The Tears Of Regret

The Tears Of Regret
Sean Berubah?


__ADS_3

Suami Willona? Jadi pria ini yang bernama Sean dari keluarga Lucano? Ahh ... aku sudah salah mengira karena Willona malah memanggilnya dengan panggilan kakak. Pasti Sean akan sangat marah deh karena melihat seakan aku sudah berani untuk menggoda Willona di hadapannya. Tapi, mengapa Willona memanggilnya kakak? Ini sedikit aneh ... hmm ...


Batin Rasya masih sedikit bingung dengan hubungan mereka berdua yang menurutnya sedikit aneh itu.


"Ya sudah. Kita makan dulu yuk sebelum pulang, Sayang!" ajak Sean sengaja melakukannya dengan manis di hadapan Rasya.


"Aku sudah makan. Tapi ... aku akan menemani kakak jika kakak mau." jawab Willona masih dengan ramah sepertu biasanya.


Cihh ... lagi-lagi gadis ini memanggilku dengan kakak? Apa dia memang sengaja melakukannya? Apa Willona ada sesuatu dengan pria ini? Atau ... apakah dia ingin mempermalukanku?! Cih ...


Batin Sean mulai merasa kesal kembali, namun Sean segera menutupinya dengan sikapnya yang begitu manis dan terlihat seperti seorang suami idaman yang sangat sempurna.


"Baiklah. Jika seperti itu kamu temani aku makan dulu ya, Sayang." ucap Sean denga sangat manis dan mulai meraih jemari Willona. "Ayo .. "


"Oh. Iya ... maaf ya, Senior Rasya. Tapi aku harus menemani suamiku makan dulu." ucap Willona dengan ramah dan beralih menatap Rasya.


"Tidak masalah kok. Kamu pergilah dulu. Jangan segan untuk meminta tolong lagi padaku jika ada yang tidak kamu pahami." Rasya menyauti dengan ramah.


"Baik. Terima kasih, Senior Rasya." sahut Willona lagi masih dengan ramah.


Sean yang merasa tak dihiraukan oleh mereka berdua, kini segera menarik Willona untuk segera masuk ke dalam Lexus hitam metalik itu.


Setelah menghidupkan mesin mobil itu, Sean segera mengemudikannya dengan kecepatan standar. Raut wajahnya masih terlihat kesal dan tentu saja hal seperti itu sudah sangat biasa disaksikan oleh Willona sebelumnya.

__ADS_1


"Kamu selalu makan siang di kampus ya? Tidak pernah makan di luar kampus?" tanya Sean mulai membuka perbincangan setelah beberapa saat mereka hanya saling terdiam saja.


"Ya. Jika keluar kampus maka akan terlalu lama. Kalau tidak biasanya kami akan memesan makanan dari luar." jawab Willona seadanya.


"Kami? Kamu bersama dengan temanmu? Ngomong-ngomong aku belum pernah bertemu dengan tema-temanmu." sahut Sean yang masih fokus mengemudikan mobilnya.


"Ya, Kak. Aku sering makan di kantin bersama dengan senior Rasya." jawab Willona dengan jujur.


"Apa? Kamu dan cowok tadi setiap hari makan siang bersama?" tanya Sean hampir tak percaya.


"Iya, Kak. Semenjak Valen pindah kuliah jam sore, aku hanya bersama dengan senior Rasya." jawab Willona lagi.


"Tapi, Willona ... bagaimana jika ada orang lain yang tidak menyukai keluarga kita melihat semua itu dan memanfaatkan semua ini untuk menjatuhkan keluarga kita?" tanya Sean yang sebenarnya mengkhawatirkan nama baik keluarganya.


"Cinta? Aku tidak pernah terang-terangan saat berada di luar bersama dia. Dan aku juga begitu berhati-hati selama ini kok. Hubunganku bersama dengan cinta hanya kamu saja yang mengetahuinya. Selebihnya hanya teman dekat kami saja ..." jawab Sean.


"Oh ... begitu ya. Ya sudah, semoga kakak bisa segera bersatu ya dengan Cinta." jawab Willona dengan tulus dan masih memandangi gedung-gedung tinggi pencakar langit yang seakan-akan saling berlomba-lomba untuk menggapai langit yang tinggi.


