
Malam pun berlalu, tubuhku sudah kembali fit usai tidur semalam. Ketiga dayangku membiarkan aku melakukan apa pun yang kuinginkan untuk hari ini. Mereka berpikir jika aku sedang sangat terpukul karena kematian Idris sama halnya dengan Rose Hindley.
Padahal, jika ada jajaran pendukung kematian Idris, aku pastilah yang berdiri paling depan. Aku melewati rutinitasku dengan normal, yah, meskipun keadaan di sekitarku sedang gempar-gemparnya karena kematian Idris.
Namun, satu hal yang aku khawatirkan sekarang ini adalah Ayah. Ya, Ayahku. Setelah aku sarapan, Matilda mengatakan bahwa Ayah datang untuk menemuiku. Beliau sedang menunggu di ruang tamu dan sudah dijamu oleh Jasmine dan Maya.
Aku pun akhirnya menemui Ayah, saat aku masuk ke dalam ruang tamu, Ayah sedang duduk di atas sofa sambil menatap kosong ke arah cangkir berisi tehnya yang masih hangat. Dengan sigap aku berjalan mendekatinya dan duduk di sofa yang menghadap ke arahnya.
“Ayah—”
“Ayah sudah tahu apa yang telah kau perbuat, Charlotte,” potong Ayah, saat aku ingin menyapanya. Dia menatapku dingin. Suaranya bergetar, terdengar kekecewaan yang amat sangat di dalamnya.
Kenapa? Kenapa Ayah begitu? Apa yang Ayah ketahui?
Aku akhirnya hanya mengernyitkan dahi. “Apa maksud Ayah?”
“Charlotte ..., kenapa kau melakukan hal itu? Kenapa kau tega?” tanya Ayah dengan wajah sedih. “Bahkan kau bekerja sama dengan kesatriamu sendiri untuk membunuh Kaisar.”
Deg!
Seketika, seluruh darah di tubuhku berdesir aneh. Aku lengah. Ya, aku membiarkan mata-mata Ayah menyaksikan adegan itu hingga membuat Ayah mengetahui hal ini. Tapi, kenapa bisa? Sehebat apa mata-mata Ayah hingga aku menyadari kehadirannya? Lagipula, Ava telah memakai sihirnya untuk membuat semua orang di istana menjadi tertidur.
Apakah saat Ava melakukan hal itu, mata-mata itu belum datang ke istana? Benar, bisa saja begitu. Sekarang, apa yang harus aku katakan pada Ayah soal hal ini? Berbohong bukanlah solusi. Ayah tidak mudah dikelabui jika sudah mencium bau-bau mencurigakan.
Tanpa aku inginkan, tubuhku gemetar. Aku sangat gugup karena diketahui oleh Ayah. Bagi orang yang tidak tahu latar belakang tindakanku, termasuk Ayah, ini adalah tindakan kriminal. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi apabila Ayah tidak menyembunyikan hal ini. Tapi, itu tidak mungkin, kan?
“Aku punya alasan tersendiri,” kataku berusaha untuk tetap tenang. Aku melipat tanganku agar menyembunyikan kegugupanku. “Dan aku hanya berharap jika Ayah mengerti.”
“Apa karena kau cemburu jika Kaisar bersama dengan wanita lain?” tebak Ayah.
Tentu bukan.
__ADS_1
“Alasannya ... tidak se-simple itu. Aku ..., aku melakukannya karena aku memang harus melakukannya,” kataku berbelit-belit. “Ini mungkin kelihatannya gila, tapi aku berusaha untuk melindungi Vanhoiren dengan caraku.”
“Dan dengan membunuh Kaisar? Suamimu sendiri?” Ayah berdiri dan menatapku. Tidak ..., aku tidak mau tatapan menuduh seperti itu.
Seharusnya Ayah percaya padaku.
“Ya.” Aku menunduk. “Bisakah aku mendapatkan kepercayaan Ayah kali ini?”
Hening cukup lama, dan jantungku berdegup kencang seiring dengan lamanya aku menunggu jawaban dari Ayah. Tapi, ternyata aku mendapatkan jawaban yang mengecewakan sekaligus membuat aku berpikir dua kali untuk mempercayai Ayahku sendiri.
“Tidak.” Ayahku berkata hal itu dengan tegas. “Tidak bisa. Membunuh adalah hal yang tidak terpuji, Charlotte.”
