The Second Life

The Second Life
XCII - Adegan Ranjang


__ADS_3

Chloe salah tingkah. Dia menghindari kontak mata denganku. Aku menyerah, Chloe terlalu memikirkan perasaanku hingga tidak mau mengatakan berita tentang Rose Hindley kepadaku. Biarlah.


Aku meliriknya sejenak, lalu keluar dari ruang kerjaku. “Lupakan saja. Pergilah persiapkan sarapanku dan minta Matilda secepatnya ke kamarku.”


“Ratu ....”


“Apa masih belum jelas?” Aku tetap berjalan, meskipun Chloe mengekor di belakangku.


“Baik, Ratu. Saya permisi.”


Aku tersenyum senang dan masuk ke dalam kamar. Membaca buku sambil menunggu Matilda datang.


Tak butuh waktu lama, Matilda pun tiba dengan tiga orang pelayan. Mungkin saja Chloe sudah mengatakan kepadanya bahwa aku mencurigai gerak-gerik Chloe. Sekarang, Matilda yang tidak ingin melakukan kontak mata denganku. Dia lebih banyak menunduk dan menjaga jarak denganku.


Tindakan mereka yang seperti inilah yang membuatku semakin merasa curiga dan ingin bertanya. Manisnya. Mereka semua sudah kuanggap seperti kakak dan adikku sendiri.


“Sudah selesai, Ratu,” ucap Matilda.


“Baiklah. Terima kasih,” kataku yang kemudian beranjak dari kamar, menuju ruang makan.


Matilda dan ketiga pelayan itu, mengikutiku dari belakang hingga sampai ke depan pintu ruang makan. Salah satu pelayan yang berdiri di depan pintu ruang makan itu, membukakan pintunya untukku.


Di dalam ruang makan, aku disambut oleh beberapa menu sarapan kesukaanku yang tertata di atas meja. Chloe menunduk padaku, menarikkan kursi yang hendak kududuki seperti biasa, tetapi dengan gerakan yang hati-hati. Seperti Chloe tidak ingin membuatku merasa tidak nyaman.


“Kepala Pelayan memberitahu bahwa Ratu harus segera membuat anggaran istana bulan ini, agar dia bisa mengurus semuanya dan membayar gaji pekerja,” ucap Chloe.


“Aku sudah membuatnya jauh-jauh hari,” kataku. “Kubuat bersamaan dengan anggaran istana untuk bulan depan. Aku akan menyerahkannya kepada Maya setelah menghabiskan sarapanku.”


“Ah, baik,” ucap Chloe, terlihat kaget dengan ucapanku. “Bagaimana dengan pekerjaan yang lainnya, Ratu?”


Dia ingin aku tetap berada di istana, ya?


“Diamlah sebentar, aku ingin menikmati sarapanku dengan tenang,” tegurku.


Chloe pun diam.

__ADS_1


*


Aku menyerahkan catatan anggaran untuk bulan ini dan bulan depan kepada Maya. Dia tersenyum dan pamit undur diri dari ruang kerjaku. Setelah membereskan semua kertas di atas meja, aku kembali keluar dan berjalan menuju pintu istana. Ketiga dayangku—yang datang entah darimana, sudah mengekor di belakangku sambil menundukkan kepala mereka.


Hendery yang telah menunggu di depan kereta kuda, menunduk padaku saat aku keluar dari istana.


“Apakah tidak ada barang bawaan yang ingin Ratu bawa?” tanya Hendery.


“Tidak. Aku hanya ingin menengok Kaisar, tidak ada apa pun yang kubawa. Mari kita pergi,” jawabku ada Hendery.


“Ratu ..., apakah kami juga boleh ikut menemani Ratu?”


Permintaan Jasmine, membuatku menoleh ke belakang. “Kalian di sini saja. Aku tidak akan lama. Kesatria Franklin sudah cukup.”


“Anda masih dalam tahap pemulihan, tidak baik rasanya jika kami membiarkan Ratu pergi hanya dengan Kesatria Franklin,” ucap Matilda. “Kami mohon untuk mempertimbangkan hal ini.”


Aku menyipitkan mata. “Tindakan kalian yang seperti ini membuatku semakin yakin jika kalian menyembunyikan sesuatu,” kataku to the point. “Tapi, aku mengijinkan kalian semua untuk ikut denganku.”


Agar kalian bisa melihat ekspresi Idris dan Rose Hindley, saat kusinggung tentang bayi.


