The Tears Of Regret

The Tears Of Regret
Menghadiri Pesta Ulang Tahun Rezvan


__ADS_3

Kelap-kelip lampu kekuningan terlihat sudah menghiasi sebuah rumah yang berdiri dengan begitu megah dan kokoh. Bahkan halaman dari rumah tersebut juga sudah dihias sedemikian mungkin. Dan menampilkan kesan glamour dan menakjubkan.


Suara dari gemericik air mancur yang menghiasi halaman rumah itu terdengar seperti sebuah simponi indah yang mengalun beriringan dengan suara permainan dari orkestra yang sedang memainkan beberapa musik indah dan menenangkan hati di halaman dalam rumah besar keluarga Lucano ini.


Sebuah Lexus hitam metalik juga terlihat mulai menepi dan mulai memasuki pekarangan rumah yang memikili halaman yang cukup luas dan dipenuhi dengan beberapa tanaman yang sangat indah dan memukau itu.


Setelah beberapa saat kini terlihat seorang pria tampan namun berwajah dingin mulai menuruni Lexus hitam metalik itu. Pria bergengsi itu mengenakan balutan jas berwarna biru navy, terlihat begitu necis dan berkharisma.


Pria itu kini mulai membukakan pintu samping kemudi untuk seorang wanita yang tak lain adalah istrinya. Hingga akhirnya seorang gadis cantik dengan balutan gaun panjang tanpa lengan berwarna biru navy dengan berhiaskan manik-manik indah seperti kristal-kristal kecil yang menghiasi di beberapa bagian.


Gadis itu terlihat begitu cantik, anggun dan dewasa. Sementara sang pria terlihat begitu tampan, gagah dan berwibawa dengan pakaian mewahnya itu.


Mereka berdua adalah Sean dan Willona. Dan kali ini mereka sedang datang untuk menghadiri pesta ulang rahun Rezvan Lucano yang ke 50 tahun dan dirayakan di kediaman rumah besar Lucano.


Para tamu juga sudah berdatangan dan terlihat sedang berbincang dengan rekannya masing-masing. Tamu-tamu itu adalah bukanlah sembarang tamu, mereka adalah orang-orang yang cukup penting dan berpengaruh di kota besar ini.


Sangat terlihat dari penampilan mereka yang begitu elegan dan super mewah. Bukan hanya dari pakaian saja, namun segala aksesoris yang mereka kenakan adalah aksesoris branded dan tentunya juga limited edition.


Gaun-gaun, jas-jas yang mereka kenakan adalah rancangan dari desainer ternama tentunya. Dan tentu saja tidak semua orang bisa mendapatkannya dengan begitu mudahnya.


Sean mengangkat tangan kirinya dan memberikan sedikit ruang untuk Willona agar melingkarkan tangannya pada lengan Sean. Willona yang tanggap kini akhirnya mulai melingkarkan tangannya pada lengan sang suami. Meskipun sebenarnya masih terasa sedikit kikuk.


Pasangan pengantin baru yang selalu terlihat hangat dan manis di hadapan semua orang ini kini melenggang bersama untuk segera mencari dan menghampiri Rezvan dan Marisha yang sepertinya masih berada di dalam ruangan.


Hingga akhirnya kini mereka mulai melihat Rezvan dan Marisha yang sedang mrnyambut seorang tamu di tengah-tengah aula rumah besar Lucano.

__ADS_1


"Selamat malam, Ayah, Ibu." sapa Sean dengan hangat saat Sean dan Willona sudah berada di hadapan Rezvan dan Marisha.


"Wah putraku yang tampan dan menantuku yang cantik sudah datang rupanya." Marisha tersenyum lebar menatap Sean dan Willona secara bergantian.


"Iya, Ibu. Maaf kami sedikit datang terlambat karena jalanan sedikit macet." ucap Sean berbohong.


Padahal mereka berdua terlambat karena Sean yang harus mengantarkan kekasihnya yang benama Cinta untuk ke suatu tempat terlebih dulu.


"Tidak masalah kok, Sayang. Asal kalian sudah datang saja kami sudah senang." jawab Marisha mengusap lembut dagu tirus Willona.


