
Aku menuliskan puluhan surat untuk para bangsawan perihal pemberian gelar bangsawan untuk Hendery sebagai bentuk penghargaan tertinggi atas semua tindakannya untukku di dalam insiden yang terjadi di Istana Kekaisaran.
Tak lupa aku juga memberikan surat resmi pemberian gelar bangsawan Hendery pada keluarga Franklin. Hadir atau tidaknya mereka, aku tidak peduli. Setidaknya, aku sudah bermaksud baik dengan mengundang mereka secara langsung.
Hendery masih tetap akan bekerja sebagai kesatriaku meskipun nanti dia akan menjadi seorang Duke. Tidak ada satu orang pun yang bisa menggantikan Hendery—karena dia orang yang cocok dijadikan rekan kerja dalam hal-hal baik maupun yang terselubung sekali pun.
Ngomong-ngomong, sebelum Hendery diberikan gelar bangsawan, aku akan bertemu dengan Grand Duke untuk berbicara sedikit mengenai rencanaku ini. Setidaknya, Grand Duke sudah menjadi jembatan antara aku dan juga bangsawan lain karena dia adalah satu-satunya bangsawan yang bijaksana dan hormat pada anggota keluarga Kekaisaran.
Tok! Tok! Tok!
Aku melirik sedikit ke arah pintu ruang kerjaku, lalu kemudian mengetahui bahwa itu adalah Jasmine. Dia secara resmi menjadi tangan kananku di Istana Kekaisaran. Aku tidak boleh bergantung terus pada Jayden karena dia adalah tangan kanan Ayahku.
“Masuklah,” ucapku.
Jasmine akhirnya masuk dan menunduk hormat padaku. Setelah dia menutup pintu di belakangnya, dia mendekat ke arah mejaku dan menyodorkan sebuah surat.
“Ini adalah surat dari Tim Ekspedisi, Yang Mulia. Silahkan Yang Mulia baca,” kata Jasmine.
“Baiklah. Ada lagi yang ingin kau sampaikan padaku?”
Jasmine tersenyum. “Apakah Yang Mulia ingin secangkir teh lagi untuk menemani Yang Mulia bekerja?” tawar Jasmine.
Aku mengangguk pelan. “Terima kasih atas tawarannya, Jasmine. Bawakan juga cemilan untukku. Aku ingin beristirahat sejenak. Minta Chloe atau Matilda yang membawa teh dan cemilanku. Aku tahu kau sangat sibuk saat ini.”
Jasmine menunduk lagi. “Baik, Yang Mulia. Kalau begitu, saya permisi dulu.”
Aku tidak menyahut lagi dan membiarkan Jasmine pergi sebelum aku membuka surat dari Tim Ekspedisi.
Surat ini dari pengawas Tim Ekspedisi, itu berarti dari kesatria senior yang berada di kamp khusus kesatria.
Yang Mulia Kaisarina Vanhoiren I yang agung.
Sungguh kehormatan besar apabila surat yang saya tuliskan ini bisa dibaca oleh Yang Mulia tanpa perantara.
__ADS_1
Mohon maafkan saya yang lancang ini, Yang Mulia. Sebenarnya saya ingin memperkenalkan diri secara lebih resmi dihadapan Yang Mulia, tetapi saya juga tahu bahwa Yang Mulia sedang dalam masa yang sulit dan sangat sibuk.
Saya adalah kesatria Vanhoiren yang sudah melayani Kekaisaran sejak 40 tahun yang lalu. Nama saya Finlay Cameron Turner, kepala keluarga Turner.
Mungkin Yang Mulia sedang merencanakan rencana pemburuan besar dengan hendak menugaskan Tim Ekspedisi sebagai bagian dari pemburuan tersebut. Itu adalah tugas yang akan kami sanggupi.
Namun, sebelum kami melakukannya, kami ingin melaporkan sesuatu terlebih dahulu kepada Yang Mulia. Kami sempat melaporkan hal ini kepada Kaisar XX, tetapi Kaisar XX agak menganggap remeh hal ini.
Saat Tim Ekspedisi berpatroli keliling perbatasan seperti biasanya pada dua bulan lalu dengan dipimpin oleh putra sulung dari keluarga Franklin. Kami menemukan beberapa jejak kaki yang keluar masuk perbatasan antara Vanhoiren dan Naorikan. Tak jauh dari sana, yaitu di wilayah Vanhoiren, kami menemukan gubuk kecil dengan beberapa tong penuh bahan untuk pembuatan bom. Itu sangat aneh, Yang Mulia.
Tidak ada siapa pun yang kami temukan di dalam gubuk tersebut. Beberapa tong tersebut juga sudah kami amankan. Jika Yang Mulia setuju untuk proses investigasi lebih lanjut, kami akan mulai menyisir area terlebih lebih teliti sambil melakukan pemburuan.
