The Second Life

The Second Life
CIII - Ingatan Idris (II)


__ADS_3

“Ide bagus,” ucap Idris sambil tersenyum lebar. “Aku juga tidak bisa mentolerir adanya pengkhianatan. Apalagi Charlotte berselingkuh dengan musuh Vanhoiren. Sungguh menjijikkan.”


Rose Hindley tersenyum nakal. “Karena itu, lakukan secepat mungkin. Uhm, bagaimana kalau besok? Kau bisa menangkap Charlotte besok dengan menyerbu istananya.”


“Besok? Mungkin itu terlalu cepat, Rose.”


“Idris ..., apa kau meragukan ucapanku dan juga Ibuku?” Rose Hindley memasang wajah cemberut. “Aku ingin kau menangkap Charlotte besok.”


Awalnya Idris kelihatan masih ragu akan hal itu, tapi kemudian dia mengangguk dan tersenyum pada Rose Hindley. Diusapnya kepada wanita berbisa itu, kemudian keduanya saling berpelukan.


Hanya kemesraan merekalah yang membuatku ingin muntah di depan mereka. Mereka bersikap seolah-olah dunia ini hanya milik mereka saja dan yang lain hanya menumpang.


Adegan berganti di kamar pribadi Idris. Di atas ranjangnya, sedang duduk Rose Hindley yang hanya memakai piama tidur tipis. Ujung dua pegunungan Himalayanya sampai bisa kulihat karena piama tidur tipis itu agak transparan.


Idris sedang melihat ke cermin. Dia merapikan kerah jasnya sambil sesekali bermain mata dengan Rose Hindley.


“Kau yakin ingin menonton eksekusi Charlotte sendirian?” tanya Rose Hindley. “Padahal aku juga ingin ikut menontonnya. Pasti akan seru karena saingan cintaku akan lenyap di depan mataku.”


“Eksekusinya tidak akan lama. Lagipula, hubungan kita adalah sebuah rahasia. Jadi, kau tidak boleh muncul di depan publik terlebih dahulu,” kata Idris.


“Ya sudah. Beri aku satu ciuman sebelum kau pergi, Idrisku.” Rose Hindley merentangkan tangannya, memberi kode agar Idris bisa memeluknya.


Idris pun mendekatinya dan merangkul pinggang ramping wanita itu sambil berciuman.


Lalu, ingatan Idris berpindah lagi ke adegan saat aku telah tergantung tak bernyawa di tiang gantung. Hatiku merasa sangat tidak tenang dan ketakutan memenuhi diriku. Aku benci pada ingatan seperti ini.


Aku masih belum bisa menghadapi sepenuhnya masa laluku yang ini. Tapi, aku tidak boleh menyerah pada keadaan begitu saja. Dengan berat hati, aku tetap melihat diriku di masa lalu yang malang itu. Meskipun sudah mati, para rakyat masih saja melempariku dengan bermacam-macam hal.


Idris masuk ke dalam istana dan hendak menemui Rose Hindley, tetapi belum sempat dia masuk, terdengar sebuah percakapan di dalam kamarnya.


“Charlotte sudah mati.” Dari suaranya, itu adalah Selir Sienna.


“Benarkah? Bagus! Itu yang aku inginkan dari dulu,” ucap Rose Hindley, tetap bersemangat jika menyangkut diriku yang tersiksa. “Bagaimana dengan rumor buatan Ibu soal Raja Avnevous?”

__ADS_1


“Selagi Kaisar percaya, kita hanya tinggal membuat buktinya saja.”


Rose Hindley tertawa. “Charlotte malang yang bodoh. Dia mati dengan tuduhan yang tidak pernah dia lakukan.”


Rose Hindley s*alan.


Idris berdecak kesal dan membuka pintu kamarnya dengan kasar, tapi saat melihat ke dalam, tidak ada siapa pun di kamarnya. Bahkan Rose Hindley sekali pun.


Idris mungkin tidak tahu, tapi aku tahu bahwa Selir Sienna dan Rose Hindley menghilangkan diri mereka dengan sihir kegelapan milik Selir Sienna. Dan karena mereka tidak ditemukan di mana pun, Idris jadi merasa jika dia hanya berhalusinasi.


Ketika aku sudah merasa ragu dengan segala tindakanku selama ini terhadapmu, aku mulai mencari cara untuk menemukan petunjuk sendirian.


“Petunjuk?” Aku terkekeh. “Untuk apa kau repot-repot melakukan hal itu? Aku sudah mati kala itu dan kau tidak bisa membangkitkan orang yang sudah mati karena tindakanmu sendiri.”


