
Setelah merasa jika jendela kamarku sudah dibuka oleh Chloe, aku pun terbangun dari tidurku. Lucas tentu saja sudah tidak ada. Aku sempat mendengar suaranya yang mengatakan bahwa dia sudah harus kembali ke Avnevous.
Teh melati buatan Chloe sudah menyambutku dengan hangat. Sarapan yang kuinginkan juga telah diletakkan di meja yang biasa kupakai makan atas perintahku sendiri semalam. Aku merasa bahwa hari ini akan menjadi hari yang baik.
“Selamat pagi, Ratu. Apakah tidur Ratu nyenyak?” tanya Chloe.
Aku bangun dan mengangguk pada Chloe. “Selamat pagi juga, Chloe. Tidurku sangat nyenyak.”
Chloe kemudian memberikanku sebaskom air untuk membasuh wajah. Usai membasuh wajah, airnya pun kukeringkan dengan handuk yang diberikan oleh Chloe. Dia melayaniku dengan sangat telaten.
Sarapan yang disajikan pun, terasa lebih nikmat dibandingkan sebelumnya. Apa aku merasa sangat bahagia karena orang-orang yang membuatku menderita dan terluka sudah mendapat balasannya?
Kebahagiaanku meningkat setelah Idris sudah tidak bisa kulihat lagi dengan mataku sendiri. Ini baru yang namanya hidup.
Bangun di hari yang cerah, mencium aroma teh melati, memakai gaun yang indah dan sederhana, makan sarapan yang nikmat, bekerja di ruang kerjaku dengan tenang, berinteraksi dengan orang-orang yang bekerja untukku, dan yang paling penting, membuat rencana untuk bersatu dengan Lucas.
“Sepertinya kondisi Ratu sudah membaik. Daritadi Ratu bersenandung ceria saat membaca buku,” kata Chloe, setelah aku menyelesaikan sarapanku dan memilih untuk membaca buku sejenak.
“Benarkah?”
Chloe mengangguk. “Benar, Ratu. Saya ikut senang karenanya.”
“Aku hanya senang bisa membaca buku untuk sedikit melarikan diri dari masalah yang ada,” kataku dengan nada sedih. “Setidaknya, ini bisa membuatku tidak terlalu stres.”
“Benar, Ratu.” Chloe setuju. “Kalau begitu, saya tinggal dulu. Dayang Matilda yang akan menggantikan saya.”
“Kau ingin mempersiapkan kedatangan Jack?” tanyaku.
“Benar, Ratu. Kalau begitu, saya permisi dulu.” Chloe pun keluar dari kamarku dan aku kembali fokus pada bacaanku.
Ah, sampai di mana tadi?
“Sedang baca apa?”
__ADS_1
Aku menoleh ke belakang dan mendapati bahwa Ava sudah berada di belakangku. Dia tersenyum simpul dan berjalan mendekatiku. Bokongnya dia jatuhkan ke sofa di sampingku.
“Uhm, hanya buku ekonomi saja,” jawabku santai. “Apa kabar?”
“Apa menariknya buku seperti itu? Kenapa tidak tentang strategi penaklukan dan siasat perang saja?” Ava memasang wajah bosan. Dia tak ada niatan untuk menjawab pertanyaanku barusan.
“Uhm, aku tidak yakin dengan buku-buku seperti itu,” kataku ragu. “Ini buku yang menurutku lebih menarik.”
Ava terkekeh. “Oh, benarkah? Kau hanya belum pernah membaca isinya saja. Aku akan membawakan beberapa buku pilihanku untuk kau baca nanti. Pastikan untuk membacanya sampai habis agar aku bisa mendengar tanggapanmu yang tidak dibuat-buat.”
“Baiklah. Akan kunantikan hal itu.” Aku tersenyum lebar. “Ngomong-ngomong, apa yang Anda perlukan di sini?”
“Hanya penasaran dengan kondisi Vanhoiren setelah dikacaukan oleh beberapa masalah,” jawab Ava. “Oh ya, aku juga ingin mengatakan bahwa tubuh Sienna sudah kuleburkan dan kujadikan sebuah batu sihir.”
“Batu sihir? Bukannya sihir yang ada di dalam tubuh Selir Sienna adalah sihir kegelapan? Siapa yang akan menggunakan batu sihir itu nantinya?” Aku agak khawatir tentang hal itu.
