The Tears Of Regret

The Tears Of Regret
Ada Apa Dengan Cinta ?


__ADS_3

"Ayo, Sayang kita segera bersiap! Ibu khawatir kamu kenapa-kenapa. Kamu juga harus sering-sering melakukan pemeriksaan untuk kesehatanmu. Apalagi kamu sedang dalam program untuk hamil. Jangan takut ... ibu akan menemanimu kok." bujuk Marisha lagi karena melihat Willona yang sedikit gelisah.


"Tap-tapi, Ibu ..." sela Willona masih merasa khawatir.


"Tidak apa-apa, Sayang. Ibu akan menemanimu jika kamu takut kok. Lagipula hanya pemeriksaan saja, biasanya hanya dengan pemeriksaan USG saja kok." bujuk Marisha kembali.


"Ib-ibu ... tapi ... tapi, Ibu ... aku ..." ucap Willona semakin merasa kebingungan.


"Tapi kenapa, Sayang?" tanya Marisha dengan kening berkerut menatap Willona masih dengan senyum tipisnya.


"Ibu ..." tiba-tiba saja dari arah pintu mulai terdengar suara seorang pria diiringi dengan derap langkah dengan ritme beraturan dari suara sepatu pantofel-nya.


Marisha dan Willona mulai beralih menatap pria itu. Dan rupanya dia adalah Sean yang sudah pulang dan masih mengenakan setelan lengkap pakaian dinasnya.


"Aku yang akan mengantarkan Willona untuk pergi ke dokter kandungan. Ibu tenang saja, dan Willona akan baik-baik saja koo." ucap Sean yang kini sudah berdiri tepat di samping Marisha.


"Hufft ... padahal ibu sangat ingin mengantar Willona." Marisha menyauti dengan wajah murungnya. "Atau bagaimana jika kita mengantarkan Willona bersama, Sayang? Ibu juga ingin ikut." imbuh Marisha mengusulkan.


"Tidak, Ibu. Aku saja yang mengantarkan Willona. Lagipula menurutku Willona hanya sakit perut karena sakit maag dia kambuh kok." jawab Sean lagi.


"Apa? Wah ... harus segera melakukan pemeriksaan! Ibu tidak mau cucu ibu kenapa-kenapa." sahut Marisha yang malah semakin heboh sendiri karena Marisha benar-benar mengira jika Willona sudah hamil saat ini.


Sean sedikit memijit keningnya karena merasa cukup binging dan kewalahan untuk menghadapi sang ibu saat ini.


"Iya, Ibu setelah ini aku akan mengajak Willona untuk pergi ke dokter kandungan. Tapi aku saja yang akan mengantarnya. Jika ada sesuatu aku akan segera memberikan kabar untuk ibu. Sebaiknya ibu pulang dan beristirahat saja. Bukankah besok ibu harus menghadiri pertemuan rutin ibu-ibu klub golf?" ucap Sean kekeh dan tidak mau jika Marisha tetap akan ikut ke rumah sakit.

__ADS_1


"Huft ... baiklah ... baiklah ... tapi setelah hasilnya keluar kamu harus segera menghubungi ibu ya!" jawab Marisha mengalah.


"Iya, Ibu. Ajak saja Keanu bersama ibu. Dia bilang dia kangen dengan ibu dan ayah." ucap Sean dengan asal agar Marisha juga pergi dengan mengajak Keanu.


Agar tak ada lagi yang mengganggunya dan Sean juga tak perlu melakukan drama di rumahnya sendiri serta bisa bertindak lebih leluasa.


"Baiklah. Kalau begitu ibu akan pulang dulu bersama dengan Keanu. Kamu jaga Willona dan calon cucu ibu baik-baik ya!! Awas jika sampai terjadi sesuatu dengan mereka berdua!" ancam Marisha menatap tajam Sean.


Sean merasa sedikit terkejut mendengar ucapan dari Marisha namun kembali memijit keningnya sendiri karena merasa cukup bingung dan pusing. Sementara Willona hanya meringis dan menggigit bibir bawahnya saja menatap ibu mertuanya.


"Iya, Ibu. Aku akan menjaga baik mereka. Tenang saja dan ibu tidak perlu khawatir." ucap Sean kembali.


