
“Istriku, apa yang membuatmu datang kemari?” tanya Idris dengan wajah berbinar.
Aku melangkahkan kakiku ke depannya. Tanpa berniat menjawab pertanyaan Idris, aku hanya menatapnya tajam dan memasang wajah datar. Idris yang melihat perubahan sikapku ini, terlihat kebingungan.
“Istriku?”
“Tuliskan surat menyerahan kekuasaanmu padaku,” perintahku menggunakan sihir.
Idris terbelalak. Meskipun dia ingin menolak hal itu, tubuhnya sama sekali tidak mengikuti kemauannya. Dia mengeluarkan kertas dan pena bulu dari laci, kemudian dengan cekatan menulis surat yang kuminta.
Aku menunggu Idris selesai menulis suratnya. Tubuhnya gemetar, tanda bahwa dia menolak hal itu. Tapi, itu percuma saja. Tidak ada yang bisa lepas dari belenggu sihir perintah.
Selesai menulis, aku langsung merampas surat itu dari atas meja. Kulipat dengan tergesa, dan kusimpan di saku rahasia gaunku.
“Jangan katakan pada siapa pun soal hal ini,” perintahku lagi. Setidaknya Idris harus menjaga rahasia ini hingga akhir hayatnya.
“Apa maksudmu melakukan hal ini, Istriku?” tanya Idris kebingungan.
“Sebelum kau melakukannya duluan, aku sendirilah yang harus bertindak mendahuluimu,” ucapku sengit. “Selagi kau dibuat kebingungan dengan Rose Hindley, aku merencanakan ini semua.”
“Kau mengkhianatiku?!” seru Idris.
Aku hanya diam. Menanti moment dimana Ava muncul. Idris berdiri dari kursinya dan menghampiriku. Aku harus mundur beberapa langkah karena tidak ingin berdekatan dengannya.
Wajah Idris sudah merah seperti tomat segar. Dia menatap tajam padaku dan sepertinya hendak main tangan padaku. Tapi, tindakan Idris diurungkan olehnya karena kedatangan Rose Hindley yang menggebrak pintu ruang kerja Idris.
“Mau apa kau kemari?!” teriak Rose Hindley. “Kau mau menggoda Idris lagi, kan?!”
Sudah gila, ya? Meskipun aku tidak akan pernah melakukannya, tetapi menggoda Suami sendiri adalah hal yang normal. Saat mengandung anak Idris pun, Rose Hindley masih saja belum berubah.
Aku enggan menanggapi tuduhan Rose Hindley, kalau kuperintahkan dia untuk diam pun, sihir perintahku hanya tertinggal satu-satunya saja untuk hari ini. Wajah menjengkelkan Rose Hindley membuatku tidak nyaman. Akan lebih baik jika dia menghilang dari hadapanku ..., untuk selamanya.
“Kenapa diam saja?” tegur Rose Hindley. “Apa kau mendengarkanku?”
Dia sudah keterlaluan. Buat dia berlutut**.
__ADS_1
Tiba-tiba saja, suara Ava muncul di dalam kepalaku. Apakah Ava menghubungiku lewat sihir? Tapi, jika kuperintahkan Rose Hindley untuk berlutut, aku tidak akan punya sihir perintah lagi untuk hari ini. Apakah memang benar hanya bisa tiga kali sehari saja? Bagaimana kalau kalau kapasitasnya bertambah bersamaan dengan meningkatnya sihirku?
Tentu saja aku belum mencoba hal semacam itu karena ketidakadaan waktu untuk bereksperimen.
“Dasar wanita j*lang!” teriak Rose Hindley, bersamaan dengan tangannya yang dia angkat untuk menamparku.
“Berlutut.”
Seketika itu juga, Rose Hindley berlutut di sampingku. Dia melotot kaget saat aku menatapnya tanpa menundukkan kepalaku. Aku malah mengangkat daguku tinggi-tinggi untuk membuatnya emosi.
Idris berniat membantu Rose Hindley, akan tetapi aku sudah lebih dahulu menunjuk wajahnya dengan telunjuk kananku.
“Jangan bergerak. Kalau kau mendekat selangkah saja, wanita ini akan mati,” ancamku.
“Wanita gila, apa yang kau lakukan padaku?! Sinting! Tak punya otak! Mati saja kau!” Berbagai sumpah serapah dilontarkan hanya khusus untukku saja. Bukannya merasa terancam, Rose Hindley malah semakin gencar membuatku emosi.
