The Second Life

The Second Life
LXXXV - Hari Eksekusi (III)


__ADS_3

Para rakyat langsung meneriaki mereka dengan sumpah serapah. Marquess Franklin hanya diam saja. Berbanding terbalik dengan Marchioness Franklin yang saat ini membalas teriakan para rakyat tak kalah sengit.


“Karena kebaikan hati Ratu, hukuman untuk pasangan keluarga Franklin yang tadinya adalah hukuman gantung, diganti menjadi pencabutan gelar bangsawan.” Jack mulai membaca isi surat dari Pengadilan Tinggi. “Mulai detik ini, gelar bangsawan keluarga Franklin dicabut sepenuhnya tanpa bantahan apa pun. Keluarga Franklin sudah tidak terhitung lagi dalam bagian bangsawan kelas atas, pergaulan atas, maupun kepentingan apa pun menyangkut Kekaisaran.”


Mantan Marquess dan Marchioness Franklin terkejut setengah mati.


Bukannya sadar, Gracie menatapku dan berteriak histeris. Idris sempat ingin menyuruh prajurit yang berada di halaman eksekusi untuk memukuli Gracie agar diam, tapi aku menahannya.


Gracie terlihat dengan jelas masih tidak bertobat meskipun sudah diberikan hukuman. Sedangkan Benjamin, dia terlihat hancur. Semua hal yang dia miliki sejak turun-menurun, musnah dalam sehari hanya karena kelakuan lancang istrinya sendiri.


Benjamin bukannya tidak salah. Tentu saja dia salah. Dia mengijinkan Gracie saling bertukar surat dengan Belka pada saat Gracie sedang dalam masa tahanan dan memutus hubungan dengan dunia luar. Benjamin ikut terlibat.


Namun, untuk membuat Gracie lebih jera atas perbuatannya sendiri, aku sudah menyiapkan hadiah untuknya. Satu prajurit datang dengan sebuah cambuk ternak. Itu adalah hadiahnya.


“Pencabutan gelar saja, terbilang tidak cukup untuk dosa besar. Untuk itu, Nyonya Franklin akan dicambuk seribu kali untuk membuatnya terus mengingat hari ini,” ucap Jack, disertai oleh teriakan kaget para bangsawan kelas atas yang menonton.


Idris mendelik kaget padaku. “Charlotte, apa ini rencanamu?”


“Tonton saja adegan menarik ini, Idris. Kau menyukainya, bukan?” Apalagi kalau aku yang disiksa, kau pasti akan lebih menyukainya lagi.


“Apa? Tentu saja tidak!”


Benjamin diseret agar menyingkir ke sudut. Kini, tinggal Gracie saja yang berdiri sendirian di tengah-tengah kerumunan. Prajurit yang membawa cambuk tadi, mendekati Gracie dan langsung melayangkan cambukan pertama. Teriakan rasa sakit Gracie membungkam seluruh penonton termasuk Idris.


Aku mulai menghitung cambukan untuk Gracie dalam hati.


Satu.


Dua.


Tiga.


Empat.


Lima.

__ADS_1


Lagi. Cambukan tidak berhenti meskipun Gracie memohon ampun kepadaku. Aku tidak ingin menghentikannya. Ini adalah peringatan untuk orang lain yang hendak mencelakaiku di masa depan. Aku tidak segan-segan dan berbelas kasih pada penjahat.


“Apakah kau tidak berniat untuk melunak sedikit pada Nyonya Franklin?” tanya Idris.


“Tidak. Kau sudah melimpahkan seluruh wewenangmu dalam eksekusi hari ini kepadaku. Yang harus kau lakukan sekarang hanyalah menonton,” kataku kesal.


“Uhm, baiklah.” Idris kembali diam.


Prajurit yang ditugaskan untuk mencambuki Gracie sudah diganti sebanyak lima kali karena kelelahan. Gracie sudah bersujud di tanah. Suaranya tidak keluar lagi. Punggungnya berdarah dan pakaiannya sudah sobek akibat cambukan yang terlalu keras.


Kondisinya sangat buruk hingga sampai cambukan yang keseratus dilayangkan untuknya. Prajurit langsung membawa Gracie pergi untuk diobati atas permintaanku sendiri. Maka, berakhirlah eksekusi hari ini dengan cukup memuaskan.


*


Aku duduk di ruang tamu Istana Kekaisaran untuk beristirahat sejenak ditemani oleh Idris dan ketiga dayangku. Aku sengaja membiarkan mereka bertiga di dalam agar Idris tidak melakukan hal-hal aneh terhadapku.


