The Second Life

The Second Life
『S2』 IV - Dongeng


__ADS_3

Kesatria Turner dan juga Nicholas datang ke Istana Kekaisaran usai jam makan siang berlangsung. Aku memilih untuk berbincang dengan mereka berdua di dalam ruang tamu istana karena cuaca di luar sudah mulai dingin.


Mulai sekarang aku dipakaikan gaun hangat oleh Matilda dan juga Chloe. Kami sudah semakin dekat dengan musim dingin. Jika melihat dari musim dingin yang terjadi tahun, badai salju yang cukup lama pastinya tak bisa terhindarkan lagi.


Ngomong-ngomong, sekarang kesatria Turner dan juga Nicholas sendiri nampak gugup saat bersama denganku. Aku agak tidak tenang akan hal itu.


“Santailah sedikit. Jangan terlalu merasa untuk formal denganku sekarang,” ucapku sambil tersenyum ramah. “Ini bukan acara atau pertemuan yang resmi.”


Kesatria Turner batuk kecil. “Maaf karena telah membuat tak nyaman, Yang Mulia.”


“Tak apa. Kita langsung saja ke topik yang kita harus bahas. Ini soal pemburuan untuk menyambut musim dingin nanti,” kataku serius. “Mulai besok kalian harus sudah mempersiapkan apa-apa saja yang harus kalian persiapkan untuk pemburuan kali ini. Semua kesatria dan prajurit istana juga harus ikut andil.”


“Baik, Yang Mulia,” ucap kesatria Turner.


“Lalu, aku juga ingin kalian berdua termasuk Tim Ekspedisi mengusut tuntas laporan kalian tentang kejadian 2 bulan lalu selagi pemburuan berlangsung,” ucapku kemudian. “Dan kesatria Turner sendiri yang akan memimpi pemburuan kali ini.”


“Baik, Yang Mulia.” Kesatria Turner menunduk beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat kepalanya lagi.


“Jangan bocorkan apa yang kalian lihat kepada siapa pun di luar Tim Ekspedisi. Aku tidak mau mendengar adanya hal-hal yang membuat seisi Vanhoiren gempar. Sampai di sini, kalian paham?”


Kesatria Turner dan juga Nicholas yang sedaritadi diam saja, mengangguk paham.


“Oh ya, bagaimana dengan keluargamu, kesatria Franklin?” tanyaku pada Nicholas. “Apakah prajurit keluargamu akan ikut berburu juga?”


Air muka Nicholas menggelap. Namun, aku tidak merasakan tanda-tanda adanya kebencian di hatinya. Yang ada hanyalah perasaan kecewa dan juga rasa sedih. Dia pasti sangat menyayangkan tindakan Ayah dan Ibunya.


“Hanya saya saja yang ikut pemburuan ini dari keluarga saya, Yang Mulia,” jawab Nicholas. “Karena kekurangan uang untuk memberi upah para pekerja, Ayah saya memutuskan untuk memecat mereka semua.”


Aku memilih tak menatapnya. Biar bagaimanapun juga, runtuhnya keluarga Franklin adalah karena campur tanganku juga.


“Begitu, ya,” kataku pelan.


Sayangnya, suasana di ruang tamuku sekarang sudah menjadi sangat canggung karena diriku sendiri. Nicholas hanya diam, kesatria Turner menungguku bicara, sedangkan aku sudah cukup malas untuk bicara lagi.

__ADS_1


Akhirnya, aku pun memerintahkan mereka berdua pulang karena semua yang ingin aku sampaikan sudah selesai aku utarakan kepada mereka.


***


“Ibuku pernah menceritakanku sebuah dongeng sebelum aku tidur. Itu adalah dongeng pertama dan terakhir yang kudengar darinya. Apa kau mau dengar?” tanyaku pada Lucas.


Ya, Lucas.


Lucas kabur dari Avnevous dan datang ke sini untuk menemuiku. Dia lari dari keponakan Ava, alias salah satu Bloodhart yang galak, dan berakhir di ranjangku seperti anak kecil yang haus perhatian Ibunya.


Malam ini, Lucas sekali lagi ingin tidur di ranjang yang sama denganku. Hanya sebatas tidur saja. Aku berbaring di pelukan Lucas, menatap langit-langit kamar yang dipenuhi oleh ukiran gambar bunga.


“Ya, aku mau. Ceritakan dongeng itu padaku,” kata Lucas.


“Suatu hari ada gadis kecil bernama Lu, dia memiliki sahabat baik yang dipanggil Via. Lu anak yang ceria, dia senang berpetualang dan berteman dengan siapa pun. Berbeda dengan Lu, Via malah dikenal sebagai gadis yang pendiam dan tertutup. Hanya Lu yang bisa Via percaya. Via sangat bergantung pada Lu, karena dia berpikir bahwa Lu adalah satu-satunya orang yang bisa menerima apa pun kekurangannya.


