The Second Life

The Second Life
『S2』 VI - Pertemuan


__ADS_3

Dengan kereta kuda, aku pergi ke kamp khusus kesatria bersama dengan Matilda dan juga Hendery.


Matilda sudah tak seperti dulu lagi saat menghadapi Hendery karena latar belakang Hendery yang sudah berubah menjadi seorang Duke. Dia lebih banyak diam dan tak berbincang dengan Hendery lagi.


Namun, di sisi lain aku senang karena aku akan bisa melihat interaksi Hendery dan juga Nicholas yang tak sempat aku lihat kemarin.


Sepertinya menarik.


*


Kesatria Turner menyambutku di depan pintu masuk kamp. Beberapa kesatria yang mengikutinya sungkan menatap mataku secara langsung. Mereka lebih memilih menundukkan kepala mereka secara hormat.


Seperti biasa, Hendery dan Matilda mengikutiku dari belakang begitu kami diajak masuk ke dalam kamp. Banyak sekali kesatria yang berlalu-lalang di sekitar kami. Beberapa di antaranya menyapaku dan juga kesatria Turner. Aku hanya tersenyum kepada mereka untuk membuat kesan ramah.


“Maaf, Yang Mulia. Ruanganku tidak terlalu rapi dan tidak nyaman,” ucap kesatria Turner, berbasa-basi. “Silahkan duduk, Yang Mulia.”


Aku tersenyum. “Ini tempat yang cukup hangat dan nyaman, kesatria Turner,” kataku sambil duduk di sofa berbahan kulit yang ada di ruangan kerja kesatria Turner.


Ada banyak sekali pedang yang dipajang di dinding. Beberapa diantaranya memiliki gagang pedang yang sedikit rusak. Kemungkinan besar pedang-pedang itu adalah pedang yang dia pakai selama beberapa tahun terakhir, atau mungkin ada yang dibeli untuk menambah koleksi.


“Terima kasih, Yang Mulia,” ucap kesatria Turner. “Kami hanya punya kopi dan bir saja di sini, apakah Anda ingin kopi?”


“Tak perlu, terima kasih. Pembicaraan kita juga tidak akan berlangsung lama, kesatria Turner.” Aku memberi kode pada Matilda untuk keluar dari ruangan. Dia tak kuijinkan menguping. Informasi ini akan sampai ke telinga Ayah jika dia ikut mendengarkannya.


“Kurang sopan rasanya jika saya tidak menjamu Yang Mulia di tempatku sendiri,” ucap kesatria Turner. “Biarkan saya yang menyuruh para kesatria untuk mencari teh melati yang Yang Mulia sukai.”


“Baiklah. Jika kau memaksa, aku hanya bisa menurut pada tuan rumah,” kataku pada kesatria Turner.


Kesatria Turner undur diri sebentar, lalu memerintahkan kesatria bawahannya untuk membeli beberapa cemilan dan juga teh melati. Aku mendengarnya dengan sihir pendengaranku. Hal itu masih amat sangat berguna. Kesatria Turner juga sempat bicara sedikit dengan Nicholas.


Membicarakan kedatanganku ke kamp khusus kesatria dan hal-hal yang biasa mereka bicarakan tentang latihan.

__ADS_1


“Maaf telah membuat Yang Mulia menunggu,” ucap kesatria Turner yang sudah kembali lagi. “Jamuannya akan datang beberapa menit lagi.”


“Ya,” sahutku. “Kesatria Franklin, ikutlah duduk bersama kami. Aku ingin bicara serius sekarang.”


“Baik, Yang Mulia.” Setelah berkata seperti itu, Hendery duduk di sofa kecil yang ada di sebelah kananku. Duduk menyamping di antara aku dan kesatria Turner.


“Ini tentang pemburuan itu?” tanya kesatria Turner.


Aku mengangguk. “Ya. Minggu depan kita memulai pemburuan untuk membantu para rakyat yang tidak mampu membeli daging pada para pemilik peternakan. Aku mau semua rakyatku tidak kelaparan di saat musim dingin berlangsung.”


“Lalu, aku juga akan ikut dalam pemburuan bersama kalian,” lanjutku.


Kesatria Turner, bahkan Hendery sekali pun menatapku dengan raut wajah kaget sekaligus takjub. Mereka mungkin heran karena diriku mau ikut dalam kegiatan yang menguras tenaga dan merepotkan bagi seorang wanita. Seharusnya, seorang wanita berdiam diri di dalam kediamannya dan merajut sebuah syal untuk musim dingin. Namun, itu sama sekali buka gayaku.


