
Aku menatap diriku di cermin dalam diam.
Sembari Matilda meriasku, Chloe dan dua orang pelayan istana dibuat sibuk menata rambutku. Hari ini adalah hari di mana Hendery akan segera diberikan sebuah gelar bangsawan. Dia juga sudah diurus oleh para pelayanku di ruangan khusus.
Usai merias, menata rambut, dan segala jenis persiapan lainnya, aku pun diantar oleh Jasmine ke ruangan singgasana. Di sana pasti sudah ada banyak sekali tamu undangan yang hadir termasuk Hendery. Aku sempat gugup, tapi kegugupanku sirna saat aku sudah ada di depan pintu masuk ruangan singgasana.
Jasmine memberi kode pada prajurit yang berjaga di samping pintu untuk menyuarakan kehadiranku.
“Yang Mulia Kaisarina Vanhoiren I telah hadir!” seru salah satu prajurit sambil membuka pintu di depanku bersama satu orang rekannya.
Ketika pintu terbuka, orang-orang yang ada di dalam langsung menunduk hormat. Aku menatap lurus ke depan sambil mengangkat daguku.
Setelah aku duduk di singgasana, barulah mereka semua mengangkat kepala mereka dan menatapku. Jasmine berdiri di sampingku sambil mengambil ancang-ancang untuk bicara. Aku sangat senang melihatnya.
“Atas nama Yang Mulia Kaisarina Vanhoiren I, saya mengucapkan terima kasih atas kehadiran para hadirin sekalian,” ucap Jasmine, dengan nada lantang. “Hari ini, Hendery Dylan Franklin yaitu putra bungsu dari keluarga Franklin, akan secara resmi diberi gelar bangsawan oleh Yang Mulia Kaisarina Vanhoiren I.”
“Untuk saudara Hendery Dylan Franklin, dimohon untuk maju di depan Yang Mulia Kaisarina Vanhoiren I dan berlutut,” lanjut Jasmine.
Hendery yang sedang duduk di antara para bangsawan, langsung berdiri dan mendekatiku. Dia tersenyum senang saat mata kami bertemu dan kemudian dia pun berlutut di depanku. Aku tetap memasang wajah tenang agar terlihat berwibawa di depan seluruh bangsawan yang hadir.
Ya, mana mungkin juga aku ikut tersenyum pada Hendery.
“Berkat ketangguhan dan ketangkasan saudara Hendery Dylan Franklin dalam tugasnya menjadi seorang kesatria, saudara Hendery Dylan Franklin berhasil menyelamatkan satu-satunya anggota keluarga Kekaisaran yaitu Yang Mulia Kaisarina Vanhoiren I.
Oleh karena itu, saudara Hendery Dylan Franklin diberikan penghargaan yang sepadan untuk kerja kerasnya. Yang Mulia Kaisarina Vanhoiren I secara senang hati memberikan saudara Hendery Dylan Franklin sebuah gelar bangsawan yaitu gelar Duke,” ucap Jasmine yang saat ini sedang membaca surat keputusan yang sudah kutulis untuknya.
Saat kata Duke dikeluarkan dari mulut Jasmine, hampir seluruh bangsawan kaget akan hal itu. Ya, pastinya itu adalah hadiah yang sangat besar untuk sebagian orang.
Bisa kutebak, para bangsawan yang lain sedang melakukan pertaruhan atas gelar bangsawan apakah yang akan aku berikan untuk Hendery. Aku amat tahu tabiat para bangsawan itu. Jika ada sebuah peluang yang bisa mereka dapatkan untuk mendapatkan uang, pertaruhan sepele seperti ini juga pasti akan dibuat oleh mereka.
__ADS_1
“Keuntungan yang bisa diterima oleh saudara Hendery Dylan Franklin setelah resmi menjadi Duke adalah sebuah mansion dan wilayah kekuasaannya sendiri dan modal usaha senilai 100.000 keping emas,” lanjut Jasmine.
Aku bisa merasakan perasaan Hendery yang saat ini amat sangat bahagia saat mendengar semua hal yang bisa dia dapatkan setelah bekerja sama denganku.
“Dengan hormat, Yang Mulia Kaisarina Vanhoiren I dimohon untuk memasangkan lencana bangsawan Duke kepada saudara Hendery Dylan Franklin,” kata Jasmine.
