
Dua hari berlalu sejak Jayden membantu beberapa masalah yang hendak aku selesaikan di Kekaisaran. Mulai dari pembangunan ulang Istana Kekaisaran yang dirusak oleh Ava, pengobatan massal untuk prajurit dan pelayan yang terluka, bahkan sampai pada persiapan pemakaman Idris yang terpaksa harus aku lakukan secepat mungkin karena desakan pihak bangsawan kelas atas.
Selagi Jayden mengurus rencana pembangunan ulang Istana Kekaisaran, aku dan ketiga dayangku fokus pada pemakaman Idris hingga selesai dengan baik. Para bangsawan senang, dan rakyat pun akan secepatnya bisa aku jadikan prioritas lagi.
Di tahun 1768 bulan ke-11, tepatnya hari ini, Idris secara resmi dimakamkan di pemakaman khusus keluarga Kekaisaran dengan dihadiri oleh hampir seluruh bangsawan di Kekaisaran Vanhoiren.
“Ratu, saya menerima sebuah pesan penting,” ucap Maya yang sekarang ini menghadapku di ruang kerjaku.
“Apa itu?”
Maya mendekat, lalu menyerahkan sebuah surat dengan amplop merah. Aku tertegun saat melihat lambang stempel di surat itu. Bukan dari keluarga mana pun di Vanhoiren, tetapi lambang stempel ini sangatlah familiar dan sangatlah aku tahu betul.
Lambang pedang dengan lilitan bunga mawar. Ini lambang milik kerajaan Bevram. Kenapa tiba-tiba begini?
Tanpa basa-basi, aku membuka isi dari amplop itu. Ternyata aku terlalu mengkhawatirkan mereka secara berlebihan. Raja Bevram hanya mengirimkan surat belasungkawa untuk kematian Idris.
“Apakah ada masalah? Wajah Ratu agak pucat,” kata Maya, menatapku khawatir.
“Oh, benarkah?” Aku memegangi pipiku dan tersenyum. “Aku baik-baik saja. Isi surat ini hanya tentang rasa bela sungkawa Raja Bevram untuk Kaisar.”
Maya mengangguk paham. “Ternyata Raja Bevram masih mengingat bahwa beliau masih memiliki hubungan yang baik dengan keluarga Kekaisaran. Saya ikut senang tentang hal itu, Ratu.”
“Jadi dengan begitu, tujuan Ratu akan sebuah perubahan pastinya bisa sedikit lebih mudah, bukan?” tanya Maya kemudian.
“Kau boleh keluar,” kataku acuh.
“Baik, Ratu.” Maya menunduk dan pamit undur diri dari ruang kerjaku.
Aku cukup senang dengan surat dari Raja Bevram, tetapi di sisi lain, aku juga khawatir dengan ancaman yang bisa saja muncul karena ketiadaan Kaisar di Vanhoiren. Tidak, apalagi yang harus aku khawatirkan?
Setidaknya, aku masih bisa melindungi diriku sendiri jika ada ancaman yang datang secara tiba-tiba. Meskipun begitu, Ava pasti tidak akan tinggal diam juga jika diperintahkan oleh Lucas untuk membantuku.
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
“Ini aku, Ratu,” ucap Hendery setelah mengetuk pintu ruanganku.
“Masuk.”
Aku menatap kedatangannya yang terlihat tergesa-gesa. Kemungkinan besar, dia mempunyai sesuatu yang bagus untuk dia ceritakan padaku. Apakah ini menyangkut Jack? Aku juga belum yakin tentangnya. Di bagian pengobatan, aku meminta Jasmine dan Chloe yang mengawasinya.
Semuanya sudah aku atur semaksimal mungkin agar aku bisa menyelesaikan semua masalah yang ada dengan sebaik dan secepatnya.
Soal Selir Sienna? Ya, para petugas Pengadilan Tinggi berbondong-bondong mengecek keadaan bagian dalam dari Istana Perak. Mayat para rakyat yang dilaporkan menghilang, ditemukan di basement Istana Perak.
Karena dianggap menyembunyikan bukti dari kejahatan yang diperbuat oleh Selir Sienna, pihak Pengadilan Tinggi menjatuhkan hukuman mati kepada seluruh penghuni Istana Perak. Aku sempat ingin menghentikannya, tetapi karena tersadar bahwa mereka memang tidak terpengaruh pada sihir kegelapan dan melakukannya karena uang, aku pun membiarkan hal itu.
Para rakyat Vanhoiren menjadi lebih menghormatiku karena apa yang telah kulakukan pada keluarga mereka. Yah, aku agak lega.
