The Second Life

The Second Life
C - Usai Kudeta (I)


__ADS_3

Ava melempar kepala Selir Sienna ke rumput istana. Matanya sudah sembuh seperti sedia kala. Hanya tinggal tersisa bekas darah yang keluar dari luka di matanya. Kepala Selir Sienna menggelinding dengan dramatis di samping Hendery, laki-laki itu sempat menyingkir karena tak mau terkena percikan darahnya.


Idris sudah dibaringkan di rerumputan, dan Ava sudah bersiap untuk menghancurkan Istana Kekaisaran. Dia mengeluarkan bola sihir berukuran super besar dari tangan kanan yang dia angkat ke atas. Matanya berkilat emosi. Tak ada keraguan sedikit pun yang tersirat dari sorot mata itu. Ava serius dengan apa yang hendak dia lakukan.


“Di dalam masih ada para prajurit dan juga para penghuni istana yang lain!” seruku pada Ava.


“Apa peduliku,” desis Ava. Nada bicaranya sama sekali tak ramah. “Aku tak peduli lagi.”


“Kumohon, Ava. Jika kau menghancurkan istana seperti ini, kerugian yang harus kutanggung tidaklah sedikit,” bujukku padanya. Tidak mudah membangun kembali sebuah istana dalam waktu singkat.


Ava berdecak kesal. “S*alan.” Bola sihirnya mengecil, tetapi masih dia tembakkan ke arah istana hingga bagian depannya hancur. Bongkahan bangunannya pun membuat pintu depan istana tertutupi, sekaligus menarik perhatian orang luar karena suara ledakan yang besar. “Aku menahan tubuh Sienna. Katakan saja jika tubuhnya menghilang secara misterius karena sihir. Yang penting kau mendapatkan kepala Sienna sebagai bukti.”


“Terima kasih, Ava.”


“Aku akan kembali ke Avnevous. Sisanya kau urus sendiri,” kata Ava yang kemudian menghilang tanpa menunggu tanggapanku untuknya.


“Ratu, sekarang apa yang akan kita lakukan?” tanya Hendery.


“Menunggu,” ucapku. Aku melirik Rose Hindley yang masih tengkurap. Aku menendangnya sedikit hingga dia meringis kesakitan. “Aku tahu kau sudah sadar dari pingsanmu. Jangan pura-pura.”


Rose Hindley mengangkat kepalanya, lalu memberikanku tatapan tajam. Aku merasa jika pertahanan dirinya hanyalah sebatas kesombongan diri yang tinggi saja.


“Dasar perusak hubungan orang!” seru Rose Hindley padaku.


“Sekarang bukanlah saat yang tepat untuk membuatku marah, Rose Hindley. Harusnya kau berlutut di kakiku dan memohon ampun atas nyawamu.” Aku mendekatkan kaki kananku di depan wajahnya.


Bukannya memohon ampunan agar aku melunak kepadanya, Rose Hindley malah meludahi sepatuku. Bukan hanya sekali, tetapi dua kali. Aku berdecak kesal dan menendang wajahnya dengan sekuat tenaga.


Wanita j*lang.


“Idris akan membuatmu dalam masalah!” teriak Rose Hindley. “Idris! Bangunlah! Charlotte berniat membahayakan bayi kita!”

__ADS_1


“Berhentilah.”


“Idris!” teriak Rose Hindley, terus-menerus. Teriakan itu terdengar sangat putus asa. Dia menangis sambil memanggil nama Idris berkali-kali. “Idris!”


Rose Hindley sudah kehilangan akalnya.


Aku akhirnya berjongkok di depannya dan memegangi dagunya. Memaksakannya untuk menatap mataku. “Idris sudah mati di tanganku. Dia mati! Tidak ada lagi sosok Ayah untuk bayimu. Kau hanya sendirian sekarang.”


“Wanita iblis! Kau membuat seorang anak tak berdosa kehilangan sosok Ayah!” teriak Rose Hindley. “Akan kupastikan hidupmu tidak akan tenang, dasar br*ngsek! Mati saja kau!”


“Kau tidak akan ingat kejadian apa pun hari ini. Kau tidak akan bisa jatuh hati pada satu pun laki-laki di mana pun. Satu-satunya yang kau ingat adalah anak yang kau kandung merupakan anak hasil hubungan terlarangmu dengan suami dari wanita lain. Kau tidak bisa melukai anakmu. Kau membencinya, tapi kau juga tidak tega meninggalkannya. Kau akan merasa hidupmu sangatlah sengsara. Rasanya ingin mati saja, tetapi kau tidak sanggup untuk mengakhiri hidupmu.”