“Yang Mulia ..., bukankah itu keputusan yang terlalu liar?” Keringat dingin memenuhi raut wajahnya yang terlihat penuh keriput tanda penuaan. “Saya tidak ingin jika Yang Mulia terjun langsung dalam pemburuan ini. Mengingat bahaya yang berada di perbatasan Utara dan Timur yang belum kita selesaikan.”


“Aku baru saja berpikir jika aku turun langsung dalam penyelidikan itu, aku dapat memahami masalahnya dengan lebih baik lagi,” kataku. “Bukan berarti aku tak percaya denganmu kesatria Turner. Malahan, aku menghormatimu sebagai seorang kesatria senior Vanhoiren.”


Hendery hanya diam saja karena dia sudah tahu jika diriku tidak akan berada dalam bahaya karena aku bisa melindungi diriku sendiri. Dengan adanya dia di sampingku pun, itu hanya sebagai formalitas saja untuk menyembunyikan kemampuanku.


“Hutan sangat berbahaya, Yang Mulia.”


“Jadi, kau ingin bilang jika kau tidak bisa atau tidak mampu untuk melindungiku saat aku berada di hutan untuk berburu?” tanyaku bercanda.


Mendengar hal itu, kesatria Turner menjadi salah tingkah.


“Ah, bukan begitu, Yang Mulia. Saya hanya memikirkan kemungkinan terburuknya saja. Tentu saja saya akan melindungi Yang Mulia dengan nyawaku sendiri. Saya hanya tak ingin sesuatu terjadi di luar kuasa saya, Yang Mulia.”


“Terima kasih, kesatria Turner. Kau adalah orang yang baik,” pujiku. “Namun, sekuat apa pun kau membujukku untuk tidak ikut, keputusanku tetap sama.”


“Yang Mulia—”

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


Ucapan kesatria Turner terhenti oleh ketukan pintu dari luar. Teh dan cemilan untukku sudah tiba.


Benar saja, saat diperintahkan untuk masuk oleh kesatria Turner. Pintu dibuka dari luar dan masuklah dua orang kesatria yang membawa 1 cangkir teh dan juga 3 cangkir kopi. Tak lupa juga ada cemilan coklat di sebuah piring berukuran besar. Mereka berdua meletakkannya di atas meja dan pamit undur diri.


Sebelum pintu tertutup, Nicholas masuk ke dalam dan bergabung bersama kami. Dia duduk tepat di samping Hendery yang kelihatannya enggan melihat dirinya setelah menunduk hormat padaku. Aku hanya bisa merasakan kecanggungan saja di antara mereka berdua.


“Maaf, Yang Mulia. Saya datang terlambat,” kata Nicholas.


“Tak apa. Kami baru mulai membahas sesuatu yang penting,” ucapku padanya. “Bukan begitu, kesatria Turner?”


“Ya. Benar, Yang Mulia,” ucap kesatria Turner. “Namun, saya masih belum sepenuhnya setuju dengan keputusan Yang Mulia.”


“Keputusan?” Nicholas mengernyitkan dahi. “Bisakah saya tahu keputusan apa yang Yang Mulia buat?”


“Aku akan ikut bersama kalian dalam pemburuan kali ini,” kataku pada Nicholas. “Dan keputusanku sudah bulat.”


Nicholas sama terkejutnya dengan kesatria Turner dan juga Hendery. “Apa?!”


“Untuk itulah saya kurang setuju,” ucap kesatria Turner. “Yang Mulia, tolong pertimbangkan lagi tentang hal ini.”


Lagi-lagi mereka meremehkanku dan berpikir aku adalah sebuah kelemahan. Bukan begitu?


Aku melihat jika Nicholas mendelik pada Hendery. Sepertinya Nicholas kesal karena Hendery membiarkanku ikut dalam pemburuan tanpa bujukan untuk mengurungkan hal tersebut.


“Hendery, apakah kau setuju dengan hal ini? Apakah kau mau Yang Mulia berada dalam situasi yang berbahaya?” tanya Nicholas.


Hendery hanya diam. Enggan menjawab atau menatap Nicholas. Aku membiarkan keduanya tanpa ada niatan melerai.


“Tatap aku, Hendery,” perintah Nicholas. “Apakah kau sudah tidak menghargaiku sebagai kakak kandungmu?”

__ADS_1


“Kakak?” Mata Hendery berkilat marah.


Wah, sepertinya aku harus menghentikan mereka sebelum terlambat. Ternyata hubungan mereka lebih buruk dari apa yang aku bayangkan.


__ADS_2