“Jangan khawatir. Aku membuatnya menjadi batu sihir hanya untuk koleksi semata. Berbahaya juga jika aku membiarkan orang awam memegang batu itu.” Ava terkikik. Entah apa yang dia bayangkan kala mengatakan hal tersebut. “Bisa-bisa tubuh orang awam itu akan meledak karena tidak bisa menerima sihir kegelapan di dalam batunya.”
“Sepertinya kau akan kedatangan tamu.”
“Oh, benar. Tangan kanan Idris akan datang untuk memenuhi undanganku,” kataku senang.
“Bukan. Bukan dia, tapi orang lain. Aku tidak bisa mengatakan kepadamu siapa yang akan datang, tapi kau harus bersiap mulai dari sekarang,” kata Ava, misterius. Aku mulai penasaran, tetapi menghargai ucapan Ava yang tidak bisa memberitahukan informasi ini secara lengkap.
“Kapan?”
“Hanya beberapa minggu dari sekarang.” Ava kemudian terlihat menyadari sesuatu. “Aku pergi dulu.”
Aku berdiri saat Ava sudah duluan berdiri sambil mengambil beberapa kue coklat yang berada di atas piring. Aku membiarkan hal itu dan mengantarnya sampai ke depan pintu ruangan rahasia.
Ava pun masuk ke dalam dan melambai padaku, sebelum akhirnya menghilang di dalam portal. Aku menutup pintu rahasianya, bertepatan dengan datangnya Matilda.
Nyaris saja.
__ADS_1
“Apakah Ratu membutuhkan sesuatu? Bagaimana keadaan Ratu sekarang? Apa Ratu sudah membaik?” Matilda menanyakan hal-hal itu dengan wajah ceria.
“Aku sudah lebih baik daripada yang sebelumnya, Matilda. Saat ini aku hanya ingin menunggu kedatangan Jack di sini,” kataku padanya. “Oh ya, bagaimana dengan perkembangan Istana Kekaisaran? Apakah sudah mulai memasuki tahap 40 persen?”
“Hampir, Ratu. Beberapa bahan baku yang seharusnya diantarkan kemarin, baru saja tiba hari ini. Itu cukup membuat proses perbaikannya tertunda, Ratu,” kata Matilda.
Aku mengangguk. “Akan aku desak lagi untuk mempercepat proses pengantaran bahan bakunya. Ini tidak boleh dibiarkan terus-menerus. Minta Jayden untuk menemuiku besok siang. Ada yang ingin aku sampaikan kepadanya.”
“Baik, Ratu.”
Tok! Tok! Tok!
Ah, itu Chloe. Pasti dia ingin memberitahukan bahwa Jack telah tiba di istanaku. Aku pun memerintahkannya untuk masuk dan Chloe pun muncul dari balik pintu.
Chloe menunduk hormat. “Jack sudah tiba, Ratu. Apakah Ratu ingin menemuinya sekarang juga?” tanya Chloe.
Aku langsung mengangguk. “Baiklah. Ada di mana dia sekarang?”
“Jack sedang ada di ruang tamu, Ratu,” jawab Chloe.
“Uhm, minta dia menunggu di gazebo taman belakang. Aku ingin bicara dengannya sambil menikmati udara terbuka,” kataku pada Chloe.
“Baiklah, Ratu. Kalau begitu saya akan segera menyampaikannya pada Jack,” kata Chloe, yang kemudian pamit permisi.
Beberapa menit kemudian, aku menyusul Jack bersama dengan Matilda. Setidaknya, aku ingin melawan traumaku tentang masa lalu yang berhubungan dengan gazebo itu. Di dalam gazebo, duduklah Jack dengan tangan kiri yang diperban dan kepala yang dililit perban juga.
Aku memerintahkan Matilda untuk tidak mengikutiku karena aku ingin bicara berdua saja dengan Jack.
Matilda pun menyanggupi hal tersebut dan menjaga pintu keluar menuju taman agar tidak dilewati oleh siapa pun.
Saat sudah bertatapan dengan Jack, Jack langsung menunduk dan mengucapkan salam. Tubuhnya gemetaran tanpa sebab yang jelas. Aku mengabaikan hal itu dan duduk di kursi yang kosong.
“Mari kita mulai bincang-bincangnya,” kataku santai.
__ADS_1