The Tears Of Regret

The Tears Of Regret
Sean Sadar


__ADS_3

"Wil-lona ..." ucap Sean begitu lirih dan sudut-sudut bibirnya mulai menyembulkan sebuah senyuman tipis menghiasi wajahnya yang masih cukup pucat.


Perlahan Sean juga mulai mengangkat tangan kirinya dan masih dengan pergerakan yang pelan dan berat lalu mulai mengusap pelan kepala Willona.


"Wil-lona ..." ucap Sean lagi dengan begitu lirih masih dengan senyum hangatnya yang menghiasi wajah pucatnya itu.


Meskipun sekujur tubuhnya masih terasa begitu sakit dan kepalanya terasa masih sangat pusing dan berat, namun semua rasa sakit itu seakan menghilang dan lenyap begitu saja setelah melihat Willona berada di hadapannya ketika Sean membuka matanya kembali.


Willona masih belum terbangun dan membuka matanya karena mungkin terlalu kelelahan dan sangat mengantuk.


"Wil-llona ..." Sean bergeming pelan kembali.


Namun Willon masih saja tak terbangun. Hingga akhirnya Sean berusaha untuk mengambil sebuah buku di atas meja nakas untuk melihat sesuatu.


Karena Sean sangat tau, jika itu adalah buku yang selalu dibawa oleh Willona kemanapun dia pergi. Seperti sebuah buku catatan atau buku harian mungkin.


Namun tak sengaja Sean malah menyenggol gelas yang berisi dengan air mineral dan malah menjatuhkannya di lantai.


PRANGG ...


Gelas itu terjatuh dan pecah begitu saja. Dan seketika Willona segera membuka matanya dan terbangun karena merasa terkejut.


Willona terlihat gelagapan dan segera mencari asal suara pecahan itu, namun gadis cantik itu malah melihat di hadapannya sudah ada seorang pria berwajah pucat yang masih terbaring, namun sudah tersenyum hangat menatapnya.


Willona masih merasa seolah tak percaya dan hanya menganggap semua ini hanyalah mimpi saja. Sehingga gadis cantik ini hanya tersenyum lebar dan mulai mendaratkan kembali kepalanya di atas brankar sambil memandangi Sean.


"Andai semua ini bukan mimpi ... pasti aku akan merasa sangat bahagia dan bersyukur, Kak." ucap Willona masih tersenyum menatap Sean.


Sean juga masih tersenyum dengan hangat dan mengusap kepala Willona dengan lembut.

__ADS_1


"Ini bukan mimpi, Willona. Ini adalah nyata ..." ucap Sean berusaha untuk sedikit mengeraskan suaranya.


"Apa? Ini bukan mimpi? Benarkah itu, Kak?" ucap Willona yang masih saja mengira jika semua ini adalah mimpi.


Bahkan Willona mulai memberanikan diri untuk mengusap sisi samping kanan wajah Sean, karena menganggap semua ini hanyalah mimpi saja.


"Ini bukan mimpi, Willona sayang. Aku sudah bangun ... arghh ... kepalaku rasanya masih sakit dan berat sekali, Willona." ucap Sean lirih sambil memegangi kepalanya yang masih terlilit dengan perban.


Willona segera duduk dengan tegap dan mengucek kedua matanya selama beberapa saat untuk memastikan jika semua ini adalahmemang nyata. Dan ternyata semua ini memang nyata!! Sean telah bangun!!


"Kaka ... aku tidak sedang bermimpi ya rupanya!" ucap Willona dengan senyum lebar dan wajahnya terlihat sangat berbinar.


"Iya, Willona. Tapi kepalaku sakit sekali ... tolong panggilkan dokter ..." ucap Sean begitu pelan dan masih memegangi kepalanya.


"Oh ... i-iya, Kak. Tunggu sebentar ..." ucap Willona begitu gelagapan dan segera berdiri dan memanggil seorang dokter atau perawat dengan sebuah tombol kecil berwarna merah yang berada di atas nakas.


Berkali-kali Willona menekan tombol merah itu, agar segera mendapatkan respon dari pihak rumah sakit.


Rasanya Willona begitu tak tega menyaksikan Sean dalam kondisi yang seperti itu. Tubuhnya terlihat lebih kurus, wajahnya juga masih terlihat sangat pucat, ditambah kondisinya saat ini ketika baru sadar menahan rasa sakit pada kepalanya.


