
Dia menyentuh pipiku, bibirku, dan terakhir menggenggam tanganku dengan erat. Setelah itu, tidak ada lagi yang dia lakukan. Tanganku tetap digenggam oleh Idris sampai detik ini.
Kondisiku masih sama. Tidak berdaya dan tidak bisa melakukan perlawanan jika Idris melewati batas. Kurasakan nafas hangatnya di telinga kiriku. Aku tidak tahu apa yang ingin dia lakukan.
“Maaf membuat dirimu jadi tidak nyaman. Tapi, hanya pada kesempatan inilah aku bisa menggenggam tanganmu dengan mudah,” bisik Idris.
Jariku dimain-mainkan oleh Idris. Cukup lama dia melakukan hal itu. Meski aku sudah berusaha untuk bergerak, membuka mata, atau berteriak, aku tidak bisa. Dan hal itu membuatku semakin frustasi.
“Dari dulu kau selalu jatuh sakit seperti ini,” kata Idris. “Dan saat sakit, kau selalu memintaku untuk menemanimu sampai kau sembuh.”
“Apa kau ingat pada saat kau sakit dulu dan kau memintaku untuk menemanimu saat aku sedang memiliki banyak pekerjaan yang menumpuk.” Idris tertawa. “Aku sampai harus bekerja di atas ranjangmu. Kau ingat itu?”
Tentu saja aku ingat. Aku sangat ingat. Tapi, itu adalah kejadian di kehidupan pertamaku! Bagaimana bisa Idris tahu hal itu?! Jadi, apakah dia ikut kembali ke masa ini bersama aku?! Tapi, kenapa?
“Ah, maaf. Kau tidak akan ingat hal itu. Karena itu adalah bagian dari saat kelammu di masa lalu. Awal dari semua kejadian ini terjadi,” ucap Idris, terdengar sedih. “Aku menyesal, Charlotte. Aku menyesal telah terhasut oleh ucapan wanita itu. Kau pasti tidak akan pernah bisa menerima permintaan maafku.”
Benar. Dia juga mengingat masa lalu. Dia ..., laki-laki br*ngsek. Untuk apa dia kembali jika ujung-ujungnya melakukan kesalahan yang sama?! Tidak ada gunanya lagi bicara masa lalu.
“Terkadang aku merasa jika kau juga ingat masa lalu kita seperti aku. Tapi, itu tidak mungkin, bukan? Jika itu benar, aku tidak tahu lagi bagaimana bersikap di depanmu.” Tentu saja aku ingat!
Tok! Tok! Tok!
“Siapa?” tanya Idris.
“Saya Dokter Kekaisaran, Yang Mulia,” ucap seseorang dari luar.
Idris sepertinya beranjak dari ranjangku. “Masuklah.”
Pintu terdengar dibuka. Dan bunyi langkah kaki lebih dari satu orang pun ikut terdengar. Beberapa saat kemudian, seseorang memeriksa denyut nadiku, dan juga meletakkan telapak tangannya yang dingin di keningku.
“Ratu sepertinya mengalami syok traumatis. Dari gejalanya, ini sudah Ratu alami lebih dari sekali,” ucap sang Dokter. “Biarkan saja Ratu beristirahat sampai demamnya mereda. Beliau harus rajin dikompres. Saya akan menyiapkan obat penenang dan vitamin untuk Ratu.”
__ADS_1
“Baiklah. Lakukan apa pun agar Charlotte bisa kembali sembuh. Aku tidak ingin dia terus-menerus menderita seperti sekarang,” ucap Idris.
Tanganku disuntikkan sesuatu, dan aku pun langsung merasa lebih tenang dari sebelumnya. Tak lama setelah itu, aku terlelap tanpa memimpikan apa pun. Hanya kegelapan dan kesunyian yang aku hadapi.
***
Aku tidak bisa mengingat masa kecilku. Mungkin hanya beberapa ingatan saja yang bisa kuingat. Itu pun tidak terlalu penting. Itu bukan hal yang kuinginkan untuk kuingat.
Perasaanku mengatakan bahwa Ibu melakukan sesuatu pada ingatanku. Aku dilarang untuk mengingat hal itu hingga detik ini. Semuanya pasti saling berkaitan erat dengan sihir kegelapan, Kekaisaran, dan termasuk Ibuku sendiri.