Kemudian, ada satu moment di mana Lu mulai akrab dengan anak-anak yang lain. Karena itulah Via jadi merasa tersaingi oleh anak-anak itu. Via marah dan sedih karena perhatian Lu jadi terbagi oleh mereka. Akhirnya, Via pun mulai berpikir dan memutar otak untuk membuat Lu jadi fokus padanya lagi.”


“Cara Via untuk mendapatkan perhatian Lu adalah cara yang sangat salah. Via mulai menceritakan kejelekan Lu pada teman-teman yang akrab dengan Lu. Meski teman-temannya tak mau percaya, Via membuat mereka merasa risih karena terus-terusan menyuruh mereka untuk menjauhi Lu. Mau tak mau, mereka pun menjauhi Lu.”


“Tidak hanya sampai di situ, Via diam-diam mengganggu Lu. Memasukkan bangkai kodok ke dalam tas Lu atau bahkan menyobek buku Lu.” Aku menguap. “Lu menjadi ketakutan akan hal itu. Teman-teman yang akrab dengannya menjauhinya, dan Lu berpikir jika Via adalah satu-satunya orang yang memang peduli padanya. Keinginan Via untuk membuat Lu kembali padanya pun terwujud.”


Lucas tertawa. “Jadi?”


Aku memukul lengannya. “Dengan dulu!” protesku. Lucas kembali diam dan mengencangkan pelukannya padaku.


“Ternyata, Via mengalami sebuah rasa ingin lagi melakukan hal-hal yang sudah dia lakukan terhadap Lu. Meskipun Lu sudah berteman hanya dengannya lagi, Via tetap tidak bisa menghilangkan kebiasaannya mengganggu Lu. Bukan hanya serta-merta mengganggu Lu secara psikis, Via mulai mengganggu Lu sampai ke fisik,” lanjutku.


“Karena itulah, Lu menjadi pendiam dan tidak mau lagi keluar dari rumahnya. Dia bolos pelajaran di Akademi, dan menolak untuk bertemu siapa pun termasuk Via. Dan setelah beberapa hari mengurung diri, Via mendengar berita bahwa Lu melompat dari jendela kamarnya di lantai tiga. Tamat.”


Lucas menatapku dengan tatapan tak puas. Aku tahu itu adalah dongeng paling aneh yang pernah kudengar, dan pasti Lucas merasakan hal yang sama. Hal itu juga yang membuatku tersenyum senang saat melihat wajahnya.


“Apa yang terjadi pada gadis bernama Via itu?” tanya Lucas, penasaran.

__ADS_1


“Entahlah, Lucas. Ibuku tidak meneruskan dongeng itu karena ditegur Ayahku,” ucapku pelan.


“Agak aneh rasanya jika Ibumu menceritakan dongeng bertema gelap seperti itu, Sweetheart. Apakah kau yakin itu adalah dongeng yang diceritakan Ibumu?” tanya Lucas.


Aku tertawa. “Ya!” seruku senang. “Agak kurang sopan sebenarnya membicarakan kekurangan Ibuku, tetapi Ibuku punya selera yang aneh dan nyentrik.”


“Begitu, ya. Pantas saja Ayahmu menegur Ibumu. Untung saja kau yang masih kecil saat itu bisa menerima semuanya.” Lucas mengecup keningku. “Jujur saja, dongeng itu membuatku tidak bisa tidur.”


“Kau payah,” ledekku.


“Menurutmu, apa yang terjadi pada Via?” Lucas sepertinya sedang berusaha mengalihkan pembicaraan lagi. Manisnya.


“Hm, biar kupikir dulu ..., mungkin dia ikut mengakhiri hidupnya juga?” tebakku asal.


Lucas cemberut. “Kenapa kau menyimpulkan sesuatu yang negatif. Coba pikirkan hal yang sedikit lebih bisa diterima oleh anak-anak.”


“Anak-anak?”


“Ya. Anak-anak kita di masa depan misalnya,” ucap Lucas.


“Biar aku pikir lagi.” Aku menunjukkan ekspresi sedang berpikir meskipun aku sudah tahu jawaban lainnya yang menurutku paling positif. “Bagaimana kalau begini, Via akhirnya mengetahui bahwa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan. Dia pun memutuskan untuk berhenti berbuat seperti itu dan mencoba untuk hidup normal.”


“Itu cukup bisa diterima,” ucap Lucas. “Meskipun sebenarnya aku sangat menyayangkan kematian Lu.”


Oh, topiknya semakin sensitif. Jadi, aku memilih untuk membelakangi Lucas dan mencoba untuk tidur. Lucas malah memelukku dari belakang dan menyelimuti tubuh kami dengan selimut tebal.


“Kau tidak mau membahasnya lagi, ya?” bisik Lucas di telingaku. Geli.


“U-hm.”


“Ya sudah. Tidurlah, Sweetheart.”


“Kau juga, Lucas.”

__ADS_1


__ADS_2