
Seorang pria terlihat sedang terduduk di balik pohon besar itu. Pemuda yang berpakaian cukup rapi dengan setelan jas itu terlihat sedang mengobati luka pada kakinya.
"Siapa kamu dan apa yang sedang kamu lakukan disini?" selidik Willona dengan sangat hati-hati.
"Aku adalah Jancent, dan tanganku sedang terluka." ucap pria itu yang sepertinya memang sedang terluka.
"Jancent siapa? Dan mengapa kamu bisa terluka disini?" tanya Willona lagi masih dengan hati-hati.
"Aku datang untuk mengantarkan ibuku ke pesta ulang tahun paman Rezvan. Dan aku hanya ingin menyelamatkan kucing yang terjebak di atas pohon. Namun saat aku mau turun, ranting yang aku naiki tiba-tiba saja patah. Dan tanganku malah terkena pecahan botol minuman yang sedang aku bawa tadi." ucap pemuda yang memperkenalkan dirinya sebagai Jancent.
Willona yang melihat tangan pemuda itu terluka kini berinisiatif untuk mendekatinya dan mulai mengambil sebuah sapu tangan dari dalam sling bag yang masih tergantung pada bahu kiri Willona.
Willona mulai jongkok dan membersihkan luka itu seadanya lalu mulai melilitnya dengan sapu tangannya.
"Mungkin aku hanya bisa membantu seperti ini saja. Setelah pulang obatilah dengan benar." ucap Willona dengan ramah.
"Terima kasih. Siapa namamu?" tanya pemuda itu mulai beralih menatap Willona.
"Aku adalah Willona. Baiklah ayo masuk ke dalam. Sebaiknya kamu beristirahat di dalam saja." ucap Willona mulai bangkit dan berdiri lagi.
"Tolong aku, Willona." ucap Jancent mengulurkan tangan kirinya ke arah Willona agar Willona membantunya untuk berdiri.
Willona yang pada dasarnya adalah seorang gadis yang baik, ramah dan suka menolong kini mengulurkan tangannya untuk membantu pemuda yang baru saja dikenalinya itu.
"Terima kasih ya." ucap Jancent dengan tulus.
"Sama-sam ..." sahut Willona dengan ramah.
"Willona!!" tiba-tiba saja ada seorang pria yang memanggil namanya dengan begitu melengking dan seketika membuat Willona dan Jancent mulai beralih menatap pria yang baru datang itu.
__ADS_1
Terlihat Sean sudah berdiri tak jauh dari mereka berdua. Pandangannya terlihat begitu tajam dan menusuk menatap Willona dan Jancent secara bergantian.
Hingga akhirnya Sean mulai melenggang dengan langkahnya yang begitu lebar dan gagah mendatangi Willona dan Jancent.
GREPP ...
Sean mulai meraih dan menarik lengan Willona dengan sangat kasar, "Ikut bersama denganku sekarang juga!" tandas Sean lalu mulai menarik Willona begitu saja.
Willona menurut dan mengikutinya saja dan hanya bisa menatap Jancent sebelum dia mengucapkan sepatah kata perpisahan terlebih dulu.
BATSS ...
Dengan sangat kasar Sean mulai menghempaskan tangan Willona ketika mereka sudah sampai di ruangan sebelah yang kebetulan sedang tak ada seorangpun disini.
"Apa yang sudah kamu lakukan dengan berduaan bersama pria asing di tempat remang-remang seperti itu? Apa kamu ingin menghancurkan nama baik keluarga kita? Apa kamu ingin merusak penilaian orang terhadap pernikahan kita? Apa kamu sedang ingin mempermalukanku, Willona?!" ucap Sean begitu dipenuhi dengan amarah.
Wajah putihnya kini sudah mulai memerah karena menahan amarahnya agar tidah semakin meluap lagi.
"Bukan ... bukan seperti itu, Kakak. Aku hanya menolong dia. Tangan dia terluka dan aku hanya sedikit mengobati lukanya. Maaf ... aku sama sekali tidak bermaksud untuk mempermalukan kakak." ucap Willona menunduk dan tak berani untuk menatap Sean.
