
Begitu aku turun dari kereta, Hendery sudah standby di depan istana dengan raut wajah tegang. Aku cukup prihatin padanya karena dia tahu bahwa keluarga besarnya telah kehilangan semua hal yang bisa mereka banggakan. Ah, kecuali kakak Hendery tentunya. Dia akan tetap menjadi kesatria Kekaisaran, meskipun tanpa latar belakang keluarga bangsawan. Dia anak yang berbakat dan bijaksana.
Berbanding terbalik dengan sosok laki-laki yang saat ini ada di depanku. Menatapku lurus tanpa berniat hormat padaku. Aku lebih memilih mengabaikan Hendery, ketimbang mendengarkan kata-katanya yang membuatku kesal dan muak.
Namun, saat akan melewatinya, Hendery dengan lancang menarik tanganku untuk berhenti. Tak butuh waktu lama, kulayangkan tamparanku untuknya. Aku heran, kenapa dalam sehari ada dua orang laki-laki yang menarik-narik tanganku dengan tidak sopan?!
“Kau sudah kelewatan,” kataku dingin. “Apa kedudukanku tidak penting di matamu?”
“Aku ingin melihat Ibuku,” ucap Hendery dengan raut wajah menyesal. “Ijinkan aku keluar untuk sementara waktu.”
Aku menatapnya sejenak sebelum akhirnya berjalan masuk ke dalam istana. “Pergilah.”
Blam!
Aku membanting pintu ruang kerjaku dan melarang siapa pun untuk masuk. Ava sudah berada duluan di ruanganku, dan sekarang dia asyik membaca buku yang tertata rapi di rak.
Rasa rileks memenuhi jiwa ragaku saat duduk bersandar di kursi empukku.
“Pertunjukan tadi sungguh menarik. Aku sampai menitikkan airmata karena hal itu,” ucap Ava, mendramatisasi.
“Bagaimana dengan Selir Sienna?” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Dia di Istana Kekaisaran,” jawab Ava. “Aku bisa merasakan inti mana jahatnya di sana.”
“Tidak menutup kemungkinan jika Selir Sienna bertukar tubuh dengan Rose Hindley, kan?” tebakku.
Ava mengangguk. “Aku sempat mampir ke Istana Perak. Penjagaan di sana semakin diperketat. Sienna—yang di dalamnya orang lain—sedang berbaring di tempat tidurnya.”
“Apakah kita harus bergerak sekarang?”
Tok! Tok! Tok!
Belum sempat Ava menjawab, pintu ruang kerjaku di ketuk dari luar. Aku berdecak kesal dan melirik pintu itu. Ava sudah pergi tanpa berkata apa-apa.
“Sudah kubilang untuk tidak menggangguku,” kataku kesal. “Ada apa?”
“Maafkan saya, Ratu. Ayah Ratu datang berkunjung.” Itu Maya. “Beliau sedang menunggu di ruang tamu.”
__ADS_1
Akhirnya datang juga.
Aku pun keluar dan langsung berjalan menuju ruang tamu bersama dengan Maya. Begitu aku masuk, terlihat Chloe yang tengah sibuk meletakkan cemilan dan teh ke atas meja.
Begitu selesai, Chloe menunduk dan keluar bersama Maya. Meninggalkanku berduaan saja dengan Ayahku yang memasang raut sedih.
Aku duduk di sofa yang menghadapnya dan tersenyum. “Sepertinya sudah lama aku tidak melihat Ayah.”
“Apa tidak ada yang ingin kau katakan pada Ayah, Charlotte?” Ayah memang tidak berubah. Dia sama sekali tidak ingin berbasa-basi di situasi yang tidak mengenakkan seperti sekarang. “Bisakah kau jelaskan tentang eksekusi dan pemberian hukuman pada keluarga Franklin tadi?”
“Ayah juga melihatnya?” tanyaku gugup.
“Tidak. Ayah tidak sempat melihat kejadian itu karena sedang sibuk pada bisnis Ayah. Begitu tahu informasi ini dari Jayden, Ayah langsung ke sini untuk menanyakan semuanya,” jawab Ayah.
Aku tersenyum. “Seperti yang sudah Ayah ketahui, aku hampir saja dibunuh oleh pelayan yang diperintahkan oleh Gracie Franklin. Oleh karena perbuatan mereka itu, aku memberikan mereka pelajaran yang setimpal.”
“Dan kau tidak memberitahukan hal ini pada Ayah? Orang tua kandungmu sendiri?! Saat ada penyusup masuk pun, kau diam saja!”
Hm.
“Ayah tidak perlu berpura-pura lagi,” kataku pelan. “Aku tahu jika Ayah meletakkan mata dan telinga Ayah di sini. Kesatria Franklin dan Matilda adalah mata-mata Ayah, kan?”
