The Second Life

The Second Life
CVI - Pertemuan Resmi (II)


__ADS_3

“Pasti Ratu menyembunyikan sesuatu lagi di belakangku.” Hendery cemberut. “Padahal aku juga bagian dari tim Ratu.”


Hoo, dia berpikir bahwa aku sedang menyimpan rahasia dengan Ava, ya? Polos sekali anak ini.


“Tenang saja, aku hanya menyimpan hal ini sendiri. Karena ini bersifat pribadi, aku tidak ingin siapa pun tahu.” Aku mencoba untuk bersikap baik.


“Oh, begitu.” Raut wajah Hendery kembali cerah. “Bagaimana luka Ratu? Apakah sudah baikan?”


Aku mengecek luka di kedua tanganku dan menggidikkan bahu. “Sudah mulai kering. Kau tenang saja soal itu.”


Hendery pun tersenyum.


*


Kami sampai di depan gedung Pengadilan Tinggi dengan dua orang staf pengadilan yang sudah menunggu kami di depan. Aku turun dari dalam kereta dengan dibantu oleh Hendery. Kehadiranku menarik banyak perhatian rakyat Vanhoiren. Aku mengabaikan hal itu dan memperlihatkan wajah sendu.


Kedua staf yang menyambutku menunduk hormat. “Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan Anda, Yang Mulia.”


“Apa Hakim Agung sudah menunggu di dalam?” tanyaku berbasa-basi.


“Benar, Yang Mulia. Akan kami antarkan sekarang. Silahkan ikuti kami,” ucap salah satu staf.


Aku dan Hendery pun masuk ke dalam gedung pengadilan dengan mengikuti dua orang staf itu. Ada beberapa bangsawan yang ada di dalam pengadilan. Mereka menyapaku dan mengucapkan bela sungkawa.


Kami naik ke lantai dua, di koridor sebelah kiri. Mereka berhenti di sebuah pintu besar dengan bahan kayu jati yang dicat dengan cat minyak coklat. Gagang emasnya terlihat berlebihan.


Pintu diketuk oleh staf yang satunya, dan berkata, “Yang Mulia Ratu telah tiba, Hakim Agung.” Setelah itu, pintu langsung terbuka.


Aku agak kaget karena melihat beberapa tamu tak diundang. Aku tidak pernah membaca di dalam surat yang diberikan oleh Hakim Agung tentang tamu yang lain. Di ruangnya, duduklah Grand Duke Dominic bersama Grand Duchess Dominic, Duke Harriston dan juga Duchess Harriston, bahkan ada Baron Hindley sendiri.

__ADS_1


Mereka ingin tahu sesuatu.


Saat melihatku, mereka semua berdiri dan menunduk hormat. Aku melirik Hendery, sebagai kode bahwa dia harus menunggu di luar. Pintu pun tertutup begitu aku masuk.


“Ah, ternyata ada para bangsawan juga yang hadir. Aku sampai berpakaian biasa saja karena mengira hanya akan bertemu dengan Hakim Agung,” kataku. Lengkap dengan tingkah malu-malu. Aku duduk di single sofa yang tersisa.


Hakim Agung menggaruk kepalanya. Salah tingkah. “Maaf, Ratu. Hal ini mendadak sekali,” katanya.


“Kami sangat terpukul saat mendengar berita kematian Kaisar. Ini pasti berat untukmu, Ratu,” kata Grand Duke.


“Benar apa yang dikatakan oleh Grand Duke, Ratu. Kalian belum lama menjalin hubungan suami-istri, pasti Ratu sangat bersedih tentang hal ini,” tambah Duchess Harriston.


Aku tersenyum getir. “Aku masih berusaha untuk mengikhlaskan kepergian Kaisar. Bagiku ..., dia masih ada di dalam ingatanku. Dan yang harus kulakukan adalah tetap mengingatnya.”


“Itu benar, Ratu. Tapi, uhm, bisa Ratu ceritakan secara detail apa yang terjadi di dalam Istana Kekaisaran? Sampai saat ini, kami tidak tahu apa yang terjadi terhadap Kaisar. Kenapa Kaisar bisa sampai meninggal?”


Aku menunduk sejenak. “Kalian pasti sudah penasaran. Aku juga sempat memerintahkan prajurit istana untuk menjaga tempat kejadian perkaranya. Tapi, kalian pasti juga sudah tahu bahwa seluruh kejadian ini ada hubungannya dengan Selir Sienna.”


“Selir Sienna menggunakan sihir.” Aku bisa melihat semua orang melotot kaget. “Tepatnya, sihir kegelapan. Dia menculik para rakyat untuk dijadikan tumbal guna memperkuat sihirnya sendiri. Aku sudah pernah mengusut laporan tentang orang hilang, tetapi aku tidak menemukan titik terang. Sampai di mana aku sadar bahwa ada rumor tentang para pelayan istana yang menghilang.”


