The Second Life

The Second Life
XCIV - Pemakaman Isla


__ADS_3

Meskipun terlihat ragu, ketiga dayangku akhirnya mau mempercayai kata-kataku. Agak gila memang, bagaimana bisa orang lain menerima tingkah santaiku saat simpanan suamiku sedang mengandung anak dari suamiku itu sendiri? Tapi, jika tahu tentang latar belakangku dan juga tujuanku yang sebenarnya, orang-orang tidak akan berani berkomentar apa-apa lagi.


Orang-orang boleh saja mengataiku dengan sebutan wanita bodoh yang membiarkan suaminya selingkuh, aku tidak peduli akan hal itu dan membenarkan tentang pernyataan bahwa aku membiarkan suamiku sendiri berselingkuh. Tetapi, bukan berarti aku ini memang benar-benar bodoh.


Masih banyak hal di luar sana yang lebih penting dibandingkan menjaga seorang suami br*engsek seperti Idris. Jika di depanku diberikan dua pilihan seperti membiarkan Idris bersama dengan Rose Hindley atau menarik Idris ke pelukanku, aku akan lebih memilih yang pertama. Bukankah itu sudah jelas?


“Aku akan masuk ke dalam ruang kerjaku untuk menenangkan diri. Jangan biarkan siapa pun masuk, kecuali aku yang memanggilnya sendiri. Mengerti?”


Ketiga dayangku mengangguk dan pamit undur diri dari ruang kerjaku. Tak lama berselang, Ava muncul dari luar jendela. Dia memakai gaun hitam dengan model selutut andalannya. Kepalanya dihiasi oleh topi baret warna senada. Sangat kontras dengan rambut putih keperak-perakannya yang berkilau.


Berbeda dengan sewaktu kematian Ayahanda, Ava kini tidak memakai riasan apa pun.


“Kenapa kau masih berpakaian seperti itu?” tanya Ava padaku.


“Aku baru saja sampai dari Istana Kekaisaran,” jawabku kalem. “Tolong tunggulah sebentar, aku akan mengganti gaunku terlebih dahulu.”


“Tidak perlu. Mana baju yang ingin kau pakai?” Ava mendekatiku.


Buru-buru kukeluarkan gaun dan sepatuku di dalam laci besar di meja kerjaku. Ava menjentikkan jarinya, lalu gaun dan sepatu yang kuletakkan di atas meja langsung dipakai olehku secara ajaib. Di atas mejaku berganti dengan gaun yang tadi kupakai.


“Wah, Anda memang sangat berbakat,” pujiku senang.


“Masalah begini semudah mengupil, tahu!” celetuk Ava. “Ngomong-ngomong, dari kemarin aku merasa auramu lebih berbeda daripada yang biasanya.”


Aku tersenyum. “Begitukah? Apakah Anda menyadari sesuatu?”

__ADS_1


“Kau membuka segel sihir Eva, bukan?” tembak Ava langsung. Dia memang sangat berbakat soal sihir dan mana.


“Benar. Mana Ibuku sudah berpindah ke tubuhku sekarang,” ucapku. “Aku membaca mantra yang dituliskan di sebuah kertas di dalam liontin ini.” Aku menyentuh liontin yang melingkar di leherku sambil tersenyum lagi.


“Bukan hanya mana Ibumu, tapi mana-mu juga sudah kembali,” ralat Ava. “Tapi, karena ingatanmu diambil oleh Ibumu dan tidak dikembalikan sampai nafas terakhirnya, kau tidak bisa mendapatkan kembali ingatanmu yang dia ambil.”


“Tak apa. Aku sudah sedikit mendapat sebuah ingatan dari Ibuku yang tersimpan dalam sihir di liontin.”


“Ya sudah. Kita bicarakan ini nanti saja. Ada hal yang harus kita lakukan dulu, Isla sudah menunggu kita,” ucap Ava.


Aku mengangguk setuju. Benar, Isla menunggu kami untuk melepas kepergiannya. Akhirnya, aku dan Ava pergi ke Avnevous melewati portal yang ada di ruang rahasia dalam ruang kerjaku secara diam-diam.