Aku pun berdiri dari singganaku, lalu menerima lencana bangsawan Duke dari Jasmine. Hendery berdiri dan maju agak ke depan tanpa mengangkat kepalanya. Kusematkan lencana itu ke pakaian resmi Hendery.
“Selamat dibenci orang tuamu,” ledekku.
Pemberian lencana untuk Hendery, diakhiri oleh pesta kecil-kecilan di istana. Para bangsawan memanfaatkan hal ini sebagai kesempatan mereka untuk mendekati Hendery dan menjalin hubungan baik dengannya.
Yah, karena kasus keluarga Franklin waktu itu, banyak sekali bangsawan yang sudah langsung menganggap remeh keluarga Franklin. Mereka tidak menyangka bahwa Hendery malah menjadi seorang Duke. Yang jika dihitung-hitung lagi, bangsawan dengan gelar Duke hanya empat orang saja termasuk Hendery.
“Yang Mulia, apakah Yang Mulia tidak ingin makan sesuatu?” tanya Jasmine di sampingku.
Aku menekuk wajahku. “Tidak. Aku ingin kembali ke kamarku saja. Kuserahkan pesta ini pada pusat perhatian hari ini.”
Kami berdua pergi meninggalkan aula pesta dan malah bertemu laki-laki dengan wajah yang mirip Hendery di lorong istana. Bedanya, wajah laki-laki di depanku ini agak lebih dewasa. Bisa kutebak, dia adalah putra sulung keluarga Franklin.
Kakak kandung Hendery.
“Yang Mulia, sungguh kehormatan bisa bertemu dengan Yang Mulia secara langsung seperti ini,” ucap kakak Hendery. “Tidak sopan rasanya jika saya tidak memperkenalkan diri kepada Yang Mulia. Saya adalah Nicholas Samuel Franklin, anak sulung dari keluarga Franklin.”
“Apa kau ingin menemui adikmu?” tanyaku tanpa basa-basi.
Nicholas terkejut. “Ah ..., benar, Yang Mulia. Tadinya saya ingin menghadiri undangan yang sudah Yang Mulia berikan. Namun, banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan di kamp khusus kesatria.”
“Ah, benar juga. Kau masih bagian dari Tim Ekspedisi, bukan?”
__ADS_1
“Benar, Yang Mulia.” Nicholas tersenyum.
Untuk seseorang yang tidak bisa menjadi kepala keluarga bangsawan lewat hak waris lagi, Nicholas tergolong orang yang cukup tenang dan profesional. Meskipun dilangkahi oleh adiknya sendiri, Nicholas tetap mau menemui Hendery saat ini.
Sejenak, aku bersyukur karena Nicholas tidak mewarisi sifat milik Gracie. Jika saja Nicholas mewarisi sifatnya, mungkin saja sudah terjadi perang saudara di antara Nicholas dan juga Hendery.
“Besok, kau dan kesatria Turner harus datang ke istana ini untuk membicarakan beberapa hal. Aku harap kau tidak keberatan soal hal ini,” kataku pada Nicholas.
Nicholas tersenyum dan mengangguk. “Baik, Yang Mulia.”
“Bagus. Masuklah ke dalam, Hendery ada di sana. Aku akan menantikan kedatangan kau dan kesatria Turner besok siang,” ucapku santai.
Nicholas menunduk. “Baik, Yang Mulia.”
Aku dan Jasmine kembali melanjutkan perjalanan kami menuju ruanganku. Aku bisa mendengar jika Nicholas sudah masuk ke dalam ruangan di mana ada Hendery di dalamnya.
Sejenak, aku tersenyum tanpa sadar dan Jasmine menangkap senyumanku itu.
“Yang Mulia, apakah ada sesuatu yang Yang Mulia pikirkan?” tanya Jasmine.
“Tidakkah kau penasaran apa yang akan dibicarakan oleh kakak beradik itu saat bertatap wajah?”
Jasmine kebingungan. “Ya?”
“Lupakan saja,” kataku cepat. Sepertinya akan terjadi hal menarik di Vanhoiren nantinya. Aku bisa merasakan hal itu. “Tiba-tiba saja aku ingin minum segelas coklat panas.”
“Coklat panas?” Jasmine terkejut dengan keinginanku yang tidak pernah aku katakan sebelumnya. “Apakah Yang Mulia menginginkannya sekarang?”
Aku mengangguk. “Ya, bawakan ke ruang kerjaku sekarang.”
__ADS_1
“Baik, Yang Mulia.”