Semuanya masih penuh dengan tanda tanya. Di saat aku mencoba untuk mengingat, aku langsung jatuh sakit. Begitu juga pada saat orang lain menyinggung hal-hal berbau masa lalu. Aneh. Sangat aneh. Trauma macam apa yang aku alami atau Ibuku tanamkan di dalam otakku hingga aku menjadi seperti ini?
Mungkin hanya Ibuku yang punya jawaban tersebut. Dan, yah, Ibuku sudah tiada.
“Selamat pagi,” sapa Idris, ketika aku terbangun dari tidurku. Ternyata dia tak kunjung pulang. “Bagaimana keadaan tubuhmu? Apa sudah baikan?”
“Kenapa kau di sini?”
“Kenapa kau di sini?!” seruku kesal.
Idris menatapku dan menghela nafas dengan raut wajah tegang. “Aku hanya khawatir, Charlotte.”
“Khawatir?” Aku terkekeh. “Khawatir, katamu?! Tingkahmu saat ini sangat mengelikan. Apa kau tidak sadar akan hal itu?”
Bukannya merespon, Idris malah menundukkan kepalanya. Tindakannya itu semakin membuatku kesal. Sosok laki-laki di duduk agak jauh dariku itu, sangatlah memuakkan. Tidak berpendirian dan memancing emosi.
Tiba-tiba baik, tiba-tiba jahat, tiba-tiba manja padaku, tiba-tiba manja pada Rose Hindley.
“Kalau ingin jahat, jahat saja. Tidak perlu memperlihatkan kebaikan palsu seperti sekarang. Aku tidak butuh hal itu,” kataku sengit.
“Aku tidak mencintai Rose,” ucap Idris.
__ADS_1
“Apa? Lelucon macam apa lagi yang kudengar barusan?”
“Aku serius. Aku hanya mencintaimu saja, Charlotte,” aku Idris.
“Sinting! Kau sendiri yang bilang bahwa kau tak bisa melepaskan Rose Hindley. Sekarang kau bilang tidak mencintainya? Apalagi yang kau inginkan?”
“Aku tidak tahu. Tapi, aku mencintaimu. Perasaanku ini tidak akan berubah sampai selama-lamanya. Kita bahkan sangat akrab saat kecil. Dan kita juga sudah sepakat untuk membangun rumah tangga yang indah. Kau ingat itu kan?” Mata Idris berbinar senang. Aku tak mengerti mengapa dia seperti itu. Terdengar seperti sebuah karangan orang putus asa yang penuh masalah.
Mood pagiku sudah dirusak oleh suamiku sendiri dengan tingkah konyol dan memuakkannya. Aku sama sekali tidak mengerti jalan pikiran Idris. Apakah Selir Sienna melakukan sesuatu terhadapnya?
“Aku tidak ingat.”
“Benar juga. Kau mengalami trauma yang cukup parah sejak Ibumu jatuh sakit dan meninggalkan dunia ini. Sebagian ingatanmu saat kecil jadi tak jelas dan samar-samar di otakmu,” tutur Idris.
“Kau tahu sesuatu tentang masa laluku?” tanyaku tertarik.
“Masa lalumu?” Tingkah Idris menjadi aneh. Dia mengusap tengkuknya dengan gerakan berulang. “Adakah sesuatu yang ingin kau ketahui?”
Ada yang aneh. Mungkin lebih bijak jika aku tidak menanyakannya pada Idris. Orang yang berada di kubu orang jahat. Tingkah Idris membuatku selalu merasa waspada terhadapnya.
“Tidak. Lupakan saja pertanyaanku tadi. Pulanglah, Rose Hindley pasti mencarimu,” kataku acuh.
“Kau yakin tidak mau kutemani?”
“Tidak.”
Idris berdiri. “Baiklah. Aku akan pergi agar kau bisa istirahat dengan tenang. Jangan lupa untuk meminum obatmu, Charlotte. Sampai nanti.”
Aku hanya diam. Tak ada niatan untuk merespon ucapan Idris. Dia akhirnya menyerah, dan keluar dari kamarku. Syukurlah, sekarang aku bisa bernafas lega di kamarku sendiri.
Tubuhku masih lemah dan aku tidak mampu untuk beranjak dari ranjangku. Mau tidak mau, aku harus tetap istirahat untuk hari ini saja. Jika dipaksakan, aku pasti akan jatuh sakit lagi.
__ADS_1