The Second Life

The Second Life
CXI - Menjadi Kaisarina


__ADS_3

Setelah para prajurit membawa Jack ke penjara istana, aku akhirnya pergi menuju ruangan kerjaku bersama dengan Matilda. Di dalam ruanganku, aku istirahat sejenak sambil dijamu kue kering dan teh melati oleh Matilda.


Aku sempat memikirkan respon Ayah jika tahu bahwa Jack berusaha untuk membunuhku. Aku tahu bahwa Cain pasti akan memberitahukan segalanya pada Ayah. Sempat terbesit keinginan untuk membuat Cain menjadi sekutuku, tapi aku juga tahu bahwa itu adalah hal yang mustahil.


Sepertinya Cain sudah mengabdi pada Ayahku dalam waktu yang lama. Sulit bagiku yang baru mengenal Cain tak sampai sehari, untuk memberikan penawaran menarik untuknya. Aku bahkan tidak yakin apa yang sebenarnya Cain inginkan.


Akan memalukan apabila Cain mengaku padaku bahwa dia hanya bersumpah setia pada Ayah saja.


“Kalau saya boleh tahu, apa yang akan Ratu lakukan pada Jack?” tanya Matilda.


“Apa yang akan aku lakukan padanya?” Aku tersenyum. “Sebelum hendak menusukku dengan pisau, dia bersumpah bahwa dia tidak akan pernah membocorkan rahasiaku pada siapa pun.”


“Rahasia?” Matilda mengernyitkan dahi. Tidak paham tentang kemana arah pembicaraan kami akan berlangsung.


Aku mengangguk. “Nyatanya, semua sumpah itu hanya omong kosong saja. Dia membuatku marah. Jadi, aku tidak bisa mentoleransi lagi tindakannya tersebut.”


“Benar, Ratu. Pengkhianat tetaplah pengkhianat.” Pandangan Matilda terarah ke luar jendela. Aku tahu jika langit sedang mendung. “Musim dingin akan segera datang. Sebaiknya Ratu segera mempersiapkan pasokan makanan dan pakaian hangat.”


Udara memang semakin dingin. Pemburuan juga harus segera dilaksanakan secara besar-besaran. Lumbung harus di isi. Dan penyimpanan bawah tanah juga harus bisa dipenuhi oleh berbagai bahan makanan.


Tiga bulan bukanlah waktu yang panjang atau pun singkat. Aku juga harus mempersiapkan beberapa bahan makanan untuk para rakyat Vanhoiren. Ugh, banyak juga pekerjaanku.


“Bagaimana dengan posisi Kaisar yang kosong, Ratu?” tanya Matilda. “Ratu pasti tahu jika posisi itu tidak boleh kosong dalam waktu yang lama. Apalagi Raja Bevram sudah mengetahui berita tentang kematian Kaisar.”


“Kau benar. Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari.” Bahkan sebelum Kaisar meninggal sekali pun. Pemberontakan adalah hal-hal paling lumrah yang bisa terjadi saat kursi kepemimpinan sedang kosong.


Siapa saja bisa mendeklarasikan peperangan. Tapi, sebenarnya aku tidak takut jika hal itu benar-benar terjadi. Ada Avnevous di belakangku. Termasuk Ava di dalamnya. Perang di musim dingin tidaklah mengenakkan. Di saat Vanhoiren sedang sibuk mengumpulkan persediaan bahan baku untuk berlindung dari badai salju tahunan, bisa saja para pemberontak akan mulai melancarkan serangannya secara dadakan.


Jika sudah begitu, aku hanya bisa mencegahnya dengan baik takhta sebagai Kaisarina pertama bagi Vanhoiren.


***


Jayden menemuiku di ruangan kerjaku pada siang hari. Dia kupersilahkan duduk di sofa panjang dekat meja kerjaku. Chloe sudah menyiapkan kue dan secangkir teh hangat untuknya.

__ADS_1


“Kudengar pasokannya sempat tertunda dari tempat pemesanannya,” kataku pada Jayden.


“Benar, Ratu.” Jayden mengiyakan. “Kalau soal itu, Ratu tidak perlu khawatir lagi. Saya sudah mengurusnya kemarin. Perbaikan istananya akan selesai sebelum musim dingin tiba.”


Ternyata Jayden memang selalu bergerak selangkah lebih maju dari yang kuminta padanya.


“Aku berterima kasih akan hal itu, Jayden. Kalau begitu, aku akan menaikkan imbalanmu karena telah bekerja keras,” kataku senang. “Aku memang tidak pernah kecewa atas semua kinerjamu selama ini.”


