
Dewi membawaku ke ingatan yang lain lagi. Kini, aku berada di Istana Perak. Selir Sienna masih bersama dengan Ibuku, tapi di hari yang berbeda. Mereka berlatih sihir bersama. Aku juga tidak ingat akan hal ini. Semuanya masuk ke dalam otakku secara bertubi-tubi.
Meskipun Selir Sienna berlatih setiap hari dengan keras, tidak ada kemunculan mana di dalam tubuhnya. Ibuku terlihat khawatir akan hal itu. Dia takut jika Selir Sienna menjadi kecewa dan juga marah kepadanya.
“Tidak ada yang bisa kulakukan, ya?” Selir Sienna duduk di kursi kecil yang ada di pinggir taman. Ya, mereka berlatih di taman belakang Istana Perak.
“Maaf, Selir Sienna. Saya sudah berusaha semampu saya,” ucap Ibuku.
Selir Sienna terkekeh. “Ujung-ujungnya, yang terpilih yang akan menerima berkat sang Dewi. Iya, kan?”
“Selir—”
Brak!
“Keluar! Aku ingin sendiri!” teriak Selir Sienna, usai melempar kursi yang dia duduki ke tiang gazebo.
Ibuku mengalah. Dengan gerakan cepat, Ibuku pergi meninggalkan Selir Sienna sendirian. Begitu dia benar-benar sendiri, Selir Sienna berteriak sekuat tenaga. Meraung-raung seperti orang kesetanan. Aku tahu, dia berada pada titik keputusasaan terendah manusia.
Dan jika sudah begitu, segala cara apa pun baik benar ataupun tidak, akan dia lakukan untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Mungkin, ini adalah awal jatuhnya Selir Sienna ke dalam belenggu sihir kegelapan.
Aku tidak tahu sampai di mana Dewi akan memperlihatkan ingatan ini. Bisa jadi ini bukanlah ingatanku, melainkan ingatan Ibuku.
Semuanya musnah di depan mataku dan berganti ke scene yang berbeda. Ibu mencari-cari sesuatu di dalam ruang kerjanya di Kediaman Winston. Apa yang Ibu cari?
“Eva! Apa yang sudah terjadi pada Charlotte?” tanya Ayah yang baru saja masuk ke ruang kerja Ibu.
Ibuku hanya diam, tetap membongkar isi laci dan rak hingga ruangannya menjadi berantakan. Ayah langsung menghampiri Ibu, dan menarik lengannya. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Ibu terlihat ling-lung dan tidak fokus.
“Hilang ..., itu tidak di mana-mana!” seru Ibuku pada dirinya sendiri.
“Apa maksudmu?! Apa yang hilang?!” tanya Ayahku.
__ADS_1
“Buku itu! Buku terlarang yang aku pinjam dari Ava,” kata Ibuku. Aku agak kaget karena Ibu mengucapkan nama Ava secara terang-terangan di depan Ayah. Kalau begitu, Ayah juga mengenal Ava?
“Kau masih berhubungan dengan penyihir dari Barat itu?! Sudah kubilang untuk berhenti melakukannya!” bentak Ayah pada Ibu. “Charlotte sekarang jatuh sakit! Pikirkan anak kita!”
Ibuku berteriak histeris. “Ini salahku. Aku lalai menjaganya. Bagaimana jika buku itu jatuh ke tangan yang salah?”
“Demi, Dewi! Kau masih membahas hal itu?” Ayahku berdecak kesal. “Aku kecewa padamu.”
Blam!
Ayah menutup pintu dengan keras. Meninggalkan Ibu yang akhirnya menitikkan air mata tanpa kutahu sebabnya. Semuanya semakin tidak bisa kupahami sekarang.
Apa masih belum selesai? Sampai di mana Dewi akan memperlihatkan semua ini kepadaku?
Meskipun kuberikan seratus pertanyaan sekali pun, Dewi pasti tidak akan menjawabnya satu pun dalam bentuk kata-kata.
Aku melihat ingatan yang lainnya lagi. Sekarang, aku berada di Istana Kekaisaran. Hanya ada Selir Sienna, Ayahanda, dan Ibuku saja. Mereka bicara di ruang tamu dengan suasana yang penuh dengan tekanan.
Sekarang, Selir Sienna terlihat lebih percaya diri dibandingkan pada ingatan yang kulihat sebelumnya. Ada yang berbeda dari dirinya. Aku tahu apa itu.
“Saya ingin mengundurkan diri,” ucap Ibu dengan suara lantang.
