The Second Life

The Second Life
CVII - Bertemu Ayah


__ADS_3

Semua orang kembali melotot kaget. Aku tersenyum dalam hati karena merasa geli dengan ekspresi yang mereka tunjukan. Aku tahu jika mereka tidak menyangka hal ini akan terjadi. Aku juga tahu jika mereka akan merasa curiga tentang surat ini. Tapi, penguasa tertinggi saat ini adalah aku sendiri. Tidak ada satu pun manusia di dalam Vanhoiren yang bisa menentangku.


Cap Kaisar adalah bukti validnya.


Hanya Idris sendiri yang sebenarnya tahu kode gembok laci berisi capnya itu. Tapi, beruntungnya aku memiliki seorang teman seperti Ava. Dia telah membantuku membuka gembok itu dan juga menduplikat capnya. Sekarang, Rose Hindley sekaligus keluarga Hindley tidak memiliki kesempatan apa-apa untuk menuntut hak waris takhta karena aku akan mengubah seluruh tatanan Kekaisaran.


Sepertinya Baron Hindley tak menyukai hal ini. Dia secara terang-terangan menatap tajam ke arahku. Tapi, aku membiarkan hal itu karena tidak ingin menambah masalah lebih banyak lagi.


“Tenang saja, aku kemari bukan untuk meminta Hakim Agung membuktikan benar atau tidaknya bukti yang kupegang saat ini. Yang jelas, kalian bisa melihat bukti tentang perbuatan Selir Sienna di Istana Perak. Bukti-buktinya masih tetap terjaga di sana, lebih cepat lebih baik,” kataku. “Terima kasih sudah mau mendengarkan semua kesaksianku. Aku harap kedepannya kita semua bisa bekerja sama untuk membangun Vanhoiren kembali ke kejayaannya.”


“Sebelum itu, Ratu harus menyelenggarakan pemakaman yang layak untuk Kaisar,” ucap Grand Duchess.


Aku menatapnya dan tersenyum. “Benar, Grand Duchess. Itu adalah hal yang paling utama yang harus kulakukan. Oleh karena itu, aku pamit undur diri terlebih dahulu. Semoga semua yang kuucapkan bisa diterima oleh kalian semua.”


Ketika aku berdiri, mereka semua pun ikut berdiri untuk memberi hormat. Saat sudah berjalan keluar, Duchess Harriston menyusuliku. Sepertinya aku tahu apa yang ingin dia bicarakan.


“Maaf menyela kepergianmu, Ratu,” kata Duchess Harriston. “Saya ingin membicarakan sesuatu dengan Anda.”


“Bicaralah sekarang,” kataku santai.


“Uhm, saya sangat senang mengetahui bahwa Ratu berhasil menyelidiki hilangnya para rakyat Vanhoiren. Dan saya juga sangat sedih karena Ratu kehilangan sosok Kaisar sekaligus suami Ratu dalam waktu singkat.”


“Terima kasih, Duchess Harriston. Aku menghargainya.” Aku tersenyum. “Itu saja yang ingin Duchess katakan?”


Duchess Harriston mengangguk. “Benar. Untuk saat ini, saya hanya bisa mengatakan hal itu. Semoga Anda selalu tegar, Ratu.”


“Terima kasih. Sampai jumpa, Duchess.”


*

__ADS_1


Keretaku berjalan menuju kediaman Winston. Ya, aku hendak menemui Ayah secara langsung dan bicara lagi padanya. Sebenarnya, aku sangat tidak tahan saat perang dingin dengan Ayahku seperti ini. Hanya Ayah orang tua yang kupunya, aku tidak ingin kehilangan Ayah hanya karena keegoisanku.


Sepanjang perjalanan, aku hanya memikirkan kepercayaan Ayah terhadap apa yang kuperbuat. Sedih rasanya. Bicara soal kepercayaan, aku tahu bahwa Ayah menyembunyikan banyak sekali rahasia di belakangku. Ayah pria yang misterius.


Namun, meskipun begitu, aku tetap mempercayainya. Aku percaya bahwa apa pun yang dilakukannya murni untuk kebaikan keluarga kami. Tapi, saat aku sedang melakukan hal yang sama, Ayah tidak memberikan sedikit kepercayaannya kepadaku. Aku hanya butuh sedikit saja.


Nyatanya tidak.


Hal itulah yang membuatku semakin ragu kepada Ayahku sendiri. Syukurlah akal sehatku masih tetap berjalan dengan baik, aku masih bisa menepis semua pikiran negatifku barusan dan tetap mempercayai Ayah.


