
Hari ini jam kuliah berlangsung seperti biasanya. Namun hari ini Willona sengaja memilih tempat duduk di pojok belakang. Karena hari ini dia merasa sangat mengantuk.
Setidaknya jika duduk di bangku paling belakang, sang dosen tak akan terlalu melihatnya yang sedang mengantuk atau tertidur.
"Hoam ... ngantuk sekali. Akhir-akhir ini aku sangat kurang tidur karena sering bermalam di rumah sakit." gumam Willona sambil menguap lebar dan menutupinya dengan jemarinya.
Willona membuka sebuah buku besar untuk menutupi wajahnya agar tak terlihat oleh sang dosen jika Willona sering menguap. Namun tiba-tiba saja sang dosen malah memanggilnya.
"Karena kelas hari ini sedikit sepi, jadi yang duduk di belakang tolong maju ke depan ya, karena kelas akan segera dimulai." ucap seorang dosen yang sudah berdiri di podium.
Beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang duduk di bangku belakang satu persatu mulai berpindah di bangku depan. Dan kini hanya tinggal Wilona saja. Dan Willona masih saja di tempatnya sambil menutupi wajahnya dengan buku besarnya.
Willona berharap, sang dosen tidak akan kembali memerintahkannya untuk berpindag temlat duduk, karena rasanya Willona sudah sangat mengantuk saat ini.
Aku mohon. Semoga saja dia tidak memintaku pindah ke depan.
Batin Willona penuh harap dan semakin menenggelamkan kepalanya hingga tertutup sepenuhnya dengan buku besar itu. Namun rupanya semua tak berjalan sesuai dengan harapannya saat ini.
"Nona yang duduk di pojok kiri belakang! Tolong segera pindah ke depan! Karena kelas hari ini akan segera kita mulai." ucap dosen itu lagi.
Willona yang merasa disinggung akhirnya mulai menurunkan kembali buku besarnya dan meringis lebar. Setelah itu Willona segera mengemasi barang-barangnya dan segera berpindah tempat duduk di depan.
Huft ... padahal aku ingin duduk di belakang saja. Karena rasanya ngantuk sekali.
Batin Willona masih merasa kesal, namun tak bisa berbuat apa-apa selain patuh kepada sang dosen. Dengan wajah yang masih terlihat murung, Willona mulai mengeluarkan beberapa buku dan penanya.
"Baik, sekarang buka halaman 227 dan saya berikan waktu untuk membaca selama 5 menit." ucap dosen itu sambil mencorat-coret white board itu untuk menuliskan beberapa rumus Fisika.
Bersabarlah 1 jam lagi, Willona. Setelah itu segera pulang dan tidur sebentar lalu pergi ke rumah sakit. Besok akhir pekan kamu bisa beristirahat lebih banyak kok. Semangat!!
__ADS_1
Batin Willona menyemangati dirinya sendiri.
...⚜⚜⚜...
Sore ini Willona mulai mendatangi rumah sakit kembali. Dan malam ini dia juga akan menginap di rumah sakit kembali, karena besok adalah akhir pekan. Dan di setiap akhir pekan Willona selalu libur kuliah.
"Sayang, apa kamu benar-benar baik-baik saja? Jangan memaksakan diri untuk selalu datang dan tidur di rumah sakit. Kamu juga butuh istirahat yang cukup. Lihatlah, kamu menjadi semakin kurus dan pucat. Ibu khawatir kamu malah akan terjatuh sakit. Pihak rumah sakit juga akan selalu menjaga Sean dengan ketat kok. Kita pulang bersama yuk!" ucap Marisha tak tega melihat Willona yang memang sudah terlihat menjadi sedikit kurus akhir-akhir ini.
Willona tersenyum manis mendengarkan ucapan dari ibu mertuanya, namun Willona segera menolak ajakan Marisha dengan sangat halus dan sopan.
"Tidak, Ibu. Aku akan menemani kak Sean. Lagipula besok aku libur kok. Jadi aku bisa lebih punya banyak waktu kok untuk beristirahat. Ibu tenang saja dan tidak perlu mengkhawatirkanku.." ucap Willona dengan senyum hangat menatap Marisha.
