
Sebuah melodi indah yang selalu saja terdengar di setiap pagi, kini mulai terdengar kembali oleh Willona. Willona mulai meraih jam digital berwarna hitam itu untuk segera mematikan alarm tersebut.
"Hoammm ... cepat sekali malam berlalu. Tiba-tiba sudah pagi saja." Willona menguap dan mengangkat kedua tangannya ke udara.
"Bibi masih mengambil cuti. Huft ... sebaiknya segera mandi, sholat, lalu masak sesuatu. Hari ini harus ke kampus lebih pagi karena akan ke perpustakaan bersama Keanu! Hhm ... okay!! Ayo mandi dulu!!" gumam Willona lalu segera turun dari tempat tidurnya dan bersiap untuk pergi ke kamar mandi di kamarnya.
Hari ini Willona terlihat begitu bersemangat dan ceria seperti biasanya. Namun saat gadis cantik itu pergi ke dapur untuk memasak sesuatu, Willona sangat dikejutkan oleh sesuatu.
Karena saat melewati ruang makan, Willona sudah mencium aroma yang begitu menggiurkan saliva. Karena penasaran, akhirnya Willona memutuskan untuk memasuki ruangan itu.
Betapa terkejutnya Willona saat melihat meja makan yang sudah dipenuhi dengan beberapa makanan yang sudah ditata dan disajikan dengan begitu berseni dan tentu saja aromanya begitu menggelitik indra penciuman seakan sedang melambai-lambai untuk segera disantap.
"Whoa ... siapa yang memasak semua ini? Apa bibi Lin sudah datang kembali dan memasak semua ini?" gumam Willona masih menatap takjub semua makanan di hadapannya itu.
"Ehem ..." tiba-tiba terdengar ada suara seorang pria berdehem dan pria itu sudah berdiri tepat di belakang Willona, sehingga membuat Willona sedikit minggir dan memutar badannya untuk melihat pria itu.
Rupanya Sean sudah berdiri di belakang Willona dengan pakaian yang sudah rapi dan juga harum. Auranya juga terlihat sedikit berbeda, lebih ramah dan bersahabat kali ini.
"Kamu sudah bangun rupanya. Ayo segera sarapan pagi bersama!" ajak Sean lalu mulai melenggang melewati Willona dan segera menarik salah satu kursi dan mendudukinya.
"Siapa yang memasak semua ini, Kak? Apa bibi Lin sudah datang kembali?" tanya Willona mulai mengikuti Sean dan duduk di seberang Sean.
"Belum kok. Bibi Lin akan kembali lusa." ucap Sean mulai mengambil sendok dan garpunya untuk menyantap sarapannya.
"Jadi siapa yang memasak semua ini, Kak? Apa kakak yang memasaknya?" tanya Willona begitu ragu-ragu saat mengucapkannya untuk Sean.
Sebenarnya tidak terlihat sama sekali jika pria seperti Sean bisa memasak! Karena dia hanya selalu terlihat berkutat di dengan laptop dan dokumen. Lagipula dia adalah seorang Presdir dari Lucano Group saat ini, sangat tidak mungkin jika seorang Sean bisa melakukan semua hal yang menurutnya cukup konyol dan memalukan itu. Benar begitu bukan??
__ADS_1
Seperti itulah kira-kira yang sedang dipikirkan oleng Willona saat ini.
"Menurutmu? Di dalam rumah ini hanya ada kita berdua bukan?" jawab Sean dengan santai dan mulai meraih semangkok cap cai kuah untuk dirinya sendiri.
"Wah ... aku sungguh tidak pernah menyangka jika kakak bisa memasak. Bahkan terlihat begitu lezat dan sangat menggoda. Apa kakak seorang koki sebelumnya?" tanya Willona semakin tak sabaran untuk segera menikmati salah satu makanan di hadapannya saat ini.
"Tidak kok. Sebenarnya memasak adalah salah satu hobiku dulu. Tapi sudah lama sekali aku tidak pernah melakukannya lagi. Aku hanya akan melakukannya jika suasana hatiku benar-benar sedang baik ditambah dengan jadwalku yang sedang tidak padat." jawab Sean seadanya. "Makanlah. Semoga kamu menyukainya ..."
