The Second Life

The Second Life
XCIII - Ibu Hamil


__ADS_3

Aku mengetuk-ngetukan jariku di pegangan sofa karena bosan menunggu Idris. Sudah sejam aku menunggu di ruang kerja Idris, dan si empunya ruangan dan pasangan mesranya malah belum kelihatan batang hidungnya. Sudah cangkir teh kedua yang kuhabiskan hari ini.


Apa mereka melanjutkan kegiatan mereka yang tadi sempat tertunda?


Sial. Kalau memang itu yang terjadi, aku benar-benar akan membuat mereka membayar semuanya. Hendery muncul sambil memasang wajah ceria, dia sempat mengatakan bahwa ingin ke toilet sebentar.


“Apakah Ratu ingin minum teh lagi?” tanya Chloe.


Tak!


Aku meletakkan cangkir teh yang kupegang ke atas meja, dengan gerakan kasar. “Apa aku terlihat ingin minum teh lagi?”


Chloe hanya diam.


“Perutku sudah kembung dan sekarang aku sudah tidak berselera lagi untuk melihat wajah Kaisar.” Aku berdiri dan melirik Hendery, Jack, dan ketiga dayangku. “Kita pulang sekarang.”


“Tapi ..., kita sudah menunggu Kaisar satu jam lebih. Apakah Ratu tidak ingin menunggu sebentar lagi?” Jasmine mulai bersikap bijak di depanku.


Menunggu sebentar lagi? Itu bukan hal yang benar. Aku kemari hanya untuk membuktikan bahwa Rose Hindley benar-benar hamil, aku juga ingin memastikan jika Selir Sienna sudah kembali ke tubuhnya sendiri. Selain itu, aku melakukan sesuatu di ruang kerja Idris tanpa ada yang tahu.


Semua akan berjalan lebih menarik jika Idris dan Rose Hindley datang tepat waktu. Dengan begitu, aku bisa mengata-ngatai mereka berdua sesuka hatiku. Tapi, sayang sekali itu tidak terjadi. Apa mereka tahu jika aku akan melakukan hal itu pada mereka?


Clek!


Tepat saat aku ingin menuju ke arah pintu, Idris dan Rose Hindley masuk duluan dengan pakaian yang pantas. Wajah mereka memerah, seakan habis melakukan sesuatu yang menyenangkan sekaligus memalukan.


“Kau mau kemana, Istriku?” tanya Idris, terlihat bingung.


“Kau sudah membuatku menunggu terlalu lama, Suamiku. Apakah berpakaian pantas membutuhkan waktu lebih lama jika dengan perut yang berisi? Kupikir kehamilan Rose Hindley tidak mempengaruhi lama atau tidaknya kalian berpakaian,” komentarku sengit. Ketiga dayangku kaget, mungkin mereka tidak menyangka bahwa aku mengetahui kehamilan Rose Hindley.


“Apa maksudmu? Kau menyindirku?” Rose Hindley lagi-lagi tidak bersikap sopan kepadaku. “Bagaimana mungkin kau kalah denganku dalam urusan keturunan? Jangan-jangan kau itu mandul.”

__ADS_1


Yang benar saja. Bagaimana bisa aku mengandung jika aku saja tidak membiarkan Idris menyentuhku?!


“Istriku, jangan dengarkan Rose. Dia agak sensitif karena dengan mengandung bayiku,” ucap Idris. “Kita bisa mencoba lagi untuk bisa mendapatkan keturunan darimu. Jangan sedih.”


Dewi, aku ingin tertawa!


“Aku amat prihatin padamu, Suamiku. Kau mendapatkan keturunan dari seorang simpanan yang bahkan tidak menghargai istri sahmu sendiri,” ucapku mengejek. “Tapi, aku akan baik-baik saja, Suamiku. Keturunan seorang simpanan ataupun seorang Selir sekali pun, tidak akan bisa naik takhta jika Ratunya punya keturunan juga.”


Rose Hindley berdecak kesal. Baru saja dia hendak menerjangku, Idris sudah terlebih dahulu menahan tubuhnya. Dasar wanita bar-bar. Bermulut besar tapi tidak kuat menerima ejekan.


Membuatku kesal saja.


“Dasar tidak tahu diri! Kau itu dinikahi karena belas kasihan Idris saja! Idris tidak mencintaimu! Dasar penjilat!” teriak Rose Hindley, seperti orang kesetanan. “Pergi saja—”


Plak!


