The Second Life

The Second Life
LXXXVIII - Informasi Menarik


__ADS_3

Steak sapi buatan koki istana sangatlah lezat. Atas permintaanku yang sedikit memaksa, Jasmine mau tidak mau harus menyanggupi hal tersebut. Dari kemarin aku dipaksa memakan sup hambar yang dikatakan berkhasiat oleh Dokter Kekaisaran.


Jika disuruh memilih, aku lebih suka sup buatan Chloe ketimbang sup hambar itu. Tapi yang paling penting, hari ini aku sudah bisa makan makanan manusiawi ini. Hatiku sedikit lebih terhibur.


Kemarin, setelah Idris pergi, aku hanya uring-uringan di atas tempat tidur. Makan sup hambar, minum obat, tidak boleh ngemil kue coklat, tidak boleh minum teh melati, tidak boleh pergi bekerja di ruanganku, dan bahkan tidak boleh beranjak dari ranjang.


Ava pun tidak menunjukkan batang hidungnya hingga hari ini. Mungkin saja dia sudah kembali ke Avnevous dan menyelesaikan masalahnya dengan Isaac. Aku juga masih khawatir pada Isla yang sepertinya masih belum dimakamkan oleh Isaac. Aku tahu, Isaac sangat terpukul dengan kematian Isla. Satu-satunya keluarga yang Isaac miliki.


Begitu aku selesai makan, Jasmine menyingkirkan meja makan kecilku dari atas ranjang dan keluar dari kamarku. Sepeninggalan Jasmine, kini Chloe masuk dengan segelas air dan juga obat-obatanku. Aku harus rutin meminum obatku, tiga kali sehari.


“Apakah ada buku lain yang ingin Ratu baca lagi? Saya bisa mengambilkannya untuk Ratu,” tawar Chloe, setelah aku sudah minum obat dan duduk bersandar di ranjangku sendiri.


“Aku ingin keluar menghirup udara segar.”


“Maaf, Ratu. Tubuh Anda masih lemah. Anda harus menunggu sampai besok agar pulih dengan benar,” ucap Chloe.


Aku menggeram kesal. “Kenapa aku diperlakukan seperti orang penyakitan? Apakah Idris yang menyuruh kalian untuk mengurungku di istana ini?!”


Chloe hanya diam.


Aku akhirnya beranjak dari ranjangku dan berjalan keluar dari kamar. Aku mengabaikan seruan Chloe yang memintaku untuk kembali ke dalam kamar. Dikurung seperti itu membuatku terkekang. Ini hidupku, aku yang harus menentukan apa-apa saja yang harus kulakukan.


“Ratu! Saya mohon, kembalilah ke kamar Ratu!” seru Chloe.


Aku tak peduli, kupercepat langkah kakiku menuju taman samping, dan aku malah bertemu dengan Hendery. Ternyata dia kembali ke istana, meskipun dengan raut wajah dingin dan hampa.


Ketika mata kami saling bertatapan, dia hanya menunduk padaku. Tatapannya sudah berbeda, tidak seperti Hendery yang dulu.


“Apa kau memutuskan untuk menetap di sini?” tanyaku pada Hendery.


Hendery yang kala itu sedang berlatih pedang, menghampiriku. “Ya.”


“Kenapa?”


“Tadinya aku ingin menyerah pada ambisiku dan kembali pada keluargaku. Tapi, Ibuku malah melimpahkan semua kekesalannya kepadaku dan mengusirku dari rumah lagi,” tutur Hendery. “Ternyata mereka lebih memilih Kakakku sendiri di sisi mereka. Daripada aku terpaku pada orang-orang yang tidak menghargaiku, lebih baik aku mencari kebahagiaanku sendiri.”

__ADS_1


“Aku salut pada keberanianmu, Kesatria Franklin,” ucapku spontan. “Tapi, kebahagiaan itu bisa tercipta dari dirimu sendiri dan orang-orang di sekitarmu. Apa kau dendam padaku karena telah membuat keluargamu hancur?”


Hendery menggeleng. “Tidak. Ibuku pantas mendapatkan hal tersebut atas kelakuannya sendiri. Ayah juga mendukung sebuah kejahatan, itu juga tidak bisa ditoleransi.”


Aku mengangguk paham dan tersenyum. “Kau harus tahu, kejamnya aku ini memiliki sebuah tujuan. Jika ingin menjadi bagian dari tujuanku, kau harus bisa memiliki hati yang besar.”


