The Second Life

The Second Life
『S2』 V - Hantu


__ADS_3

Aku terbangun oleh gerakan di ranjang yang dibuat oleh Lucas. Ternyata dia sudah bangun dan hendak pulang ke Avnevous. Belum sempat dia berdiri, aku sudah terlebih dahulu menahan lengan kemejanya dan tersenyum saat dia menoleh ke arahku.


Lucas nampak terkejut.


“Oh, maaf sudah membangunkanmu, Sweetheart.” Lucas mengelus kepalaku. Kemudian menunduk sedikit untuk mencium keningku. “Tidurlah. Ini masih terlalu pagi untuk bangun.”


“Peluk aku sebelum pergi,” pintaku secara spontan. Lucas sampai kaget mendengar permintaanku.


Lucas pun langsung menarikku ke dalam pelukannya. Cukup lama kami berpelukan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku tidak tahu mengapa aku ingin dipeluk oleh Lucas. Ada keinginan tak bisa aku jelaskan dengan kata-kata.


Semacam firasat.


“Menurutmu, kapan kita bisa bersatu?” tanya Lucas.


Aku hanya diam dan mengencangkan pelukanku. Aku tidak punya jawaban yang pasti. Untuk sekarang, aku tak ingin membuat Lucas membuat ucapanku menjadi beban pikiran. Bersatu bukanlah hal yang mudah dan sebenarnya bukan juga hal yang sulit.


Tidak mudahnya adalah, karena latar belakang kami yang saling berlawanan. Lucas adalah Raja dari wilayah Barat, Avnevous. Sedangkan aku adalah Kaisarina dari wilayah Utara, Vanhoiren. Dan bisa kita ketahui bahwa Avnevous dan Vanhoiren adalah dua wilayah yang tidak bersahabat alias bermusuhan.


Sedangkan tidak sulitnya karena aku adalah Kaisarina. Orang yang paling berkuasa di Kekaisaran. Memangnya siapa yang akan menentangku? Namun, nilai minus-nya adalah aku akan dikecam oleh para bangsawan dan juga rakyatku sendiri. Begitu juga dengan Lucas yang bisa mendapatkan perlakuan yang sama denganku.


“Kau juga sangat memikirkan hal itu, ya?” Lucas langsung tahu apa yang kupikirkan. Syukurlah, aku tidak perlu menjelaskan apa pun lagi padanya. “Calm down, Sweetheart. Jangan terlalu memaksakan diri. Aku juga berusaha di sana.”


“Ya. Baik, Lucas.”


Lucas meregangkan pelukannya dan menatapku. “Aku pergi sekarang. Tidurlah lagi, oke?”


“Ya.”


“Aku pasti akan sering-sering menemuimu di sini,” kata Lucas yang kutahui sedang berusaha untuk menghiburku.


Namun, aku tertawa. “Berhenti mengada-ada, Lucas. Kau punya pekerjaan yang harus kau selesaikan di Avnevous.”


“Kau lupa? Aku punya kemampuan melarikan diri, Sweetheart.” Lucas tersenyum jahil.

__ADS_1


“Dan itulah saatnya Ava sendiri yang akan menyusulimu dan menyeretmu pulang,” ucapku geli.


“Ugh, Nenek tua itu selalu saja tidak bisa membiarkan kita bermesraan sedikit pun. Aku sangat ingin meledekinya jika ada di sini sekarang,” kata Lucas.


“Kembalilah, Lucas.”


“Baiklah, Sweetheart. Semangat untuk hari ini.”


Aku mengangguk. “Kau juga, Lucas.”


Setelah Lucas pergi ke Avnevous dan meninggalkanku sendirian di kamar, aku kembali tidur lagi sampai Chloe datang untuk membangunkanku dengan secangkir teh melati buatannya yang merupakan teh kesukaanku.


*


Hari ini aku hendak mengunjungi kamp khusus kesatria untuk melihat persiapan Tim Ekspedisi.


Hendery—yang sudah jadi seorang Duke—yang akan menemaniku pergi ke sana. Aku sengaja hanya membawa Hendery agar dia dan Nicholas bisa lebih akrab. Aku ingin hubungan kakak-beradik itu menjadi lebih baik dari sebelumnya.


Sekarang, akibat hilangnya gelar bangsawan keluarga Franklin dan naiknya Hendery menjadi seorang Duke, Nicholas pasti merasakan kesenjangan di antara mereka berdua.


