
Pembicaraanku dengan Hendery telah selesai, sarapan pun juga sudah. Kini, aku dibantu memakai pakaian resmi oleh Matilda dan juga tiga pelayan yang sudah menjadi bawahannya. Tidak ada pembicaraan apa pun yang terjalin di antara kami. Aku sedang enggan bicara.
Jasmine disibukkan dengan pekerjaan istana bersama dengan Maya. Aku berusaha membuat mereka sibuk agar tidak memperlambatku.
Hari ini langit sangatlah cerah. Ini adalah hari yang tepat untuk mengacaukan Vanhoiren. Menghancurkan Kekaisaran sampai ke akarnya, dan mengubah tatanan kekuasaan berat sebelah yang telah ada sejak dulu.
Aku pasti bisa.
“Sudah selesai, Ratu,” ucap Matilda.
“Baiklah.” Aku berdiri dan melihat wajahku yang sudah dipoles riasan terpantul dari cermin. “Aku akan pergi ke Istana Kekaisaran sekarang.”
“Kalau boleh saya tahu, apakah ada masalah di sana?” tanya Matilda. Mungkin jika ada masalah, dia ingin menyampaikan semuanya kepada Ayahku.
“Waktu itu aku tidak sempat bicara empat mata dengan Kaisar, sekarang mungkin saatnya,” ucapku sambil tersenyum senang. “Kalian tidak perlu ikut, aku dan Kesatria Franklin saja yang akan pergi.”
Matilda menunduk. “Apakah Anda yakin, Ratu?”
“Ya.” Aku pun berjalan keluar kamar, dan menuruni anak tangga ke lantai bawah. “Ini hanya kunjungan biasa. Kau tidak perlu khawatir seperti itu.”
“Baiklah, Ratu. Apakah Ratu akan makan malam di Istana Kekaisaran?” tanya Matilda lagi.
“Tidak. Aku akan makan malam di sini.” Karena Istana Kekaisaran akan dibuat kacau setelah ini.
Hendery sudah menunggu di depan kereta. Dan saat dia tersenyum kepadaku yang sedang berjalan ke arahnya. Matilda masih berjalan di belakangku. Dia hendak mengantarkanku sampai ke dalam kereta.
“Pastikan untuk menjaga Ratu dengan benar, Kesatria Franklin. Aku tidak mau dengar jika Ratu sampai terluka,” ancam Matilda pada Hendery.
“Kau tenang saja. Aku akan menjaga Ratu dengan segenap jiwaku,” ucap Hendery, terdengar bergurau meskipun wajahnya menyiratkan keseriusan.
Memang benar dia memang suka berseda-gurau.
“Kuharap kau memegang kata-katamu layaknya kesatria sejati,” kata Matilda, masih ragu dengan ucapan Hendery. Matilda saja meragukan Hendery, apalagi aku yang sekarang adalah kongsinya.
__ADS_1
“Tentu saja.” Hendery mengalihkan pandangannya padaku. “Ayo naik, Ratu. Kita berangkat sekarang.”
“Baiklah.” Aku meraih tangan Hendery, dan naik ke dalam kereta, sebelum akhirnya disusul olehnya sendiri. Kusirku dilarang oleh Hendery untuk membantuku naik ke dalam kereta.
“Selamat jalan, Ratu. Semoga harimu menyenangkan,” ucap Matilda sambil menunduk.
“Terima kasih, Matilda.”
Kereta kami pun akhirnya pergi meninggalkan Istana Ratu. Aku menuju ke Istana Kekaisaran dengan hati yang mendegup kencang.
Dalam hatiku, aku berpikir. Apakah ini adalah tindakan yang tepat? Apakah balas dendam adalah tindakan yang tepat untuk membuat semua kesengsaraan ini berakhir? Dewi, apakah aku melakukan hal yang benar?
Ah, aku benar-benar tak bisa menilai sesuatu dengan baik lagi untuk sekarang.
Sekarang, aku hanya perlu berusaha untuk membuat Vanhoiren menjadi wilayah yang sejahtera. Menyingkirkan penghalang adalah tindakan awal menuju ke arah reformasi. Aku harus siap mulai detik ini.
Ya, semangatlah diriku. Aku pasti bisa!
“Bagaimana dengan keluargamu?” tanyaku untuk berbasa-basi pada Hendery.
