The Tears Of Regret

The Tears Of Regret
Merawat Willona


__ADS_3

"Willona ... aku akan tanyakan sekali lagi padamu ..." ucap Sean dengan hati-hati dan sedikit bergetar. "Apakah kamu benar-benar ingin berpisah denganku? Apakah kamu benar-benar tidak ingin memberikan sebuah kesempatan lagi untukku? Sebuah kesempatan untukku ntuk menjadi suami yang baik dan layak untukmu?" imbuh Sean setelah menurunkan egonya yang cukup tinggi hingga akhirnya kata-kata itu akhirnya terucap juga dari mulutnya.


Willona yang mendengarkan ucapan itu sebenarnya merasa cukup terkejut, karena tak pernah mengira jika Sean akan mengatakan hal seperti itu.


Gadis yang memiliki kecantikan alami luar dan dalam itu kini mulai mendongak memberanikan diri untuk menatap Sean. Pria yang selama ini berstatus sebagai suami sahnya, meskipun hanya sebatas suami di atas sebuah kertas putih.


"Apa maksud kakak?" tanya Willona memberanikan diri.


"Mari kita mulai kembali semuanya dari awal. Sebagai pasangan suami istri yang sebenarnya. Bukan hanya sebuah perjanjian, drama maupun topeng. Apa ... kamu bersedia, Willona?" ucap Sean dengan hati-hati dan menunduk menatap lekat Willona.


Willona masih saja terdiam terpaku karena sungguh Willona tak pernah membayangkan kejadian seperti ini akan terjadi dan terucap dari seorang Agna Sean Lucano. Seorang pengusaha muda yang selalu saja dingin dan cuek kepadanya.


"Aku ... juga minta maaf jika selama ini sudah sangat keterlaluan kepadamu. Sebenarnya kamu berhak untuk marah dan benci kepadaku. Namun kali ini aku serahkan semua kepadamu, Willona. Jika memang kamu tidak bisa memaafkanku, aku paham itu kok." ucap Sean lagi.


"Untuk soal itu aku sudah memaafkan kakak sejak dulu. Namun untuk hidup bersama dan memulainya kembali dari awal ... aku tak bisa menjawabnya sekarang, Kak. Aku masih harus mempertimbangkan semuanya dulu ... karena ini menyangkut masa depanku. Aku tidak bisa dengan asal menjawabnya, Kak." ucap Willona dengan hati-hati dan berharap Sean mau menerima keputusannya.


"Baiklah. Aku paham itu. Dan aku akan menghargai apapun keputusanmu dan akan menerima apa yang kau putuskan." ucap Sean mulai melepaskan kembali jemari Willona karena merasa canggung.


"Mulai sekarang, aku akan selalu mengantar dan menjemputmu ke kampus." ucap Sean lagi masih merasa kikuk.


Willona yang sudah menunduk hanya mengangguk pelan saja.


"Aku akan ke kamar dan beristirahat." ucap Willona masih menunduk.

__ADS_1


"Uhm ... Willona. Kebetulan ayah sedang pergi keluar kota, jadi ibu akan datang dan menginap disin malam ini. Kamu ... tidurlah bersamaku di kamarku ..." ucap Sean dengan hati-hati.


Willona mengangguk pelan dan mulaj menjawab ucapan Sean, "Baiklah, Kak. Aku akan mandi dulu."


Ucap Willona lalu melenggang meninggalkan Sean begitu saja.


Setelah membersihkan dirinya, Willona mulai kembali ke ruang makan untuk makan malam bersama Sean dan juga ibu mertuanya yang rupanya sudah sampai di rumah beberapa saat yang lalu.


"Sayang, makanlah yang banyak. Ibu membawakan beberapa makana kesukaanmu. Ada sate, sambal terong, rendang dan masih banyak lagi. Ayo makan yang banyak, Sayang!" ucap Marisha begitu bersemangat sambil menyodorkan beberapa makanan itu untuk Willona.