"Terima kasih. Semoga kelak kamu juga bisa bertemu dengan lelaki yang sungguh-sungguh menyayangi dan mencintaimu."


"Hhm. Iya, Kak. Terima kasih." ucap Willona dengan tulus. "Mengapa kakak pulang secepat ini dari kantor? Dan mengapa kakak datang ke kampusku? Ini tidak seperti biasanya. Apa ada hal lain yang ingin kakak sampaikan padaku?" imbuh Willona mulai beralih menatap pria yang masih fokus untuk mengemudikan Lexus hitam metalik ini.


"Tidak ada kok. Kebetulan hari ini tidak banyak pekerjaan di kantor. Dan tiba-tiba saja aku ingat kamu memiliki beberapa tugas yang tidak bisa kamu kerjakan. Jadi aku memutuskan untuk pulang lebih cepat saja."

__ADS_1


"Uhm ... itu ... sebenarnya tugas itu sudah aku selesaikan, Kak. Senior Rasya membantuku mengerjakannya tadi." jawab Willona dengan hati-hati.


"Apa? Pria itu lagi?" tanya Sean kembali merasa kesal karena merasa sudah dikalahkan begitu saja saat Sean sedang memiliki sebuah niat baik untuk Willona.


"Iya. Soalnya tugas itu harus segera dikumpulkan besok. Jadi senior Rasya menawarkan dirinya untuk membantuku karena mengetahui aku belum mengerjakannya. Sungguh aku masih sedikit bingung dan pusing membedakan beberapa bahasa pemrograman. Haha ... sepertinya aku harus lebih belajar dengan giat lagi." ucap Willona dengan tawa.


Dan jujur saja, ini adalah pertama kali Sean melihat Willona tertawa, karena biasanya Willona hanya bisa bersedih dan memasang wajah murung ketika sedang berhadapan dengan Sean.


"Baiklah. Mulai sekarang, setelah pulang ke rumah dan sebelum tidur aku akan mengajarimu sedikit tentang semua itu." ucap Sean tiba-tiba dan sukses membuat Willona bingung.


"Tidak perlu, Kak. Aku akan belajar sendiri saja." Willona berusaha untuk menolak niat baik Sean dengan sesopan mungkin karena tak ingin merepotkan Sean. "Setiap hari kakak selalu bekerja keras dan pulang terlambat. Kakak pasti sangat lelah. Kakak tidak perlu memikirkan aku. Aku akan belajar di kampus dan di rumah lebih giat lagi, Kak. Dan aku juga tidak ingin merepotkan kakak." imbuh Willona.


"Aku tidak merasa direpotkan kok. Tenang saja, Willona. Lagipula jika kita melakukan suatu hal sesuai dengan hobi, maka itu akan terasa sangat menyenangkan dan tidak melelahkan. Sejak kuliah, duniaku hanyalah berkutat hampir dengan hal pemrograman. Jadi hal itu sudah sangat tak asing untukku dan aku menyukainya." ucap Sean dengan nada bicara yang lebih santai.


"Wah, keren sekali! Padahal hal itu sungguh memusingkan lo, Kak. Apalagi saat aku baru mengenalnya dulu, rasanya sedikit aneh." Willona menyauti dan malah kembali teringat dengan dirinya di masa lalu yang begitu tak mengenali semua itu.


"Tidak juga kok. Asal tau kunci-kuncinya pasti akan mudah. Oh ya, jika kamu memang tidak menyukai jurusan itu, lalu mengapa kamu memilih jurusan itu? Bukankah akan lebih menyenangkan jika kamu memilih fakultas yang sesuai dengan keahlianmu saja?" ucap Sean yang tiba-tiba merasa ingin tau.


"Sebenarnya karena ayah yang memilihkannya untukku. Hehe ... ayah ingin sekali suatu saat putrinya yang bodoh ini juga menjadi seorang programer hebat seperti dia." jawab Willona dengan nada jenaka.


Mendengar ucapan dari Willona, membuat Sean tertawa kecil.


"Di dunia ini tak ada orang yang bodoh, Willona. Semua adalah tergantung dari kita yang mengasahnya. Pikiran adalah seperti parasut, akan berguna saat terbuka dengan baik ..." ucap Sean yang terdengar begitu bijak. Tidak seperti biasanya!

__ADS_1


__ADS_2