"Ya sudah ibu pulang dulu. Bye, Sayang." ucap Marisha kembali beralih menatap Willona sebelum meninggalkan rumah ini.


Willona tersenyum manis dan mengangguk pelan, "Baik, Ibu. Hati-hati ya, Ibu."


Sean menghembuskan nafas kasarnya ke udara dan sedikit menyibak rambutnya ke belakang lalu mulai duduk di pinggiran tempat tidur Willona. Sementara Willona masih saja duduk di atas pembaringannya.


"Tumben kakak sudah pulang." ucap Willona membuka obrolan di antara mereka berdua.


"Aku merasa sedikit lelah. Jadi aku memutuskan untuk pulang cepat." jawab Sean dengan asal. "Ganti pakaian dan kita akan segera pergi ke rumah sakit!" imbuh Sean lagi dan sukses membuat Willona kebingungan.


"Tapi, Kak. Aku hanya sakit maag biasa saja. Dan sekarang sudah merasa lebih baik kok. Kita tak perlu ke rumah sakit." ucap Willona.


"Tidak apa-apa kok. Setidaknya agar ibu puas dan tidak mencurigai kita. Dan aku hanya ingin memastikan kesehatanmu saja kok. Aku juga akan berganti pakaian sebentar." ucap Sean lalu mulai bangkit dari duduknya dan segera meninggalkan kamar Willona.

__ADS_1


...⚜⚜⚜...


"Kurangi minuman yang mengandung kafein, alkohol, makanan asam, asin, berlemak dan pedas. Terlebih jangan mengkonsumsi semua itu ketika perut sedang kosong. Itu semua akan menjadi pemicu utama dan membuat asam lambung naik."


Seorang wanita yang kira-kira berusia 35 tahun dengan sebuah jas alamamater putih kebanggaanya menjelaskan sedikit pantangan untuk tubuh Willona yang memang sudah memiliki riwayat penyakit maag.


"Baik, Dokter. Aku lupa jika aku belum memakan apapun dan malah meminum kopi tadi pagi." jawab Willona meringis kecil karena merasa malu dan begitu ceroboh.


"Ingat itu baik-baik, Sayang. Kamu juga harus selalu mempertatikan dirimu sendiri sebelum memperhatikan orang lain." ucap Sean yang berbicara dengan hangat dan penuh kasih di hadapan dokter langganan keluarganya itu.


Willona yang mendengarkan ucapan dari Sean hanya tersenyum tipis dan mengangguk pelan saja.


"Jika kalian mau memeriksakan kandungan akan aku buatkan jam bertemu saat ini dengan temanku. Kebetulan saat ini dia sedang tugas pagi, jadi aku akan memintanya untuk mengosongkan waktu untuk kalian." ucap dokter wanita itu dengan sangat ramah.


"Oh ... kapan-kapan saja, Dokter Nina. Kami harus segera pergi ke suatu tempat setelah ini. Dan terima kasih banyak atas tawarannya. Kalau begitu kami permisi." ucap Sean dengan ceoat dan segera bergegas untuk mengajak Willona untuk meninggalkan ruangan dokter Nina.


"Permisi, Dokter." pamit Willona dengan rwmah dan mulai mengikuti Sean.


Mereka berdua mulai menyusuri lorong rumah sakit ini bersama. Namun tiba-tiba saja mereka berdua tak sengaja malah melihat Cinta yang sedang bersama seorang pria baru saja keluar dari ruangan seorang dokter spesialis kandungan.


"Cinta?" gumam Sean tak percaya.


Bukankah dia seharusnya sedang di Bandung? Aku bahkan baru saja mengantarkan dia kemarin sore. Lalu siapa siapa pria yang sedang berada bersama dengannya itu? Mengapa dia tidak memberikan kabar untukku jika menang sudah kembali ke Jakarta?


Batin Sean tak mengerti dan hanya bisa menatap Cinta dan pria itu yang sudah berjalan semakin jauh. Sebenarnya Sean merasa cukup tak sabar untuk segera mendatangi Cinta dan menanyakan semua yang terjadi saat ini kepada Cinta, namun Sean harus menahannya saat ini karena mereka sedang berada di depan umum.

__ADS_1


Dan Sean harus menunggu dan mengajak bertemu Cinta di waktu yang tepat untuk meminta penjelasan dari kekasihnya itu.


__ADS_2