The Second Life

The Second Life
XCV - Rencana Terakhir


__ADS_3

Lucas duduk di sampingku saat kami bertiga berada di ruang tunggu. Ruangan kesukaan Ava. Isaac tak kunjung pulang, dengan begitu, aku yang membuatkan teh untuk kami bertiga.


Tidak ada percakapan yang terjalin di antara kami untuk beberapa menit lamanya. Semua tenggelam dalam pikirannya masing-masing, termasuk aku sendiri yang saat ini tengah mengenang Isla.


Ava yang paling pertama menyentuh teh buatanku, dia meminumnya hingga setengah cangkir teh.


“Mengenai meningkatnya mana-mu, aku punya rencana dadakan tentang Sienna,” ucap Ava. “Kita bisa menyerang Istana Perak secara langsung. Sienna tidak akan mendapatkan kekuatannya kembali dalam waktu singkat.”


“Bukankah itu adalah tindakan yang terlalu mengundang perhatian semua orang?” Aku agak keberatan dengan hal itu.


“Memang itulah yang kita butuhkan. Aku juga sudah memikirkan cara meningkatkan eksistensimu di Vanhoiren dengan tindakan ini. Kau pasti akan menerima banyak simpati rakyat bodohmu itu,” ucap Ava, setengah menyindir Vanhoiren yang dia tak sukai.


“Usahakan untuk tidak membahayakan nyawa kalian,” kata Lucas.


Ava tertawa keras-keras. “Memangnya aku ini siapa, hingga Raja mengatakan hal memalukan seperti itu? Jika bukan karena posisi Charlotte, aku pasti sudah menghancurkan Istana Perak itu tanpa menyisakan apa pun.”


“Aku hanya berusaha mengingatkan, Nenek,” ucap Lucas. Dia melirikku sesaat. “Aku juga tidak ingin Charlotte dalam bahaya.”


“Ya, ujung-ujungnya Raja tetaplah budak cinta Charlotte. Aku paham, Raja,” sindir Ava. “Dan jangan panggil aku nenek!”


Aku hanya bisa tersenyum dan bersikap tenang. “Aku menghargai hal itu, Lucas. Aku akan baik-baik saja bersama Ava.”


“Ya, dia akan baik-baik saja bersamaku. Raja tidak perlu khawatir dan fokus saja pada tugas Raja,” tambah Ava.


“Lagi-lagi kau mengingatkanku hal itu. Sekali-sekali aku ingin istirahat juga seharian penuh. Aku tidak gila kerja sepertimu,” ucap Lucas.


Ava berdiri dan mengibas-ngibaskan tangannya. “Sudahlah, nikmati saja waktu kalian berdua. Aku ingin menyiapkan sesuatu untuk Charlotte. Sebelum kembali ke Vanhoiren, mampir ke ruang kerjaku.”


“Baik, Ava,” kataku padanya.


Ava kemudian keluar dari ruang tunggu, meninggalkan aku yang berduaan saja dengan Lucas. Kami saling bertatapan beberapa detik, sebelum akhirnya Lucas menghampiriku duluan dan menarikku ke dalam pelukannya.


Aku membalas pelukan Lucas karena merindukannya untuk waktu yang cukup lama. Ini kehangatan yang aku butuhkan beberapa minggu terakhir. Rasanya seakan-akan seluruh bebanku terangkat dalam sesaat.


Ketika Lucas mulai menepuk kepalaku, aku memejamkan mata karena merasa dimanjakan olehnya. Tanpa sadar aku tersenyum senang.


“Bagaimana keadaanmu di Vanhoiren?” tanya Lucas, sambil berbisik.

__ADS_1


“Cukup baik. Sejauh ini aku bisa menghadapi semua kekacauan yang diperbuat Idris,” jawabku.


“Si s*alan itu berbuat apa lagi padamu?” Nada bicara Lucas mulai terdengar emosi.


“Tenanglah, Lucas. Dia tidak berbuat apa pun kepadaku, dia hanya akan menjadi seorang Ayah sebentar lagi,” ucapku tenang.


Lucas langsung melepaskan pelukannya dan melotot padaku. “Selingkuhannya sedang mengandung anaknya?!” tanya Lucas setengah kaget.


Aku senang karena Lucas tidak mengira bahwa yang hamil itu adalah aku. Kupikir dia akan bertanya tentangku, syukurlah itu hanya pikiran negatifku saja.


“Ya, benar. Tadi aku ke istana untuk mengecek kebenarannya. Dan aku mendapatkan jawaban itu,” kataku.


