
Willona mulai menatap pintu ruangan rawat Sean dengan seulas senyum. Rasanya begitu tak sabar untuk segera masuk ke kamar rawat itu kembali dan segera menemui Sean.
Dengan langkah yang sedikit dipercepat, akhirnya Willona sudah mencapai pintu ruangan rawat Sean. Dengan jantung yang berdegup sangat kencang Willona mulai membuka pintu ruangan rawat Sean.
CEKLEKK ...
Willona mulai memasuki ruangan rawat itu dan melenggang mendekati brankar. Terlihat seorang pria yang masih terbaring di atas brankar dengan mata terpejam.
Willona mulai menarik kursi dan duduk di sebelah brankar. Kali ini gadis cantik ini terlihat semakin bersemangat saat menjaga Sean. Dan rasanya tak sabar untuk menantikan Sean membuka matanya kembali.
Namun karena terlalu lama menunggu, akhirnya Willona malah tertidur lagi dengan kepala yang diletakkan di atas.
Setelah beberapa saat akhirnya Sean kembali terbangun, dan kali ini kepalanya sudah terasa lebih ringan, tidak seperti saat pertama Sean tersadar.
Dan rupanya pergerakan dari Sean juga membuat Willona kembali terbangun.
"Kak Sean ..." ucap Willona begitu sumringah ketika bisa menatap sepasang mata bening yang biasanya selalu terlihat begitu dingin dan tajam itu.
"Willona ..." ucap Sean lirih.
"Ya, Kak? Apa kakak sedang butuh sesuatu? Aku akan segera ambilkan jika kakak mau sesuatu. Katakan saja, Kak ..." ucap Willona sangat bersemangat.
"Aku tidak mau apa-apa, Willona ..." sahut Sean begitu lirih dan hampir saja suaranya tak terdengar oleh Willona. "Sudah berapa hari aku tidak sadarkan diri, Willona?"
"6 hari, Kak." sahut Willona masih menghiasi wajahnya dengan senyuman penuh kelegaan.
"Hhm ... 6 hari ya. Apa kamu selalu berada di rumah sakit dan menemaniku, Willona? Karena aku ... selalu bermimpi bertemu denganmu dan mendengar suaramu. Dan sebenarnya semua itu terasa begitu nyata. Bukan hanya seperti sebuah mimpi saja." ucap Sean menatap Willona lurus-lurus dengan kening yang sedikit berkerut.
__ADS_1
"Uhm ... iya, Kak. Setelah pulang dari kampus, aku selalu datang ke rumah sakit untuk menemani kakak." ucap Willona dengan jujur.
"Willona ... terima kasih ya. Dan ... aku sungguh minta maaf karena selama aku sakit, aku sudah sangat menyusahkanmu." ucap Sean begitu menyesal.
"Kakak ini bicara apa? Aku tidak merasa disusahkan sama sekali kok. Aku senang kok bisa menemani dan menjaga kakak. Namun aku merasa lebih senang saat aku melihat kakak sudah sadar kembali." ucap Willona dengan tulus. "Terima kasih karena kakak sudah berjuang untuk melawan semuanya hingga kakak bisa bangun kembali ..."
Perlahan Sean mulai meraih jemari Willona dan mulai menggenggamnya.
"Hhm ... dan ini semua adalah karena dukungan dari kamu ... terima kasih, Willona ..."
Wiilona mengangguk pelan dan mulai tersenyum manis kembali.
"Jadi ... apakah aku sudah melewatkan akhir pekan, Willona?" tanya Sean lagi
"Besok adalah akhir pekan, Kak. Dan besok aku akan menepati janjiku padamu," ucap Willona tersenyum hangat menatap Sean.
"Apa maksud kakak?" tanya Willona tak mengerti.
"Aku tidak mau menunggu esok lagi. Aku mau kamu mengatakannya padaku sekarang juga!" ucap Sean menatap Willona lurus-lurus.
Sungguh di luar dugaan! Hal ini terlalu cepat dan tak pernah dibayangkan oleh Willona sebelumnya! Dan tentu saja permintaan dari Sean membuatnya sedikit merasa gugup dan kikuk.
"Se-sekarang, Kak?" ucap Willona terlihat sangat kikuk.
