
"Jam berapa sekarang? Mengapa baru pulang?"
Tiba-tiba mulai terdengar suara seorang pria yang sukses membuat Willona terkejut bukan main hingga membuat Willona sedikit terperanjat dan menghentikan langkah kakinya.
Rupanya Sean sudah duduk di atas sofa ruang tamu dan sepertinya memang sudah menunggu kehadiran Willona sejak dari tadi.
"Maaf, Kak. Aku keasyikan melihat konser dan bermain beberapa wahana." jawab Willona dengan jujur.
"Lalu mengapa sampai tak membaca pesan dariku? Kau juga tidak mengangkat panggilan dariku?" tanya Sean dengan begitu dingin.
"Ahh ... kakak mengirimkan pesan dan menghubungiku ya? Maaf aku tidak tau, Kak." sahut Willona sambil memeriksa kembali ponselnya.
Dan rupanya memang benar! Ada 5 pesan dari Sean dan 12 panggilan tak terjawab dari Sean.
Arghh ... mengapa aku sampai tidak menyadari semua ini? Bahkan aku tak sempat memainkan ponselku dan aku tak sempat memeriksanya sama sekali seharian ini. Aku terlalu keasyikan bermain dan melihat konser dan mengabaikan semua ini. Padahal kak Sean sedang kurang sehat ...
Batin Willona merasa sangat bersalah.
"Kakak sakit? Apa sudah minum obat?" tanya Willona terlihat khawatir.
"Ibu sudah datang dan mengurusku tadi!" tandas Sean dengan tegas.
"Syukurlah. Maafkan aku, Kak. Aku sungguh tidak tau karena aku tidak sempat memeriksa ponselku seharian ini, Kak." ucap Willona begitu memelas.
"Apakah sesibuk itu saat menonton sebuah konser? Kamu begitu menikmati saat berkencan bersama Keanu dan melupakan kewajibanmu sebagai seorang istri?! Bahkan kamu secara terang-terangan melakukan semua itu? Apa kamu tidak khawatir jika media sampai melihat semua ini? Kamu adalah istriku! Dan lagi ... Keanu adalah seorang bintang saat ini. Semua akan menjadi sangat berantakan jika ada seorang wartawan yang melihat semua kebersamaan kalian!" ucap Sean menandaskan dengan begitu tegas, dingin dan sangat menusuk.
__ADS_1
Bahkan ucapannya terdengar lebih tajam dari sebuat jarum yang menusuk dengan perlahan dan membuat Willona sedikit merasa kesal karena Sean selalu saja memojokkan dirinya selama ini.
"Kalau begitu mari segera selesaikan urusan kita!" potong Willona dengan pelan namun terkesan tegas. "Bukankah sudah saatnya kita mengakhiri semua drama ini?" imbuh Willona sudah dengan sepasang mata yang sedikit berair dan dadanya menjadi begitu sesak.
Entah mengapa? Tapi saat berada disisi Sean hanya ada kesedihan dan tak leluasa untuk bergerak ataupun bernafas. Selama ini Willona hanya bertahan dan menunggu hingga waktu itu tiba, agar dirinya benar-benar bebas dari topeng sebuah pernikahan itu.
Mendengar ucapan dari Willona seketika membuat Sean kembali terkejut dan sedikit mengkerutkan keningnya dan mulai bangkit dari duduknya. Mereka membuat kontak mata selama beberapa saat dalam diam.
Tatapan nanar, penuh dengan luka dan kesedihan yang menyesakkan tergambar dari pasangan suami istri di atas kertas ini. Sean mulai melenggang dengan langkah pelan dan semakin mendekati Willona.
"Kakak sudah menandatanganinya bukan?" tanya Willona kembali. "Jika memang kakak sudah menandataninya, maka aku akan segera mengemasi barang-barangku dan aku akan segera meninggalkan rumah ini." imbuh Willona kembali.
"Willona ... apa kamu benar-benar menginginkan semua ini? Apa kamu benar-benar ingin berpisah denganku?" tanya Sean begitu lirih dan masih menatap lekat Willona.
"Bukan aku yang menginginkannya, Kak! Namun sejak awal kakaklah yang menginginkan semua ini. Sejak pertama kali kakak sudah merancang semua ini ... kini aku juga sudah siap untuk perceraian ini." ucap Willona dengan suaranya yang begitu bergetar.