Sean menghembuskan nafas kasarnya ke udara dan sedikit mengusap rambutnya yang sudah begitu rapi ke belakang.
"Maaf, Willona. Aku sudah terlalu kasar padamu. Aku baru saja menerima telpon dari asistenku dan perusahaan kami baru saja kehilangan salah satu tender." ucap Sean memejamkan sepasang matanya dan memijat keningnya karena sangat bingung.
"Oh ... sabar, Kak. Mengkin kedepannya kakak akan mendapatkan kesempatan yang lebih baik lagi. Asal kakak tetap berusaha dengan baik." ucap Willona berusaha untuk menenangkan suaminya yang baru saja mendapatkan sebuah masalah.
"Ya. Kau benar sekali, Willona." jawab Sean masih terlihat begitu pusing.
"Ya sudah. Sebaiknya untuk urusan pekerjaan dipikirkan nanti setelah pulang saja. Kasihan ayah jika sampai bersedih karena mengetahui masalah ini. Terlebih hari ini adalah hari bahagia dan hari ulang tahun ayah." ucap Willona tanpa sadar dan terlalu bersemangat untuk sedikit menghibur Sean.
__ADS_1
Namun tiba-tiba saja Willona mulai menutup rapat kembali murutnya karena khawatir Sean akan sangat marah karena sudah merasa digurui oleh Willona. Namun rupanya sangat di luar dugaanya, Sean tidak marah! Namun malah bersikap tidak seperti biasanya yang selalu dingin.
"Ya. Kamu benar, Willona. Terima kasih karena sudah mengingatkanku. Aku harus bisa mengatasi masalah perusahaan tanpa campur tangan dari ayah. Aku tak mau dianggap tidak becus ..." ucap Sean yang sangat berbeda dari biasanya.
Namun rupanya mereka berdua sudah diamati oleh seseorang. Yaitu bibi Daisy dan juga beberapa keluarga Lucani. Mereka mengawasi Sean dan Willona karena merasakan ada sedikit kejanggalan.
Namun rupanya Sean juga menyadari semua itu, hingga akhirnya Sean juga memutuskan untuk kembali berakting di hadapan mereka.
"Sayang ... terima kasih ya." ucap Sean mulai memperlakukan Willona dengan sangat manis dan sedikit mendekati Willona hingga memeluk Willona.
"Sayang?" bisik Willona merasa sangat kebingungan, karena setau gadia cantik ini, di ruangan ini tak ada siapapun kecuali dirinya dan suaminya saja.
Lalu mengapa tiba-tiba Sean kembali berakting? Mungkin seperti itulah yang sedang dipikirkan oleh Willona saat ini.
"Ada bibi Daisy dan bibi Hana yang sedang mengawasi kita. Sebaiknya tahan sebentar dulu ..." ucap Sean berbisik.
"Oh ... baiklah ..." sahut Willona menurut saja.
Namun rupanya bibi Daisy dan bibi Hana masih saja mengawasi Willona dan Sean, seakan-akan masih mencurigai pasangan pengantin baru itu. Hingga akhirnya kini Sean mulai memilih sebuah sandiwara yang akan lebih meyakinkan mereka berdua lagi.
Sean mulai melepas pelukannya dan menunduk untuk menatap lekat Willona. Sedangkan Willona mulai mendongak dan menatap pria yang secara hukum dan agama sudah menjadi suami sah-nya itu dengan tatapan yang begitu kebingungan.
"A-ada apa, Kak?" tanya Willona kebingungan dan sedikit membeku karena pandangan mereka berdua yang sangat dekat itu.
Sean mulai mengusap lembut bibir Willona dan mulai berbisik kembali.
"Mereka masih saja mengawasi kita. Jadi ... untuk meyakinkan mereka ... mari kita berciuman ..." ucap Sean begitu lirih dan sangat terpaksa.
"Berciuman?" ucap Willona sangat terkejut bukan main.
__ADS_1
"Tak ada pilihan lain, Willona! Mereka masih saja mengamati kita dan berada di arah jam 1 dari posisiku ..." ucap Sean masih berbisik.