Aku tersenyum getir. “Semuanya akan baik-baik saja apabila orang tuamu tidak mengusikku, Kesatria Franklin. Ini hanya masalah rasa dengki saja.”
“Aku tahu, Ratu. Ibuku memang orang yang suka menjaga imej, dan sangat iri hati. Ayahku juga sangat mencintai Ibuku, benar ataupun salah, Ayahku akan tetap mendukung Ibuku sampai kapanpun,” ucap Hendery.
Cinta itu memang membutakan akal sehat.
“Ya, dan itu adalah kesalahan besar yang bisa membuatmu jatuh.” Sama sepertiku yang dahulu terbutakan oleh cinta Idris, hingga tak menyadari pengkhianatan yang sedang dia rencanakan di belakangku. Dia bersenang-senang dengan wanita lain, dan membiarkanku sendirian dalam rasa cinta semu yang dia berikan.
Aku mengutuk diriku sendiri di masa lalu. Aku yang terlalu polos dalam menghadapi seseorang adalah sisiku yang lemah. Sekarang, aku berbeda. Setidaknya aku punya seseorang yang bisa kubagikan keluh kesahku.
Aku senang.
“Benar, Ratu. Aku sedih, tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa karena itu adalah kesalahan orang tuaku sendiri.” Hendery menatapku. “Aku tidak punya dendam apa pun pada Ratu. Mungkin dengan tindakan Ratu pada mereka, sisi jahat mereka bisa berubah walaupun hanya sedikit.”
__ADS_1
“Dan kau juga tahu jika membuat Ibumu sadar adalah hal yang sulit. Bisa jadi, sekarang dia masih punya dendam padaku,” ucapku pelan.
“Ya, sebaiknya kita tidak membahas hal ini lagi.” Hendery mulai menghindar.
“Bagaimana dengan Kakakmu? Apakah dia merasa terganggu dengan hal itu?”
Air muka Hendery menegang. Mungkin ini adalah topik sensitif baginya. “Dia baik-baik saja. Hanya saja dia kecewa karena tidak bisa menjadi penerus keluarga sebagai seorang Marquess.”
“Itu tidak penting. Dia bisa mendapatkan gelar bangsawan jika mengabdi pada Kekaisaran,” ucapku. “Yah, meskipun hal itu cukup sulit, mengingat hal yang kita akan lakukan nanti.”
“Ya, Ratu. Tapi, janjimu waktu itu—”
“Aku pasti akan menepatinya. Kau tenang saja. Aku sudah mengatakan hal ini berkali-kali. Jadi, kau tidak perlu takut aku akan mengkhianatimu,” potongku cepat.
Hendery pun tersenyum senang, lalu dia mengangguk paham. Laki-laki gila kekuasaan ini memang sangat mudah untuk dibujuk. Jika bicara tentang gelar atau apa pun yang berurusan dengan kekuasaan, dia akan langsung lupa pada apa pun termasuk keluarganya sendiri.
Aku tidak tahu apakah itu hal yang baik untukku atau justru sesuatu yang bisa membuatku terancam suatu hari nanti. Kita lihat saja nanti.
Kami akhirnya sampai di Istana Kekaisaran. Dengan disambut oleh Jack, aku turun dari dalam kereta kuda bersama dengan Hendery. Dia tetap di belakangku dengan mode siaga. Aku tahu dia sangat serius sekarang. Tidak biasanya dia membawa dua pedang sekaligus di pinggangnya.
“Semoga Yang Mulia Ratu diberkati Dewi Kebajikan,” sapa Jack. “Kaisar ada di ruang kerjanya. Mari saya antar.”
“Baik.” Aku mengekor di belakang Jack bersama dengan Hendery. Aku melarang prajurit istana mengantarkanku. Itu tindakan yang berlebihan.
Begitu sampai di depan ruangan Idris, Jack mengetuk pintu. “Yang Mulia, Ratu datang menemui Anda,” ucap Jack, yang kemudian membukakan pintu untukku tanpa menunggu respon Idris.
“Kau boleh pergi, Jack.”
“Apakah Ratu ingin teh dan cemilan?” tawar Jack.
“Tidak perlu. Aku tidak akan lama,” kataku padanya. “Kesatria Franklin, tunggulah di luar.”
“Baik, Ratu.”
__ADS_1
Pintu pun tertutup, dan aku tersenyum melihat Idris yang duduk di seberang meja kerjanya. Ini akhir riwayatmu, Suamiku.