“Ratu, kita sudah sampai.” Hendery memecah lamunan panjangku. Dia sudah berada di luar kereta sambil mengulurkan tangan kirinya untukku. “Apa Ratu membutuhkan sesuatu?”


Aku langsung menggeleng lemah. “Tidak.” Kuraih tangannya, lalu turun ke dari kereta.


Layla menghampiriku bersama dengan Jayden, mereka berdua menunduk hormat lebih lama dari yang biasanya. Aku sampai harus menyuruh mereka mengangkat kepala mereka karena merasa canggung.


“Apakah Ayahku ada di sini?”


“Mari, Ratu. Akan saya antarkan ke ruang kerja Tuan Winston selagi Layla mempersiapkan jamuan untuk Anda,” kata Jayden.


“Baik.” Aku mengikuti Jayden dari belakang bersama dengan Hendery.


Pintu ruang kerja Ayah diketuk oleh Jayden, tak ada jawaban dari dalam, tetapi Jayden langsung membuka pintu itu dengan cepat. Terlihatlah Ayah bersama dengan seorang lelaki tinggi yang berbadan tegap memakai jubah hitam dengan tudung yang menghiasi kepalanya.


Itu pasti mata-mata Ayah.


Begitu melihat wajahku, Ayah memasang wajah terkejutnya yang sangat jelas di mataku. Jayden masuk dan menghadap Ayah dengan memberi salam. Jayden tidak tahu bahwa hubungan aku dan Ayah sedang kurang baik.


“Ayah.”

__ADS_1


“Kenapa kau kemari?” tanya Ayah. Dia melirik mata-matanya dan mata-mata itu pun berbalik hendak keluar sambil menundukkan wajahnya.


Aku menahan tangan mata-mata itu dan meliriknya tajam. “Tunjukkan wajahmu. Kau tidak punya sopan santun pada seorang Ratu?”


“Dia orangku. Biarkan dia pergi, Charlotte,” kata Ayah.


Hm, pembohong.


“Aku hanya ingin melihatnya, Ayah. Jika tidak, kesatriaku bisa membantunya membuka tudung jubah itu.” Aku menantang Ayahku.


“Cain, buka tudung jubahmu,” perintah Ayah. “Ini perintah Ratu.”


Aku melepaskan tangan mata-mata itu dan membiarkannya membuka tudung miliknya. Mata-mata yang dipanggil Cain itu mulai membuka tudungnya secara perlahan.


Rambut coklat keemasan dengan warna mata coklat kemerah-merahan, membuatku sedikit kaget. Tatapan mata dingin dan tak bersahabatnya membuatku tak nyaman. Dia tetap menunduk ke bawah. Enggan melihatku.


Satu hal yang membuatku kaget adalah, sorot matanya hampir saja menghipnotis diriku. Dia laki-laki yang berbahaya.


“Apa sudah cukup, Charlotte?” tanya Ayahku. “Apa ada hal lain yang kau inginkan?”


“Maaf membuat Ayah tidak nyaman. Aku hanya agak insecure dengan orang-orang yang tidak menunjukkan wajahnya di hadapanku,” jelasku. “Kau boleh memakai tudungmu lagi,” perintahku pada Cain.


Cain akhirnya memakai tudung jubahnya kembali, lalu keluar dari ruang kerja Ayah secepat kilat. Suasana menjadi hening. Buru-buru aku mengatakan maksud dan tujuanku menghadap Ayah.


“Ayah tahu bahwa Istana Kekaisaran sedang mengalami kerusakan yang cukup berat. Tangan kanan Kaisar juga mengalami luka berat akibat terkena reruntuhan istana yang hancur. Jadi, aku berniat meminta tolong kepada Ayah untuk mengijinkanku meminjam Jayden untuk sementara waktu sebagai tangan kanan sementaraku dalam membangun kembali istana dan juga membantuku untuk mengurus pemakaman Kaisar dalam waktu dekat,” jelasku.


Ayah menatapku sejenak dan memijit tengkuknya yang tegang. “Hanya itu yang kau mau?”


“Ya.” Aku tersenyum. “Aku ingin menyelesaikan semuanya secepat mungkin.”

__ADS_1


“Terserah kau saja. Selagi Jayden mampu, aku hanya bisa memberikan ijin saja,” kata Ayah. “Tapi, soal pembicaraan kita yang terakhir kali. Ayah hanya tidak mengerti dan tidak bisa menerima segala yang telah kau lakukan.”


“Belum bisa, Ayah,” kataku pelan. “Aku akan membuktikan pada Ayah jika apa yang kulakukan sekarang ini untuk kebaikan.”


__ADS_2