“Tidak perlu sampai seperti itu, Ratu. Saya melakukannya semata-mata karena ingin membantu Ratu saja,” tolak Jayden. “Berikan saja imbalanku sama seperti para pekerja yang lain. Aku akan sangat senang dengan hal itu.”


“Baik, Jayden. Aku tidak akan memaksa lagi,” kataku kemudian. “Lalu, aku punya sebuah informasi untukmu.”


“Apa itu, Ratu?”


“Aku akan melakukan acara penobatan diriku sebagai Kaisarina,” kataku lantang. “Dan aku mau kau menyebarkan selebaran pengumumannya di penjuru Vanhoiren.”


Jayden terkejut mendengar perkataanku. Dia sempat diam beberapa saat hingga tersadar bahwa masih berada di depanku. Buru-buru dia menunduk dan menghembuskan nafas frustasi.


“Ada apa, Jayden?” tanyaku pura-pura bersikap biasa saja.


Aku tersenyum. “Tak apa. Itu ekspresi yang bisa dimaklumi. Aku belum membicarakan hal ini pada Ayahku. Dan ini sudah aku pikirkan baik-baik.”


“Begitu, ya. Saya harap Ratu bisa membicarakannya dengan Tuan Viscount tentang hal ini. Dari yang saya amati, hubungan Ratu dengan Tuan Viscount agak tegang,” kata Jayden. “Saya hanya bisa menyarankan pada Ratu agar menjalin komunikasi yang baik dengan beliau.”


“Ya, kau benar. Aku akan membicarakan hal ini pada Ayahku juga. Kau bisa melaksanakan tugas yang kuberikan untukmu tadi.”


“Baik, Ratu.”


Akhirnya, kami tetap berbincang sedikit tentang proses pembangunan Istana Kekaisaran, kondisi kediaman Winston, dan masih banyak yang lain.


Sambil berbincang dengan Jayden, pikiranku melayang-layang ke segala arah. Sepertinya aku harus bersiap akan segala hal yang terjadi kedepannya.


Saat sore hari, Jayden akhirnya berpamitan padaku untuk kembali ke kediaman Winston. Sebelum pulang, Jayden mengatakan padaku bahwa dia akan mulai menyebarkan berita penobatanku menjadi Kaisarina pada besok hari.

__ADS_1


Baguslah.


*


Malam harinya, aku keluar menuju penjara bawah tanah. Seperti biasa, aku tidak ditemani oleh siapa pun karena keinginanku sendiri.


Dengan langkah pelan, aku menyusuri kembali jalan yang dihiasi oleh sel penjara besi di samping kiri dan kanannya. Aku terkejut oleh suara langkah kaki di belakangku. Saat kutengok ke belakang, tahu-tahu sudah ada Ava di sana.


“Kenapa kau tidak mengajakku?” tanya Ava. “Aku juga ingin memukuli penjahat.”


“Ah, Anda memang tidak bisa melewatkan saat-saat seperti ini, ya?” tanyaku yang sudah tak heran pada tabiat Ava. “Kupikir Anda sedang sibuk.”


“Aku cuma merasa jika kau sedang ingin membuat laki-laki itu jera hari ini,” kata Ava.


“Tidak, kok. Aku hanya ingin mengambil ingatannya agar tidak membocorkan rahasia kita,” kataku santai.


Ava cemberut. “Payah! Mana ada seru-serunya, sih? Bagaimana bisa kau membiarkan orang seperti pecundang itu tidak dihajar?”


Kurang lebih, aku tahu apa yang coba Ava inginkan dan sampaikan padaku.


“Anda boleh menghajar Jack sesuka Anda,” kataku akhirnya.


“Benarkah? Memangnya boleh?” Ava mulai tertarik.


“Benar. Asalkan Anda menyamarkan luka-lukanya setelah selesai menghajarnya,” pesanku.


“Oke!” seru Ava senang.


Ava kemudian membuka sel berisi Jack di dalamnya, aku masuk duluan untuk mengambil ingatan Jack tentang kejadian yang dia lihat di Istana Kekaisaran.


Setelah itu, Ava yang bergantian masuk ke dalam sel, begitu aku keluar. Aku berpamitan pada Ava untuk kembali ke dalam istanaku, biarlah Ava menikmati hobinya sendirian. Aku juga sudah berpesan untuk tidak memeriksa sel Jack dalam beberapa jam kedepan pada prajurit yang bertugas menjaga penjara bawah tanah.


Lagi-lagi, baguslah.

__ADS_1


Note: Episode selanjutnya akan diupdate dua hari lagi! (Ada beberapa detail yang dirubah di episode-episode selanjutnya, tolong dimaklumi apabila ada kejanggalan)


__ADS_2