“Ayah tidak mengerti apa yang kau maksud,” kata Ayahku.
“Yang tahu tentang penyusup itu hanyalah Matilda. Dia menyembunyikan masalah itu dari dayangku yang lain dan malah mencari Kesatria Franklin. Yang jadi pertanyaannya adalah, kenapa harus Kesatria Franklin yang dia beritahu? Jika ingin mencari solusi bersama, kenapa tidak mengajak dua dayangku yang lain juga?” Aku menghela nafas dan menghembuskannya kasar. “Dan sekarang, kenapa Ayah tahu hal ini? Dari Jayden? Tidak mungkin. Yang tahu hanyalah ketiga dayangku dan juga Kesatria Franklin.”
Hening sejenak.
“Kau benar, Charlotte. Semua yang kau katakan benar.” Ayah mengaku. “Tapi, apa yang salah pada hal itu? Ayah hanya ingin memperhatikanmu.”
“Aku tidak bilang itu salah. Dan aku juga tidak bilang itu benar. Ayah berlebihan,” kataku.
“Maaf, Charlotte. Ayah tidak bermaksud membuatmu jadi tidak nyaman dan merasa terkekang,” kata Ayahku. “Ayah tidak mau jika ... Ibumu yang ...”
Aku menutup kedua telingaku karena perkataan yang tak jelas dari mulut Ayah. Aku tidak bisa mendengar keseluruhan kalimatnya!
“Ibumu meninggal karena ... jadi Ayah ...”
__ADS_1
“Aku ..., tidak bisa ..., dengar!” teriakku histeris. “Kenapa semua hal yang menyangkut Ibu dan masa kecilku begitu abu-abu?! Kenapa?!”
Tingkat stresku naik lagi. Kepalaku sakit dan nafasku memendek. Aku tidak bisa bernafas dengan baik. Pandanganku menjadi tidak jelas, dan berbayang. Aku benci hal seperti ini. Aku benci hal yang tidak jelas. Aku benci diriku sendiri. Apa yang salah pada diriku.
Ibu ..., kenapa aku jadi seperti ini? Apa yang sudah kau perbuat padaku?
Semuanya menjadi gelap gulita.
*
“Ratu belum kunjung bangun, aku sudah mengompresnya dengan air es. Demam Ratu tak kunjung turun.” Chloe? Itu Chloe?
Mataku tak mau terbuka, dan mulutku terkatup. Tenggorokanku sakit. Kepalaku berputar-putar. Aku berusaha bergerak karena tubuhku yang panas. Tapi, aku terlalu lemah. Padahal aku baik-baik saja. Ya, kondisiku yang melemah seperti ini, ada pemicunya. Ibuku.
Semakin jelas. Aku juga sering seperti ini dulu. Rasanya sangat tidak enak. Seperti ingin mati saja.
“Ayah Ratu bagaimana?” Jasmine yang sekarang bicara.
“Sudah pulang karena dijemput tangan kanannya,” jawab Matilda.
“Pakaian Ratu sudah basah. Kita harus menggantinya lagi,” kata Chloe. “Apa kita panggil Dokter Kekaisaran saja?”
“Ratu tidak menginginkan hal itu,” ucap Matilda.
“Kondisi Ratu lebih parah dari sebelumnya!” seru Chloe. Sepertinya panik.
“Benar kata Chloe. Kita harus memanggil Dokter Kekaisaran sekarang juga demi kebaikan Ratu. Jika Ratu marah karena hal ini, aku yang akan bertanggung jawab,” ucap Jasmine.
“Tidak perlu.” Suara itu membuatku agak kaget. “Aku sudah memanggilnya.”
“Semoga Yang Mulia Kaisar diberkati Dewi Kebajikan!” seru ketiga dayangku.
“Kenapa kalian tidak mengirimkan surat terkait kondisi Ratu kepadaku?” Idris terdengar marah. Berlebihan. “Kalian bermaksud ingin menyembunyikannya dariku?”
“Maafkan kami, Kaisar. Karena tadi sempat ada pertengkaran di antara Kaisar dan Ratu, kami pikir Ratu akan marah jika kami lancang memberitahu hal ini pada Anda,” jelas Jasmine.
“Keluarlah. Biarkan aku berdua dengan Ratu sampai Dokter Kekaisaran datang,” perintah Idris.
__ADS_1
“Baik, Kaisar.”
Suasana menjadi hening. Yang bisa kurasakan adalah seseorang yang duduk di tepi ranjangku dan membelai rambutku. Itu Idris. Perlakuannya membuatku lebih menderita.