“Ini soal Jack Hindley.” Hendery menatapku lurus. Dia terlihat serius. “Dia sudah bisa dipulangkan ke kediamannya besok. Kondisinya sudah stabil.”
“Apakah ada tanda-tanda yang mencurigakan darinya? Sekecil apa pun itu?” tanyaku penasaran.
Hendery menggeleng. “Maaf, Ratu. Sampai saat ini aku sama sekali tidak bisa menemukan sesuatu yang mencurigakan dari Jack. Bahkan saat didesak oleh Baron Hindley untuk menjawab pertanyaannya tentang yang terjadi di istana, dia hanya diam dan enggan menjawab.”
“Dia pasti tahu jika dia membuka mulut, hidupnya akan terancam. Kemungkinan besar dia juga sudah tahu bahwa orang yang membuat Selir Sienna dan Kaisar menjadi tak bernyawa adalah orang yang berbahaya,” kataku. “Jadi, dia tak ingin menanggung risiko.”
“Jadi, apakah aku harus menyudahi hal ini?” tanya Hendery.
Aku menggeleng dan menyodorkannya sebuah amplop berisi surat. Ini surat yang sudah aku siapkan untuk Jack. Tidak atau adanya kecurigaan di dalam gerak-gerik Jack, aku akan tetap memberikan surat ini kepadanya. Surat ajakan minum teh, alias membicarakan masalah yang terjadi secara baik-baik atau melalui paksaan.
“Ratu, apa ini?”
“Berikan itu pada Jack sebelum dia kembali ke kediamannya. Oh ya, bagaimana kalau kau berikan sekarang juga? Itu akan lebih baik lagi,” usulku.
Hendery mengambil surat itu. “Baiklah, Ratu. Akan kukirimkan sekarang juga.”
“Terima kasih. Kau boleh pergi.”
__ADS_1
*
Aku masuk ke dalam kamarku dan bersiap untuk tidur. Begitu aku memejamkan mataku, aku kembali terbangun dengan sebuah suara yang amat aku kenal.
“Lucas?”
“Halo,” sapa Lucas. Dia berdiri agak jauh dari ujung ranjangku. “Maaf, apa aku membuatmu terbangun?”
Aku tersenyum. “Aku malah baru mau tidur. Apa pekerjaanmu sudah selesai?”
“Belum.” Lucas mendekat dan duduk di sampingku yang masih berbaring. “Aku kemari hanya untuk melihat wajahmu, Sweetheart.”
“Berhenti menggodaku, Lucas,” kataku geli. “Ini sudah larut malam, kau harus istirahat.”
“Begitukah?” Lucas tersenyum menggoda dan melepaskan sepatunya.
“Apa yang kau lakukan, Lucas?” tanyaku heran.
“Aku mau istirahat.” Lucas langsung berbaring di sampingku dan membuat posisinya menyamping untuk menatapku.
Aku melotot kaget. “Lucas ..., maksudku istirahat di kamarmu sendiri.”
“Telat. Aku sudah nyaman di sampingmu. Kau tidak bisa menyuruhku untuk pindah kemana-mana lagi,” kata Lucas, lengkap dengan nada jahil. “Tenang saja, Sweetheart. Aku hanya ingin tidur.”
“Ya, kau memang hanya boleh berbaring dan menutup mata.” Aku cemberut.
Bagaimana bisa Lucas hanya bersikap biasa saja? Oh, tunggu dulu. Telinganya memerah. Ternyata dia juga malu dengan tindakannya sekarang.
Apa kujahili saja, ya? Tidak. Itu akan berbahaya untukku. Jangan pernah menguji seorang laki-laki.
Lucas menatapku yang tetap pada posisi yang sama. Dia kemudian membelai rambutku dan tersenyum. “Hitung-hitung ini sebagai latihan mental sebelum kita benar-benar tidur bersama. Kau tahu kan maksudku?”
“Tidurlah, Lucas. Aku letih sekali hari ini. Aku juga yakin jika kau sama letihnya denganku.” Rasa kantukku mulai menyerangku. Aku memejamkan mata. “Untuk hari ini saja aku membiarkanmu tidur di ranjang yang sama denganku sebelum kita menikah.”
__ADS_1
“Terima kasih, Sweetheart.”
Yang kuingat terakhir kali adalah, kecupan kecil di keningku dari Lucas, dan tangannya yang melingkar di perutku. Sepertinya dia memelukku saat aku sudah tertidur lelap.