The Tears Of Regret

The Tears Of Regret
Keputusan Willona


__ADS_3

"Willona, mereka masih saja mengawasi kita. Jadi ... untuk meyakinkan mereka ... mari kita berciuman ..." ucap Sean begitu lirih dan sebenarnya sangat terpaksa.


"Berciuman?" ucap Willona sangat terkejut bukan main dan membuat keningnya sedikit berkerut.


"Tak ada pilihan lain, Willona! Mereka masih saja mengamati kita dan berada tepat di arah jam 1 dari posisiku ..." ucap Sean masih berbisik. "Jadi, mari lakukan agar mereka puas dan tak mencurigai kita lagi!"


"Baiklah." ucap Willona menurut saja dan tidak mau membantah perintah dari sang suami.


Sean mulai menunduk dan sedikit memiringkan kepalanya hingga wajah tampan itu semakin mendekati wajah ayu Willona. Sementara Willona perlahan mulai memejamkan sepasang matanya untuk menyambut sesuatu yang akan diberikan olrh sang suami untuk pertama kalinya.


Meskipun hal itu terlalu cepat dan tak terduga, namun Willona tak berani untuk menolak semua itu. Bahkan saat ini sebenarnya Willona merasa gugup luar biasa, karena hal seperti ini belum pernah dilakukan oleh gadis cantik ini sebelumnya.


Wajah tampan yang selalu terlihat dingin itu kini sudah semakin mendekati wajah Willona. Bahkan hembusan nafas hangat itu sudah menyapu pipi Willona yang putih kini menjadi sedikit merona, entah karena polesan blush on ataukah Willona yang memang sedang merasa malu.


Hingga akhirnya ujung hidung Sean yang cukup mancung itu kini mulai menyentuh pipi halus Willona dan berakhir dengan terjadinya kecupan dari Sean.


Bibi Daisy dan bibi Hana yang menyaksikan semua itu kini segera memutuskan untuk segera pergi meninggalkan mereka berdua agar tidak mengganggu kemesraan dari pengantin baru itu.


Sean yang sedikit melirik kedua bibinya dan mulai menyadari jika kedua bibinya sudah pergi, akhirnya Sean mulai mengakhiri ciuman itu dan melepaskan kedua tangannya yang sejak dari tadi sedikit menarik tubuh Willona.


"Mereka sudah pergi." ucap Sean masih dengan lirih.


Tak ada jawaban dari Willona, bahkan gadis cantik ini hanya terdiam dan menunduk saja karena tak sanggup untuk menatap wajah Sean saat ini saking malunya.

__ADS_1


"Kamu mau makan atau minum sesuatu? Akan aku pesankan makana kepada pelayan." tanya Sean menatap gadis yang sudah resmi menjadi istrinya itu.


"Tid-tidak, Kak." jawab Willona masih merasa sedikit kikuk.


"Baiklah. Sepertinya kamu kurang nyaman disini. Kita makan di luar saja. Tunggu sebentar disi, aku akan mengambil sesuatu di kamar lamaku dulu!" ucap Sean segera bergegas meninggalkan Willona begitu saja tanpa mendengarkan jawaban dari Willona.


Willona segera menghempaskan tubuh rampingnya di atas sebuah sofa berwarna cream lembut dan mulai menghembuskan nafas kasarnya ke udara.


Mulai sekarang sebaiknya aku tak memusingkan lagi semua ucapan dari kakak Sean dan semua yang kakak Sean lakukan padaku. Dia melakukan semua ini hanya untuk urusannya saja. Dan suatu saat kita akan bercerai. Ciuman itu juga bahkan sangat tidak ada arti untuknya. Mulai sekarang anggaplah ini semua hanyalah panggung drama saja, Willona! Hanya fokus dengan kuliahmu dan impianmu saja! Jangan pikirkan yang lain-lain lagi! Jika suatu saat nanti memang berpisah, aku harap ayah dan ibu tidak terlalu bersedih. Kamu harus lebih kuat, Willona!


Batin Willona menunduk dengan kedua mata yang terpejam. Sementara kedua tangannya sudah menopang dan menutupi hampir semua wajah cantiknya.