Itu akan rumit.


“Yang Mulia, apakah ada seseorang yang masuk ke kamar Yang Mulia tadi subuh?” tanya Matilda di sela sarapanku.


Aku hampir saja tersedak saat mendengar pertanyaan Matilda. Dan dengan sikap yang kubuat kembali seperti biasanya, aku pun menjawab pertanyaannya acuh.


“Tidak. Memangnya kenapa?”


Matilda menunduk. “Maaf sudah lancang, Yang Mulia. Saat saya hendak pergi ke dapur, sekilas saya melihat sekelebat bayangan hitam yang keluar dari lorong yang mengarah ke kamar Yang Mulia.”


“Uhm, mungkin saja itu roh Kaisar,” kataku, mencoba menakut-nakuti Matilda agar tak berani keluar subuh-subuh lagi.


“Roh Kaisar? Ma-maksud Yang Mulia adalah hantu?!” Matilda terkejut dengan ucapannya sendiri.

__ADS_1


“Hantu?” Jasmine yang baru masuk ke dalam ruang makan, ikut tertarik dengan pembicaraan Matilda denganku. “Apa maksudmu, Dayang Matilda?”


“Ah, itu .... Aku melihat sekelebat bayangan hitam dari arah kamar Yang Mulia,” ujar Matilda.


“Bukankah mungkin saja itu adalah roh Kaisar yang ingin melihat keadaan Yang Mulia?” Jasmine kembali tenang dan bersikap wajar, lalu memakai logika untuk berpikir.


Aku hanya diam dan menyimak pembicaraan mereka berdua. Sangat lucu rasanya jika aku mendengar pembicaraan yang topiknya adalah hal yang kuketahui sendiri.


Roh Kaisar apanya. Mana mungkin Idris mau menemuiku yang adalah penyebab dari meninggalnya dia sendiri. Kalaupun dia datang, pastinya dia hanya ingin menuntut balas atas semua hal yang kuperbuat. Dan aku tidak peduli akan hal itu karena dia sendiri yang membuatku berbuat hal keji seperti itu.


“Sekarang waktunya kalian berhenti untuk membahas hal tersebut,” kataku kemudian. Semakin aku membiarkannya, semakin ketiga dayangku itu dengan gencarnya membahas Idris dan diriku. “Kaisar sudah beristirahat dengan tenang. Jika dia memang datang, lantas kenapa? Mungkin saja itu adalah salam perpisahan untukku. Manusia tidak ada yang tahu misteri dunia.”


Kenapa pula Lucas harus dipergoki oleh Matilda?! Sekarang pasti akan muncul rumor hantu Idris di dalam istana. Ugh, padahal aku tak ingin lagi membuat diriku terjebak dalam bayang-bayang Idris lagi. Ini sangat menyebalkan.


“Maafkan kami, Yang Mulia. Kami telah melewati batas,” ucap Jasmine. “Apakah yang bisa kami lakukan agar Yang Mulia bisa memaafkan kami?”


“Tidak ada. Cek saja keretanya jika sudah siap atau belum. Aku ingin pergi ke kamp khusus kesatria sekarang juga,” kataku dengan nada datar.


Jasmine menunduk. “Baik, Yang Mulia. Kalau begitu, saya permisi.”


“Ya.”


Keadaan kembali tenang. Aku bisa kembali bernafas lega.


Jika aku bisa memilih, aku lebih ingin menjadi pendengar dibandingkan menjadi pembicara. Dayang-dayangku membuat aku merasa tenang dan lebih merasa hidup. Namun, bukan berarti aku senang jika mendengar mereka mengoceh tentang Idris.


Selain itu, alasan kenapa aku lebih merasa hidup adalah ... karena aku secara diam-diam menyembunyikan perasaan tentang tali yang melingkar di leherku. Ya, aku masih bisa merasakan tali eksekusi yang mengikat leherku.


Saat mengingatnya, aku tahu bahwa aku memang benar-benar melewati kematian. Dan ingatan tentang kematian itu tidak akan pernah bisa hilang seumur hidupku.


Jadi, aku ingin tetap diam dan menyimpan seluruh lukaku sendirian. Aku tidak ingin memberikan beban ini kepada siapa pun termasuk Lucas.


Karena aku tidak ingin menjadi beban untuk orang lain.

__ADS_1


__ADS_2