
“Apa kau tidak ingin berbincang denganku dulu sambil minum teh?” tawar Idris padaku.
Aku menggeleng. “Buatkan saja surat laporannya, Idris.”
Idris menulis surat laporan sekaligus penyerahan tanggung jawab sepenuhnya kepadaku, untuk pemberian hukuman kepada Belka dan juga keluarga Franklin. Khususnya Marchioness Franklin.
Selesai menulis, Idris memberi cap khusus milik Kaisar di dalam surat tersebut. Kertas itu dilipat dan diberi stempel Kekaisaran untuk segelnya. Dia menyodorkan surat itu kepadaku. Aku menerimanya dengan senang hati.
“Hati-hati, Istriku,” ucap Idris saat aku berjalan menuju pintu.
Aku menatapnya sejenak, lalu tersenyum tipis. Tanpa basa-basi, aku keluar dari ruang kerja Idris dengan disambut oleh Jack. Dia mengantarkanku ke tempat Matilda dan Chloe berada.
Kami bertiga akhirnya kembali ke dalam kereta. Aku menyuruh kusirku untuk pergi ke Pengadilan Tinggi perihal mengurus penjatuhan hukuman untuk Belka dan keluarga Franklin. Jika aku sudah punya surat yang diberikan oleh Idris, aku tidak perlu pagi menunjukkan bukti apa pun untuk meyakinkan pihak Pengadilan Tinggi.
Kekuasaan Kaisar adalah mutlak. Apa pun yang diucapkan, baik salah maupun benar, Kaisar tetaplah benar dan tidak terbantahkan. Bisa dibilang, sekarang aku sedang memanfaatkan kekuasaan Idris untuk menegakkan keadilan.
“Apakah pelayan itu akan dieksekusi?” tanya Chloe.
“Ya. Jika semua urusannya selesai hari ini juga, dia akan dieksekusi besok bersama dalang dibaliknya,” ucapku cuek.
“Anda sudah menemukan orang yang menyuruh Belka?” Matilda terkejut senang. “Bisakah Anda memberitahu hal itu pada kami, Ratu?”
Aku terkekeh kecil dan meliriknya sejenak, sebelum akhirnya mengalihkan pandanganku ke jendela kereta. “Kau akan mengetahuinya saat besok,” ucapku misterius.
Matilda akhirnya hanya diam dengan raut wajah yang masih penasaran. Aku menangkap ekspresi yang sama di wajah Chloe. Penasaran sehari saja tidak akan membuat seseorang mati.
*
Sesampainya di Pengadilan Tinggi, aku disambut hangat oleh Hakim Agung langsung dan dua orang petugas pengadilan. Kami masuk ke dalam gedung itu, lalu diajak berbincang di ruangan milik Hakim Agung. Selagi aku bicara dengannya, Matilda dan Chloe kusuruh menunggu di ruang yang sudah dipersiapkan dua petugas pengadilan tadi.
__ADS_1
Setelah aku menyesap tehku, aku menatap sang Hakim Agung yang sedari-tadi menunggu dengan sedikit gelisah. Tidak biasanya keluarga Kekaisaran datang ke Pengadilan Tinggi tanpa urusan yang jelas dan penting.
Begitu aku meletakkan surat Idris di meja dan digeser sedikit, dia terkejut setengah mati.
“Apakah ada sesuatu yang terjadi, Yang Mulia?” tanya Hakim Agung. Dia kemudian membuka surat itu dan lebih terkejut lagi. “Ratu—”
“Kirimkan surat kepada keluarga Franklin. Jam 12 siang, eksekusinya akan dilaksanakan,” potongku langsung. “Bisa kau lakukan itu secepat mungkin?”
“Ah, ya. Baik, Ratu. Akan saya kirimkan suratnya secepat mungkin,” ucap Hakim Agung, menyanggupi. “Tapi ..., apa Anda akan memberikan hukuman mati pada keluarga Franklin?”
Wajar saja dia bertanya seperti ini. Surat itu hanya mencantumkan bahwa Idris telah sepenuhnya memberikan tanggung jawab pengeksekusian kepada diriku, istri sahnya. Tidak disinggung apa masalah dan siapa pelakunya.
Pertanyaan Hakim Agung membuatku terkekeh dan menggeleng pelan. “Aku tidak akan melakukan hal sekeji itu. Lakukan saja apa yang kuperintahkan. Siapkan saja halaman samping istana untuk besok hari, lalu sebarkan berita tentang eksekusi ini kepada seluruh rakyat. Mereka juga harus tahu apa yang telah terjadi sebenarnya.”