Benar saja. Idris hanya menyeruput teh miliknya sambil melirikku. Aku mengabaikan hal itu. Tidak penting sama sekali.


“Apa kau tidak ingin tidur di sini hari ini?” tanya Idris.


“Benar juga.” Suara Idris terdengar kaget. “Akan kusuruh dia pulang ke kediaman Hindley sekarang juga. Sekarang, apa kau sudah mau?”


Aneh. Hanya karena ingin aku tinggal, dia sampai ingin menyuruh Rose Hindley pulang? Apakah dia punya sesuatu yang ingin dia lakukan padaku? Hm, aku sama sekali tidak bisa melihat sisi positif Idris sampai detik ini.


“Tidak. Pekerjaanku menumpuk,” tolakku.


“Bisakah kau meluangkan waktumu sedikit untukku?”


Oh, Dewi. Kenapa Idris bersikap seolah-olah akulah satu-satunya orang yang egois di sini? Apa dia tidak berkaca pada gerak-geriknya selama ini? Selain itu, mana mau aku berada di tempat yang sama dengan Idris selama sehari?


“Tidak.”


“Apakah kau benar-benar mencintaiku?” tanya Idris. “Apakah ..., aku berharga di matamu?”


Aku berdiri dan menghela nafas. “Aku akan pergi sekarang. Istirahatlah. Setelah keluarga Franklin jatuh, akan ada banyak masalah yang datang nantinya.”

__ADS_1


“Charlotte.”


Aku tak menoleh padanya dan berjalan menuju pintu. Dari arah kiri, Idris menarikku dengan kasar dan menyudutkanku ke tembok. Dia benar-benar sudah kehilangan akal sehat.


“Aku sudah melakukan kesalahan yang fatal di masa lalu. Sekarang, aku sepertinya melakukannya lagi,” ucap Idris. Aku tidak bisa melepaskan tanganku dari genggamannya. Ugh, sial.


“Berhentilah. Para dayangku melihat kita,” kataku setengah berteriak.


“Aku merasa jika semakin hari kau semakin jauh dariku. Saat menikah, bukannya kita semakin dekat, kau malah semakin menjauh. Apa itu hal yang wajar?” tanya Idris dengan raut wajah sedih.


Wajar? Tentu saja.


“Aku harus pergi sekarang. Berhentilah bicara hal yang tidak masuk akal. Aku tak menyukainya,” ucapku kesal.


Detik berikutnya, aku kaget karena Idris langsung menciumku dengan membabi buta di depan Jasmine, Matilda, dan Chloe. Dia bahkan berusaha meraba tubuhku hingga membuat aku merinding ngeri.


Plak!


Karena Idris sudah bersikap kurang ajar, aku tanpa ragu menampar pipinya sekuat tenaga hingga dia mundur ke belakang. Aku melotot padanya karena marah dan jijik atas perlakuannya.


“Berhenti menyentuhku dengan sembarangan! Aku tidak peduli jika kau adalah Kaisar atau suamiku sendiri. Aku tidak mau dipaksa!” seruku emosi.


“Maaf. Aku hanya frustasi karena kau bersikap dingin padaku,” kata Idris.


Aku menepis tangan Idris yang hendak dia arahkan padaku sambil menatapnya tajam. “Urus saja simpananmu itu,” ucapku spontan sambil keluar dari ruang tamu. Diikuti oleh ketiga dayangku yang hanya diam saja.


“Akan kuantar sampai ke depan istana,” kata Idris dari belakang.


Aku berhenti berjalan dan menoleh ke belakang. Kupasang wajah tak bersahabat kepada suamiku yang bodoh itu. “Jangan ikuti aku jika kau masih ingin melihat wajahku lagi,” ancamku serius.


Dia hanya diam terpaku. Aku memanfaatkan kesempatan itu dengan melarikan diri keluar istana, dan naik ke dalam kereta secepat kilat. Begitu keretaku berjalan meninggalkan Istana Kekaisaran, aku bernafas lega.


“Ratu, apakah Ratu merasa terbebani karena sikap Kaisar tadi?” tanya Jasmine.


“Uhm, menurut saya, sikap Ratu yang seperti itu karena Kaisar bersikap baik kepada Ratu di saat Kaisar memiliki wanita lain,” tambah Matilda.

__ADS_1


Aku hanya tersenyum dan membiarkan mereka berspekulasi. “Aku agak kesal melihat wajah Suamiku sendiri hari ini,” ucapku tanpa pikir panjang.


__ADS_2