“Bukan itu poin pentingnya, Ayah. Ini satu-satunya cara agar semua orang baik-baik saja. Bahkan Ayah juga akan terhindar dari masalah,” kataku. “Aku tidak ingin Ayah membenarkan tindakanku. Tapi, aku hanya ingin Ayah bisa percaya bahwa aku melakukan hal ini dengan tujuan jangka panjang yang baik. Aku menanggung dosaku sendiri demi membuat masa depan yang lebih baik bagi wilayah ini.”
Ayah hanya diam. Dan yang paling membuatku hancur adalah, Ayah pergi tanpa berkata sepatah kata pun kepadaku.
***
Masih belum ada tanda-tanda jika Ayah mau membuka mulut dan membocorkan tindakanku. Ayah juga tidak punya bukti, dan aku akan tetap melindunginya meskipun dia tidak mempercayaiku.
“Ratu, kereta kudanya sudah siap,” ucap Maya, di ambang pintu kamarku
Aku yang sedang sibuk didandani, hanya bisa mengangguk. Kali ini dandananku hanya sekedar polesan perona bibir alami, dan bedak saja. Sebagai orang yang sedang berkabung, aku tidak boleh memakai riasan yang tebal.
Gaun yang kupakai pun hanyalah gaun hitam polos yang biasa saja. Aku tidak masalah dengan hal itu.
Matilda selesai dengan tugasnya, dan aku segera pergi menuju keluar istana. Seperti biasa, Hendery sudah menunggu kedatanganku. Seisi istana memakai pakaian serba hitam, termasuk Hendery sendiri yang sekarang sedang memakai jas berwarna hitam.
“Serahkan tasnya pada Hendery,” perintahku kepada Chloe. Dia memegang tas berisi surat-surat penting yang akan kubawa ke Pengadilan Tinggi.
“Baik, Ratu.” Chloe terlihat memberikan tas itu ke tangan Hendery setelah Hendery membantuku naik ke dalam kereta.
__ADS_1
“Aku akan pulang terlambat, siapkan saja cemilan malam nanti,” pesanku pada Maya dan ketiga dayangku.
“Baik, Ratu,” ucap mereka, serempak.
Kereta akhirnya meninggal Istana Ratu, menuju ke Pengadilan Tinggi untuk bertemu dengan Hakim Agung.
Aku harus mempercepat segalanya dan berusaha sebaik mungkin agar Ayah semakin tidak meragukanku. Aku juga harus segera menyiapkan pemakaman Idris secara resmi. Jika terlalu lama, para bangsawan kelas atas akan membuatku terpojok.
Kepalaku sampai sakit karena memikirkan semuanya dalam semalam saja. Masalah datang tanpa henti. Oleh karena itu, aku hanya bisa bekerja keras dua kali lipat daripada masalah itu.
“Sepertinya Ratu terlihat murung,” kata Hendery.
“Ya, itu adalah hal yang wajar. Masalah membuatmu bisa menjadi pribadi yang berbeda,” kataku ketus. “Apakah di antara mata-mata Ayah, ada mata-mata yang sangat berbakat?”
“Ratu bicara apa? Mata-mata apa?” Hendery terlihat pura-pura tidak tahu.
“Tenang saja. Aku sudah membuat kusir kita tidak bisa mendengar pembicaraan ini. Kau bisa bicara dengan lebih santai,” ujarku.
Hendery menghela nafas lega. “Baguslah, kalau begitu. Tuan Viscount hanya memilih tiga mata-mata. Yang pertama adalah orang yang misterius dari Perbatasan Van'ne. Lalu terakhir, ada aku dan juga Matilda.”
Mungkin itu dia.
“Dia seumuran dengan kita. Kira-kira ..., Tuan Viscount pernah mengatakan bahwa orang itu sangat tertutup dan kurang bersahabat. Aku hanya melihatnya sekali saja,” kata Hendery lagi.
Aku mengangguk paham. “Begitu, ya.”
“Memangnya, kenapa Anda berkata seperti itu?” tanya Hendery, yang dilihat dari raut wajahnya sekarang, dia sangat penasaran.
“Tidak ada yang penting. Aku hanya penasaran saja,” kataku bohong.
Hendery tidak perlu tahu lebih jauh lagi tentang masalahku dengan Ayah. Jika dia tahu, dia pasti akan takut karena dia sudah sadar bahwa Ayahku mengetahui tindakan kami.
__ADS_1