Kau mungkin memang benar, Charlotte. Tapi, aku menyesali perbuatanku karena terlalu mudah untuk dihasut. Dan ketika aku menemukan jawabannya, aku sadar bahwa yang kulakukan adalah sebuah kesalahan. Kau tidak pernah melakukan apa yang dikatakan oleh Rose.


Kenyataannya, kau sendiri sangat setia kepadaku. Jack menemukan surat-surat darimu untukku yang dibuang oleh Rose. Semuanya ditulis olehmu dengan perasaan sayang.


Menjijikkan.


Ini mungkin ingatan terakhir yang bisa kau lihat sebelum kita dihidupkan kembali.


Aku pun fokus pada ingatan Idris lagi.


Rose Hindley terlihat berlari mengejar Idris yang kala itu sangat berantakan. Rambut Idris yang pendek dan rapi, kini menjadi sedikit panjang dan tak diurus. Dengan tudung dari jubah putih miliknya, dia menutupi kepalanya.


Berkali-kali Rose Hindley berteriak kepadanya untuk menyuruh dirinya tetap tinggal di istana, tapi Idris tidak mau mendengarkan perkataan Rose Hindley.


Idris menaiki kuda yang sudah disiapkan oleh Jack di depan istana.


“Awasi istana selagi aku pergi ke Menara Suci,” perintah Idris pada Jack.


Jack hanya mengangguk. Ada yang aneh dari Jack, dia sepertinya bukannya tidak ingin bicara, tapi lidahnya tidak ada.

__ADS_1


Ya, lidah Jack dipotong karena menyembunyikan fakta tentang tuduhan palsumu dan bersikap heroik kala itu. Selagi pikiranku masih dikendalikan oleh akal sehat, aku berusaha untuk menyelesaikan semua masalah yang telah aku mulai sendiri secara diam-diam.


“Dan Selir Sienna berhasil kabur?” tebakku.


Ya.


“Tapi kau tetap menjadikan Rose Hindley sebagai Ratu selanjutnya,” tebakku lagi.


Benar. Rose sepertinya dibekali oleh sihir penghasut dari Selir Sienna. Setiap perkataan yang Rose katakan, aku selalu menganggapnya sebuah kebenaran.


Aku menghela nafas. “Ucapanmu itu tidak menambah nilai plus-mu di mataku. Jangan sela pengamatanku.”


Lagi-lagi, aku mencoba fokus.


“Tetaplah di sini,” kata Rose Hindley. “Sekarang aku tidak mau sendirian. Besok saja ke Menara Sucinya.”


Idris mengabaikan Rose Hindley dan kemudian pergi meninggalkan Istana Kekaisaran. Perjalanan Idris ditempuh tanpa menggunakan pengawalan. Dia melarang siapa pun untuk mengikutinya.


Menara Suci tidaklah jauh dari Istana Kekaisaran. Hanya butuh waktu sepuluh menit, dia sudah sampai di tempat itu. Idris disambut oleh Kepala Menara yang baru. Aku tidak ingat wajahnya.


“Maaf, Kaisar. Saya hanya bisa menyambut Anda sendiri saja,” kata Kepala Menara.


“Tak apa, aku hanya ingin berdoa di altar.” Idris melangkahkan kakinya ke dalam Menara Suci. Terlihat para murid-murid Menara Suci tengah berdoa dan fokus pada dirinya sendiri. Mereka tidak bisa diganggu oleh kebisingan.


“Saya akan tinggalkan Anda di altar sendiri,” ucap Kepala Menara ketika mereka sudah sampai di altar doa. Idris hanya diam, dan dia pun ditinggal sendiri.


Idris berjalan ke depan altar dan duduk bersila sambil menunduk. Dia menutup matanya dan hanya diam seperti itu saja selama beberapa saat.


“Aku sudah beberapa kali kemari,” ucap Idris. “Sudah banyak doa yang aku ucapkan untukmu. Tapi, kenapa Dewi tidak pernah mau membalas doaku?”


“Vanhoiren sudah tamat. Aku bukanlah Kaisar yang baik. Terlalu banyak dosa yang aku lakukan. Terlalu banyak orang yang sudah aku sakiti. Karena itulah, aku sangat menyesal, Dewi.”


Tanpa disangka, cahaya keemasan yang sangat terang tetapi tak menyilaukan, memenuhi altar doa Menara Suci. Idris amat kaget melihat seorang wanita yang memancarkan cahaya terang itu, muncul di depannya.

__ADS_1


“Kau siap menanggung dosamu?” tanya wanita itu; yang tak lain dan tak bukan adalah Dewi Kebajikan.


__ADS_2