
"Jangan pergi ... tetaplah disini. Aku benci harus selalu sendirian saat hatiku remuk ..." ucap Sean begitu lirih masih dengan mata yang masih terpejam.
Willona mengurungkan niatnya kembali lalu mulai duduk di pinggiran tempat tidur Sean dengan tatapan nanarnya. Namun akhirnya gadis yang selalu terlihat cantik luar dan dalam ini mulai tersenyum tipis.
"Jangan pergi ... sendirian disaat terpuruk itu rasanya sangat menyakitkan." ucap Sean lirih masih dengan matanya yang terpejam.
Namun Sean sedikit menggeser tubuhnya dan mengangkat kepalanya lalu menggunakan paha Willona untuk bantalan kepalanya.
Dan tentu saja Willona cukup terkejut dengan semua ini. Bahkan Willona tak pernah membayangkan jika Sean yang selalu saja bersikap dingin itu kini akan bertingkah seperti ini.
"Temani aku dan jangan pergi ..." ucap Sean lirih dan terdengar begitu menyesakkan dada.
Willona memberanikan dirinya untuk mengusap rambut Sean yang masih cukup rapi karena sedikit diolesi dengan minyak rambut. Willona mengusapnya dengan lembut dan pelan.
"Aku tidak akan pergi, Kak. Aku akan menemani kakak ..." ucap Willona mengucapkannya dengan begitu lirih dan bergetar.
...⚜⚜⚜...
Malam berlalu dengan begitu cepat. Sinar mentari juga mulai menyinari dunia dengan cahayanya yang hangat.
Seorang pria masih lengkap dengan pakaian formalnya terlihat masih tertidur di atas pangkuan seorang gadis di dalam kamarnya. Sementara gadis itu menyandarkan tubuhnya pada sandaran tempat tidurnya.
Kini pria itu mulai membuka sepasang matanya dan sesekali mengerjapkan matanya.
"Arghh ... kepalaku masih terasa sedikit pusing." gumam pria itu memegangi kepalanya.
Setelah beberapa saat tersadar jika dia sedang tidur di atas pangkuan Willona, kini Sean segera bangun dan duduk. Sean menatap Willona yang masih tertidur dengan kening yang berkerut.
"Willona? Mengapa dia ada di kamarku? Dan mengapa aku tidur di pangkuannya dan memeluknya?" gumam Sean pelan sambil berusaha untuk mengingat sesuatu apa yang sudah terjadi.
Tadi malam aku pergi ke club malam bersama Willy dan minum cukup banyak. Dan aku tidak tau apa lagi yang sudah terjadi. Arghh ... gara-gara mabuk aku jadi tidak mengingat semuanya dengan baik! Apakah aku melakukan sesuatu yang konyol di hadapan Willona? Memalukan sekali!
__ADS_1
Batin Sean yang merasa cukup kesal dengan dirinya sendiri.
Willona mulai membuka sepasang matanya dan menyadari Sean yang rupanya sudah terbangun. Namun Willona masih belum bisa menggerakkan kakinya karena kakinya sedang kesemutan karena semalaman memangku Sean.
"Willona. Apa yang terjadi? Mengapa kamu ada disini? Apa aku melakukan sesuatu yang aneh kepadamu?" tanya Sean akhirnya.
"Aku berada disini karena kakak tidak mengijinkan aku pergi. Kakak minta ditemani dan tak mau sendirian." jawab Willona dengan jujur.
Pernyataan dari Willona tentu saja membuat Sean kehilangan wajahnya saking malunya. Dan seketika wajahnya terlihat begitu merah seperti tomat.
"Oh. Begitu ya ... baiklah sekarang kamu sudah boleh pergi! Pergilah ..." ucap Sean mengalihkan pandangannya agar Willona tidak melihat wajah Sean yang kini sudah menjadi sangat merah.
Sean juga terlihat menutupi sedikit wajahnya dengan tangan kanannya. Karena hal memalukan seperti ini baru terjadi pertama kalinya di dalam hidupnya.
Sean yang biasanya selalu terlihat begitu dewasa, dingin, keren, berkharisma, namun malam itu terlihat begitu lemah di hadapan Willona. Tentu saja semua itu membuat Sean malu dan frustasi.
