The Second Life

The Second Life
『S2』 II - Kecupan


__ADS_3

“Menurut Grand Duke, apakah aku telah melakukan hal yang benar?” tanyaku padanya. “Maksudku, soal penghormatanku untuk kesatria Franklin?”


Grand Duke terkejut saat mendengarkan pertanyaanku. Ya, Grand Duke pasti terkejut. Tidak biasanya seseorang yang berada di puncak mau melayangkan pertanyaan seperti itu pada orang yang berada di bawahnya. Grand Duke pasti akan sangat sulit mencari jawaban yang tepat.


Namun, apa pun jawabannya, aku tidak akan merasa terganggu jika jawabannya tidak sesuai dengan keinginanku.


“Yang Mulia, jika saya boleh bicara, saya merasa itu adalah tindakan yang cukup setimpal dengan apa yang telah kesatria Franklin lakukan. Untuk itu, Yang Mulia tidak perlu khawatir pada keputusan yang salah,” ucap Grand Duke.


Aku pun tersenyum senang pada Grand Duke. “Baguslah kalau begitu,” ucapku. “Jadi, tidak ada yang perlu aku khawatirkan lagi, kan? Apakah Grand Duke punya keluhan yang ingin Grand Duke sampaikan kepadaku?”


“Sejauh ini tidak ada, Yang Mulia.”


Sejauh ini, ya? Bisa jadi dia sedang ingin melihat kinerjaku sebagai seorang Kaisarina kedepannya.


“Begitu, ya?” Aku meraih cangkir tehku dan meminumnya sedikit sebelum akhirnya meletakkannya kembali ke atas meja. “Sebenarnya beberapa hari yang lalu aku mendapatkan surat dari pengawas Tim Ekspedisi.”


“Maksud Yang Mulia adalah kesatria Turner?” tanya Grand Duke.


“Ya, itu benar.”


“Apakah mereka hendak melakukan pemburuan untuk musim dingin kali ini?”


Aku meliriknya, lalu kembali tersenyum. “Ya, itu memang benar, tapi ada satu laporan yang membuatku tak tenang sampai detik ini. Kesatria Turner mengatakan bahwa pada dua bulan lalu mereka menemukan sebuah gubuk berisi banyak tong yang di dalamnya adalah bahan baku bom. Dan ada jejak kaki keluar-masuk di perbatasan antara Vanhoiren dan juga Naorikan.”


“Apa itu benar, Yang Mulia?” Grand Duke terkejut. Dari raut wajahnya, keterkejutan Grand Duke terlihat alami.


“Ya. Aku mau Grand Duke bisa mengawasi para bangsawan. Kita harus berjaga-jaga jika orang-orang itu adalah orang-orang jahat atau kaki tangan dari orang yang memiliki kekuasaan di wilayah Vanhoiren maupun Naorikan,” kataku.


“Bukankah Naorikan adalah wilayah yang netral?”


“Hal itu tidak menjadi patokan, Grand Duke. Bisa saja selama ini mereka secara sengaja memberikan kesan seperti itu pada wilayah lain termasuk Vanhoiren. Dan saat kita lengah lalu membalikkan punggung kita dari mereka, kita sendiri yang ditusuk dari belakang,” jelasku panjang-lebar.


Grand Duke tersenyum. Ternyata dia saat ini sedang menguji pemahamanku. Boleh juga.

__ADS_1


“Yang dikatakan oleh Yang Mulia ada benarnya. Saya akan memikirkan hal ini dan mulai bergerak secara diam-diam. Yang Mulia tidak perlu khawatir lagi. Jika ada sesuatu yang mencurigakan, saya akan datang untuk mengunjungi Yang Mulia lagi ke sini,” ujar Grand Duke.


Setelah itu, kami pun akhirnya mengakhiri sesi pembicaraan kami. Grand Duke pamit undur diri dan pulang ke kediamannya. Sedangkan aku, mulai mengerjakan pekerjaanku sedikit demi sedikit sambil menyiapkan upacara pemberian gelar bangsawan untuk Hendery.


*


Malamnya, aku lembur di ruang kerja Idris yang sudah menjadi milikku. Karena ruang kerjanya sempat hancur, semua furniture di dalam ruangannya sekarang sudah diganti.


Dengan sudah tidak adanya ancaman lagi di dalam Istana Kekaisaran, Ava bisa dengan leluasa membuat portal di mana pun dia inginkan—selama tidak dilihat oleh orang lain tentunya. Sekarang pun, Ava berada di ruang kerjaku. Beristirahat di sofa panjang dan memejamkan matanya. Dia bilang dia ingin tidur sambil menemaniku.