Wah, aku tidak percaya dengan apa yang kulihat barusan. Idris menampar pipi Rose Hindley, rekan seranjangnya yang sangat dia cintai itu. Tamparan itu adalah tamparan yang sangat keras dan penuh tenaga. Pipi Rose Hindley bahkan dihiasi oleh cap tangan Idris. Benar-benar di luar dugaan.


“Rose ..., maafkan aku. Aku tidak sadar jika menamparmu. Jangan merajuk,” ucap Idris.


“Kenapa kau menamparku? Apa aku mengatakan hal yang sama? Apa kau tidak terima dengan perkataanku pada Charlotte?!” teriak Rose Hindley. “Apa kau lebih mencintai Charlotte daripada aku?! Hanya begini saja rasa cintamu padaku?! Benar?! Jawab aku!”


Aku memilih diam saja dan menikmati perkelahian Idris dan Rose Hindley.


“Rose—”


“Cukup! Aku lelah dengan tingkahmu.” Setelah berkata seperti itu, Rose Hindley berlari keluar dari ruang kerja Idris. Tangisannya di lorong istana, terdengar sampai ke telinga kami. Dia memperdengarkan kesedihannya, seakan-akan untuk menarik simpati Idris.


Idris melirikku dan mendekat. “Istriku, aku harus melihat keadaan Rose. Aku takut kandungannya terganggu karena perubahan mood-nya barusan. Bisakah kau pulang sekarang?”


Kepalaku dipenuhi oleh makian untuk Idris seorang, tapi aku tetap tersenyum saat Idris berkata seperti itu. “Dengan senang hati.”

__ADS_1


“Terima kasih atas pengertianmu, Istriku.” Idris tersenyum dan mengalihkan pandangannya pada Jack. “Antarkan Ratu sampai ke keretanya.”


“Baik, Kaisar,” ucap Jack, yang disusuli oleh kepergian Idris.


Jack pun mengantarkanku keluar dari Istana Kekaisaran. Kami berlima naik ke kereta kuda dan pulang ke Istana Ratu. Raut wajah Jack terlihat risau saat aku melihatnya sebelum naik ke atas kereta. Mungkin dia memikirkan adiknya si Rose Hindley.


“Ratu,” panggil Jasmine.


“Ada apa?” sahutku tanpa menoleh padanya. Aku lebih memilih melihat keluar jendela, memperhatikan para rakyat yang menunduk hormat saat keretaku lewat di depan mereka.


“Bagaimana Ratu bisa tahu tentang kehamilan Rose Hindley?” tanya Jasmine. “Apakah ada seorang pelayan yang memberitahukan hal ini kepada Anda?”


Dia pasti merasa bersalah karena membicarakan hal itu dengan dayang yang lain.


“Itu urusanku, tidak ada yang perlu tahu bagaimana aku mengetahuinya,” ucapku acuh.


“Ratu, jika yang lahir dari rahim Rose Hindley adalah seorang anak laki-laki”


“Berhenti mengatakan soal keturunan!” bentakku kesal. Lagipula, Kekaisaran ini tidak akan bisa dipimpin oleh keturunan Vanhoiren lagi. Mau anak laki-laki, atau anak perempuan yang dilahirkan oleh Rose Hindley, itu bukanlah masalah lagi untukku.


“Maaf, Ratu. Saya hanya khawatir dengan masa depan Kekaisaran nantinya. Apa jadinya jika Kekaisaran ini dipimpin oleh anak dari keturunan seorang simpanan? Saya tidak bisa berkata apa pun jika itu sudah terjadi,” kata Jasmine.


“Yang dikatakan oleh Dayang Jasmine ada benarnya, Ratu. Apakah Ratu membutuhkan solusi agar hubungan Ratu bisa harmonis dengan Kaisar?” tanya Matilda.


“Kami bisa mencoba membantu Ratu sebisa kami. Kami juga ingin Ratu bahagia,” tambah Chloe.


“Itu tidak akan terjadi. Kalian tidak perlu mengkhawatirkan apa pun. Semuanya sudah kurencanakan dengan baik,” ucapku pada Jasmine, Matilda, dan Chloe.


Mereka terlalu berlebihan karena tidak mengetahui apa yang akan kulakukan. Berbeda dengan Hendery yang kini diam-diam menahan tawa dengan memalingkan wajah dariku.


Dia benar-benar ingin memancing emosiku karena bersikap menyebalkan. Hendery melirikku diam-diam dan tersenyum menggoda tanpa sepengetahuan ketiga dayangku.

__ADS_1


Oh Dewi, kenapa aku dikelilingi oleh para lelaki gila di Vanhoiren?


__ADS_2