“Apa?! Apa aku tidak salah dengar? Apa yang sebenarnya kau pikiran?” Ayahanda terlihat marah dengan ucapan Ibuku.
“Nona Eva pasti sedang banyak pikiran. Sejak bulan lalu, Charlotte jatuh sakit dan belum sembuh sampai hari ini. Malangnya nasib anak itu,” ucap Selir Sienna. Nada bicaranya terdengar mengejek. “Kaisar harus memakluminya, beri saja cuti untuk Nona Eva agar pikirannya jernih kembali.”
Ayahanda pun menghela nafas. “Aku juga sudah dengar jika Charlotte jatuh sakit. Pulanglah, Eva. Rawat anakmu dan kembalilah jika dia sudah kembali pulih.”
Belum sempat Ibuku ingin bicara, Ayahanda sudah pergi meninggalkan dirinya bersama dengan Selir Sienna.
“Apa Selir Sienna yang mengambil buku milik saya?” tanya Ibuku.
__ADS_1
Selir Sienna tertawa. “Kau ini bicara apa, sih? Buku apa pula yang kau maksudkan itu, Nona Eva? Aku sama sekali tidak mengerti.”
“Itu adalah buku terlarang. Saya mengambilnya dari Perpustakaan Kekaisaran untuk dikembalikan lagi kepada pemiliknya. Saya bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda di tubuh Selir Sienna.” Ibuku terlihat bersikeras. “Masih ada waktu untuk kembali sebelum terlambat. Selir Sienna tak harus melakukan hal ini.”
Bugh!
Aku sangat kaget saat melihat Ibuku terlempar ke belakang oleh sesuatu yang tak jelas. Beruntunglah Ibu sudah melindungi dirinya dengan perisai sihir. Ibu terbelalak saat melihat tubuh Selir Sienna yang ditutupi oleh aura hitam yang tak biasa.
“Ternyata benar. Anda yang mengambil buku itu ...,” kata Ibuku.
“Benar. Aku yang mengambil bukumu sewaktu kau lengah,” kata Selir Sienna. “Dasar pembohong. Kau menyembunyikan sesuatu yang bisa membuatku menjadi seorang penyihir agar hanya kau saja yang istimewa, bukan?”
Naif.
“Tidak seperti itu!” seru Ibuku. “Cara Anda mendapatkan sihir tidaklah benar, Selir Sienna. Kau bisa membahayakan dirimu dan juga orang lain.”
“Persetan dengan omong kosongmu itu!” teriak Selir Sienna. “Kau hanya akan menghalangi jalanku, sebaiknya mati saja sana!”
Pertarungan pun terjadi. Ibu mati-matian menangkis semua serangan Selir Sienna, karena tidak ingin membuat Selir Sienna terluka. Berbanding terbalik dengan Ibu, Selir Sienna malah membabi buta menyerang Ibu dengan niat ingin membunuh.
Karena terpojok, Ibu pun melancarkan satu serangan hingga membuat Selir Sienna terlempar ke belakang dan memuntahkan darahnya.
“Tolong berhentilah, Selir Sienna. Anda akan terluka jika nekat meneruskan perkelahian ini,” ucap Ibuku.
Selir Sienna meludahi darahnya sendiri dan menatap tajam Ibuku. “Sombong sekali dirimu.”
Omongan Ibuku hanya dianggap angin lalu oleh Selir Sienna. Dia berusaha menyerang Ibu lagi dengan seluruh kekuatan yang dia miliki. Saat merasa sudah memojokkan Ibuku lagi, Ibu langsung menusukkan pisau sihir miliknya ke bagian jantung Selir Sienna.
Tubuh Selir Sienna berubah menjadi abu arang, dan hal itu membuat Ibu menjadi syok. Dia mungkin berpikir jika dia sudah membunuh Selir Sienna. Nyatanya, Selir Sienna masih hidup dan masih mengusik hidup orang lain hingga sekarang.
Memang sudah kuduga dari awal, sihir kegelapan bukanlah sihir yang mudah untuk dikalahkan.
__ADS_1
“Tidak ada saksi mata ...,” gumam Ibuku. “Apa dia benar-benar mati? Tidak, sekarang itu tidak penting..., aku harus pergi sekarang juga dan fokus mengobati Charlotte.”
Ibu pun melangkahkan kakinya keluar dari Istana Kekaisaran dengan wajah pucat pasi. Adegan pun kembali berganti di dalam Kediaman Winston.