The Tears Of Regret

The Tears Of Regret
Sebuah Kecelakaan Yang Terjadi ...


__ADS_3

Sean mengangkat tangan kanannya dan melihat jemarinya. Terlihat sebuah cincin pernikahan berwarna silver yang sedikit mengkilap saat terkena cahaya lampu melingkar manis pada jari manisnya.


Sean tersenyum hangat menatap cincin pernikahan itu, namun kini Sean mulai melepasnya sebentar untuk membersihkannya karena ada sebuah noda kecil yang menempel pada cincin pernikahannya.


Namun saat Sean mau memakai kembali cincin itu, tiba-tiba saja cincin itu malah terjatuh dan terlepas dari tangannya begitu saja dan menggelinding ke tengah jalan.


Tanpa melihat kiri kanan dan memperhatikan jalanan, Sean mulai melenggang untuk segera mengambil cincin pernikahannya itu kembali. Sean mulai jongkok dan memungut cincin itu.


Namun tiba-tiba saja ada sebuah cahaya yang begitu menyilaukan dan sebuah klakson dari sebuah mobil mulai terdengar.


TIINN ...


TIINN ...


Sean tidak sempat beranjak dari tempatnya saat ini dan hanya bisa mengangkat lengannya karena cahaya itu begitu menyilaukan matanya.


CCKKIITT ...


BRAKK ...


Mobil itu menabrak Sean dan membuat tubuh Sean sedikit terhempas hingga membuatnya seketika tak sadarkan diri.


Jemarinya terlihat sedikit berdarah dan masih menggenggam cincin pernikahan itu. Namun perlahan genggaman kuat itu mulai terlepas karena Sean yang sudah tak sadarkan diri.


Beberapa orang yang berada tak jauh dari tempat itu segera mendatangi Sean dan berusaha untuk menolongnya dan segera membawanya ke rumah sakit.

__ADS_1


...⚜⚜⚜...


Di sebuah ruangan rawat ICU terlihat dua orang wanita yang sedang menjaga seorang pasien yang masih belum sadarkan diri. Kedua wanita itu terlihat begitu sedih dan kalut saat ini.


Sementara seorang pria yang baru saja mengalami sebuah kecelakaan, kini masih terbaring dengan lemah di atas brankar dan masih belum sadarkan diri hingga saat ini.


Beberapa selang dan perban terlihat melilit beberapa anggota tubuhnya dengan rapi. Bahkan pria yang tak lain adalah Sean itu kini juga memakai alat bantu pernafasan.


Dan kondisinya saat ini begitu kritis dan koma karena Sean mengalami cedera kepala akibat sebuat benturan yang cukup keras. Tidak ada yang mengetahui apakah Sean akan benar-benar bisa bangun kembali atau tidak.


Karena cedera kepalanya sudah mengakibatkan pembengkakan dan pendarahan pada otaknya. Dan hal itu mengakibatkan penekanan pada batang otak sehingga merusak bagian otak yang berfungsi untuk mengatur kesadaran.


Willona sungguh tak menyangka hal seperti ini akan terjadi dan menimpa Sean. Gadis itu masih saja menangisi Sean karena merasa sangat bersalah. Karena beberapa saat yang lalu Sean berusaha untuk menghubunginya, namun Willona tak menyadari semua itu dan tidak mengangkat panggilan dari Sean.


"Disaat terakhir sebelum kecelakaan itu menimpa Sean, Sean menggenggam cincin pernikahan kalian. Bahkan cincin ini tak terlepas dari genggamannya saat dia sudah tak sadarkan diri." Marisha berkata begitu lirih dan mulai menyerahkan cincin pernikahan milik Sean.


"Akhir-akhir ini Sean sering sekali bercerita kepada ibu. Dia begitu bersemangat saat menceritakan tentangmu, Sayang. Meskipun Sean tidak mengatakannya secara langsung, namun ibu begitu memahaminya. Jika Sean memang benar-benar menyayangimu, Sayang." ucap Marisha lagi.


"Ini ... lihatlah ..." kali ini Marisha mulai menyodorkan sebuah dompet kulit berwarna hitam mengkilap kepada Willona. "Sean juga selalu menyimpan foto pernikahan kalian berdua di dalam dompet ini."