Kami keluar di dalam portal dekat ruang kerja Ava. Rasanya sudah lama aku tidak kemari. Suasana yang tenang, tetapi menyeramkan di Menara Serikat Sihir tidaklah pernah pudar. Terkadang, aku merindukan suasana seperti ini.


Ava berjalan di depanku. Boots dengan hak dua senti miliknya menimbulkan bunyi bergema di lorong menara. Aku mengekor di belakangnya dalam diam. Agak merinding saat merasa ada semilir angin yang menusuk sampai ke tulang.


Tidak banyak makam di pemakaman ini. Dari batu nisan yang sekilas kulihat, hampir semuanya adalah keluarga Bloodhart, Hamada—yang terasa asing di pikiranku, dan bahkan ada keluarga Worcester juga.


Tak jauh dari gapura yang sudah kami lewati, berdirilah Isaac, bersama dengan Lucas. Mereka memakai kemeja hitam dan celana panjang senada. Di depan mereka ada peti kayu yang dicat putih. Belum dimasukkan ke dalam lubang yang telah digali. Mungkin mereka menunggu kehadiran kami.


“Maaf, kami sedikit terlambat,” ucap Ava. Untuk pertama kalinya aku mendengar kata “maaf” dari mulut Ava.


Isaac menggeleng lemah. “Tak apa, Nyonya.”


Lucas hanya tersenyum saat tatapan kami bertemu. Tak ada kata-kata apa pun yang diucapkan olehnya. Aku tahu ini bukanlah waktu yang tepat untuk membicarakan hal lain.

__ADS_1


Ava membuka peti Isla dengan sihir. Barulah aku bisa melihat wajah Isla lebih jelas. Rambut berwarna violet miliknya sudah disisir dengan rapi. Wajahnya nampak lebih cerah, dia terlihat bahagia.


Gaun putih polos sampai lutut pun membuat kesan seperti seorang gadis yang anggun. Aku sangat yakin jika gaun itu adalah pilihan Ava. Dia sangat suka gaun seperti itu.


“Isla Constance Worcester adalah anak yang sangat berbakti kepada orang tuanya dan juga kepadaku yang sudah dia anggap Neneknya sendiri. Dia adalah satu-satunya anak paling penurut yang kubesarkan di menara ini,” ucap Ava.


Memangnya ada anak yang lain?


Ava melirikku sejenak karena mendengar isi pikiranku barusan. Dia kemudian kembali fokus pada Isla. “Semoga Isla selalu diberkati oleh Dewi Kebajikan di atas sana. Semoga Isla mendapatkan kebahagiaan di kehidupan selanjutnya. Semoga yang ditinggalkan, tidak sedih selama berlarut-larut. Tidak ada yang abadi di dunia ini, kita harus siap dengan semua resiko yang ada.”


Isaac hanya menunduk.


Ava kemudian menutup kembali peti Isla dan memasukkan peti itu ke dalam liang kubur. Tanah tertutup dengan sendirinya karena sihir Ava, dan makam Isla diletakkan nisan oleh Ava.


Ternyata, pekerjaan sampingan Ava adalah petugas makam.


“Mari kembali, kita harus bicara,” ucap Ava.


“Bisakah aku menyusul saja nanti?” tanya Isaac.


“Terserah kau saja. Tapi, jangan lama,” kata Ava, agak sedikit keterlaluan.


“Terima kasih, Nyonya.”


Setelah itu, aku, Ava, dan Lucas pun kembali ke dalam Menara Serikat Sihir, meninggalkan Isaac yang masih betah berlama-lama dengan Isla.

__ADS_1


Mungkin aku akan singgah sebentar ke makam Isla sebelum pulang. Aku juga ingin menghabiskan waktu dengan Isla. Kami kenal belum lama, dan saat sudah mulai akrab dengannya, aku malah menerima kenyataan bahwa dia tidak akan pernah kembali dalam keadaan yang sama.


Itu sesuatu yang membuatku terpukul. Aku berusaha mencegah dua-tiga orang kehilangan nyawanya, tetapi ada saja saat di mana aku kehilangan orang yang kukasihi meskipun aku telah berusaha. Ironi yang kejam.


__ADS_2