“Baik, Ratu. Saya tidak akan mengecewakan Anda.”
Aku tersenyum. “Kau memang tidak boleh mengecewakanku.”
***
Aku membuka kedua mataku di pagi hari seperti biasanya. Dijamu teh oleh Chloe, dibantu berpakaian pantas, dan sekarang aku sedang menikmati sarapanku. Semua kulakukan sambil tersenyum. Dan aku tidak sabar untuk hari ini.
Hari yang telah aku nantikan sejak semalam, hingga membuatku tetap terjaga beberapa jam di malam hari, karena memikirkan hari ini.
Brak!
Aku menoleh ke pintu yang didorong secara paksa oleh kesatria pribadiku sendiri, Hendery. Sepertinya dia sudah tahu jika aku akan berbuat sesuatu pada keluarganya.
“Kesatria Franklin! Bisakah Anda mengetuk pintu?!” protes Chloe yang tidak menerima tindakan Hendery barusan.
__ADS_1
“Ratu, apa yang akan kau perbuat kepada keluargaku?!” tembak Hendery langsung. Dia mengabaikan ucapan Chloe dan langsung berdiri di belakangku. “Tolong jawab aku, Ratu.”
“Apakah kau menerima surat dari Marchioness Franklin yang berisi bujukan untuk membuat aku mencabut hukuman mereka?” Aku melirik Hendery dengan ekor mataku.
Hendery hanya diam, tapi aku tahu itu benar.
“Ibumu telah dengan sengaja hendak mencelakaiku dengan bantuan pelayan itu. Melukai anggota keluarga Kekaisaran adalah hukuman yang sangat fatal,” tuturku. “Tidak ada yang bisa kuperbuat. Setiap kesalahan harus bisa diterima oleh orang tersebut tanpa melihat latar belakangnya.”
“Ratu, aku mohon—”
Aku mendelik padanya. “Kau tidak punya wewenang untuk memohon apa pun kepadaku, Kesatria Franklin. Jika kau tidak terima, kau bisa bergabung dengan keluargamu untuk menerima hukuman yang sama.”
Hendery pun tidak berkata apa-apa lagi. Gertakanku berhasil membuat mulutnya bungkam. Aku berdiri dan pergi meninggalkan Hendery, bersama dengan Chloe.
Sekarang, tinggal pilihan Hendery sendiri. Dia masih ingin mengejar ambisinya untuk mendapatkan kekuasaan dengan bekerja sama denganku, atau memilih keluarganya dan membuang egonya dengan tidak lagi menjadi kesatriaku.
Semoga kau bisa menjadi orang yang bijak.
“Mahkota Anda sudah saya letakkan di kereta, Ratu,” ucap Matilda, begitu aku selesai sarapan. “Apa Ratu akan pergi sekarang juga ke Istana Kekaisaran?”
“Lebih cepat lebih baik. Kau dan Jasmine akan ikut juga bersama denganku dan Chloe. Panggil Jasmine,” kataku, sambil berjalan keluar istana.
“Baik, Ratu.”
Aku dan Chloe sudah masuk ke dalam kereta kuda duluan. Lima menit kemudian, Jasmine dan Matilda sudah keluar dari istana, lalu ikut masuk ke kereta. Maya, bersama dengan dua orang pelayan, berdiri di depan istana untuk melihat kepergian kami. Mereka bertiga menunduk hormat padaku sebelum akhirnya aku pergi bersama ketiga dayangku dengan kereta kuda, menuju Istana Kekaisaran.
Kedua tanganku gemetar tanpa sebab. Aku sudah meminum obat yang diberikan Ava untuk sakit kepalaku. Semua persiapan yang kubutuhkan sudah selesai.
Namun, kekhawatiranku masih belum sirna dalam pikiranku. Hatiku masih meragukan tindakanku saat ini. Aku tahu dengan sangat jelas jika tindakan ini bukanlah tindakan yang sebenarnya tidak dapat hatiku benarkan. Tapi, aku tidak ingin menjadi orang yang lemah pada sebuah kesalahan.
__ADS_1
Siapa pun yang salah, patutlah dia mendapatkan apa yang pantas dia terima. Apalagi kesalahan itu adalah kesalahan yang fatal semacam mencoba membunuh Ratu wilayahnya sendiri.