
Idris terbelalak kaget. Mulutnya terkatup rapat, tubuhnya gemetar, dan dia tidak bisa bergerak.
Meskipun aku tidak berada di tempat itu, aku juga bisa merasakan hal yang sama dengan apa yang Idris rasakan. Dewi Kebajikan benar-benar datang menemui Idris secara langsung dengan wujud aslinya.
“Dewi ..., apa benar di depanku ini adalah Dewi?”
“Kau siap menanggung dosamu?” tanya Dewi lagi.
Idris sempat diam. Lalu mengangguk. “Ya, Dewi. Aku akan melakukan apa pun agar bisa mempertanggungjawabkan segala kesalahanku. Aku sangat menyesal, perasaan sesalku ini sangat kuat pada Charlotte, Istriku sendiri.”
“Apa yang kau lakukan padanya?”
“Aku ..., aku membunuhnya. Aku membuat dia terbunuh atas dosa yang tidak pernah dia perbuat. Aku menyesal,” ucap Idris.
“Bagaimana jika ada kesempatan kedua untuk bisa melihat dia kembali?”
Idris tersenyum. “Apakah bisa? Dia telah tiada, Dewi.”
“Kau tulus mencintainya?”
“Ya .... Aku sangat mencintainya, perasaanku ini adalah perasaan yang tulus,” kata Idris. Pengakuan itu terdengar sangat menggelikan di telingaku saat ini.
Sampai saat ini, aku tidak mengerti kenapa Idris memilihku menjadi Ratu, apakah karena dulunya aku adalah wanita yang gampang dimanfaatkan dan bisa dibuang kapan saja? Entahlah.
Yang jelas, mau benar atau tidaknya ucapan Idris, aku sama sekali tidak bisa dan tidak mau lagi mempercayainya. Dia sudah kutanamkan dalam pikiranku sebagai seorang pendusta.
“Anakku, kau telah kuberikan kesempatan untuk kembali lagi ke kehidupanmu sebelum kau menikah dengan Charlotte,” ucap Dewi. “Ingatlah bahwa di kehidupan barumu nanti, kau hanya akan menanggung karma yang telah kau perbuat sekarang.”
“A-apa?”
“Segala yang kau tuduhkan akan menjadi kenyataan, dan oleh karena itu juga kau akan jatuh di tangannya sendiri. Ketahuilah bahwa setiap perbuatan yang diperbuat di dunia ini, pastilah ada balasannya.”
Idris bersujud di depan Dewi. “Dewi ..., apakah aku tidak akan pernah bisa bersatu dengan Charlotte?”
__ADS_1
Dewi tersenyum. “Hawa nafsumu yang membuat hubungan kalian terpisah. Ini adalah takdir yang harus kau terima. Sekarang, bangunlah dan terimalah segala hukumanmu.”
Cahaya terang dari tubuh Dewi pun, berubah menjadi cahaya yang menyilaukan mata. Idris sampai harus memejamkan kedua matanya karena cahaya terang itu.
Seperti tebakanku, Idris muncul di dalam kamarnya di malam hari. Dia keluar dari kamar dan berjalan menuju kamar Jack. Aku sempat tahu letak kamar Jack yang berada di bagian belakang istana.
Dengan kasar Idris mengetok pintu kamar Jack sambil memanggil-manggil namanya.
“Jack! Jack!”
Jack keluar semenit kemudian. Matanya terlihat lelah, sepertinya dia juga baru tidur. “Ada apa, Yang Mulia?”
“Temani aku ke Istana Ratu,” perintah Idris.
Jack mengernyitkan dahi. “Istana Ratu? Yang Mulia Ratu sedang berada di sini, Yang Mulia. Ada perlu apa Anda ke sini?”
“Apa?! Tahun berapa sekarang?”
“Sekarang tahun 1756, Yang Mulia,” jawab Jack.
“Biar saya antarkan, Yang Mulia,” usul Jack.
“Tidak perlu.” Idris menolak. “Aku bisa sendiri.”
“Tapi—”
“Jangan mengikutiku,” tegur Idris. Jack pun mau tak mau hanya bisa mematung di ambang pintu kamarnya. Dia menatap kepergian Idris yang mulai menjauh dari pandangannya.
Aku sudah diambang batasku untuk melihat ingatan Idris. Kurang lebih aku sudah tahu garis besarnya. Tapi, ada satu hal yang masih janggal di dalam hatiku.
