
Willona terlihat sedang berada di kantin kampus seorang diri dan menikmati makan siangnya. Namun tiba-tiba seseorang mulai duduk di hadapannya dan membawa semangkok baksonya.
Willona mulai mendongak menatap ke arah depan, rupanya seorang pemuda sudah tesenyum manis menatapnya dan sudah bersiap menyantap bakso itu.
"Senior Rasya. Tumben sekali terlambat?" tanya Willona keheranan.
Rasya adalah seniornya dalam fakultas pemrograman yang selama ini selalu ramah dan berbuat baik kepada Willona. Rasya juga sering membantu Willona, jika Willona mengalami kesulitan saat mendapatkan tugas dari lektornya
Dan sebenarnya Willona dan Rasya juga cukup dekat. Bahkan Rasya dan Willona sering sekali makan siang bersama saat di kampus.
"Ada tugas mendadak sebentar tadi. Dan aku harus segera mengumpulkannya." jawab Rasya mulai menikmati bakso di hadapannya. "Bagaimana liburanmu ke Bali? Pasti sangat menyenangkan ya?"
"Tidak kok. Aku tidak banyak mengunjungi tempat wisata disana. Bahkan aku hanya sering menghabiskan waktu di hotel dan malah tidur. Hehe ..." jawab Willona apa adanya.
"Kamu pergi ke Bali hanya untuk tidur, Willona?" tanya Rasya hampir saja tak percaya setelah mendengarkan ucapan dari Willona.
"Hehe ... iya." jawab Willona dengan jujur.
"Mengapa? Apa suamimu hanya ingin menghabiskan waktu berduaan saja dengan berada di kamar hotel?" tanya Rasya yang kali ini mulai menikmati segelas jus jeruknya namun sepasang matanya masih menatap gadis cantik itu.
Mendengar pertanyaan dari Rasya membuat Willona sedikit memudarkan senyumannya, karena sebenarnya yang terjadi adalah bukan seperti itu. Justru sebenarnya sang suami sangat tidak menyukai jika harus selalu berdekatan dengan dirinya.
"Dia sangat sibuk, Senior. Dia bahkan selalu saja mengurusi pekerjaannya saat kita bersama. Jadi kita memutuskan untuk banyak beristirahat di hotel saja." jawab Willona berkilah.
Karena sangat tidak mungkin jika Willona mengatakan semua hal dengan jujur kepada orang lain. Semua rahasia rumah tangganya, bahkan pernikahan palsu itu biarlah hanya dia dan Sean saja yang mengetahui semua itu.
Mengapa Willona terlihat seperti sedang menutupi sesuatu ya? Dan dia seperti tidak merasa bahagia. Apa dia sedang ada masalah dengan suaminya? Ah tidak mungkin. Pasangan mana yang baru menikah langsung bertengkar? Sepertinya aku yang salah mengira.
Batin Rasya mengibaskan tangan kanannya.
__ADS_1
"Oh seperti itu rupanya. Ya sudah cepat habiskan makananmu dan mari segera kerjakan tugas yang tidak kamu mengerti." ucap Rasya dengan ramah dan mulai memasukkan sebuah bakso berukuran kecil ke dalam mulutnya.
...⚜⚜⚜...
"Arghh!! Akhirnya selesai!! Terima kasih, Senior Rasya!! Akhirnya tugas ini selesai juga. Hehe ... kapan-kapan aku traktir deh." ucap Willona kegirangan dan mulai memasukkan beberapa bukunya ke dalam tasnya.
"Sama-sama, Willona. Mau langsung pulang atau mau pergi kemana?" tanya Rasya yang sebenarnya sangat merasa nyaman saat bersama Willona.
Yeap, sebenarnya selama ini pemuda ini sudah cukup lama menyukai Willona. Perasaan itu tumbuh saat mereka pertama kali bertemu saat perayaan penerimaa mahasiswa dan mahasiswi bary angkatan Willona.
Dan kebetulan saat itu mereka duduk dalam satu meja dan melalukan beberapa game saat itu. Rasya tidak mengungkapkan perasaannya sama sekali, karena merasa terlalu khawatir dan tidak pantas untuk Willona.