Padahal aku ingin berbaik hati padanya. Tapi, sekarang tidak. Dia menguji kesabaran hati nuraniku, tidak pada tempatnya.
“Arrrrgghhh!” teriakan memilukan, terdengar dari mulut Rose Hindley setelah aku menendang wajahnya tanpa aba-aba. “J*lang!”
“Istriku—”
“Tutup mulutmu, dasar b*jingan!” bentakku kesal. Idris langsung bungkam.
Selama Rose Hindley tidak berhenti mengataiku, aku tidak akan pernah berhenti melukainya.
Rose Hindley tengkurap di lantai sambil berteriak kesakitan. “Kau merasa hebat, ya? Kau tidak akan pernah tenang karena sudah memisahkan dua orang yang saling mencintai,” ucap Rose Hindley di sela teriakannya.
“Begitukah? Menurutmu begitu?” Aku terkekeh. “Kamu tidak bisa berkaca pada dirimu sendiri, ya?”
“Kau itu hanya penghalang bagi cinta kami ....”
“Apa kau mencintai wanita ini?” tanyaku pada Idris. “Kau mencintainya dengan seluruh jiwa ragamu?”
Di luar ekspektasi Rose Hindley, Idris hanya diam saja dan memasang raut keraguan yang amat terasa di hadapanku.
__ADS_1
Haha ..., cinta katanya. Laki-laki di depanku ini jelas-jelas hanya mengumbar nafsu belaka pada Rose Hindley. Wanita itu terlalu berangan-angan tinggi dalam menggapai cinta sejatinya yang tak nyata. Apa yang bisa diharapkan dari laki-laki beristri? Yang ada hanyalah cinta terselubung nafsu bejat saja.
“Idris? Kenapa kau diam saja?!” Aku tidak tahu berapa lama Rose Hindley berteriak-teriak, tapi hampir di setiap ucapannya selalu disertai oleh teriakan melengking. “Katakan bahwa kau mencintaiku!”
Idris pun tetap saja diam dan mengalihkan pandangannya dari aku dan Rose Hindley. Hal itu membuat Rose Hindley menangis tersedu-sedu. Aku bagaikan menonton teater drama musikal picisan.
Karena dia terlalu berisik, aku memukulnya lagi hingga dia tak sadarkan diri.
Brak!
Bunyi bangunan yang hancur terdengar dari lantai atas, aku menduga jika itu adalah Ava. Hendery membuka pintu dan menatapku dengan wajah pucat.
“Pasukan Kekaisaran sudah mulai bergerak, Ratu,” ucap Hendery. “Mereka akan segera datang untuk memberi perlindungan pada Anda dan juga Kaisar.”
“Istriku, aku tidak mengerti apa yang kau lakukan barusan. Jika kita bicara baik-baik, kita pasti bisa menemukan jalan keluarnya. Lagipula, sepertinya ada kekacauan di lantai atas. Kita harus memeriksanya,” jelas Idris panjang lebar.
“Berisik,” omelku.
Buat kubah pelindung, aku akan mengeluarkan sihir area di dalam istana dan sekitarnya.
Ava kembali bicara di dalam kepalaku. Aku pun segera membuat kubah pelindung di dalam ruang kerja Idris. Dan detik berikutnya, sebuah cahaya sihir berwarna emas, menyapu keseluruhan istana. Aku bisa merasakan mana Ava yang keluar dengan luar biasa.
Setelah sihir Ava menghilang, seisi istana menjadi hening. Ya, hening. Hanya suara angin dan burung berkicau saja yang terdengar. Saat aku membuka pintu, beberapa prajurit sudah terjatuh di lantai koridor istana. Mereka semua tak sadarkan diri.
Tenang saja, aku hanya membuat mereka tidur selama beberapa jam.
Berapa banyak mana yang dimiliki oleh Ava hingga membuat seisi istana pingsan? Mungkin, hanya Ava sendirilah yang tahu.
“Kau serius tentang hal ini? Kau benar-benar mengkhianatiku?!”
“Daritadi kan sudah jelas,” kataku tanpa mengelak sedikit pun. Aku melirik Hendery dan tersenyum.
Hendery pun mengeluarkan salah satu pedangnya dan diacungkan di hadapan Idris.
“Ikut aku,” perintahku pada Idris.
__ADS_1