"Baiklah. Aku pergi dan akan memasak dulu ..." ucap Willona berusaha untuk menggerakkan kakinya dan turun dari tempat tidur itu.
Namun dengan cepat Sean yang berada tak jauh dari Willona mulai menangkap dan menahan tubuh ramping itu. Tangan kirinya menahat punggung Wlliona, sementara tangan kanan ya meraih lengan kiri Willona.
GREPP ...
Pandangan mereka berdua saling bertemu selama beberapa saat dalam diam.
"Willona ... apa yang terjadi? Mengapa berjalan begitu saja tidak bisa?" ucap Sean masih saja dengan gaya bicara seperti biasanya yang dingin dan ketus.
"Maaf, Kak. Tapi kakiku masih terasa kram. Dan rupanya aku masih belum bisa berjalan." jawab Willona.
"Arghh ... kalau begitu mengapa tidak mengatakannya padaku dan malah memaksakan diri untuk tetap berjalan sendiri?" gerutu Sean lalu mulai menggendong depan Willona lalu mendudukkannya di atas tempat tidurnya.
"Maaf, Kak." ucao Willona merasa tak enak.
__ADS_1
"Kakimu kram karena semalaman aku berbaring di atasnya bukan? Uhm ... maksudmu ... kamu memang tak pernah mengalami hal ini sebelumnya bukan?" tanya Sean sedikit kacau.
"Tidak, Kak. Aku tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya." jawab Willona seadanya.
"Baiklah jika seperti itu. Tetaplah disini dulu hingga kakimu sudah mulai membaik kembali. Aku akan mandi sebentar. Setelah itu kita akan sarapan bersama." ucap Sean mulai berjalan mendekati lemari pakaiannya untuk mencari pakaian ganti.
"Kalau begitu aku akan masak dulu, Kak. Soalnya aku sama sekali belum memasak apapun." ucap Willona berniat untuk segera turun dari pembaringan kembali.
"Willona!! Tetap disitu dan jangan pergi kemanapun saat aku kembali! Kamu tidak perlu memasak. Kita makan di luar bersama saja! Lagipula ini juga akhir pekan, istirahat dan berliburlah dulu. Nanti sore akan ada asisten rumah tangga yang datang kok." ucap Sean mulai menuju ke dalam kamar mandi di dalam kamarnya.
"Hhm. Baiklah ..."
...⚜⚜⚜...
Sean mengajak Willona untuk mengunjungi sebuah restoran untuk menikmati sarapan hari ini. Sebenarnya keadaan hati Sean masih belum merasa lebih baik.
Namun dia juga tak tega jika harus membiarkan Willona sedikit kesusahan untuk mengurus semua pekerjaan rumah. Apalagi semalama Willona rela menjadi bantal untuknya hingga kaki Willona kram.
"Makanlah yang banyak. Pesan apapun yang kamu mau." ucap Sean datar sambil melihat buku menu.
"Hhm ... aku sedang ingin sekali makan bakso, Kak."
"Baiklah. Kamu boleh memesannya. Pesan juga yang lainnya." sahut Sean tanpa menatap Willona.
"Aku mau cwangki dan jus melon saja, Kak. Sepertinya itu sudah cukup." ucap Willona sambil menutup buku menu itu kembali.
"Baiklah. Kami memesan cwangki 2, jus melon 1, dan jus alpukat 1. Buatkan juga cwie mie 2 porsi ya ..." ucap Sean saat seorang pelayang wanita mulai menghampiri mereka berdua.
"Baik. Silakan tunggu, Tuan." sahut pelayan wanita itu lalu segera berlalu begitu saja.
"Apa itu cwimie, Kak?" tanya Willona yang merasa cukup asing dengan nama makanan itu.
__ADS_1
"Cwie mie itu itu adalah makanan khas dari Malang, Jawa Timur. Sajian ini berupa mi ayam dengan topping daging ayam giling tanpa kecap manis dan biasanya disajikan dengan selada. Kamu cobain ya. Itu adalah salah satu makanan kesukaanku." sahut Sean tersenyum tipis.