"Emhhh ... sakit sekali, Willona ..." rintih Sean dengan mata yang mulai menyipit kembali seakan mulai terpejam.


"Kak. Kakak harus tetap kuat. Aku akan menjemput dokter. Kakak tunggu sebentar!" ucap Willona memutuskan untuk meninggalkan tempat ini dan mencari sang dokter.


Namun baru saja Willona sampai di pintu, dia berpapasan dengan sang dokter yang sudah datang bersama seorang perawat.


"Dok, tolong, Dok ... kak Sean sudah sadar ... tapi dia mengeluh kepalanya sangat sakit." ucap Willona dengan terburu dan sangat khawatir.


"Baik, saya akan memeriksanya dulu. Nyonya bisa menunggu sebentar di luar." ucap sang dokter dengan ramah.

__ADS_1


Willona mengangguk pelan masih dengan raut wajah yang terlihat penuh kekhawatiran. Dengan langkah yang begitu berat, akhirnya Willona mulai meninggalkan ruangan ini.


Selama beberapa saat Willona menunggu di luar ruangan dengan keadaan hati yang begitu tidak menentu dan tidak tenang karena terus saja mengkhawatirkan Sean.


Willona seakan tak pernah merasa lelah sedikitpun untuk selalu menemani, menjaga dan mendoakan kesembuhan Sean. Meskipun luka yang diberikan oleh Sean di masa lalu cukup menorehkan rasa sakit di dalam hatinya, namun kali ini Willona tak pernah menyesali setiap detik yang pernah dia lalui.


Mendapatkan sebuah kesempatan untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu adalah sesuatu yang sangat luar biasa! Dan kali ini Willona begitu mengharapkannya.


Gadis cantik itu kini sudah terduduk lemah di sebuah bangku panjang di depan ruangan rawat president suites yang ditempati oleh Sean selama hampir 1 minggu ini.


Tak lupa Willona juga menghubungi Marisha dan kedua orang tuanya untuk memberitahukan keadaan Sean saat ini.


Hingga akhirnya, setelah beberapa saat kini pintu ruangan rawat Sean mulai terbuka. Seorang dokter dan perawat juga terlihat mulai keluar dari ruangan itu.


Dengan begitu bersemangat kini Willona segera bangkit dari tempat duduknya dan lekas menghampiri sang dokter.


"Dokter, bagaimana keadaan suami saya?" tanya Willona tak sabaran.


"Tuan Sean baik-baik saja, Nyonya. Saya sudah memberikan obat untuk meringankan rasa pusing pada kepalanya." jawab sang dokter pria itu dengan sangat ramah.


"Alhamdulillah ..." ucap Willona begitu lega setelah mendengar kondisi dari Sean.


"Sebenarnya ini sungguh sangat luar biasa, Nyonya. Tuan Sean bisa melewati semua ini semua, ini sungguh adalah sebuah keajaiban. Terlebih tuan Sean hanya koma selama 6 hari saja. Ini sudah cukup bagus. Dan untuk rasa pusing yang dialaminya saat ini, itu adalah hal yang wajar. Namun usahakan selalu membuatnya merasa tenang dan nyaman. Hindari tuan Sean untuk memikirkan hal yang terlalu berat, agar dia tidak down lagi." ucap sang dokter dengan pelan dan ramah.


"Baik, Dokter. Terima kasih banyak." ucap Willona begitu tulus masih dengan mata yang berkilauan karena menahan tangis haru. "Bolehkan aku melihat dan menemani suamiku, Dokter?"


"Tentu saja, Nyonya. Silakan masuk." sahut sang dokter dengan seulas senyum. "Baiklah, saya juga harus segera memeriksa pasien lainnya lagi. Jika ada sesuatu bisa menekan bel tadi atau langsung ke ruangan saya saja."


"Baik, Dokter." sahut Willona dengan sangat bersemangat.

__ADS_1


Dokter itu mulai melenggang bersama sang perawat. Sementara Willona mulai menatap pintu ruangan rawat Sean dengan seulas senyum. Rasanya tak sabar untuk segera masuk ke kamar rawat itu kembali dan segera menemui Sean.


__ADS_2