
Malam hari pun tiba.
Aku masih tetap berada di ruang kerjaku untuk menyendiri sambil menunggu Lucas menghubungiku. Sudah larut pun, Lucas sepertinya masih tetap bekerja. Jika tidak ditegur, dia pasti akan tidur di ruang kerjanya sendiri. Aku jadi khawatir tentang hal itu.
Selagi menunggu Lucas, aku juga menunggu Hendery untuk menghadapku. Kami akan membicarakan tentang tindakan yang akan kulakukan terhadap Jack.
Aku tidak tahu apakah aku membutuhkan ingatan Jack atau tidak. Ingatan Idris pun masih belum aku telisik lebih jauh lagi. Ya, aku masih ragu tentang hal ini. Setelah bicara dengan Hendery dan mungkin Lucas nanti, aku akan mulai mengecek ingatan Idris.
Tok! Tok! Tok!
“Ratu, ini aku,” ucap Hendery dari luar.
“Masuklah.”
Clek!
Hendery pun masuk dengan pakaian santainya. Masih dengan satu pedang di pinggang kirinya, dia berdiri tegap di depanku yang duduk di seberang meja kerja.
Aku menatapnya sejenak. “Aku ingin kau mengawasi gerak-gerik Jack. Dia mungkin saja menjadi ancaman kita nantinya.”
“Baik. Apa yang harus kulakukan jika dia terlihat mencurigakan?” tanya Hendery.
“Biarkan saja dan laporkan hal itu padaku. Aku sendiri yang akan mengurusnya,” jawabku padanya. “Hanya itu saja yang ingin kukatakan padamu. Dan karena kau sudah membantuku, gajimu bulan ini akan aku berikan setengahnya.”
Hendery yang awalnya biasa saja, kini terlihat sangat senang. “Benarkah?!” seru Hendery natural.
“Ya. Aku akan menyampaikan hal ini pada Maya besok. Kau bisa mengambil uangnya besok siang,” jelasku. “Kau boleh keluar dan beristirahat.”
“Baik, Ratu. Terima kasih atas kebaikan Ratu. Aku permisi.” Hendery pun berbalik keluar meninggalkanku sendirian lagi.
Kristal komunikasiku telah berkedip beberapa kali di dalam laci, itu pasti Lucas. Aku meraih kristal itu dari dalam laci. Perasaanku tiba-tiba saja merasa senang.
Apakah ini efek dari wanita yang jatuh hati? Aku juga tidak tahu hal itu.
“Lucas?”
“Halo, Sweetheart. Apa kau sudah tidur?” tanya Lucas dari seberang. “Aku menghubungimu beberapa kali tadi.”
“Maaf sudah membuatmu menunggu lama, aku baru saja selesai bicara dengan kesatriaku tentang rencana selanjutnya.”
__ADS_1
“Jangan terlalu memaksakan diri. Kau baru saja melakukan sesuatu yang besar minggu lalu,” ucap Lucas. “Selalu ingat untuk menjaga kesehatanmu. Karena kesehatan adalah hal yang utama dalam hidup.”
Aku tersenyum. “Kau juga, Lucas. Jangan tidur larut malam karena sibuk dengan pekerjaanmu.”
“Uhm, kalau itu agak sulit,” ucap Lucas. “Aku harus mengurus semua pekerjaan sebagai Raja dan juga pekerjaan milik Permaisuri.”
Oh, benar juga.
Lucas naik takhta sendiri, dan otomatis tidak ada Permaisuri yang membantunya mengurus pemerintahan. Aku merasa tidak enak karena membuat Lucas harus bekerja keras seperti ini.
“Aku merasa bersalah tentang hal itu,” ucapku pada Lucas.
“Hei, jangan begitu. Aku baik-baik saja dan sangat sabar menunggumu,” ucap Lucas. “Untuk sekarang, kau hanya harus fokus pada bagianmu dan aku akan melakukan bagianku di sini sebaik mungkin. Jangan merasa bersalah, oke?”
“Ya. Kau benar, Lucas.” Aku mengiyakan ucapan Lucas. “Tapi, jangan sampai jatuh sakit juga.”
Lucas tertawa renyah untuk beberapa detik. “Tentu saja tidak. Para pelayan dan tangan kananku sangat memperhatikan makananku setiap hari. Kau jangan khawatirkan hal itu lagi.”
“Syukurlah kalau begitu. Aku bisa tenang melakukan bagianku di sini,” kataku kemudian.
“Oh ya, aku harus bekerja lagi sebelum tidur. Ini sudah mulai larut. Istirahatlah, Sweetheart,” ucap Lucas.
