The Tears Of Regret

The Tears Of Regret
Ungkapan Sean


__ADS_3

Dua bulan ini Keanu semakin terlihat lebih akrab dengan Willona. Bahkan mereka sering makan siang bersama, dan terkadang mereka juga makan siang bersama senior Rasya.


Sangat beruntung karena kampus dimana Willona belajar adalah sudah biasa didatangi oleh beberapa bintang terkenal. Bahkan ada beberapa model atau penggelut dunia hiburan lainnya yang juga kuliah di kampus itu.


Jadi dengan adanya sosok Keanu yang tiba-tiba juga kuliah di kampus Gunadharma juga tak terlalu membuat heboh para mahasiwa dan mahasiswi. Hanya saja sesekali masih ada beberapa mahasiswi yang meminta foto bersama dengan Keanu.


"Jadi kalian sudah lama saling mengenal ya?" tanya Rasya yang kali ini makan siang bersama Keanu dan Willona.


"Benar sekali, Senior Rasya. Keanu adalah temanku saat SMU. Namun kita terpisah karena Keanu harus pindah ke luar negeri saat itu." jawab Willona sambil menikmati seporsi bakso yang sudah dia pesan.


"Ya, Senior Rasya. Willona adalah salah satu teman terbaikku saat itu. Dan aku sudah pernah berjanji kepadanya akan kembali dan menjadi bintang yang hebat." jawab Keanu sambil menikmati jus jeruknya.


"Dan kamu sudah menepatinya, Keanu." sahut Rasya dengan sangat ramah.


"Ya, Senior. Dan karena Willona-lah aku bisa menjadi seperti ini." jawab Keanu dengan senyum lebar.


"Jangan berlebihan deh! Aku bahkan hanya sedikit memberikan nasehat saat itu. Kamu bisa seperti ini karena kamu memang sangat berbakat, Keanu. Selamat ya ..." ucap Willona dengan tulus dan tersenyum lebar.


Keanu dan Rasya hanya tertawa kecil mendengar ucapan dari Willona.


Sementara itu, sebenarnya cukup banyak mahasiswi yang kurang menyukai keakraban mereka bertiga. Terlebih mereka mengetahui, jika Willona sudah menikah dengan seorang pengusaha muda yang cukup terpandang dan populer.


"Willona bukannya sudah menikah dengan presdir Lucano Group? Mengapa dia masih saja bersikap genit seperti itu? Bahkan dia selalu bersama dengan kedua pria itu!" ucap salah satu mahasiswi yang kebetulan sedang berada di kantin dan duduk tak jauh dari mereka bertiga.


"Ya. Suaminya adalah Agna Sean Lucano. Seorang pengusaha muda yang cukup menggenggam dunia bisnis saat ini dan sangat berpengaruh kota ini. Apa dia tidak menghargai suaminya? Dasar wanita tidak benar!" timpal salah satu mahasiswi lainnya lagi dengan tatapan kebencian menatap Willona.

__ADS_1


"Ya! Setiap hari di kampus dia malah selalu menempel pada senior Rasya dan Keanu yang tampan itu. Menyebalkan sekali!! Mengapa senior Rasya dan Keanu mau-mau saja bersama dengan gadis genit seperti Willona?!" timpal salah satu mahasiwa lainnya sambil menusuk baksonya dengan garpu dengan sekuat tenaga saking kesalnya.


"Dasar keganjenan!" cemooh salah satu gadis itu kesal. "Bagaiman jika kita foto saja dan kita kirimkan foto itu untuk suaminya?"


"Boleh juga. Ayo cepat foto mereka!"


CEKREKK ...


CEKREKK ...


...⚜⚜⚜...


"Willona!! Sekarang jelaskan padaku!! Apa maksud dari semua ini!!" Sean rupanya sudah menunggu Willona dan sengaja pulang cepat ke rumah dan melayangkan sebuah amplop kecoklatan di atas meja.


"Buka dan lihat sendiri! Lalu jelaskan semua padaku!!" ucap Sean dengan wajah yangbsudah semakin memerah karena amarah yang sudah semakin memuncak.


