakitan,” ucapku pada Idris. Kurang lebih dua menit berlalu, semua ingatan yang kubutuhkan darinya, sudah kudapatkan. “Kesatria Franklin, berikan aku pedangmu.”
__ADS_1
Hendery mendekat padaku dan memberikanku salah satu pedang miliknya. Aku menerima pedang itu dan mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Ujung pedangnya di arahkan ke jantung Idris.
Idris menatap nanar ujung pedang itu, lalu berganti menatapku dan tersenyum pasrah. “Maaf.”
“Simpan maafmu itu.”
Jleb!
Ujung pedangnya masuk menusuk jantung Idris. Dengan begitu, Idris menghembuskan nafas terakhirnya karena pedang milik Hendery. Aku menariknya kembali dan memberikannya pada Hendery.
“Sudah selesai. Sebentar lagi kau akan semakin dekat dengan keinginanmu,” ucapku pada Hendery.
“Sepertinya aku tidak membantu banyak di sini.” Hendery meletakkan pedangnya ke tempat semula.
Aku mengangkat sedikit gaunku dan menarik pisau pemberian Ayah yang kuikat di paha. Dengan sigap aku melukai tangan kaki dan tubuhku secara sengaja. Hendery sampai terkejut dengan perbuatanku.
“Ratu, apa yang kau lakukan?!”
“Untuk membuat semua orang percaya dengan ucapanku. Kau juga harus kulukai. Sekarang, diamlah,” kataku, seraya mulai melukai tubuh Hendery tanpa keraguan sedikit pun. Dia hanya diam saja saat kulakukan hal itu.
Anak baik.
“Kita harus bergegas, istana ini akan dirusak oleh Ava,” ucapku kemudian. “Bisakah kau menggendong tubuh Kaisar sampai keluar istana?”
“Ah, ya. Aku bisa, Ratu,” ucap Hendery.
Aku tersenyum. “Kalau begitu, lakukanlah sekarang.”
Hendery menggendong tubuh Idris di punggungnya. Aku berjalan di depan mereka. Menuruni anak tangga, menginjak kembali tubuh prajurit dan pelayan yang tidur di lantai satu koridor, dan mampir sebentar ke ruang kerja Idris.
Rose Hindley masih terikat di posisi yang sama. Dia masih belum sadarkan diri. Oleh karena itu, aku pun menyeretnya dengan sihirku sendiri. Dan kami berempat keluar dari Istana Kekaisaran.
Satu hal yang membuatku ngeri adalah. Ava muncul dengan kepala milik Selir Sienna di tangan kanannya. Ah, kemana tubuh Selir Sienna?
__ADS_1