“Tentu. Sampai jumpa lagi, selamat tidur.”
“Sampai jumpa, Lucas. Selamat bekerja,” kataku sebagai akhir dari percakapan kami malam ini.
Aku meletakkan kristal komunikasiku ke dalam laci untuk sementara waktu. Aku bersandar sejenak dan memejamkan mata. Inilah saatnya aku mulai memilah-milah ingatan milik Idris untuk kulihat.
Di mulai dari mana, ya?
Ah, aku menemukan sesuatu yang menarik. Ini ingatan Idris di masa lalu. Haruskah aku melihat itu untuk yang pertama kali?
Ya, lihatlah itu.
Idris muncul di dalam kepalaku. Dia terlihat pucat dan lemah. Nafasku tercekat bersamaan dengan dibawanya diriku ke ingatan di masa lalu.
Aku di bawa ke ruang kerja Idris dengan Idris di dalamnya. Dia terlihat sedang sibuk dengan beberapa kertas berisi rencana-rencana masa depan Kekaisaran, anggaran Vanhoiren, dan hal-hal penting lainnya. Idris dalam ingatanku berdiri sejauh dua meter dariku. Dia tak menatapku. Tapi, tatapannya amatlah kosong.
Pintu terbuka, dan masuklah Rose Hindley. Benar saja, hubungan mereka memang dekat bahkan di masa lalu ini. Dia tersenyum pada Idris, dan langsung berc*mbu mesra dengan laki-laki itu. Tangan Idris menggerayangi setiap lekukan tubuh Rose Hindley, wanita itu tampak menikmatinya.
__ADS_1
Maaf telah memperlihatkanmu ingatan yang menjijikkan ini. Tapi, tunggulah sebentar lagi.
Aku hanya diam, mengabaikan ucapan Idris di dalam ingatanku dan fokus pada ingatan ini.
“Tunggu sebentar, Rose,” ucap Idris di masa lalu. “Jack bisa mendengar kita di luar.”
Rose Hindley cemberut. “Kak Jack pasti bisa mengerti. Kita kan dua orang yang saling mencintai. Mesra sedikit tidak masalah,” kata Rose Hindley.
“Kau memang benar, tapi aku harus menjaga sikapku dari pekerja yang lain,” ucap Idris. “Jika Charlotte sampai tahu—”
“Wanita bodoh itu tidak akan tahu,” potong Rose Hindley. “Dia terlalu fokus pada pekerjaan yang kau berikan untuknya. Kau jangan khawatir.”
“Ya, baiklah.” Idris tersenyum. “Kau mungkin benar.”
Rose Hindley sudah duduk di pangkuan Idris. “Oh ya, aku dengar jika Charlotte sering membawa laki-laki lain ke dalam istana Ratu.”
“Apa?” Idris terlihat kaget. “Apa kau yakin dengan apa yang kau katakan itu?”
“Ibuku kan tahu segalanya. Dia juga sudah tahu siapa laki-laki itu,” ucap Rose Hindley.
Ternyata aku dituduh atas ucapan seorang wanita berbisa. Lihatlah bagaimana Idris sangat percaya dengan ucapannya. Dasar bodoh.
Ya, aku memang bodoh. Aku sangat bodoh percaya ucapannya. Tapi, ini semata-mata karena aku dipengaruhi oleh sihir!
“Opini orang mati tidak dianggap,” kataku sengit. “Diamlah.”
Idris dalam ingatanku diam lagi.
“Siapa laki-laki itu?” tanya Idris di masa lalu. “Siapa laki-laki yang berani masuk ke dalam Istana Ratu?!”
“Itu adalah Raja Avnevous, Idris. Raja itu bermain api dengan Charlotte,” ucap Rose Hindley. “Bahkan kata Ibuku, mereka mengambil kas Kekaisaran untuk berfoya-foya.”
“Br*ngsek!” umpat Idris. “Berani-beraninya Charlotte mengkhianatiku dan memilih seorang Raja dari wilayah musuh.”
Rose Hindley membelai pipi Idris. “Idrisku, tenanglah. Bukankah ini saat yang tepat untuk membuat Charlotte lengser dari jabatannya?”
“Apa maksudmu?” Idris mengernyitkan dahi.
“Kau bisa memakai kekuasaanmu, untuk mengeksekusi Charlotte atas perbuatan buruknya. Jadi, kau bisa membuatku menjadi Ratu yang selanjutnya!” seru Rose Hindley, penuh semangat.
__ADS_1
Oh, Dewi. Lihatlah kedua manusia s*alan ini bersekutu.