
Aku yang masih kecil, terbaring tak berdaya di ranjang kamarku. Layla berkali-kali mengganti pakaianku yang basah karena keringat. Ibu menatapku dari kejauhan. Sepertinya pikirannya melalangbuana jauh dariku. Seperti biasa, ingatan ini tidak bisa kuingat hingga sekarang.
Setelah Layla selesai mengganti pakaianku untuk yang ketiga kalinya, Ibu pun menyuruhnya untuk keluar. Begitu tinggal berduaan, Ibu mendekatiku dan mengernyitkan dahi.
“Entah apa yang ditanam oleh Selir Sienna kepadamu,” gumam Ibu. Hal itu membuatku kaget setengah mati. “Harusnya Ibu lebih peka lagi. Tenang saja, Charlotte. Ibu akan membebaskan dirimu dari penderitaan ini.”
Ibu mengeluarkan sihirnya dan ditujukan kepadaku. Sihirnya memenuhi tubuhku dan mengeluarkan sihir kegelapan yang diberikan oleh Selir Sienna.
“Aku sudah sampai pada batasku,” gumam Ibu. “Jika saja sihirku tidak terbagi beberapa bagian, aku masih bisa mengeluarkan sisa sihir Selir Sienna yang tertinggal di otak Charlotte.”
Di dalam otakku?
“Maaf, Charlotte.” Ibu menyentuh keningku. Sihir milik Ibu muncul dari ujung telunjuknya. “Akan Ibu ambil sedikit memori yang tercemar di dalam otakmu.”
Itulah mengapa ingatanku kacau, ya? Ibu mengambil beberapa penggalan ingatan masa kecilku.
Benar. Ibu mengambil ingatan yang sudah dirusak oleh sihir kegelapan milik Selir Sienna.
Aku menoleh ke belakang dan mendapati sosok Ibuku di sana. Dewi yang berdiri di sampingku, sudah menghilang. Dalam keadaan mematung, aku saling bertatapan dengan Ibuku. Ibu duluanlah yang mendekat padaku.
Apa kau sudah mengetahui semuanya?
“Belum semuanya,” ucapku. “Masih banyak pertanyaan yang harus kutanyakan pada Ibu.”
Ibu hanya tersenyum. Dan ingatannya mulai menunjukkan adegan yang berbeda lagi. Kini, adegan di mana Ibu yang berada di Istana Kekaisaran.
Hanya ini yang bisa Ibu perlihatkan.
Di dalam ingatan Ibu, Ayahanda terlihat sedang bertengkar dengan Ibu. Membicarakan tentang Selir Sienna yang dilindungi secara terang-terangan oleh Ayahanda. Untuk apa Ayahanda melindungi seorang penjahat keji seperti Selir Sienna?
“Dia akan membawa malapetaka dalam Kekaisaran Vanhoiren!” seru Ibuku tanpa keraguan. “Kita masih bisa mencegah itu semua!”
“Apa yang kau bicarakan? Berhenti membuat geger istana dengan kata-katamu yang tidak masuk akal, Eva. Aku tidak merasakan apa pun darinya yang bisa membuat Kekaisaran terkena malapetaka,” ucap Ayahanda.
“Belum,” ralat Ibuku. “Tolong percaya kepada saya, Yang Mulia.”
“Pulanglah, Eva. Yang kubutuhkan hanyalah menjernihkan pikiranmu,” kata Ayahanda.
__ADS_1
“Jangan salahkan saya jika sesuatu terjadi. Setidaknya, saya sudah mengingatkan Anda akan hal ini.” Ibuku akhirnya meninggalkan istana.
Sihir pelindung yang Ibu berikan untuk anggota Kekaisaran, sudah Ibu ambil kembali. Ibu berhenti menjadi penyihir Kekaisaran dan tinggal di rumah dengan merawatmu.
“Lalu? Kenapa Ibu bisa meninggal?” tanyaku pada Ibu.
Karena Selir Sienna.
Aku mengepalkan tanganku. “A-apa yang sudah dilakukan Selir Sienna? Apa dia meneror keluarga kita?”
Kurang lebih seperti itu. Ibu tidak mampu melawannya. Sihir kegelapan adalah sihir yang bisa berkembang tergantung harga yang dipertaruhkan. Karena itulah, Selir Sienna dapat dengan mudah membuat Ibu terpojok.
“Dia sudah dapat yang dia inginkan, tapi kenapa dia mengincar Ibu juga?”
Sebelum Ibu mati, dia akan terus mengejar Ibu. Jantung penyihir adalah hal dia incar.
Jantung penyihir?
Ibu membuat pelindung di Kediaman kita. Mengambil mana di dalam tubuhmu, dan memasukkannya ke dalam tongkat sihir milik Ibu. Dan terakhir, Ibu menyalurkan seluruh kekuatan sihir Ibu di dalam tongkat itu juga.
