
Mataku perih.
Aku terlalu memaksakan diri untuk membaca buku Ava tanpa ada jeda istirahat sedikit pun. Isi bukunya dipenuhi dengan ajaran-ajaran tentang berbagai sihir, baik yang biasa maupun yang sulit. Sambil membacanya, aku sedikit mempraktekan beberapa sihir biasa untuk menambah pengalaman dalam pengendalian mana.
Contohnya, sihir tembus pandang yang digadang-gadang oleh Ava sebagai sihir paling berguna untuk mendapatkan gosip harian. Meskipun terlihat acuh, Ava sebenarnya sangat menyukai gosip dan teori konspirasi.
Tok! Tok! Tok!
Sihir tembus pandangku masih aktif, aku bisa melihat Jasmine yang membawakanku teh melati untukku yang kelima kalinya malam ini. Aku mempersilahkan Jasmine masuk, dan dia pun tersenyum padaku sebelum akhirnya meletakkan teh melati itu ke atas meja.
“Apakah Anda masih akan tetap di sini, Ratu?” tanya Jasmine.
“Setelah menghabiskan teh ini aku akan segera kembali ke kamarku. Kau bisa istirahat sekarang,” jawabku tenang.
“Baik, Ratu. Apakah masih ada hal lain yang Anda inginkan?” tanya Jasmine lagi.
“Tidak ada lagi, terima kasih. Kau boleh pergi.”
Jasmine pun menunduk. “Kalau begitu, saya permisi.” Dia pun meninggalkanku sendirian di ruang kerjaku.
Aku bersandar sejenak di sandaran kursiku, menerawang beberapa hal yang sudah terjadi. Sangat kacau. Mungkin saja aku membutuhkan jeda sejenak, tapi aku juga tahu jika hal itu tidaklah bisa. Untuk mencapai sebuah tujuan, harus ada sesuatu yang dikorbankan, contohnya adalah waktu.
Ah, apa yang aku pikirkan?
Tidak ada waktu untuk beristirahat. Aku harus menyelesaikan buku Ava sebelum rencana kami dimulai. Aku hampir menyelesaikan buku pertama Ava. Oleh karena itu, aku tidak boleh menyerah sampai di sini saja.
***
Di jam-jam terakhir dari waktu yang diminta oleh Ava, aku berhasil membaca seluruh isi dari keempat buku Ava. Semoga saja aku mengingat semuanya di dalam kepalaku. Sebentar lagi matahari akan memulai tugasnya di sini, tetapi aku sama sekali belum memejamkan mata dari semalam.
__ADS_1
Sihir untuk tetap terjaga milik Ava memang sangat membantuku di saat-saat yang tidak kuduga. Mana yang dibutuhkan yanya sedikit, aku bisa mengendalikannya dengan baik. Mataku tetap segar sampai detik ini.
“Apa kau sudah selesai membaca semuanya?” tanya Ava, yang membuatku terkejut karena muncul dari ruangan rahasia secara tiba-tiba.
“Ah, iya. Aku sudah selesai membaca semua bukunya.”
Ava tersenyum dan menjentikkan jarinya. Empat buku miliknya yang kuletakkan di atas meja pun, menghilang secara ajaib. “Nanti siang, kau pergilah ke Istana Kekaisaran. Aku sendiri yang akan memancing Sienna di Istana Perak. Pastikan kau melakukan yang kuminta waktu itu.”
“Apakah kita akan segera memulainya sekarang?”
“Lebih cepat lebih baik. Avnevous tidak bisa membiarkan Rajanya tanpa seorang Permaisuri lebih lama lagi,” ucap Ava.
Benar, ketidakadaannya Permaisuri di sisi Lucas pastinya membuat banyak pihak yang merasa janggal. Apalagi aku telah dikenal oleh Ayah dan Ibu Lucas. Keluarga Harrison juga pastinya akan mulai mempertanyakan kehadiranku, mengingat putri Duke Harrison tempo dulu sangat tergila-gila kepada Lucas.
Mengingatnya saja sudah membuat dadaku sesak tak karuan. Ada percikan amarah di dalam hatiku, karena wanita itu pernah hampir mencelakaiku.
“Baik, aku akan segera pergi ke Istana Ratu dan menunggu kedatanganmu di sana,” kataku pada Ava.
Dengan perginya Ava, aku memilih kembali ke kamarku dan duduk sebentar di sofa sambil memejamkan mata sejenak. Setidaknya, aku beristirahat untuk beberapa menit saja.
