
“Apa yang Anda inginkan dari saya, Ratu?” tanya Jack, masih enggan untuk mengangkat kepalanya. “Saya tidak tahu apa pun.”
Aku tersenyum. “Benarkah? Aku sudah tahu semuanya, Jack. Bukan berarti aku akan menghakimimu, aku hanya ingin tahu apa yang kau lihat.”
“Saya tidak melihat apa pun, Ratu,” kata Jack, masih bersikeras untuk tutup mulut dan menghindari kontak mata denganku.
“Kau menyukai adikmu sendiri, kan?”
Jack langsung mengangkat kepalanya. Terlihat kaget. “Ratu ..., apa yang Ratu tanyakan barusan?”
“Dari awal aku sudah tahu bahwa kau menyukai Rose Hindley. Kau diam-diam menyimpan perasaan lebih kepadanya.” Kini, aku sendiri yang menghindari tatapan Jack. Dia pasti ingin memastikan bahwa aku jujur atau tidak. “Sayang sekali kau harus menerima kenyataan bahwa Rose Hindley lebih memilih Kaisar dibandingkan dirimu yang hanya menyukainya tanpa mengutarakan hal itu.”
Dia hanya diam.
“Aku hanya bilang jika aku tidak akan menghakimimu. Jadi, kalau kau tetap tidak mau membuka mulut, mungkin Rose Hindley akan lebih menderita dari yang kau lihat sekarang,” ancamku. “Apa kau rela membiarkan Rose Hindley semakin menderita karena kau tetap memilih untuk diam?”
Jack kembali menunduk. “Saya hanya berusaha untuk berada di posisi yang aman saja,” ucap Jack, setelah jeda yang cukup lama. “Jika saya melawan mereka, nyawa saya sendiri yang akan terancam.”
“Mereka?”
“Selir Sienna dan juga Kaisar,” jawab Jack. “Saya mempertahankan nyawa saya dengan mengikuti semua perintah mereka.”
Aku tersenyum. “Dan semua itu kau lakukan demi Rose Hindley, benar begitu?”
Awalnya Jack enggan untuk mengiyakan pertanyaanku, tetapi sepertinya dia kembali memikirkan apa-apa saja yang bisa kulakukan pada Rose Hindley. Dengan berat hati, Jack pun mengangguk sebagai tanda untuk mengiyakan pertanyaanku.
“Soal kejadian waktu itu ..., saya hanya melihat jika Ratu ... uhm ... menusukkan pedang milik Kesatria Franklin ke tubuh Kaisar,” kata Jack, mengaku. “Selebihnya, saya tidak tahu apa pun. Saya berani sumpah demi keluarga Hindley dan juga Dewi Kebajikan.”
“Tidak perlu sampai membawa-bawa Dewi dalam percakapan kita saat ini,” ucapku datar. “Aku hanya ingin tahu saja apa yang kau lihat di sana. Oh ya, aku juga ingin memastikan jika kau mau tutup mulut atau tidak soal hal penting ini.”
__ADS_1
Jack buru-buru berdiri dan bersujud di bawah kakiku. Dia tidak mengangkat wajahnya sama sekali dan diam cukup lama. Aku sampai kaget dibuatnya.
“Apa yang kau lakukan?” tanyaku heran.
“Ratu ..., saya bersumpah tidak akan pernah membocorkan kejadian yang kulihat itu kepada siapa pun. Ratu bisa memenggal kepala saya jika saya melanggar hal tersebut,” kata Jack, masih dalam posisi bersujud.
“Kau yang mengatakan hal itu sendiri. Kedepannya, jika kau memang benar-benar melanggar sumpahmu, kau akan dipenggal di depan keluargamu sendiri. Termasuk di depan Rose Hindley,” ucapku tenang. “Bangunlah. Aku tidak ingin kau bersujud seperti itu. Apalagi kau tangan kanan Kaisar.”
Jack pun akhirnya berdiri, dan saat itulah Jack tiba-tiba saja mendorongku hingga aku terjatuh ke belakang. Dia menindihku dan mengeluarkan sebilah pisau dari balik badannya. Ah, dia berniat membunuhku, ya? Dengan kondisi seperti itu, Jack termasuk orang yang nekad.
Apakah dia dendam padaku karena telah membuat Rose Hindley menjadi seperti orang gila? Hm, kemungkinan besar memang begitu. Jadi, semua yang kami bicarakan barusan hanyalah omong kosong belaka.
