
Akhirnya aku tiba di tempat mengerikan ini. Ya, Istana Kekaisaran. Bangunan megah yang penuh dengan kenangan-kenangan buruk untukku. Aku turun dari kereta paling akhir, dengan dibantu oleh Jack.
Setelah disambut, Jack mengantarkan aku dan juga ketiga dayangku menuju ke sisi Barat istana. Tepatnya di balkon Barat lantai tiga, yang mengarah langsung ke halaman tempat eksekusi dilaksanakan. Ini pertama kalinya aku—dalam hidup—melihat proses eksekusi.
Tentu saja begitu, karena dulu aku bukanlah penontonnya, melainkan orang yang dieksekusi.
Prajurit istana sudah berdiri siaga di depan pintu balkon. Mereka menunduk hormat padaku, lalu membukakan pintu balkonnya agar aku bisa masuk. Ketiga dayangku menunggu di tempat lain. Mungkin mereka menonton lewat jendela secara diam-diam. Entahlah.
Masih ada waktu sejam sampai eksekusi dimulai. Para petugas eksekusi dari Pengadilan Tinggi sedang sibuk dengan tiang gantung yang akan digunakan Belka. Pelayan itu pun juga sudah dibawa duluan ke tempat itu. Untuk sementara, dia dikurung di Istana Kekaisaran. Tempat tinggalku dulu sebelum mati.
“Apakah keluarga Franklin sudah tiba?” tanyaku pada Idris. Basa-basi. Aku sudah duduk di kursi kosong di samping Kaisar itu.
“Ah, akhirnya kau tiba,” ucap Idris sumringah. “Mereka baru saja tiba tadi. Petugas pengadilan sudah mengarahkan mereka ke ruang tunggu.”
“Oh, begitu.” Aku sempat melihat Ava di atap bangunan yang berada agak jauh dari istana. Dia pasti sudah tidak sabar.
Para rakyat Vanhoiren sudah mulai datang berbondong-bondong memenuhi halaman eksekusi. Mereka datang karena penasaran, ingin tahu saja, dan juga ingin ikut menghakimi. Itu adalah hal yang wajar.
“Tidak ada hal lain yang kau perbuat, kan?” tanya Idris.
“Apa maksudmu?”
“Sejak pagi tadi para bangsawan kelas atas datang silih berganti ke istana untuk menemuiku. Mereka mencoba membujukku untuk mengampuni keluarga Franklin,” ujar Idris.
Aku tersenyum sedikit. “Lalu? Kau khawatir jika apa yang akan terjadi hari ini membuat bangsawan-bangsawan itu memojokkanmu?”
“Uhm, ya.”
“Membela yang salah, ya? Para bangsawan itu sudah kehilangan akal sehat mereka karena kekuasaan,” sindirku terang-terangan.
__ADS_1
Bunyi terompet dari halaman eksekusi terdengar sangat nyaring. Percakapan kami berhenti di situ. Jack yang lagi-lagi memimpin eksekusi hari ini. Dia naik ke podium kecil dan menunduk pada kami.
Para bangsawan sudah duduk manis di bagian yang jauh dari jangkauan rakyat. Para prajurit berjumlah lebih dari 40 orang sudah bersiap di beberapa titik untuk menghindari kericuhan dan hal-hal yang tidak diinginkan.
“Para hadirin sekalian. Yang Mulia Kaisar XX, Idris Theodoric Vanhoiren. Yang Mulia Ratu XX, Charlotte Mikaela Vanhoiren. Para bangsawan, dan juga rakyat Vanhoiren yang terhormat. Hari ini, para penjahat akan diadili karena tindakan kejinya sendiri,” ucap Jack. “Mereka telah dengan sengaja hendak mencelakai Ratu secara terang-terangan. Melukai keluarga Kekaisaran, itu berarti melukai wajah wilayah Vanhoiren. Artinya, itu adalah dosa besar!”
Pintar bicara. Tidak heran jika si bodoh Idris mempercayainya.
Para bangsawan kaget dengan alasan itu. Bahkan rakyat pun langsung berteriak memanggilku dengan kata-kata sedih. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran mereka.
Dua orang prajurit terlihat keluar dari pintu yang mengarah ke penjara. Belka diapit oleh mereka berdua dalam keadaan tangan dan kaki yang terikat. Wajahnya sudah hampir tidak berbentuk sama sekali. Dari luka-lukanya, itu adalah luka yang masih baru.