Aku terbangun ketika mendengar suara pintu yang terbuka. Itu Chloe, datang dengan teh melati hangat untukku. Dia terkejut saat melihatku yang sedang duduk manis di atas sofa. Buru-buru dia menunduk, lalu kemudian menghampiriku untuk meletakkan teh melati itu di atas meja.
“Apakah Ratu bangun lebih awal dari biasanya?” tanya Chloe.
“Ya, aku bangun lebih awal. Terima kasih untuk tehnya,” sahutku sambil meraih cangkir berisi teh melati yang dibawa Chloe barusan. Aku menyesapnya dan merasa rileks dengan aroma melatinya.
“Apakah ada menu yang ingin Ratu makan saat sarapan sebentar?”
Aku berpikir sejenak dan menggeleng. “Tidak perlu, buatkan saja sesuai rekomendasimu. Ah, dan jangan lupa panggilkan Kesatria Franklin untuk menghadapku sekarang.”
__ADS_1
“Baik, Ratu. Akan saya panggilkan segera. Kalau begitu, saya permisi.” Chloe menunduk hormat, lalu keluar dari dalam kamarku.
Tak lama setelah Chloe pergi, Hendery pun menghadapku. Dia menunduk dan tersenyum padaku. Aku pun meletakkan cangkir teh yang kupegang dan menghela nafas. Entah dia bisa bekerja sama dengan baik bersamaku atau tidak. Untuk sesaat, aku meragukannya.
“Hari ini, rencanaku akan dimulai.” Aku membahasnya dengan nada pelan. “Akan ada sedikit kekacauan di Istana Perak dan Istana Kekaisaran. Aku harap kau bisa menangani bagianmu dengan baik nanti.”
“Maksud Ratu, tentang penggulingan Kaisar?” tanya Hendery, terlihat kaget.
“Ya.” Tak ada keraguan sedikit pun dalam ucapanku. “Yang harus kau lakukan hanyalah tetap berada di dekatku dan siap untuk menyerang siapa pun yang mendekatiku. Kau mengerti?”
Hendery mengangguk. “Siapa yang akan menyerbu Kekaisaran? Apakah Ratu memiliki pasukan rahasia?”
“Tentu saja tidak. Aku tidak punya pasukan atau apa pun yang ada di dalam pikiranmu itu.” Aku tersenyum. Hendery terlalu berpikiran jauh akan hal ini. “Kita hanya bertiga.”
“Apa?!” Hendery melotot kaget. Tidak percaya dengan kata-kataku tentang menggulingkan Kaisar dengan tiga orang saja. “Ratu ..., apa aku tidak salah dengar dengan ucapan Ratu barusan?!”
“Tidak. Tenang saja, indera pendengaranmu masih berfungsi dengan normal,” ucapku acuh. “Kita memang hanya bertiga saja. Tapi, itu bukan berarti aku gegabah atau tidak punya rencana yang matang.”
“Tapi, Ratu. Tiga orang saja melawan hampir ratusan pasukan Kekaisaran yang berjaga di Istana Kekaisaran adalah hal yang mustahil,” ucap Hendery.
Hendery sangat lucu.
“Tentu saja itu akan mustahil jika tiga orang itu hanyalah orang biasa. Tapi salah satu di antara kita adalah seorang Penyihir Agung yang diberkati. Lalu, meskipun aku adalah penyihir pemula, melawan orang biasa masih bisa kutangani sendiri,” jelasku. “Dan kau adalah salah satu kesatria Vanhoiren yang berbakat, pasti akan mudah bagimu melawan puluhan orang bersenjata, bukan?”
Hendery terlihat makin frustasi. “Apakah Penyihir Agung itu adalah gadis kecil yang menghajarku tempo dulu?”
“Hoo, kau langsung sadar, ya.” Aku mengangguk. “Benar, dia bukan hanya penyihir biasa. Tapi, dia memang Penyihir Agung. Dia bisa memusnahkan istana dalam sekejap jika dia mau. Jadi, kau tidak perlu mengkhawatirkan kekurangan anggota ataupun kekuatan untuk melawan.”
“Ah, baiklah. Jika Ratu berkata seperti itu, saya tidak akan khawatir lagi.”
__ADS_1
“Memang seharusnya begitu.” Aku meminum lagi teh melatiku untuk membuat suasana hatiku kembali tenang.