“Dan juga ..., Kaisar berperilaku aneh belakangan ini.”


“Aneh bagaimana maksud Ratu?” sela Baron Hindley. Sepertinya dia merasa bahwa aku menyindir hubungan anaknya Rose Hindley dengan Idris.


Aku menatapnya sejenak dan tersenyum. “Aku sering melihat Kaisar yang bertemu dengan Selir Sienna, Kaisar tampaknya dipengaruhi oleh sihirnya. Terakhir kali aku berkunjung, aku kedapatan melihat Selir Sienna yang bertengkar dengan Idris bersama Rose Hindley. Ternyata Selir Sienna menginginkan Rose Hindley menjadi Ratu.”


Semua yang kukatakan sebagian besarnya adalah cerita buatan. Aku juga tidak mungkin mengungkap hal yang sebenarnya di depan Hakim Agung dan para bangsawan-bangsawan ini.


“Bagaimana bisa anakku—”

__ADS_1


“Anak kalian,” sanggahku. “Mungkin yang lain tidak tahu, tapi aku tahu benar jika Rose Hindley adalah anak Selir Sienna juga.”


Baron Hindley terkejut. Mungkin dia tidak menyangka jika aku akan mengungkap aib itu di depan semua orang penting. Mungkin orang lain sudah tahu bahwa Rose Hindley adalah anak Selir Sienna karena persamaan mereka yang sangat besar, tapi aku juga tahu bahwa tidak ada orang lain yang berani atau yang mau mengungkap hal itu.


“Ratu ..., bagaimana bisa Ratu berkata seperti itu?”


“Karena aku sudah ketahuan mengetahui rahasia mereka, Selir Sienna pun berniat untuk menghabisi nyawaku,” kataku. Aku mengabaikan Baron Hindley karena dia terlalu naif. “Saat Selir Sienna hendak membunuhku, Kaisar mencegah hal itu dengan melindungiku. Jadi ..., dia tertusuk oleh pisau Selir Sienna.”


Aku terisak. Tentu saja bohongan.


“Ratu bisa istirahat sejenak jika tidak sanggup untuk menceritakannya,” kata Hakim Agung.


“Tidak,” tolakku. “Aku akan meneruskan kesaksianku. Karena Selir Sienna fokus pada aku dan juga Kaisar, Kesatria Franklin jadi bisa membuat Selir Sienna terluka. Mereka pun bertarung dengan dibantu olehku. Meskipun aku seorang Ratu, aku juga memiliki kemampuan berpedang yang tidak bisa dianggap remeh.”


“Istana dihancurkan oleh Selir Sienna. Para prajurit pun dibuat tak sadarkan diri. Tapi, sihir yang dipakai dengan mengandalkan tumbal akan terkuras dengan habis jika digunakan dengan berlebihan. Jadi, di saat Selir Sienna sudah melemah, Kesatria Franklin akhirnya berhasil memenggal kepalanya. Untuk tubuhnya, aku juga tidak tahu pasti, tapi menghilang saja menjadi abu.”


“Mungkin itu efek dari sihir kegelapan,” kataku.


Semoga mereka bisa menerima semua cerita khayalanku ini. Aku tidak terlalu ahli mengarang, jadi mungkin saja akan sedikit aneh.


“Bagaimana dengan anakku? Kenapa dia menjadi seperti sekarang?” tanya Baron Hindley.


“Aku juga tidak tahu, Baron Hindley. Mungkin itu dikarenakan trauma yang berlebihan. Dia juga sedang mengandung, mungkin dia tidak bisa menerima kepergian Kaisar yang merupakan Ayah dari anak yang dikandungnya sendiri.”


Grand Duke batuk kecil. “Sekarang, kita hanya bisa berharap jika anak yang dikandung oleh Nona Hindley adalah seorang anak laki-laki. Anak itu adalah keturunan langsung dari Kaisar.” Grand Duke menatapku sejenak. “Maaf, Ratu. Saya hanya bicara hal yang sudah sepantasnya terjadi.”


Aku bisa menangkap rasa senang di dalam hati Baron Hindley. Dia pasti sangat ingin jika Rose Hindley nantinya menjadi ibu dari penguasa Vanhoiren. Tapi, aku merasa sedih karena hal itu selamanya tidak akan terjadi.


Kukeluarkan surat penyerahan kekuasaan yang sudah kuberi cap Kaisar dari dalam tas yang kubawa, dan mengangkatnya ke atas agar mereka semua melihatnya.

__ADS_1


“Di detik-detik terakhirnya, Kaisar menyerahkan seluruh kekuasaan Vanhoiren serta isinya kepadaku. Dan untuk itu ..., aku tidak membutuhkan pewaris kekuasaan yang bukan darah dagingku.”


__ADS_2