Dia dihajar di dalam penjara.
“Pendosa!”
“Musuh Vanhoiren!”
“Ya! Matilah dan cepat ke neraka!”
Rakyat memiliki hati yang rapuh. Jika yang dipertontonkan adalah seorang penjahat, mereka akan dengan mudahnya memaki-maki orang tersebut. Jika yang dipertontonkan adalah seorang berbudi pekerti, mereka berlomba-lomba memberikan kata-kata indah kepada orang tersebut.
Opini rakyat semudah membalikkan telapak tangan jika anggota keluarga Kekaisaran yang bicara, atau ada bukti yang mereka rasa masuk akal.
Kulihat tubuh Belka yang mengigil kedinginan. Bukan, dia ketakutan. Kepalanya tak mampu terangkat karena rasa takutnya sendiri. Kemana keberanian yang dia miliki pada saat bicara denganku tanpa pengaruh sihir?
Apakah aku orang yang tidak bisa ditakuti? Ah, aku berharap itu tidaklah benar.
“Dia adalah pelayan yang diperintahkan untuk menusuk Yang Mulia Ratu XX. Karena kesalahan fatalnya tersebut, hari ini, dia akan diberikan hukuman gantung,” ucap Jack.
__ADS_1
Belka meronta pada saat akan dinaikkan ke kursi kecil. Salah satu prajurit menamparnya sampai dia diam. Rakyat bersorak senang. Akhirnya, Belka pun diam.
Bersamaan dengan tubuhnya yang terlihat makin gemetar, dadaku sesak.Ya, aku agak takut dengan tali gantung diri yang sekarang melingkar di leher Belka itu. Terasa seperti akulah yang saat ini di posisi Belka.
Idris menarik wajahku untuk berada di dekapannya. Saat aku berusaha untuk menjauh darinya, dia menahan kepalaku agar tetap di posisi itu. Aku bisa mendengar detak jantungnya.
Jika saja berhenti ...
“Tetaplah seperti ini. Aku tidak ingin kau melihatnya,” ucap Idris.
Aneh. Kata-katanya sudah lebih manusiawi ketimbang beberapa tahun belakangan ini. Seperti Idris yang dulu kutemui untuk pertama kalinya. Tunggu, kenapa aku harus memikirkan hal itu? Konyol.
“Aku masih bisa menahannya. Berhenti memanjakanku,” kataku kesal. Idris akhirnya melepaskanku. Aku bisa bernafas lega sekarang.
“Kalau kau tidak kuat, jangan dipaksakan.”
Aku hanya diam dan fokus melihat Belka yang sekarang sudah bergerak kesana-kemari dengan berat yang bertumpu pada lehernya. Dia akan merasakan sensasi terbakar di dalam tubuhnya, sesak, dan menderita.
Kemudian, di sisa-sisa nafas terakhir yang dia miliki. Dia akan melihat ingatan-ingatan yang dulu pernah dia alami. Di dalam otaknya akan muncul banyak pertanyaan, “kenapa aku berada di situasi ini?”, “kebaikan apa yang selama ini sudah aku perbuat?”, “apa yang akan dipikirkan orang tuaku saat aku tidak ada nanti?”, dan masih banyak lagi sederet pertanyaan-pertanyaan putus asa darinya.
Kenapa aku tahu itu? Karena aku sudah mengalaminya sendiri.
Tubuh Belka sudah tidak bergerak lagi. Dia sudah pergi meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Semoga Dewi Kebajikan mengampuni dosa-dosa Belka semasa hidup.
Sekarang, hidangan utama akan segera dikeluarkan oleh petugas pengadilan.
Tubuh Belka yang sudah tak bernyawa, dibiarkan tergantung begitu saja. Petugas pengadilan mengantarkan Marquess Franklin, bersama istrinya Marchioness Franklin. Semua bangsawan kelas atas menatapku dengan tatapan melotot. Bola mata mereka seakan-akan ingin meloncat dari tempatnya.
Lucu sekali. Mereka lebih memilih seorang bangsawan kelas atas berhati keji dibandingkan Ratu mereka sendiri.
__ADS_1
“Di depan kalian ini adalah Marquess Benjamin Antoine Franklin dan juga istrinya Marchioness Gracie Nicholson Franklin, dalang dibalik percobaan pembunuhan terhadap Ratu,” ucap Jack lantang.