Ya, Ibu melakukan itu semua demi keluarga kita. Tanpa mana, tubuh Ibu yang lemah ini menjadi tidak berdaya. Hanya butuh waktu satu bulan saja hingga Ibu sekarat dan meninggalkan dunia ini.
Aku hanya diam. Tak mampu mengucapkan sepatah kata pun di depan Ibuku sendiri. Secara garis besar, Ibu mengorbankan dirinya sendiri, demi keluarga. Tapi, entah mengapa aku merasa jika Ibu bersikap egois. Meninggalkanku berdua dengan Ayah, dan aku tetap terjebak dalam belenggu keluarga Kekaisaran.
Seharusnya aku tidak boleh berpikiran seperti ini. Bodohnya diriku.
Maaf. Ibu egois, kan? Maaf, Charlotte.
“Jangan berkata seperti itu, Ibu. Jangan ... hiks ....” Aku malah menangis. Tidak, ini bukan hal yang kuinginkan. Aku tidak ingin terlihat cengeng di depan Ibuku sendiri.
Ibu tidak bisa menyentuhmu, karena kita hanya berada di dalam alam bawah sadarmu.
“Tidak. Ibu tidak perlu berkata seperti itu,” ucapku pelan. Jika aku merasakan pelukan Ibu lagi, aku akan semakin sulit melepaskan Ibu. Meski hati kecilku berteriak menginginkannya, aku tetap harus kuat menghadapi semua ini baik bersama atau sendirian. “Aku senang melihat ingatan Ibu. Terima kasih.”
Kau layak untuk bahagia, Charlotte. Bersama dengan orang-orang yang kau sayangi. Termasuk Ayahmu.
Ini perpisahan kami.
__ADS_1
“Beristirahatlah dengan tenang, Ibu .... Aku menyayangimu.”
***
Aku terbangun di kursi ruang kerjaku. Di dalam tubuhku, aku bisa merasakan mana yang hendak meluap keluar. Inikah kekuatan milik Ibu? Ya, benar. Ini milik Ibu.
Tok! Tok! Tok!
“Ratu, apakah Anda ada di dalam?” tanya Chloe dari luar.
“Ya. Masuklah,” jawabku seraya membereskan kekacauan yang tidak aku perbuat.
Pintu pun terbuka, dan Chloe masuk dengan membawa teh melati untukku. Akhirnya aku bisa menikmati teh melatiku lagi.
“Ratu ..., apakah Anda bermalam di ruang kerja Anda?” tanya Chloe yang tengah memunguti kertas-kertas yang berserakan di lantai, saat aku menyesap teh melatiku.
“Ya. Aku tidak sengaja bermalam di sini karena keasyikan bekerja,” kataku berbohong. Mana mungkin aku mengatakan pada Chloe bahwa Dewi Kebajikan dan Ibuku yang sudah tiada, datang ke sini dan memberikanku sebuah penglihatan. Chloe bisa mengira aku kehilangan akal sehat.
“Tolong pikirkan kesehatan Anda, Ratu. Saya tidak ingin jika Ratu jatuh sakit lagi dan tersiksa,” ucap Chloe.
Aku tersenyum pada Chloe, lalu mengangguk. “Ya, Chloe. Terima kasih sudah memperhatikan kesehatanku. Aku ingin sarapan sekarang.”
“Baik, biar saya siapkan terlebih dahulu. Dayang Matilda akan datang untuk membantu Ratu bersiap di kamar,” ucap Chloe.
“Oh ya, siapkan juga kereta untukku. Dan bilang pada Kesatria Franklin, aku dan dia akan pergi keluar istana,” kataku.
“Boleh saya tahu ke mana Anda akan pergi?” Chloe menunduk sopan.
“Istana Kekaisaran. Aku ingin melihat keadaan Kaisar,” kataku, menunjukkan ekspresi senang yang penuh kebohongan.
Secepat kilat, aku bisa menangkap rasa cemas di tatapan mata Chloe. Dia seperti ingin mengucapkan sesuatu, tapi ditahan olehnya. Dia mungkin tidak ingin jika aku tahu bahwa Rose Hindley sedang mengandung anak Idris. Padahal aku sudah mengetahui hal itu.
“Ada apa, Chloe?” Aku memancingnya sedikit.
“Ah, tidak. Apakah Ratu tidak ingin beristirahat saja di rumah?” usul Chloe. “Sepertinya wajah Ratu pucat.”
“Ada yang kau sembunyikan dariku, bukan?” Aku menatap Chloe, berharap dia terbuka padaku, dan menceritakan hal itu secara terang-terangan.
__ADS_1