"Baiklah. Tapi jangan selalu memaksakan diri ya. Biar bagaimanapun kamu juga harus selalu menjaga kesehatanmu, Sayang." ucap Marisha mengusap lembut sisi wajah samping kiri Willona.
Willona tersenyum dan mengangguk pelan, "Iya, Ibu ..."
"Ya sudah. Kalau begitu ibu pulang dulu ya. Kamu hati-hati disini. Jika ada sesuatu segera hubungi ibu atau ayah ya, Sayang." ucap Marisha mulai meraih sling bag hitamnya dan menggantungkannya pada bahu kanannya .
Marisha mengusap lembut kepala Willona lalu mulai meninggalkan ruangan rawat ini. Sementara Willona mulai mendekati brankar dimana Sean masih terbaring dengan lemah.
"Hai, Kak Sean. Aku datang lagi." ucap Willona dengan nada bicara begitu ceria. "Kakak apa kabar? Hari ini dosenku sedikit menyebalkan, Kak. Padahal aku ingin duduk di belakang karena merasa ngantuk sekali. Tapi dia menyuruhku untuk pindah tempat duduk di depan. Aku terus saja menguap saat itu, hingga akhirnya aku malah disuruh keluar untuk cuci muka." ucap Willona ebali bercerita.
"Huft ... menyebalkan sekali bukan? Uhm ... Besok adalah akhir pekan, kakak cepat bangun ya. Kita sudah berjanji akan berbincang bersama bukan? Aku harap kakak segera bangun dan menepati janji kakak." ucap Willona lagi dengan senyum tipis.
Tak sengaja Willona mulai menatap jemari kanan Sean yang sedikit terbuka. Hingga akhirnya Willona mulai teringat dengan sesuatu dan segera mencari sesuatu di dalam sling bag berwarna sweet tawny miliknya.
Setelah beberapa saat akhirnya Willona mulai mengeluarkan sesuatu. Sebuah cincin polos berwarna silver dengan sebuah ukiran nama, kini mulai dipakaikan pada jari manis sisi kanan Sean oleh Willona.
"Lain kali jangan melepasnya lagi ya, Kak. Selalu pakai dimanapun kakak berada." ucap Willona mulai menggenggam jemari kanan Sean dwngan hangat.
__ADS_1
Wajah itu masih saja terlihat seperti biasanya, seperti orang yang sedang tertidur namun terlihat sedikit pucat.
"Kak ... ayo segera bangun ... aku sudah berjanji ingin mentraktir makan kakak. Kakak mau makan apa? Nasi uduk khas Betawi? Soto Betawi? Cwie mie Malang? Atau apapun itu ... pokoknya kakak harus segera bangun. Hooaamm ..." ucap Willona sambil menguap dan kembali meletakkan kepalanya di atas brankar.
.
.
.
.
.
"Emhh ..." dini hari terdengar suara rintihan dari Sean dan perlahan jemarinya juga mulai mengalami sebuah pergerakan lalu diikuti oleh tubuhnya terlihat sedikit menggeliat.
Sementara Willona masih tertidur dengan kepalanya di atas brankar dan masih belum menyadari jika Sean sudah mulai tersadar.
Sean mulai membuka seoasang matanya meskipun masih terasa sedikit berat. Pandangannya masih terlihat begitu kabur dan belum jelas.
"Ugh ... kepalaku sakit sekali ..." rintih Sean pelan dan memegangi kepalanya dengan tangan kirinya.
Sean mulai menatap sekelilingnya hingga akhirnya mulai menyadari jika di sampingnya masih ada seorang gadis yang selalu saja menemaninya dengan setia.
"Wil-lona ..." ucap Sean begitu lirih dan sudut-sudut bibirnya mulai menyembulkan sebuah senyuman tipis menghiasi wajahnya yang pucat
Perlahan Sean mulai mengangkat tangan kirinya dan mengusap pelan kepala Willona.
"Wil-lona ..." ucap Sean lagi masih dengan senyum hangatnya yang menghiasi wajah pucat itu.
__ADS_1
Meskipun sekujur tubuhnya masih terasa begitu sakit dan kepalanya terasa masih sangat pusing dan berat, namun semua rasa sakit itu seakan menghilang dan lenyap begitu saja setelah melihat Willona berada di hadapannya ketika Sean membuka matanya kembali.