The Second Life

The Second Life
CI - Usai Kudeta (II)


__ADS_3

“Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?” tanyaku kemudian. “Tubuhku terasa pegal dan tenggorokanku amat kering.”


“Anda sudah pingsan selama seminggu penuh, Ratu. Dokter Kekaisaran sudah lima kali bolak-balik ke istana ini untuk memeriksa kondisi Ratu secara berkala. Dokter mengatakan bahwa Anda akan segera sembuh jika terus beristirahat,” jawab Jasmine.


Aku mengangguk-angguk paham. Karena terlalu memaksakan diriku untuk memberikan perintah sihir pada Rose Hindley, aku jadi membuat diriku tak berdaya selama seminggu penuh. Tak akan pernah lagi aku berbuat ceroboh seperti ini.


“Saya akan mengambilkan Ratu minum, mohon tunggu sebentar,” ucap Chloe.


“Kalian berdua ikutlah Chloe. Tolong siapkan sarapan untukku. Sedangkan Kesatria Franklin, ada yang ingin kubicarakan denganmu.”


Jasmine dan Matilda sempat menatap Hendery sejenak. Setelah mereka berdua pergi meninggalkanku dan juga Hendery, barulah aku bisa bernafas lega.


Hendery memberikanku sebuah kertas yang dia ambil dari saku jas bagian dalam miliknya. Itu adalah barang yang aku inginkan. Surat penyerahan kekuasaan yang dituliskan langsung sebelum dia mati.


“Bagus. Terima kasih sudah mau menyimpankannya untukku,” kataku tulus. “Setelah kondisiku mulai membaik, kita bisa melanjutkan kembali rencana kita. Kau harus siap.”


Hendery tersenyum. “Meskipun aku sepertinya tidak memiliki banyak peran dalam rencana Ratu ini, tapi aku tetap akan setia menemani Ratu kedepannya.”


“Sebagai calon Duke, kau harus membuang kebiasaan burukmu, Kesatria Hendery,” tegurku, sekadar mengingatkan saja.


“Baik, Ratu. Ucapanmu akan selalu kuingat.” Hendery pun tersenyum lagi.


Yah, aku sangat ingin jika Hendery bisa mengingat ucapanku dan semakin bijak dan menyikapi sesuatu. Tutur kata dan tindakannya pun haruslah selayaknya kesatria sejati.


Semoga saja ekspektasiku sesuai dengan realita yang akan terjadi ke depannya pada Hendery. Aku sangat mengharapkan hal itu.


“Bagaimana dengan kondisi Rose Hindley?” tanyaku kemudian.


“Dia dibawa pulang oleh Baron Hindley ke kediaman mereka. Kondisinya sangat memprihatinkan, mentalnya pun seperti terganggu,” jelas Hendery. “Sedikit informasi tambahan, kepala Selir Sienna diamankan di Menara Suci untuk diselidiki. Aku sudah memberikan keterangan seadanya dengan alibi kesatria pribadi. Anda tidak perlu khawatir soal informasi yang spesifik. Itu sudah menjadi bagian Anda.”


Aku mengangguk setuju. “Benar. Kita juga harus mengungkapkan hilangnya para rakyat dan pelayan istana. Banyak sekali pekerjaan yang harus kita kerjakan. Hari ini istirahatlah sejenak, besok kita akan mulai serius.”

__ADS_1


“Baik, Ratu.” Hendery mengiyakan.


*


Aku sudah selesai menikmati sarapanku di dalam kamar. Para dayangku telah keluar untuk membiarkanku beristirahat. Sepertinya sudah lama sekali aku tidak sesantai ini. Kekaisaran hancur, Idris mati di tanganku, Rose Hindley menjadi gila, dan yang paling penting Selir Sienna telah mendapatkan balasannya.


Sekilas, aku penasaran apa yang akan dilakukan oleh Ava terhadap tubuh milik Selir Sienna. Aku yakin jika nantinya tubuh Selir Sienna akan dimanfaatkan untuk sesuatu. Apalagi aku tahu bahwa Ava sangat gemar mengoleksi sesuatu.


Ngomong-ngomong, aku belum menghubungi Lucas sejak terakhir kali kami bertemu. Buru-buru kuambil kristal komunikasiku di dalam laci nakas, dan menghubungi Lucas.


“Sweetheart?”


Pipiku bersemu merah. “Halo.”


“Oh, akhirnya kau menghubungiku!” seru Lucas, terdengar bahagia. “Bagaimana keadaanmu? Tiap malam aku berusaha untuk menghubungimu sejak Ava dan kau menghancurkan isi Kekaisaran. Apa kau baik-baik saja?”