“Wah, hebat sekali dia. Bahkan sampai menghasilkan keturunan.” Lucas menggeleng-geleng. Sepertinya tak habis pikir dengan kelakuan Idris.


“Ya.”


“Jika dia berhasil dilengserkan, apa yang akan kau perbuat pada selingkuhan itu dan bayi yang ada di dalam kandungannya?” tanya Lucas.


Meskipun aku sudah tahu apa yang akan kulakukan kepada Rose Hindley, aku memilih bersikap seperti belum tahu untuk membuat apa pun. Biarlah hal ini menjadi sedikit rahasia sebentar saja.


“Aku masih memikirkan tindakan yang pas untuk mereka. Kau tenang saja, Lucas.”


Aku tidak sebijaksana yang dipikirkan oleh orang-orang termasuk kau, Lucas. Aku tetaplah manusia biasa yang tidak luput dari sebuah kekurangan. Ada kalanya aku akan melewati batasku dan bersikap di luar hal yang biasa kulakukan.


Jangan berharap terlalu banyak padaku, Lucas.


“Aku akan baik-baik saja,” kataku percaya diri. Untuk membuat Lucas yakin, aku harus bisa meyakinkannya dengan sikap yang seperti ini.


Lucas tersenyum. “Aku hanya berharap jika hubungan kita bisa terjalin dengan baik dan berlangsung selamanya.”


“Aku juga.”


Lucas pun mengecup bibirku singkat. Itu seperti tanda bahwa percakapan kami hari ini, telah berakhir.


*


Ava meletakkan 4 buku tebal di atas mejanya, setelah aku masuk untuk menemuinya. Dia menepuk-nepuk buku di tumpukan teratas dan tersenyum melihatku. Aku menatapnya tegang, seakan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

__ADS_1


“Pelajarilah ini secepat yang kau bisa. Ini buku-buku yang dipelajari oleh Eva. Dua hari lagi, kita akan melaksanakan rencana kita, ingat ini baik-baik. Aku harap kau bisa,” ucap Ava.


“Semua ini? Apa ini semua tidak terlalu berlebihan untuk Charlotte?” Lucas terlihat keberatan.


Brak!


“Ini semua sudah yang paling ringan untuk dipelajari,” ucap Ava, setelah mengebrak meja kerjanya sendiri. “Apa mau keberatan lagi?”


“Tak apa, Ava. Aku bisa mempelajari semuanya dalam dua malam,” kataku cepat.


Ava tersenyum puas. “Pulanglah, kau membutuhkan waktu sebanyak mungkin untuk menghabiskan empat buku itu.”


“Baik, aku permisi.”


Aku pun keluar dari ruang kerja Ava dengan membawa empat buku Ava. Aku menolak bantuan Lucas yang hendak membawa semua buku di tanganku. Dengan sedikit mana, aku membuat buku-buku itu melayang dan mengekoriku.


Sihir adalah sebuah tanda dari yang namanya “praktis”.


“Kalau begitu, aku pergi dulu, Lucas,” ucapku padanya.


“Sudah lama kita tidak berbincang lewat sihir komunikasi. Jika kau punya waktu, jangan lupa untuk menghubungiku,” kata Lucas.


Aku mengangguk. “Ya, Lucas. Aku akan mengusahakannya.”


Lucas melambai padaku, sebelum akhirnya aku pun masuk ke dalam portal dan muncul di dalam ruangan rahasia.


Aku keluar dari ruangan rahasia ini, meletakkan empat buku Ava di atas meja, dan kemudian mengganti gaunku dengan gaun yang tadi.


Ava benar-benar sangat niat mengerjaiku. Dia memberikanku empat buku yang masing-masing bukunya memiliki 600 halaman. Aku tidak terlalu yakin bisa menghabiskan semuanya dalam waktu dua hari meskipun aku sangat suka membaca.


Buku-bukunya memiliki judul yang mencurigakan dan tidak meyakinkan. Aku tahu yang menulis ini adalah Ava sendiri, dan dia kurang mahir memilih judul yang bagus. Contohnya:


Mana? Apa kau tahu caranya? Simak di sini!


Ini adalah sihir-sihir terpercaya di zaman dulu!


Kau bisa jadi penyihir hanya dengan langkah ini!

__ADS_1


Sihir dan mana? Apakah nyata?


Aku tidak habis pikir dengannya. Apakah Ibuku juga memikirkan hal yang sama denganku saat membaca judul buku ini? Aku juga tidak tahu.


__ADS_2