"Terima kasih, Ibu." ucap Willona dengan tulus. "Wah rendang daging lagi ya? Ngomong-ngomong tadi pagi kak Sean ... uhm malsudku tadi pagi suamiku juga memasak rendang daging, Ibu." ucap Willona sedikit gelagapan karena malah salah memanggil Sean di depan ibu mertuanya.


"Sean memasak? Wah ... ini sungguh luar biasa sekali!" ucap Marisha denggan wajah yang begitu berbinar. "Apa kamu tau, Willona? Selama tak akan mudah untuk membuat Sean mau memasak. Terlebih untuk seseorang. Dia hanya akan memasak jika suasana hatinya sedang baik, dan dia hanya akan memasaknya untuk seseorang yang benar-benar spesial untuknya." ucap Marisha semakin berbinar menatap Sean dan Willona secara bergantian.


"Argh ..." rintih Willona pelan karena masih dirasakan cukup panas dan mengenai pahanya


"Ahh ... maafkan aku, Willona. Apa kamu baik-baik saja, Willona?" ucap Sean merusaha untuk mengusap bagian yang terkena siraman minuman panas itu dengan sebuah sapu tangan.


"Sedikit panas, Kak." ucap Willona meringis kesakitan.


"Sean cepat berikan salep untuk Willona! Agar lukanya tidak terasa perih." ucap Marisha yang juga terlihat khawatir.


"Hhm. Iya, Ibu. Ayo aku bantu untuk mengobatinya!" ucap Sean lalu mulai menarik salah satu tangan Willona dan mengalungkan pada lehernya.

__ADS_1


Lalu Sean segera menggendong depan Willona ala bridal style dan membawanya ke kamar Sean. Karena sangat tidak mungkin jika Sean membawa Willona ke kamar Willona, sementara kamar utama mereka adalah kamar yang selalu dipakai oleh Sean selama ini.


"Tunggu sebentar ..." ucap Sean setelah mendudukkan Willona di pinggiran tempat tidurnya.


Willona hanya diam dan menurut saja, sementara Sean segera mencari sesuatu di dalam laci nakasnya. Setelah beberapa saat akhirnya Sean sudah darang kembali dengan membawa sebuah kotak P3K yang berukuran kecil.


Sean mengambil sebuah obat yang menyerupai sebuah salep dari dalam kotak P3K itu lalu segera duduk bersimpuh di hadapan Wilona. Namun tiba-tiba saja Sean mulai terlihat ragu saat mau mengobati dan mengoleskan salep itu pada paha Willona.


"Willona. Buka sedikit rokmu ..." ucap Sean dengan hati-hati.


Karena tak ada pilihan lain, akhirnya Willona mulai sedikit menarik roknya yang memiliki panjang selutut itu ke atas. Hingga kini terlihat sebuah bekas kemerahan karena terkena air panas itu pada paha kiri Willona.


Sebenarnya Willona merasa sangat malu dan canggung dengan situasi saat ini. Karena ini adalah pertama kalinya dia membiarkan seorang pria melihat dirinya dengan pakaian seminim ini. Bahkan sisi samping kiri rok itu kini hanya sebatas sejengkal saja dari pangkal pahanya.


Bagaimana dengan Sean? Sebenarnya Sean juga terlihat merasa sedikit canggung akan situasi ini. Namun Sean segera membuang pemikiran anehnya dan mulai fokus kembali.


Kini Sean segera membuka tutup salep itu dan berniat untuk mulai membalurinya pada paha kiri Willona. Namun belum sampai itu terjadi, Willona malah sedikit menghindarinya dengan menggerakkan kaki kirinya sedikit menjauh dari Sean.


"Aku akan melakukannya sendiri, Kak." ucap Willona dengan sopan.


"Aku yang sudah membuatmu terluka. Aku yang akan mengobatimu ..." ucap Sean pelan namun penuh dengan penekanan. "Aku akan melakukannya pelan-pelan. Jangan khawatir." imbuh Sean mulai membaluri luka itu dengan sebuah salep.


Sean melakukannya dengan sangat pelan dan begitu hati-hati agar Willona tidak begitu merasakan perih dan sakit karena lupa bakar yang terjadi karena kecerobohan Sean itu.

__ADS_1


__ADS_2