Portal pun hanya dibiarkan terbuka di depan pintu. Aku tak perlu khawatir jika ada seseorang yang masuk dan melihat portal itu karena aku bisa tahu siapa yang mendekat ke arah ruang kerjaku dengan sihir pendengaran jarak jauh yang kumiliki.


“Jadi, kau berpikir bahwa orang yang masuk-keluar wilayah Vanhoiren dan Naorikan secara bebas adalah ancaman?” tanya Ava tanpa membuka kedua matanya.


Aku meliriknya sejenak, lalu kembali fokus pada pekerjaanku. “Ya. Tidakkah kau pikir itu adalah hal yang cukup janggal? Apa yang pemilik tong-tong itu lakukan dengan semua bahan peledak itu?”


“Mungkin ingin membuat sebuah istana hancur berkeping-keping,” ucap Ava, yang kutahu adalah ucapan yang dia ucapkan tanpa berpikir.


“Ya, itu dia.”


“Halo, Lucas.” Aku tersenyum padanya. “Tentu saja kau tidak menganggu kami.”


“Cih, budak cinta datang,” sindir Ava. Dia bangun dan duduk normal di sofa. “Apakah pekerjaan Yang Mulia sudah selesai? Yang Mulia sengaja menunda-nunda pekerjaan, ya?!”


Lucas cemberut. “Jarang-jarang aku santai seperti ini. Harusnya kau memakluminya.”


“Duduklah, Lucas,” kataku.


“Jangan terlalu memanjakan Raja budak cinta sepertinya. Nanti dia jadi pemalas,” omel Ava.


“Benarkah?” Aku pura-pura memasang raut wajah terkejut karena hendak menggoda Lucas.


“Eh? Tentu saja tidak!” seru Lucas. “Aku selalu rajin bekerja, Sweetheart. Kau harus percaya padaku!”

__ADS_1


Ava tertawa. “Ah, lama-lama aku diabetes karena melihat tingkah menggelikan Rajaku sendiri. Aku pergi sekarang,” ucap Ava. Dia sudah berdiri dan siap untuk berjalan menuju portal.


“Cih, dasar jomblo. Makanya cari pasangan. Ah, tapi ... siapa yang mau menerima nenek tua seperti Nenek Ava?”


Ava berdecak kesal dan melotot pada Lucas. “Kau sengaja membuatku kesal, ya?! Kalau kau bukan seorang Raja, kau sudah aku kutuk jadi kodok!”


“Aw, aku takut,” ledek Lucas.


“Kalian berdua, tenanglah sedikit. Aku tidak mau kalian saling meledek dan memancing amarah seperti ini,” ucapku menengahi. “Malam sudah larut, lebih baik kalian berdua kembali ke Avnevous.”


Ava berkacak pinggang dan tersenyum. “Dengar sendiri, kan? Ayo kita pulang, Yang Mulia.”


Ava sengaja meledeki Lucas lagi.


Sedangkan Lucas malah menatapku tak percaya. “Sweetheart, aku kan baru sampai. Kenapa kau malah mengusirku?”


“Kalau kemari dan hanya ribut dengan Ava, lebih baik kau pulang saja. Kita bisa bicara lain kali, Lucas,” kataku tegas.


“******!” seru Ava pada Lucas. “Ayo pulang, Yang Mulia. Charlotte pasti ingin istirahat juga. Yang Mulia jangan mengganggunya.”


Lucas mendekatiku. “Kalau begitu? Bisakah aku dapat satu kecupan sebelum aku pergi?”


Aku berjinjit dan mengecup pipinya. Aku bisa melihat telinga Lucas yang memerah. Dia pasti tidak menyangka jika aku akan menyanggupi permintaannya. Karena tak ingin terlihat bercanda, aku memilih untuk memasang raut wajah biasa saja dihadapannya.


Berbeda denganku, Ava malah memasang ekspresi wajah ingin muntah di belakang Lucas. Dia benar-benar tidak menyukai hal-hal berbau romantisme—seperti author. Oke skip.


“Uhm, di sini boleh?” Lucas menunjuk bibirnya sendiri, sambil tersipu malu.


Ava menarik kerah belakang Lucas hingga Lucas mundur ke belakang dengan terpaksa.


“Cukup,” ucap Ava. “Kami pergi dulu, Charlotte. Istirahatlah.”


“Hei! Aku belum mengucapkan selamat tidur pada Charlotte!” omel Lucas.

__ADS_1


Ava tidak mendengarkan ucapan Lucas. Aku pun hanya bisa melambaikan tanganku pada mereka berdua hingga Ava dan Lucas masuk ke dalam portal dan menghilangkan portal tersebut dari ruang kerjaku.


Harus kuakui, Ava dan Lucas sangatlah lucu jika berada di tempat yang sama.


__ADS_2