“Kupikir Ava telah menjelaskan beberapa detail kejadian yang ada padamu, Lucas,” kataku. “Aku terlalu banyak memakai sihir perintah kepada Rose Hindley. Oleh karena itu, aku jadi tidak sadarkan diri selama seminggu.”


“Apa?!”


Lucas mendengus sebal. “Aku tidak mau membahas Nenek galak itu. Dia sangat menyebalkan,” jawab Lucas. “Yang paling penting, aku hanya ingin mendengar keadaanmu. Apa yang kau lakukan sekarang?”


“Aku hanya beristirahat di kamarku. Sebelum mengadakan pemakaman Idris, aku diminta memulihkan tenagaku terlebih dahulu,” sahutku. “Kita sudah selangkah lebih dekat, Lucas.”


“Benar, Sweetheart. Aku sudah tidak sabar bisa memilikimu tanpa memikirkan apa pun lagi. Ah, jantungku berdegup kencang karena hal bahagia ini.” Lucas tertawa. “Apa aku berlebihan?”


Aku juga ikut tertawa. “Tidak. Sama sekali tidak. Bahagia di saat seperti ini adalah hal normal.”


“Raja, kita akan terlambat untuk rapat hari ini.” Itu bukan suara Lucas. Mungkin saja itu tangan kanannya, keponakan Ava jika aku tidak salah ingat.


“Kau tidak lihat aku sedang bicara dengan orang penting?” Lucas terdengar kesal. “Dan kenapa kau tidak mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk?!”

__ADS_1


“Rapatnya dimulai lima menit lagi. Jika pergi sekarang kita tidak akan terlambat,” ucap tangan kanan Lucas lagi. Dia laki-laki yang tahan banting.


“Dasar Bloodhart,” sindir Lucas. “Sweetheart, aku harus pergi. Di sini kondisinya sangat tidak memungkinkan untuk bersantai dalam waktu yang lama. Jika ada waktu lagi, aku yang menghubungimu, oke?”


“Baik, Lucas. Sampai jumpa nanti.”


“Sampai jumpa lagi.”


Lucas sepertinya sangat sibuk menghadapi semua pekerjaan Avnevous seorang diri. Di sini, aku juga harus membereskan semua masalah yang tersisa agar rencanaku selanjutnya dapat berjalan dengan lancar.


Pertama-tama, aku harus membuat surat penyerahan kekuasaan Idris terlihat resmi. Sebelum pelengseran terjadi, aku sempat menduplikat cap Kaisar dari ruang kerja Idris. Dengan ini, aku bisa dengan mudah meyakinkan mereka untuk percaya dengan kata-kataku.


Kakiku masih kaku untuk berjalan. Mungkin karena seminggu tidak dipakai berjalan. Tapi, dengan adanya sihir penguat fisik, aku jadi mudah untuk berjalan lagi.


Dengan mengendap-endap, aku pergi menuju ruang kerjaku dan mengambil cap Kaisar yang kusimpan. Surat itu pun kucap dengan cap tersebut.


Nantinya, aku akan pergi ke Pengadilan Tinggi untuk bersaksi atas kejadian yang terjadi minggu lalu. Para bangsawan dan juga rakyat pastilah menantikan sebuah penjelasan. Sebelum ada rumor dan ucapan-ucapan bohong atas kejadian tersebut, aku sudah harus mengatakan kebenarannya terlebih dahulu.


Namun, Jack juga harus dibungkam dulu. Apakah kuperintahkan Hendery saja untuk hal ini?


Tidak. Aku tidak yakin apakah Hendery memiliki kemampuan dalam membunuh secara diam-diam. Aku harus menanyakan hal ini dulu kepadanya.


Tok! Tok! Tok!


“Ratu?” Chloe. Dia sepertinya sempat mengecek aku di kamar dan tidak menemukan kehadiranku. “Anda di dalam sini?”


“Ya. Aku di sini,” sahutku.


Chloe pun masuk. Wajahnya terlihat khawatir. Lagi-lagi aku diperlakukan seperti wanita rapuh. Aku sampai kapan pun tidak akan suka hal itu.


“Ada apa?” tanyaku langsung.

__ADS_1


“Pengantar pesan dari Pengadilan Tinggi memberitahukan bahwa Anda diundang oleh Hakim Agung untuk menjadi saksi atas kejadian seminggu yang lalu, Ratu. Jika Anda sudah siap—”


“Ya, aku sudah siap. Besok lusa, aku akan langsung pergi ke Pengadilan Tinggi,” ucapku tanpa keraguan, setelah memotong ucapan Chloe.


__ADS_2