Ya!! Aku harus tetap kuat!! Jika memang kemauan kak Sean seperti itu, maka baiklah ... aku akan fokus saja untuk belajar dan menjadi seorang programer handal. Anggap saja kita adalah rekan kerja! Tinggal bersama namun jalani kehidupan masing-masing! Suatu saat pasti aku akan menemukan orang yang tepat untukku!! Semangatlah, Willona!!


Tiba-tiba terdengar derap langkah seseorang dengan ritme yang sangat teratur namun tegas dan semakin mendekati Willona.


"Ayo kita pulang, Willona! Aku juga sudah berpamitan dengan ayah dan ibu kok." ucap seorang pria yang saat ini sudah berdiri dengan tegap di hadapan Willona.


Willona mulai mendongak dan melihat Sean sudah berdiri di hadapannya kali ini. Willona hanya tersenyum tipis lalu mulai bangkit dari duduknya.


Mereka berdua segera meninggalkan kediaman keluarga Lucano dengan sebuah Lexus hitam metalik. Lexus hitam itu mulai membelah jalanan kota yang masih begitu ramai dengan lalu lalang mobil. Hingga akhirnya Sean mulai menepikan mobilnya di depan sebuah restoran yang cukup besar.


Yeap, rupanya Sean benar-benar berniat untuk mengajak Willona makan bersama di luar. Kini mereka berdua mulai memasuki restoran itu dan memilih sebuah ruangan VIP yang sedikit tertutup dan tentunya juga terpisah dengan tamu pengunjung lainnya.

__ADS_1


"Pesan saja apapun yang kamu inginkan!" ucap Sean setelah seorang pelayan laki-laki datang dan membawakan buku menu untuk mereka berdua.


"Aku nasi goreng seafood saja sama jus melon." ucap Willona dengan cepat memutuskan setelah membuka sekilas buku menu itu.


"Baiklah. Kami memesan 1 nasi goreng sea food, 1 kwetiaw kuah, 1 jus melon dan 1 jus alpukat. Bawakan juga air mineral juga untuk kami." ucap Sean sambil menutup kembali buku menu itu dan mengembalikannya di atas meja.


"Baik, Tuan. Silakan tunggu sebentar." ucap pelayan laki-laki itu dengan ramah lalu segera berlalu kembali.


"Bagaimana dengan kuliahmu?" tanya Sean membuka obrolan meskipun masih terlihat begitu kaku dan dingin.


"Semua baik-baik saja dan lancar kok." jawab Willona ala kadarnya saja.


"Kamu pernah berkata jika kamu sedikit mengalami kesulitan untuk bahasa pemrograman. Kelak jangan merasa sungkan jika memang kamu membutuhkan bantuanku. Mulai sekarang kita adalah partner, dan semoga kita bisa saling membantu. Lagipula dalam hubungan pernikahan kontrak kita seharusnya bisa menguntungkan satu sama lain bukan? Jadi jangan merasa segan jika memang kamu sedang membutuhkan bantuanku. Dan maaf jika selama ini aku sudah cukup kasar padamu! Mulai sekarang aku juga akan lebih menahan diri ..."


Ucap Sean lagi yang entah mengapa bisa berkata sepanjang itu dengan lebih ramah dan tidak seperti biasanya yang sangat dingin dan kasar. Bahkan Willona saja juga merasa jika Sean sedikit berubah hari ini.


Apakah itu karena ciuman yang terjadi beberapa saat yang lalu diantara mereka berdua? Ataukah Sean yang sudah sadar dan merasa bersalah kepada Willona? Entahlah ... semua itu masih tidak diketahui.


"Baiklah. Terima kasih sebelumnya, Kak. Oh iya, kalau boleh tau sampai kapan kita akan melakukan semua sandiwara ini, Kak? Dan kapan kita akan bercerai?" tanya Wllona memberanikan diri.


"Setelah ayahku menyerahkan sepenuhnya aset keluarga Lucano kepadaku, maka secepatnya aku akan mengurus perceraian kita." ucap Sean mengatakannya dengan tanpa beban sama sekali. "Tenang saja, Willona. Semua itu tak akan lama lagi. Dan kamu akan segera terbebas dari pernikahan palsu ini."


Meskipun ada sedikit rasa sesak dan sakit di dalam hatinya, namun kini Willona merasa cukup kuat karena sudah memutuskan sesuatu. Dan keputusannya saat ini adalah untuk mengikuti semua permainan Sean.

__ADS_1


...⚜⚜⚜...


__ADS_2