“Aku mengerti jika Ratu sedang bermain dalam kobaran api yang besar. Tujuan Ratu pun tidak main-main.” Hendery akhirnya tersenyum. “Aku tidak akan gentar lagi, Ratu.”


“Benarkah? Kau yakin mau ikut terbakar bersamaku?” Aku menyeringai.


“Ya. Aku sangat suka tantangan, Ratu.”


“Ratu, sebaiknya Anda segera kembali ke kamar,” ucap Jasmine yang berdiri bersama dengan Chloe.


Aku melirik sedikit Hendery dan mengangguk. “Baiklah. Aku akan kembali. Aku sudah cukup lama menghirup udara segar,” ucapku sambil berbalik. “Kesatria Franklin, usahakan jangan sampai berbuat onar lagi.”


“Baik, Ratu.”


*


“Apakah Ratu ingin makan sup lagi?”


“Tidak,” sahutku cepat. “Kau boleh pergi. Aku ingin tidur siang.”


Chloe pun mengangguk. “Baiklah. Selamat beristirahat, Ratu.”


Begitu Chloe pergi, aku langsung berbaring di ranjangku dan memejamkan mata. Kubuka sihirku dan mulai mendengar suara-suara di dalam istana. Sedikit gosip sebelum tidur tidak ada salahnya juga.


“Kenapa kau sudah turun?” tanya Jasmine.


“Ratu ingin tidur siang. Beliau menyuruhku untuk meninggalkannya sendiri,” jawab Chloe.


“Oh, begitu.”


“Ngomong-ngomong, aku mendengar sesuatu yang mengerikan di Istana Kekaisaran,” ucap Matilda.

__ADS_1


Sesuatu yang mengerikan? Ini hal yang patut kudengar. Mata-mata Ayah memang sangat mahir mencari info dari sumber-sumber yang tak bisa kubayangkan.


“Apa itu?” Jasmine terdengar tertarik.


“Para pelayan menghilang secara misterius. Tidak ada yang tahu kemana mereka dan dengan siapa mereka berada. Sampai detik ini, para pelayan itu tidak ditemukan,” ucap Matilda. “Sejak saat itu, penjagaan di istana diperketat dari sebelumnya.”


“Bukannya itu gawat? Bahkan kasus menghilangnya para rakyat Vanhoiren pun belum bisa diungkap dan sengaja ditutup-tutupi Kaisar terdahulu,” tambah Chloe.


Ternyata mereka juga tahu akan hal itu. Ya, memang benar bahwa Ayahanda dan Idris sangat menyembunyikan hal itu. Tentu saja untuk menutupi apa yang telah disembunyikan oleh Selir Sienna. Sebenarnya, aku masih terus memikirkan cara untuk menangkap Selir Sienna tanpa membuat diriku terpojok. Idris sudah pasti akan mendukung Selir Sienna.


Sial.


“Apa kita tanya saja pada Ratu?” usul Jasmine.


“Jangan!” seru Matilda.


“Kenapa?” tanya Jasmine.


“Bagaimana jika Ratu langsung pergi ke Istana Kekaisaran dan bertemu dengan Rose Hindley?”


“Hah? Memangnya kenapa jika Ratu bertemu dengan wanita itu?” tanya Jasmine yang heran pada kata-kata Matilda.


“Bisa gawat. Ratu baru mulai pulih dari sakitnya, kalau mendengar berita itu, beliau pasti akan jatuh sakit lagi,” ucap Matilda.


Entah apa yang ingin diutarakan oleh Matilda. Tapi, aku agak kesal karena mereka memperlakukanku seperti seorang wanita yang lemah dan tidak berdaya. Aku tidak suka jika diperlakukan seperti itu.


Rasanya, sangat tidak adil.


Jasmine berdecak kesal. “Ya, berita apa? Berhenti bicara berbelit-belit!”


“Baiklah-baiklah. Akan kukatakan.” Matilda menyerah. “Selain informasi yang tadi, ada juga informasi lain yang lebih mengerikan dari itu. Kemarin, aku sempat bicara dengan temanku yang seorang pelayan Istana Kekaisaran di pasar, dia mengatakan bahwa Rose Hindley menjadi sangat aneh.”


“Aneh?” Kali ini Chloe yang bersuara. Ternyata, dia masih mendengarkan juga.


“Ya. Rose Hindley menjadi sering muntah di pagi hari, dan saat diperiksa oleh Dokter Kekaisaran ..., ternyata dia hamil.”

__ADS_1


__ADS_2