Sesungguhnya semua ini membuat Willona merasa cukup bingung dan tidak mengerti. Mengapa Sean tiba-tiba saja tidak mau untuk bercerai? Padahal selama ini Sean selalu saja menunggu saat-saat ini bukan?
Mungkin seperti itulah yang sedang dipikirkan oleh Willona saat ini. Dan kini mereka berdua sudah berdiri saling berhadapan dengan tatapan yang sulit untuk digambarkan.
"Mengapa? Mengapa kakak masih saja mau mengikatku? Mengapa kakak seperti ini? Seharusnya kakak segera menikahi Cinta bukan? Jadi segera ceraikan aku, Kak! Aku juga ingin bebas!" ucap Willona begitu membuat hatinya sendiri merasa sesak.
Dan Willona juga masih saja sampai sekarang mengira jika Cinta mengandung anak Sean.
"Kamu ingin bebas? Kamu merasa terkekang oleh pernikahan ini, Willona?" tanya Sean lirih dan menatap nanar gadis cantik di hadapannya saat ini.
__ADS_1
"Bagaimana aku tidak terkekang? Kakak dan Cinta sudah memiliki seorang anak, namun kakak tidak mau menceraikan aku ... lalu aku harus bagaimana, Kak? Aku tidak mau lagi menjadi penghalang antara kakak dan Cinta. Jadi ..."
"Cukup, Willona!" potong Sean menyela ucapan Willona. "Apa maksudmu aku dan Cinta memiliki seorang anak? Aku dan Cinta bahkan tak pernah melakukan hal semacam itu ..."
"Jangan berpikir aku adalah anak kecil yang mudah dibohongi, Kak. Jelas-jelas aku sudah mendengar semuanya saat di rumah sakit. Dan kalau boleh jujur, aku tidak peduli lagi dengan semua itu. Saat ini aku hanya ingin segera berpisah dengan kakak. Aku masih ingin mengejar mimpiku ... dan aku tidak mau terjerat dan terikat dalam hubungan yang mengekangku seperti saat ini." ucap Willona semakin berani untuk mengeluarkan uneg-unegnya.
"Tidak mau! Aku tidak mau kita berpisah!" tandas Sean dengan tegas.
"Mengapa? Mengapa kakak seperti ini? Mengapa kakak selalu saja mempermainkan kehidupan seseorang? Kakak yang meminta perceraian itu, namun kini kakak malah seperti ini ..." ucap Willona merasa sudah begitu lelah dan tak mengerti dengan apa keinginan Sean sebenarnya.
Otak, hati, pikiran, bahkan tubuhnya sudah terasa begitu lelah saat ini.
"Baiklah ... berikan waktu untukku selama satu bulan. Jika dalam waktu satu bulan ini kamu masih saja bersikeras untuk berpisah denganku, maka aku akan mengabulkan semua itu." ucap Sean setelah mempertimbangkan semuanya.
Meskipun sebenarnya Sean begitu berat untuk menyanggupi kemauan dari Willona untuk perpisahan ini.
Huft ... satu bulan? Memang apa yang akan terjadi dalam satu bulan ini? Tetap saja perceraian ini juga akan segera terjadi bukan? Lalu mengapa harus menunggu dulu selama satu bulan? Huft ... ya sudah ... aku tidak mau berdebat lagi. Aku lelah ...
Batin Willona yang lebih memilih untuk diam dan tidak menjawab lagi ucapan dari Sean.
"Ya sudah, sekarang segera mandi, tidur, dan istirahatlah." ucap Sean yang rupanya tak mau memperpanjang pembicaraan ini lagi.
Willona mulai melenggang meninggalkan Sean begitu saja dan menuju kamarnya untuk segera mandi dan beristirahat.
BLAMM ...
__ADS_1
"Argh ... mengapa aku malah menutup pintu terlalu keras? Pasti kak Sean mengira jika aku sangat menyeramkan saat kesal dan marah. Ugh ... sudahlah!! Sebaiknya segera mandi dan tidur saja!" gumam Willona mulai memutuskan untuk segera mandi.
...⚜⚜⚜...