Willona mulai membuka dompet milik Sean, dan mulai melihat sebuah foto pernikahan mereka berdua. Willona mengenakan sebuah gaun indah berwarna putih. Sementara Sean mengenakan sebuah setelan jas berwarna hitam.


Mereka terlihat begitu cantik dan tampan dengan senyuman yang begitu berbinar. Meskipun selama ini pernikahan mereka hanyalah sebatas di atas kertas, namun kebahagiaan yang Willona rasakan dan senyumannya saat itu adalah nyata.


Rasa bersalah, penyesalan yang datang terlambat, kesedihan yang semakin menyelimuti hati Willona begitu membuatnya sesak dan tak bertenaga. Rasanya dunianya seketika menjadi roboh, langkahnya menjadi begitu berat.

__ADS_1


Air mata hangat itu kini kembali membasahi pipi putih Willona setelah melihat foto pernikahannya di dalam dompet Sean.


"Ibu ... maafkan aku. Ini adalah salahku. Seharusnya aku mengangkat panggilannya sore tadi. Mungkin saja jika aku mengangkat panggilan dari kak Sean, dia tidak akan mengalami semua ini. Ini swmua salahku. Hiks ..." ucap Willona begitu lirih dalam isak tangisnya.


"Sekarang apa yang harus aku lakukan, Ibu?" imbuh Willona dengan suaranya yang sudah semakin parau.


Marisha yang tak tega melihat menantunya bersedih dan menangis kini mulai meraih dan memeluknya dengan hangat.


"Kita hanya bisa beusaha memberikan perawatan terbaik untuk Sean dan kita hanya bisa untuk selalu mendoakannya. Jangan pernah lelah untuk terus berdoa dan selalu memberikan semangat untuk Sean agar bisa segera bangun kembali. Orang yang sedang koma, terkadang bisa mendengarkan apa yang sedang kita ucapkan. Jangan pernah bosan untuk memberikan semangat untuknya ... untuk tidak menyerah melawan mautnya." ucap Marisha lagi yang juga sudah kuasa untuk menahan air matanya.


Willona hanya mengangguk pelan dan masih terisak di dalam pelukan ibu mertuanya.


...⚜⚜⚜...


3 hari sudah berlalu, namun Sean masih juga belum membuka sepasang matanya dan belum terbangun. Rasanya begitu menyesakkan untuk Willona saat melihat keadaan Sean yang seperti ini.


Meskipun Sean pernah menyakiti Willona, namun sekalipun Willona tak pernah berharap jika Sean akan mengalami hal seperti ini.


Akhir-akhir ini Willona selalu saja menghabiskan waktunya di rumah sakit setelah jam kuliahnya berakhir. Bahkan Willona tak pernah merasa bosan untuk selalu bercerita tentang apapun yang dia alami saat di kampusnya.


Willona berharap Sean bisa mendengarnya dan Willona berharap ucapannya bisa merangsang otak dan tubuh Sean kembali agar bisa bergerak dan segera bangun kembali.


DRKK ...


Willona menarik sebuah kursi lalu duduk di samping brankar Sean. Willona menatap nanar wajah Sean yang masih terlihat sedikit pucat itu. perlahan Willona mulai memberanikan dirinya untuk meraih jemari Sean yang masih terasa begitu hangat itu, menandakan jika masih ada kehidupan di dalamnya.

__ADS_1


"Kak ... aku datang. Kak Sean apa kabar?" ucap Willona begitu lirih. "Hari ini ... dosen mata kuliah pemrograman Visual Basic memujiku kembali kak. Apa kakak tau, tugas program yang saat itu kakak ubah ketika kakiku sedang sakit ... rupanya program buatan kakak sangat disukai oleh dosenku, Kak. Terima kasih banyak ya, Kak. Kakak harus segera bangun kembali, karena aku ingin sekali mentraktir sesuatu untuk kakak." ucap Willona mulai berkaca-kaca.


Meskipun Willona mengucapkannya terdengar begitu ceria, namun kenyataannya sebenarnya semua itu cukup menyesakkan untuknya.


__ADS_2