Kereta kudaku menyusuri jalanan Vanhoiren, menuju Istana Kekaisaran. Saat keretaku lewat, semua rakyat Vanhoiren yang berada di pinggir jalan, menunduk hormat. Itu sudah jadi tradisi yang agak berlebihan bagiku.


Sesampainya di Istana Kekaisaran, Jack dengan terburu-buru, menyambut kedatanganku. Ya, aku datang secara tiba-tiba seperti tabiatku yang suka memberikan kejutan. Jack menunduk dan memberi salam.


“Kaisar ada di istana, kan?” tanyaku basa-basi.


“Uhm, ya. Benar, Ratu. Kaisar ada di kamarnya,” jawab Jack.


“Bagus.” Aku melangkahkan kakiku ke dalam istana dan sempat melihat wajah pucat Jack. Apakah aku akan mendapatkan pemandangan yang bagus lagi hari ini?


“Anda bisa menunggu di ruang kerja Kaisar, Ratu. Saya akan memanggilkan Kaisar,” tawar Jack.


“Tidak perlu. Aku bisa sendiri.” Tentu saja aku menolak tawaran Jack. Aku sangat ingin memergoki kegiatan suamiku sendiri saat tidak ada diriku di sisinya. “Siapkan saja teh dan cemilan. Aku ingin bersantai dengan Kaisar.”


“Tapi ....”

__ADS_1


Langkah kakiku terhenti saat aku mendengar suara-suara aneh dari ujung pintu. Itu kamar Idris. Jack dan ketiga dayangku juga berhenti.


“Rose Hindley juga di dalam, ya?” tanyaku, hendak memastikan jika hal yang kutanyai adalah kebenaran.


“Ratu—”


“Sstt!” Aku menyuruh mereka diam. “Tunggu di sini. Ini perintah.” Matilda ingin bicara, tapi aku menatapnya tajam. Akhirnya, dia kembali menunduk seperti yang lain.


Suara aneh itu semakin lagi saat aku mulai mendekat ke arah pintu. Itu desahan wanita. Ya, siapa lagi kalau bukan Rose Hindley. Aku tersenyum dan memegangi kenop pintu kamar Idris, lalu membukanya perlahan.


Di dalam, tepatnya di atas ranjang, Idris dan Rose Hindley sedang asyik bers*nggama dengan gerakan erotis. Rose Hindley berada di atas tubuh Idris, sambil menggoyang-goyangkan pinggungnya maju-mundur. Aku mual.


“Ahh, Idris!” desah Rose Hindley manja.


Aku sudah masuk di kamar Idris, berdiri di ambang pintu. “Hati-hati, kandungannya bisa terganggu jika kalian bergerak se-ekstrim itu.”


Idris dan Rose Hindley langsung menatapku. Wanita itu menarik selimut, lalu menutupi tubuhnya yang tidak terbalut apa pun. Sedangkan Idris, dia meraih jubah tidurnya dan memakainya secepat kilat. Aku sempat memalingkan wajah saat dia tidak berbusana.


Rasakan itu, kalian pasti merasa belum puas, kan?


“Istriku, bagaimana bisa kau datang tanpa memberitahuku?” tanya Idris.


“Aku hanya ingin menegokmu. Tapi, kau sepertinya baik-baik saja, ya.” Aku menyeringai. “Bagaimana dengan kondisi kandungan Rose Hindley?”


Idris menoleh pada Rose Hindley yang masih berselimut. “Apa maksudmu, Istriku?” Baru saja Idris ingin memegang tanganku, aku mundur untuk menghindar.


“Tidak usah menyembunyikan apa pun dariku. Aku turut bahagia dengan kehamilan Rose Hindley. Aku harap, bayinya bisa sehat sampai lahir dan besar nanti,” kataku. Tak lupa kuberikan senyum hangat untuk Idris.


“Be-benarkah?” Idris jadi salah tingkah. “Sebenarnya, Rose memang sedang mengandung anakku. Aku sangat senang akan hal itu.”


Mengaku juga kau.


“Begitu. Harusnya kau mengatakan berita baik ini kepadaku secepat mungkin,” kataku pelan. “Berpakaianlah, Suamiku. Kita minum teh bersama. Aku akan menunggu di kantormu.”


Idris mengangguk. “Baik, Istriku. Tapi, darimana kau tahu berita tentang kehamilan Rose?”

__ADS_1


“Dinding punya telinga,” kataku, sambil pergi meninggalkan Idris dan Rose Hindley berduaan.


__ADS_2