Karena Rasya hanyalah anak yatim piatu yang hidup seorang diri. Bahkan Rasya juga bekerja hanya untuk menghidupi kehidupannya sendiri. Namun kehidupan yang berat dan kejam itu menjadikan Rasya menjadi seorang pemuda yang kuat dan mandiri.
Bahkan Rasya juga sudah dikategorikan berhasil dalam usaha kecilnya dan menjual program-program rancangannya sendiri. Hanya melakukan sesuai hobi dan potensi, namun dia mendapatkan bayaran.
"Baiklah. Aku akan mengantarmu. Ayo!" ucap Rasya menawarkan diri.
"Baiklah. Ayo!" jawab Willona dengan entengnya.
Mereka berdua mulai menggang bersama hingga akhirnya kini mereka sudah berada di depan gerbang kampus.
"Aku akan memesan taxi dulu, kebetulan mobilku hari ini masih di bengkel. Tunggu sebentar, Willona." ucap Rasya sambil mengutak-atik ponselnya dan mulai memesan sebuah taxi online.
Namun baru beberapa menit saja, tiba-tiba ada sebuah Lexus hitam metalik mulai berhenti tepat di hadapan mereka berdua.
CKITT ...
Tak lama setelah itu, kaca mobil itu mulai terbuka. Dan seorang pria mulai terlihat dari balik kaca itu dan menatap Willona dan Rasya secara bergantian dengan tajam.
__ADS_1
Namun belum sempat ada ucapan apapun, kini pria itu segera turun dari mobilnya dan segera menghampiri Willona dan Rasya.
"Willona, ayo pulang!" ucap pria yang tak lain adalah Sean yang tiba-tiba saja datang untuk menjemput Willona tanpa memberitahu Willona terlebih dulu.
"Kak Sean. Mengapa tidak menghubungiku dulu jika mau datang? Untung saja aku masih belum pulang." ucap Willona seperti biasa, ramah.
Kak? Apakah pria ini adalah kakak atau kenalan Willona? Aku belum pernah melihat dan bertemu dengan pria dingin ini sebelumnya.
Batin Rasya yang sebenarnya memang tak mengetahui tentang siapa Sean itu. Rasya memang mengetahui jika Willona sudah menikah, namun Rasya tidak belum pernah bertemu dengan suami Willona sebelumnya.
Bahkan saat pesta pernikahan Willona dan Sean, Rasya juga tidak bisa menghadirinya karena sedang memiliki pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan saat itu.
"Ya, seharusnya kamu menghubunginya dulu. Aku akan mengantar Willona pulang. Taxi kami akan segera datang." ucap Rasya menyerobot sebelum Willona menjawab ucapan dari Sean.
"Apa kamu bilang?! Kamu akan mengantar Willona pulang? Di hadapanku kamu mengatakan semua itu?" ucap Sean hampir saja tak percaya akan mendapatkan perlakuan tak terduga dari Rasya dan Willona.
"Memang apa yang salah jika aku mengantar Willona pulang? Aku bahkan sudah lebih dulu ingin mengantarnya. Kamu kakak Willona ya? Tenang saja aku tak akan berbuat jahat padanya kok." ucap Rasya dengan sopan.
"Kakak Willona? Aku?" ucap Sean hampir saja tak percaya dengan apa yang sudah diucapkan oleh Rasya.
"Ya? Kalau bukan kakaknya, lalu kamu siapa? Apakah senior Willona juga?" tanya Rasya masih dengan ramah.
Cihh ... ini semua gara-gara Willona yang malah memanggilku dengan panggilan kakak di hadapan pria ini! Aku malah dikira senior atau kakak Willona! Gadis ini benar-benar tidak bisa diajak kerjasama!
Batin Sean terlihat begitu kesal.
"Aku adalah Sean. Dan Willona adalah istriku! Hanya saja dia belum terbiasa memanggilku dengan panggilan selain kakak!" ucap Sean mulai meraih tangan kiri Willona dan sedikit menariknya semakin dekat dengannya. "Benar begitu, Sayang?" imbuh Sean mulai beralih menatap Willona dengan senyuman manisnya.
Sebenarnya Willona cukup terkejut, mengapa Sean juga sampai berakting di depan teman Willona. Namun Willona hanya mengangguk pelan dan mengiyakan saja.
__ADS_1