Sean tersenyum dan mengangguk pelan mengiyakan pertanyaan dari Willona.
"Ayo, katakan padaku apa yang sudah kau putuskan ..." ucap Sean lagi tak sabaran dan menatap Willona dengan senyuman tipisnya.
__ADS_1
"Uhm ... iya ... baiklah, Kak. Aku akan mengatakannya sekarang." ucap Willona mulai menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan.
Sedangkan Sean terlihat sudah semakin tidak sabaran untuk segera mendengarkan keputusan dari Willona.
"Begini, Kak. Setelah aku pikirkan dan pertimbangkan semua ... memang hubungan kita sudah sangat salah pada awalnya ... dan kita pernah menginginkan untuk sebuah perpisahan. Namun, sekarang aku sudah sadar ... jika perpisahan bukanlah yang aku inginkan, Kak. Aku ... tidak mau berpisah dengan kakak! Aku akan memperbaiki diriku dan akan menjadi seorang istri yang baik untuk kakak." ucap Willona memberanikan dirinya dan meremas pakaiannya sendiri saking gugupnya.
"Tidak, Willona. Akulah yang salah. Selama ini kamu sudah cukup baik menjadi istriku. Akulah selama ini yang sangat tidak baik untukmu. Dan aku berjanji, kali ini aku akan menebus semua kesalahanku di masa lalu! Aku akan menjadi suami yang baik untukmu. Dan aku tidak akan menyia-nyiakan kembali kesempatan ini. Aku berjanji padamu ..." ucap Sean mulai meraih kembali jemari Willona yang begiru hangat itu.
Gemericik air hujan mulai terdengar dan terlihat melalui sebuah ventilasi kaca yang begitu bening. Suasana yang begitu dingin saat ini entah mengapa terasa begitu hangat untuk mereka berdua.
Namun Willona tak bisa lagi menahan air mata harunya, hingga akhirnya air mata hangat itu mulai membasahi pipi mulusnya. Dan Willona juga malah semakin menunduk dan terisak.
Kebahagiaan dan kehangatan dari Sean seperti saat ini sebenarnya sudah cukup lama dinantikan oleh Willona, bahkan dari saat pernikahan itu terjadi. Saat pengikraran janji suci itu ... semua sudah menjadi harapan Willona saat itu.
Namun rupanya kenyataan tak sesuai dengan harapan dan impian saat itu. Dan sebenarnya keadaan itu semakin membuat Willona semakin merasa tak berdaya.
Dan Willona semakin terpuruk saat terlambat mengetahui penyesalan Sean saat itu. Namun, kini rupanya takdir kembali menyatukan mereka berdua. Bertemu kembali dalam sebuah harapan dan impian bersama.
Bersatu kembali dan memegang janji bersama kembali. Untuk selalu melengkapi dan saling menyempurnakan. Karena pada hakekatnya cinta adalah saling melengkapi, dan bukan saling menyakiti dan mengekang seperti hubungan mereka yang pernah terjadi sebelumnya.
"Willona ... tetaplah bersama denganku. Hingga rambutku mulai memutih, hingga raga ini tak bisa lagi beranjak seorang diri. Aku ingin menghabiskan sisa waktuku hanya bersama denganmu. Tetaplah bersamaku, berada disisiku dan melihat tumbuh kembang anak-anak kita ..." ucap Sean begitu tulus dan terdengar cukup bergetar dan membuat Willona semakin terharu.
Dan inilah pertama kalinya di dalam hidup Sean, Sean bisa mengatakan hal seperti ini. Sean yang selalu dingin kepada siapapun, kini bisa menurunkan egonya, hanya demi bisa mendapatkan sebuah kesempatan kedua dari seorang gadis yang pernah disakiti dan pernah dikecewakan olehnya.
Lagi-lagi Willona hanya bisa mengangguk pelan masih dengan air mata hangat yang membasahi pipinya. Sean mulai meraih dan menyeka air mata itu dengan begitu hati-hati.
Masih ada rasa sesak dan rasa bersalah di dalam lubuk hatinya yang terdalam. Namun Sean sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menebus semua kesalahannya melalui lembaran baru yang akan mereka lalui bersama.
__ADS_1
The end ...