
Apa aku tidak salah dengar?
Rose Hindley hamil? Haha. Ini baru menarik. Tentu saja cepat atau lambat Rose Hindley akan mengandung seorang anak. Anak dari hubungan gelapnya dengan Idris. Sungguh malang nasib anak itu.
“Apa kau serius dengan apa yang kau katakan barusan?” Jasmine sepertinya tak mempercayai ucapan Matilda. Tapi, dalam sekali dengar, aku langsung saja percaya. Karena Matilda tidak mungkin keliru. “Jika Ratu mendengar hal ini—”
“Ratu tidak boleh tahu,” potong Matilda. “Pikiran Ratu pasti akan langsung terganggu oleh hal ini dan jatuh sakit. Kita harus menjaga berita ini agar didengar oleh Ratu selambat mungkin. Setidaknya ..., sampai Ratu pulih dan bisa bekerja kembali.”
Terlambat. Aku sudah mengetahuinya dari kalian. Tapi, syukurlah aku tahu lebih dini dari pada terlambat sedikit saja. Aku bisa melakukan sesuatu pada Rose Hindley dan juga Idris nanti. Kita lihat saja nanti.
“Baiklah. Kita tidak boleh mengalihkan pandangan kita dari Ratu,” ucap Jasmine.
“Sedang apa berkumpul di sini?” Oh, itu Maya.
“Hanya ngobrol biasa,” jawab Matilda. “Apakah di tanganmu itu surat untuk Ratu?”
“Ya. Aku berniat meletakkannya di meja kerja Ratu,” jawab Maya.
“Oh, baiklah. Kau boleh pergi.”
“Sebaiknya kita kembali bekerja,” ucap Chloe. Yang kemudian mengakhiri percakapan mereka saat itu.
***
Malam hari pun tiba. Ketika semua orang sudah tidur dan Jasmine meninggalkan kamarku usai memastikan aku sudah terlelap, aku beranjak dari kamarku dan masuk ke dalam ruang kerjaku.
Di sana, aku membaca beberapa surat yang dibawa Maya tadi siang. Beberapa di antaranya adalah undangan minum teh, dan terakhir adalah ajakan makan malam oleh Idris di Istana Kekaisaran. Mungkin sebagai perayaan hamilnya Rose Hindley. Aku juga tidak tahu, dan tidak peduli.
Sekarang, surat-surat itu sudah bertengger manis di tempat sampah. Aku tak ada niatan untuk pergi kemana pun.
“Selamat, ya. Kau akan jadi ibu tiri sebentar lagi.” Ava muncul dengan sindiran familiarnya. “Apa aku harus memberikan buah tangan juga?”
“Berhenti menggodaku. Kenapa Anda baru muncul?”
Ava terkekeh. “Kau sedang sakit. Mana tega aku mengganggumu.”
Oh, ternyata Ava punya hati nurani juga.
“Aku sempat menengok keadaan Isaac. Dan dia bilang, dia sudah siap memakamkan Isla. Kemungkinan besar, aku akan mengurusnya besok. Kau datang?”
Aku mengangguk. “Ya. Tentu aku harus datang dan melihat wajah Isla untuk yang terakhir kalinya.”
“Baiklah.” Ava tersenyum tulus. Hm, dia jarang memperlihatkan senyuman seperti itu. “Selir Sienna telah kembali ke tubuhnya.”
__ADS_1
“Sepertinya kita tidak bisa mengulur-ngulur waktu lagi. Sudah banyak korban yang dihasilkan oleh Selir Sienna,” ucapku frustasi.
“Tunggu saja sampai Isla dimakamkan. Barulah kita menghentikan dia sebelum bertambah kuat,” kata Ava. “Tidurlah, ini sudah larut malam. Nanti kondisimu bisa drop lagi.”
“Ya.”
Ava pergi. Tapi, aku tidak beranjak dari ruang kerjaku. Aku membuka laci kanan meja kerjaku dan mengambil liontin pemberian Ava. Karena iseng, aku melihat lebih jelas liontin itu dan tanpa sengaja membuka bagian belakangnya. Ada secarik kertas kecil yang diselipkan di dalam liontin itu.
Wah, aku jadi merinding.
Déesse, déesse
Ouvrez la voie de la vérité
Donnez-moi une vraie force
Allumez le feu sacré pour toujours
Je crois que le mal périra
Cahaya keemasan yang sangat terang tiba-tiba saja muncul dari liontin yang kupegang. Meskipun begitu, mataku sama sekali tidak terganggu dengan cahaya itu karena tidak menyilaukan.