Willona segera mengambil amplop kecoklatan itu dan segera membukanya untuk melihat isi di dalamnya. Betapa terkejutnya ketika melihat isi di dalam amplop itu, rupanya adalah beberapa foto bersama antara dirinya saat bersama dengan Keanu dan Rasya saat berada di kantin kampusnya


"Lihatlah!! Ada yang memotret kalian!! Bagaimana jika foto ini sampai beredar di media? Apa kamu sengaja melakukan semua ini, Willona? Apa kamu tidak memikirkan nama baik keluarga Lucano maupun Naresha? Apa kamu tidak memikirkan karis Keanu? Mengapa kamu selalu saja membuat masalah?" ucap Sean dengan nada bicara yang tinggi dan penuh dengan penekanan.


"Senior Rasya hanyalah seniorku. Dan Keanu adalah teman lamaku? Lalu apa salahnya, Kak? Dimana hubungan yang salah? Apakah aku tidak boleh berteman dengan siapapun?" tanya Willona tak mengerti dengan cara berpikir Sean yang selalu saja hanya memikirkan nama baik keluarga besarnya saja, tanpa memikirkan perasaan Willona sama sekali.


"Itu adalah pemikiranmu! Pemikiran orang lain tentu saja tidak akan seperti itu! Mereka hanya melihat tanoa mencari tau apa dan bagaimana? Mereka hanta menyimpulkan apa yang mereka lihat!" ucap Sean mulai menurunkan intonasi bicaranya, meskipun masih saja terdengar sangat menekan.


"Jika kakak ingin semuanya baik-baik saja, maka sebaiknya kita segera berpisah saja. Dengan begitu mereka tak akan pernah men-judge buruk nama keluarga besar kakak. Dan kakak tak perlu khawatir lagi, karena perbuatanku yang kakak anggap tidak pantas." ucap Willona dengan sepasang matanya yang sudah mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


Lagi-lagi mendengar pembicaraan itu membuat Sean menghela nafas untuk beberapa saat. Dan tiba-tiba saja Sean mulai menyadari sesuatu, jika cincin pernikahan yang seharusnya dupakai oleh Willona kini sudah dilepaskan oleh Willona.


Dan hal itu tentu saja membuat Sean semakin frustasi dan semakin pusing.


"Willona!! Dimana cincinmu?" tanya Sean kembali menaikkan intonasi bicaranya 1 oktaf.


Willona mulai melihat jemarinya sendiri dan baru saja menyadari jika tadi pagi dia melepasnya karena ada sebuah pratikum di kampusnya yang mengharuskan semua mahasiswa dan mahasiswi melepas cincin yang sedang dipakai. Dan hingga saat ini Willona masih belum memakainya kembali karena lupa.


"Uhm ... itu ... tadi pagi ... aku melepasnya karena ..."


"Karena kamu benar-benar ingin berpisah denganku? Begitu, Willona?" potong Sean dengan mata yang sudah memerah menatap Willona.


"Anggap saja begitu. Karena seharusnya saat ini kita sudah berakhir, Kak. Aku ke kamar dulu. Aku lelah sekali ..." ucap Willona begitu lirih dan mulai berbalik.


"Willona, tunggu!! Aku belum selesai bicara!" ucap Sean dengan cepat.


Willona menghentikan langkah kakinya kembali, namun masih saja membelakangi Sean. Sementara Sean kini mulai melenggang mendekati Willona hingga mereka saling berhadapan.


Perlahan Sean memberanikan dirinya untuk meraih jemari Willona meskipun sebenarnya Sean masih sangat ragu-ragu untuk melakukannya. Selama beberapa saat masih saja tak terjadi perbincangan apapun.


Mereka berdua masih saling terdiam. Bahkan Willona masih saja menunduk dan tidak memandang Sean sama sekali. Tidak seperti Sean yang selalu menatap gadis itu dengan tatapan nanar.


"Willona ... aku akan tanyakan sekali lagi padamu ..." ucap Sean dengan hati-hati dan sedikit bergetar. "Apakah kamu benar-benar ingin berpisah denganku? Apakah kamu benar-benar tidak ingin memberikan sebuah kesempatan untukku? Untuk menjadi suami yang layak untukmu?" imbuh Sean setelah menurunkan egonya yang cukup tinggi hingga akhirnya kata-kata itu akhirnya terucap juga dari mulutnya.


Willona yang mendengarkan ucapan itu sebenarnya merasa cukup terkejut. Gadis yang memiliki kecantikan alami itu kini mulai mendongak memberanikan diri untuk menatap Sean.

__ADS_1


__ADS_2