Kutatap Idris dalam ingatanku yang masih berdiri di samping kiriku. Dia pasti tahu jawabannya. Aku tidak ingin repot-repot lagi menelisik ingatannya lebih jauh dari ini.
“Kenapa kau bekerja sama dengan Selir Sienna?” tanyaku langsung. “Bagaimana bisa kau menyembunyikan kebusukan Selir Sienna dan mengorbankan Ayahanda, Ibunda, dan bahkan rakyat Vanhoiren?”
__ADS_1
Kenapa? Bagaimana? Jika ditanya seperti itu, jawabannya hanya satu. Dan itu adalah hasrat. Demi menggenggam semuanya, aku jatuh ke dalam belenggu Selir Sienna. Aku melupakan semua yang dikatakan dan dijanjikan olehku kepada Dewi Kebajikan.
Menebus dosa yang kuperbuat untukmu? Aku tidak memiliki tujuan itu lagi, Charlotte.
Kupikir, jika aku memiliki sekutu yang kuat seperti Selir Sienna, aku akan dengan mudah melawan wilayah musuh di masa depan. Nyatanya, aku hanya dimanfaatkan saja dengan menyisipkan Rose di kehidupanku.
Aku mengepalkan tanganku. Kesal dengan pengakuan Idris. “Hanya itu saja? Kau membuat Vanhoiren hancur hanya karena ingin kekuatan dan juga kekuasaan penuh?”
Begitulah.
“Kau tahu? Hidup untuk kedua kalinya pun tidak membuat dirimu menjadi lebih pintar dalam menilai sesuatu,” kritikku kesal. “Kau membuat semuanya menjadi berantakan! Pertobatan? Apanya yang pertobatan! Kau hanya mengulang kesalahan yang sama dengan yang ada di masa lalu. Kau tidak lebih dari sebuah lelucon kehidupan.”
Benar. Aku memang lelucon bagimu.
Aku tertawa karena nada bicara Idris yang terdengar seperti seseorang yang tertindas. Aku ingin sekali mengutarakan makianku kepadanya, tapi aku sadar jika Idris di hadapanku ini hanyalah bagian dari ingatan Idris yang kuambil.
Dia tidaklah nyata. Dia bukanlah Idris yang sebenarnya. Tapi, meskipun begitu, rasa ingin menghujat Idris sekarang sangatlah tinggi.
“Kau tetaplah berada di jalan yang sama. Kembali untuk jatuh ke lubang yang sama pula. Kau tidak menekan hasratmu hingga kau bisa dengan mudah dihasut oleh Selir Sienna dan juga Rose Hindley. Bisa dibilang, kau tetaplah laki-laki yang bodoh di mataku.”
“Kau sudah tahu jika ada yang tidak beres, tapi kau seolah menutup mata tentang hal itu dan bersikap baik-baik saja. Idris ..., kau memuakkan.”
Lalu, kenapa kau menerimaku lagi menjadi bagian dari hidupmu? Kau juga sudah tahu jika aku yang membuatmu digantung mati, tapi kau tetap saja mau menerimaku.
Apa bedanya aku ... dengan dirimu?
“Kau menyindirku?” Aku menaikkan sebelah alis. Merasa tersinggung, tetapi tetap memperlihatkan kesopanan di depannya. “Lucu sekali. Maaf saja. Aku menerimamu kembali bukan berarti perasaanku juga sama seperti dulu. Aku menerimamu karena aku jadi bisa lebih leluasa merencanakan balas dendam untukmu dengan lebih baik.”
Ternyata kau dendam padaku.
“Hanya orang bodoh yang tidak dendam jika dirinya diperlakukan dengan tidak semestinya,” balasku. “Sudahlah, aku sudah mendapatkan ingatan yang kuinginkan. Dan aku tidak akan pernah mau membuka ingatanmu lagi di kepalaku.”
Begitukah? Entah mengapa aku merasa sedih tentang hal ini. Maaf, Charlotte. Aku memang salah terhadapmu.
__ADS_1
Maaf, sebuah kata yang selalu diucapkan oleh orang yang melakukan kesalahan pada orang lain. Biarpun Idris ingin meminta maaf kepadaku berkali-kali, aku tidak akan pernah memaafkan Idris. Dendamku ini sudah mendarah daging di hatiku.
Aku langsung menarik diri dari ingatan Idris, dan setelah itu membuka kedua mataku. Tubuhku letih, mataku perih, itu artinya aku harus beristirahat sekarang.