“Setiap makanan yang kau masukkan ke dalam mulutmu tidak akan ada rasanya. Kau kekurangan nafsu makan karena hal itu. Setiap ucapan yang dikatakan orang lain untukmu, terkadang akan kau dengar sebagai sebuah cemoohan. Hidupmu tidak akan tenang dan tidurmu tidak akan nyenyak. Inilah harga yang harus kau terima,” ucapku panjang lebar.


Aku berhasil memakai sihir perintahku secara berlebihan. Alhasil, aku bisa merasakan mana-ku yang terkuras habis-habisan. Dan efek sampingnya adalah kehilangan kesadaran.


Beberapa menit setelah membuat Rose Hindley bungkam dengan pikirannya sendiri, pandanganku menggelap dan aku tak ingat lagi apa yang terjadi setelah itu karena pingsan.


***


Cahaya matahari yang masuk dari jendelaku, membuat aku terbangun. Aku sudah berada di kamarku di Istana Ratu. Luka-lukaku sudah diobati dan juga diperban.


Aku tidak tahu sudah berapa lama tak sadarkan diri. Bisa jadi sehari, dua hari, atau lebih. Kepalaku masih sakit saat aku mencoba untuk bangun karena tenggorokanku sakit. Aku ingin minum segelas air untuk menyegarkan tenggorokanku.


Clek!


Beruntungnya aku, Chloe datang—mungkin hendak melihat kondisiku—sambil membawa kotak obat. Dia menjatuhkan kotak obat itu ketika tatapan kami bertemu. Bukannya menghampiriku, dia malah berlari keluar dan berteriak memanggil Jasmine, Matilda, dan juga Hendery.


“Ratu telah sadar!” teriak Chloe. “Kak Jasmine! Kak Matilda! Kesatria Franklin! Ratu telah sadar!”


Begitulah ceritanya hingga mereka berempat sudah berada di kamarku saat ini. Jasmine dan Matilda memperhatikan lukaku dan kondisiku dengan sangat jeli. Chloe hanya menatapku dari jauh bersama Hendery.

__ADS_1


“Apakah Ratu bisa merasakan kaki dan tangan Ratu dengan baik?” tanya Jasmine.


“Ya.”


“Apakah Ratu bisa mendengar dan melihat dengan baik?” tanya Matilda.


“Tentu saja.”


“Dan apakah Ratu ingat soal ingatan terakhir Ratu?” Suara Jasmine sedikit bergetar saat bertanya hal tersebut.


Aku memasang raut sedih agar menarik simpati mereka, kecuali Hendery. “Ya .... Aku ingat hal itu. A-apakah Kaisar baik-baik saja?”


“Ratu, saya tidak yakin apakah Anda sanggup mendengar berita tentang Kaisar. Tapi, cepat atau lambat Anda harus tetap mengetahui hal ini,” kata Jasmine. “Ada baiknya Ratu makan terlebih dahulu untuk memulihkan tenaga Ratu. Anda membutuhkan tenaga ekstra nantinya.”


“Ada apa dengan Kaisar? Katakan saja dia baik-baik saja!” teriakku mendramatisasi. “Aku tidak ingin menunda-nunda lagi.”


Sial, di saat sedang meyakinkan ketiga dayangku, Hendery malah tidak memperhatikan ekspresinya sendiri. Bagaimana mungkin dia tertawa di saat aku, Ratunya sendiri, sedang menarik simpati dengan bertingkah menyedihkan?!


“Kaisar ditemukan di depan istana ..., sudah dalam keadaan tidak bernyawa,” ucap Jasmine.


Aku melotot kaget. Wah, aku bisa ikut kelas drama jika berakting seperti ini. “A-apa? Kau tidak bercanda, bukan?! Aku mau bertemu dengan Kaisar!”


Jasmine dan Matilda langsung menahan tubuhku untuk tidak melakukan hal itu. “Kaisar sedang ditempatkan di Menara Suci untuk sementara waktu. Istana Kekaisaran juga belum bisa ditinggali karena mengalami kerusakan yang cukup serius. Beberapa prajurit, pelayan, sekaligus tangan kanan Kaisar sendiri mengalami luka serius,” ucap Matilda.


Hoo, Jack masih hidup rupanya.


“Di mana tangan kanan Kaisar sekarang?” tanyaku pada Matilda.


“Ada di tenda kesehatan di dalam taman Istana Kekaisaran, Ratu,” jawab Matilda.


“Baiklah.” Aku akan segera menyingkirkan Jack juga nanti. Ini masih belum berakhir.

__ADS_1


__ADS_2