"Hhm ... tentu saja aku akan sangat menyukainya. Penyajian dan aromanya saja sudah begitu menggoda. Lagipula setiap makanan apapun kita tidak boleh mencelanya. Jadi harus tetap selalu bersyukur." ucap Willona terlihat begitu berbinar menatap makanan di hadapannya saat ini.
Sean yang mendengarkan ucapan dari Willona seketika beralih menatap gadis cantik itu dengan senyum tipisnya.
"Ya sudah. Makanlah mana yang kamu suka ..." sahut Sean lagi yang kali ini sudah menyantap makanannya sendiri, tanpa harus disiapkan dan diambilkan oleh Willona lagi.
"Hhm. Aku makan ya, Kak!!" ucap Willona mulai mengambil dan mencicipi masakan rendang daging masakan Sean. "Whoa ... ini enak sekali. Rasanya begitu meresap samlai dalam. Dagingnya juga begitu empuk." puji Willona dengan tulus.
"Benarkah?"
"Kebetulan saja aku terbangun bangun pagi sekali. Jadi aku memutuskan untuk memasak saja. Daripada tidur lagi sih, nanti malah terlewat waktu subuh dan malah kesiangan." sahut Sean seadanya.
"Hhm. Benar juga sih, Kak. Uhm ... bolehkah aku membawanya sedikit untuk bekal di kampus?"
"Bawa saja, Willona. Makanan ini cukup banyak kok. Daripada mubadzir." jawab Sean yang kini menikmati munumannya.
"Okay deh!!"
Tiba-tiba saja sebuah lantunan melodi indah mulai terdengar melalui ponsel Willona. Willona segera meraih ponselnya dan mengangkat panggilan yang rupanya dari Keanu.
__ADS_1
"Aku angkat telpon sebentar ya, Kak." ucap Willona yang masih menghargai keberadaan Sean saat ini.
Sean hanya mengangguk menandakan Sean mengijinkan Willona untuk mengangkat panggilan itu.
"Hallo, Keanu!" sapa Willona setelah mengangkat panggilan itu.
"Willona, cepat keluar dan ayo kita segera berangkat bersama ke kampus! Aku sudah berada di depan rumahmu." ucap Keanu dari seberang.
"Apa? Oh baiklah. Tunggu sebentar ya. Aku akan membungkus bekalku dulu." jawab Willona sedikit mempercepat pergerakannya.
"Okay deh. Aku akan menunggumu. Jangan terburu-buru." ucap Keanu dari seberang.
"Hhm. Okay deh." sahut Willona sambil mengakhiri panggilan itu dan segera mempersiapkan bekal untuk dirinya.
"Mengapa Keanu datang menjemputmu? Tanya Sean dengan nada tida suka.
Dan itu sangat terlihat dengan jelas karena Sean tak bisa menutupinya lagi.
"Kita akan pergi bersama ke perpustakaan untuk mencari buku pagi ini, Kak." jawab Willona seadanya dan memang itulah kenyataannya. "Kak, apa kakak juga akan membawa bekal hari ini? Kalau kakak mau membawa juga, biar aku siapkan juga untuk kakak." ucap Willona menawari Sean.
"Tidak perlu! Siapkan saja untukmu sendiri." jawab Sean begitu ketus.
"Oh baiklah." sahut Willona dengan santai dan segera mempersiapkan bekalnya untuk dirinya sendiri.
Setelah beberapa saat akhirnya Willona segera berpamitan dan meninggalkan Sean begitu saja. Sebenarnya Sean sangat ingin menghalangi Willona untuk berangkat bersama dengan Keanu, namun itu semua tak mau dilakukan dan tak mau diperlihatkan oleh Sean di depan Keanu maupun Willona.
Karena Sean adalah seorang pria yang memiliki ego dan gengsi yang cukup tinggi. Bahkan pria dingin itu biasanya selalu menjaga ucapan dan janjinya dan selalu menjaga komitmen yang sudah dia buat.
__ADS_1
Sean hanya bisa menatap kesal kepergian Willona yang malah terlihat begitu ceria dan sangat bersemangat itu.
...⚜⚜⚜...