Entah apa yang ingin coba dilakukan oleh Ava, dan tujuannya meletakkan kertas itu. Aku yakin jika Ava dengan sengaja melakukan hal itu agar aku suatu saat menemukannya. Apakah kekuatan dari tongkat sihir Ibu yang dipindahkan ke liontin ini terbuka segelnya?
Ava? Bukan. Dewi?!
Saat, tangan kami saling bersentuhan. Sesuatu yang hangat memenuhi seluruh tubuhku. Dari ujung rambut sampai ujung kakiku. Aku ..., merasa bisa melakukan apa pun. Siluet yang tak pernah kubayangkan, muncul di dalam otakku.
Dewi membawaku ke ingatan di mana aku masih kecil. Aku tidak ingat.
Kulihat diriku sendiri yang duduk bersama dengan Idris. Di depan kami, ada Ibuku dan juga Ayahanda.
“Ratu tidak mengijinkan Charlotte menjadi pasangan Putra Mahkota, Yang Mulia,” ucap Ibuku.
Ayahanda mengangguk paham. “Itu bisa kuurus. Yang paling penting, Idris menyukai Charlotte. Apalagi yang harus kita persoalkan?”
“Tapi ..., saya tidak ingin jika Charlotte menderita karena tidak disukai oleh mertuanya sendiri,” ucap Ibuku. “Maaf, pasti ucapan saya menyakiti hati Yang Mulia.”
“Uhm, tidak. Kau benar, Eva. Kita juga harus memperhatikan kebahagiaan Charlotte. Selama kau melindungi anggota Kekaisaran dengan sihirmu, aku juga akan memperhatikan Charlotte seperti anakku sendiri,” ucap Ayahanda.
Apakah kebaikannya hanya karena Ibuku melindungi mereka?
Ibuku langsung memasang wajah muram. “Baik, Yang Mulia.”
__ADS_1
Dewi, kenapa aku diperlihatkan hal ini?
Dewi hanya diam di sampingku. Mungkin saja aku akan menemukan sesuatu yang bisa membantuku di masa depan. Kuputuskan untuk terus mengamati ingatan yang kulihat saat ini.
Apa kau yakin ini adalah ingatanmu sendiri yang hilang?
Ah, pikiranku mulai memikirkan hal-hal yang tak masuk akal. Aku mengabaikan pertanyaan yang muncul di otakku itu.
“Apakah sihirmu tidak bisa dibagikan kepada orang lain?” tanya Ayahanda.
“Maaf, Yang Mulia. Itu mustahil,” ucap Ibuku dengan nada tenang. Aku merasa jika Ibu berbohong. Tapi, kenapa Ayahanda menanyakan hal seperti itu? Apakah mereka berniat mengambil sihir milik Ibu?
Ayahanda tertawa. Tawa yang dipaksakan. “Jangan tenang begitu. Aku hanya bercanda.”
“Wah, sedang bicara apa?”
Deg!
Aku melihat sosok yang tidak asing di otakku. Selir Sienna. Aku tidak ingat jika Selir Sienna sering berkeliaran di Istana Kekaisaran. Aura Selir Sienna tidak sepekat sekarang. Dia malah seperti orang normal di ingatanku ini.
“Sienna. Kenapa kau di sini?” tanya Ayahanda.
“Tentu saja ingin bertemu dengan Nona Eva. Aku tidak punya urusan apa pun dengan Kaisar,” jawab Selir Sienna, ketus.
Ibuku tersenyum.
Astaga, apa mereka teman baik?!
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Ibuku.
“Ya. Kau sudah berjanji untuk mengajari beberapa hal yang bisa meningkatkan mana. Ayo! Jangan bilang kau sudah lupa?” Selir Sienna merangkul lengan kanan Ibuku seperti kelakuan Rose Hindley dahulu padaku.
Buah memang tidak jatuh jauh dari pohonnya.
“Ah, baik. Tunggu sebentar, Selir Sienna. Saya ingin mengantarkan Charlotte sampai ke kereta kuda. Dia harus pulang lebih awal.”
“Tidak boleh! Charlotte harus makan malam di sini!” seru Idris. Err, tingkah menyebalkannya sudah tertanam sejak dini.
“Biarkan saja dia di sini sampai makan malam. Pergilah bersama Selir Sienna, Idris akan menjaga Charlotte,” ucap Ayahanda.
Ibuku akhirnya mengangguk. “Mohon bantuannya.” Setelah berkata seperti itu, Selir Sienna langsung menyeret Ibuku pergi.
Aku punya firasat buruk tentang hal itu.
__ADS_1