Membuang-buang waktuku saja.
“Berhenti bertindak bodoh, Jack. Dengan kau bersikap begini, kau hanya membuat nyawamu dalam bahaya,” kataku santai. “Kau tahu kan jika aku bukanlah orang sembarangan.”
Jack berdecak kesal. “Rose Hindley hanya mencintai orang yang salah! Kenapa Ratu tega membuatnya seperti itu bahkan saat dia sedang mengandung?!”
Karena kesal dengan ucapanku, Jack langsung berniat menusukku dengan pisau di tangannya, tetapi Jack yang malang ini malah ditendang oleh seseorang yang datang dari arah depan Jack. Tendangan orang itu membuat Jack tersungkur ke belakang. Aku yang bebas darinya, segera berdiri kembali dan memperbaiki gaunku.
Jubah hitam yang cukup familiar itu membuatku tahu bahwa orang yanh menendang Jack adalah Cain. Sekarang Jack sudah tidak berdaya karena pedang milik Cain sudah Cain tempelkan di leher Jack. Jika bergerak sedikit saja, aku bisa tahu jika Cain tidak akan segan-segan menebas leher Jack.
Aura ingin membunuh milik Cain, terasa amat mencekik.
“Kenapa kau bisa ada di sini?” tanyaku pada Cain. “Apakah Ayahku menyuruhmu untuk mengawasiku sampai di dalam istana?”
Cain hanya diam. Raut wajah datarnya tak bergeming sedikit pun. Aku akhirnya mengalihkan pandanganku pada Jack yang sudah tersudut itu.
“Kau melakukan hal yang salah,” kataku pada Jack. “Kau tidak akan bisa lolos dari masalah ini.”
__ADS_1
“Apakah Ratu pikir ... Ratu akan lolos juga dari hal keji yang Ratu perbuat?” Jack menatapku dengan sikap menantang. “Seisi Vanhoiren tidak tahu bahwa Ratunya sendiri adalah orang yang membunuh Kaisar. Sungguh sangat keji. Sungguh sangat menyesatkan.”
“Ya, aku bukan orang suci. Kau bebas berkomentar apa pun. Tapi, jangan pernah kau mengusikku karena aku bersikap baik padamu.” Aku melirik Cain dan berjalan menjauhi mereka berdua untuk memanggil Matilda.
Matilda masih berada di tempatnya berdiri. Dia sepertinya sudah tahu bahwa Cain mengawasiku di luar. Jadi, meski ada bunyi keras karena tindakan Jack tadi pun, Matilda tidak mengkhawatirkan hal tersebut. Ya, aku juga tidak terlalu memedulikan hal itu.
“Apakah semuanya baik-baik saja, Ratu?” tanya Matilda.
“Panggil prajurit istana kemari sekarang juga,” perintahku cepat.
Matilda sampai kebingungan. “Kalau boleh saya tahu, apa yang terjadi di luar, Ratu?”
“Kau akan segera tahu. Ikuti saja apa yang kuperintahkan,” jawabku lagi.
“Ah, baiklah, Ratu. Mohon tunggu sebentar,” kata Matilda sambil pergi untuk memanggil prajurit istana.
Sambil menunggu Matilda dan prajurit yang kuminta, aku pun kembali lagi keluar istana.
Namun, Cain sudah tidak ada. Sedangkan Jack sudah dalam keadaan terikat di tangan dan kakinya. Sepertinya Cain tidak ingin keberadaannya dilihat oleh banyak orang. Aku akui bahwa Cain adalah sosok laki-laki yang misterius.
Tak lama kemudian, Matilda datang menghampiriku bersama dua prajurit. Mereka semua terkejut karena melihat Jack yang diikat dan dibiarkan begitu saja.
“Ratu, apa yang terjadi di sini?” tanya Matilda. “Apakah Jack melakukan sesuatu?”
“Benar.” Aku menginyakan. “Bawa dia ke dalam penjara. Aku akan mengurusnya nanti. Buat dia pingsan jika dia bangun nanti.”
“Baik, Ratu!” seru kedua prajurit itu serentak. Saat dibawa, ternyata Jack sedang tak sadarkan diri.
Baguslah kalau begitu. Aku masih punya kesempatan untuk menutup mulut Jack.
__ADS_1
Note: Episode selanjutnya diup dua hari lagi.