Sangat terlihat, jika Marisha begitu menyukai dan menyayangi menantunya.


"Oh iya. Selamat ulang tahun, Ayah." Sean mulai memberikan sebuah bingkisan untuk Rezvan. "Semoga ayah sehat selalu." imbuh Sean dengan senyum lebar.


"Hm. Terima kasih, Sean." jawab Rezvan dengan senyuman hangatnya. "Oh iya, ajaklah Willona untuk makan atau berjalan-jalan dulu. Kami masih harus menjamu beberapa tamu undangan terlebih dulu." imbuhnya dengan ramah.


"Baiklah. Anggap saja rumah sendiri. Jangan sungkan, Sayang." ucap Marisha menatap hangat Willona dengan senyuman tipis.


"Baik, Ibu ..." sahut Willona pelan.


"Ayo, Sayang. Kita lihat taman di sebelah yuk!" Sean mulai benisiatif dan mengajak Willona kembali.


Sedangkan Willona hanya mengangguk pelan menandakan gadis cantik itu menyetujui ajakan dari suaminya.


Kini Sean dan Willona mulai melenggang bersama kembali, dan kali ini Sean tidak benar-benar mengajak Willona untuk melihat taman di samping rumah.

__ADS_1


Melainkan mereka hanya memasuki sebuah ruangan yang juga sudah dihias sedemikian mungkin. Dan di dalam ruangan itu juga ada beberapa tamu, namun tidak seramai di ruangan utama.


Beberapa hidangan makanan dan minuman juga sudah disajikan dengan sangat rapi di atas meja berbentuk bersegi panjang yang berukuran raksasa itu. Meja itu juga sudah dilapisi dengan sebuah taplak putih berkilauan yang menjuntai hingga ke lantai.


Beberapa pilar besar berwarna putih keemasan dengan ukiran-ukiran klasik juga terlihat berdiri dengan kokoh pada beberapa titik di dalam ruangan ini. Karpet roll wilton bergaya vintage juga sudah digelar di atas lantai di dalam ruangan ini.


Lampu hias yang digantung di langit-langit memancarkan kelap-kelip berwarna putih dan kekuningan, terlihat begitu indah dan menakjubkan.


"Willona, jalan-jalanlah kemanapun kamu mau. Aku ada sedikit urusan." ucap Sean tiba-tiba dan tentunya Sean mengatakannya dengan sangat pelan.


"Baiklah, Kak." jawab Willona tak kalah pelan dan menurut saja.


Sean mulai berbalik dan melenggang meninggalkan Willona sendirian. Willona yang masih menatap kepergian Sean hanya menghembuskan nafas kasarnya ke udara lalu mulai memutuskan untuk menghirup udara segar di luar.


Gadis cantik dengan balutan gaun berwarna biru navy itu kini mulai melenggang kembali dengan anggun. Ritme hentakaan dari sepatu hak tinggiya terdengar begitu teratur, pelan dan tenang. Seperti suasana hatinya yang selalu tenang dan lembut.


Suasana di taman itu cukup hening. Bahkan tak ada siapapun di sini. Willona memutuskan untuk duduk di sebuah ayunan berwarna putih sambil menikmati segelas orange juice yang sengaja dia bawa untuk menemaninya.


Namun tiba-tiba saja Willona mulai mendengar suara samar-samar yang berasal dari balik sebuah pohon. Karena penasaran akhirnya Willona memutuskan untuk memeriksanya.


Gadis cantik itu mulai melenggang pelan dan sangat hati-hati dan semakin mendekati pohon besar yang berada di taman samping rumah besar keluarga Lucano.


Sebenarnya Willona cukup merasa takut, karena tak ada siapapun saat ini di taman ini. Ditambah lagi suasana sedikit gelap dan hanya ada beberapa penerangan lampu dan cahaya bulan saja yang menerangi.


Namun karena rasa keingintahuannya yang besar dan melebihi rasa takutnya akhirnya gadis cantik itu memantapkan hatinya dan memberanikan dirinya untuk memeriksanya.

__ADS_1


Hingga akhirnya Willona mulai melihat seorang pemuda yang sedang duduk di balik pohon besar itu.


__ADS_2