Semoga Yang Mulia Kaisarina diberkati Dewi Kebajikan.
Tertanda, Kesatria Turner.
Aku melipat kembali surat yang ditulis oleh kesatria Turner dan memasukkannya ke dalam laci.
Sebenarnya wilayah-wilayah besar berada dalam kondisi damai, kecuali Vanhoiren dan juga Avnevous tentunya. Namun, kami punya sebuah peraturan. Siapa pun yang ingin masuk ke wilayah yang bukan merupakan wilayahnya, harus melalui pos penjaga di perbatasan terlebih dahulu.
Semua maksud dan tujuannya harus dijelaskan kepada penjaga yang ada di pos tersebut.
__ADS_1
Dan di surat yang dijelaskan oleh kesatria Turner, sudah jelas ada penyusup yang berani berlalu-lalang dengan bebas di area perbatasan. Apakah orang-orang itu sedang merencanakan sesuatu? Apakah mungkin sebuah rencana pengeboman?
Yang aku herankan, kenapa Hendery tidak memberitahuku soal ini? Apakah karena dia sudah menjadi kesatriaku hingga Tim Ekspedisi tidak memberitahukan informasi tersebut kepadanya? Aku juga tidak tahu pasti.
Laporan ini akan aku anggap serius.
***
Beberapa hari berlalu, aku resmi pindah ke Istana Kekaisaran. Yang ikut denganku hanyalah Hendery, Jasmine, Matilda, dan Chloe saja. Maya tetap berada di Istana Ratu untuk mengawasi seluruh pekerja di sana. Aku berharap banyak padanya.
Aku memilih untuk merombak kamar Idris dan mengganti seluruh furniture-nya menjadi yang baru. Agak boros memang, tapi aku tidak mau tidur di tempat orang yang selalu memadu kasih.
Biarlah, hanya untuk kali ini saja.
Usai memastikan bahwa Jasmine sudah mengerti dengan apa yang aku inginkan tentang perubahan kamarku, aku pun meninggalkan dia dan pergi menuju ruang tamu bersama dengan Matilda. Di sana sudah ada Grand Duke yang menungguku.
Prajurit yang berjaga di depan pintu membukakanku pintu ruang tamunya. Aku pun masuk sendiri dan membiarkan Matilda menunggu di luar. Pembicaraan kami akan sedikit pribadi karena aku tidak ingin pembahasan kami membuat geger orang-orang yang sebenarnya tidak perlu merasakan hal itu. Contohnya Ayahku.
Grand Duke berdiri dan menunduk di depanku yang baru saja masuk. “Semoga Yang Mulia Kaisarina diberkati Dewi Kebajikan.”
“Terima kasih, Grand Duke. Duduklah,” kataku sambil duduk. Disusuli oleh Grand Duke yang ikut duduk juga.
“Saya sangat merasa senang karena Yang Mulia mengundang saya untuk bertatap muka dan bicara,” ucap Grand Duke.
Aku tersenyum dan melihat jamuan di atas meja yang telah disediakan oleh Chloe. “Grand Duke terlalu berlebihan. Aku sangat menghormati Grand Duke sejak dari dulu. Jika ada hal besar tentang bangsawan, pastilah aku harus mengatakan hal ini terlebih dahulu pada Grand Duke. Itu sudah jadi peraturan tak tertulis bagiku.”
“Saya sangat senang, Yang Mulia. Jadi, Yang Mulia ingin memberi gelar bangsawan kepada kesatria Franklin, bukan?”
“Ya. Itu benar, Grand Duke.”
“Mungkin saja keluarga Franklin tidak akan setuju tentang hal itu dan memusuhi kesatria Franklin,” ucap Grand Duke. “Yang Mulia tahu sendiri bagaimana sifat Ibu kesatria Franklin, apalagi Yang Mulia pernah bersinggungan dengannya.”
Grand Duke benar.
“Kalau soal itu, Grand Duke tidak perlu khawatir karena keluarga Franklin tidak punya apa pun lagi untuk bisa melawan kehendakku,” kataku tenang. “Kesatria Franklin sudah seharusnya mendapat hadiah karena telah menyelamatkanku. Jika aku tidak selamat, siapa yang akan memimpin Vanhoiren? Bayi yang ada dikandungan putri Baron Hindley? Tidak mungkin. Dia bahkan masih belum lahir ke dunia.”
Grand Duke tersenyum. “Benar, Yang Mulia.”
__ADS_1
Seperti yang dikatakan sebelumnya, jika tidak ada yang menduduki takhta Kekaisaran, pastilah wilayah lain yang akan coba mendudukinya.